Tentang Kebiasaan

Kebiasaan adalah sesuatu yang dilakukan secara berulang-ulang tanpa sadar. Secara tidak langsung, ya. Kebiasaan itu kita lakukan secara stagnan, biasanya nggak ada perkembangan.

Kenapa bisa saya sebut nggak ada perkembangan? Karena biasanya kebiasaan itu ya cuma gitu-gitu aja. Dilakukan karena kita sendiripun terkadang nggak menyadarinya. Biasanya kebiasaan itu kebanyakan buruk.

Berdasarkan observasi pandangan saya terhadap kebiasaan, kebiasaan itu tumbuh dari sesuatu yang tidak biasa. Konsep sederhananya, tidak bisa – bisa – kebiasaan – budaya.

Budaya adalah point terakhir. Karena biasanya sudah dianggap budaya jika dilakukan oleh khalayak masyarakat. Kalau masih kebiasaan, biasanya masih dilakukan satu-dua orang. Masih per-individu istilahnya.

Nah, sekarang masalahnya adalah kesadaran atas kebiasaan itu sendiri. Kebiasaan itu ada yang baik, adapula yang buruk. Yang mau saya tekankan disini adalah kebiasaan-kebiasaan buruk yang patut dihilangkan kalau ternyata kita sadar.

Secara tidak langsung, apa yang kita lakukan secara stagnan, akan menjadi sebuah kebiasaan. Secara umum, kita bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah, tetapi kadangkala hati tertutup dengan emosi sehingga keduanya menjadi terbalik.

Pernah suatu ketika, pelatih basket saya mengingatkan saya, “Jangan males, Sa. Nanti jadi kebiasaan, lho.” Dan yang benar saja, kalimat tersebut seakan-akan masih berjalan santai di pikiran saya. Awalnya memang dari yang kecil terlebih dahulu. Lama-kelamaan akan menjadi besar, kemudian kita terbuai, tak sadarkan diri atas apa yang kita lakukan.

Ketakutan terbesar saya terhadap suatu kebiasaan adalah kebiasaan tersebut membabi buta sampai kita dewasa. Ambil saja contoh, dari kecil misalkan kita sudah berani berbohong. Mungkin dari hal yang paling kecil misalkan uang jajan. Tak bisa dihindari, mungkin pada saat dewasa nanti kita akan korupsi.

Contoh yang kedua ini mungkin sedikit nyelekit hati tersangkanya. Dalam hubungan cinta-cintaan, ada beberapa teman saya yang berpikir, “Gapapalah gue have fun sama cewek/cowok lain walaupun gue udah punya pacar. Nakalnya sekarang, nanti pas udah dewasa nggak gatel lagi kok..” Lha, sekarang masalahnya, kalau pas muda udah cari masalah begitu, emangnya pas udah dewasa nanti nggak terbesit bakal ngelakuin hal yang sama? Secara nggak langsung iya, udah janji sekarang nggak ngelakuin itu lagi pas udah dewasa, cuman kan namanya setan pasti ada aja terbesit. Moga-moga nggak ngelakuinnya pas udah berumah tangga aja..

It’s all about habit, Bro. Kalau dari kecil aja udah kebiasaan nggak baik, gimana mau jadi yang terbaik kalau udah dewasa nanti?

Jadi-jadi-jadi, kesimpulannya, sekarang kan udah dewasa nih, udah bisa dan mengerti cara bedain mana yang benar mana yang salah. Apalagi menyangkut-paut soal kebiasaan. Kebiasaan yang dilakukan sehari-hari tanpa adanya paksaan. Jadi, hal-hal yang salah, kalau bisa diperbaiki atau kalau memang benar salah, ya dihilangkan saja dari peradaban.

Biar semuanya lebih baik..

Quality Time

Kali ini saya akan membahas tentang betapa pentingnya orang tua, dan waktu dengan keluarga. Dua hal ini sangat berkaitan dalam kebaikan, namun pasti diantara kita ada yang kurang acuh terhadap kedua hal tersebut, termasuk saya..

Keluarga adalah organisasi pertama yang kita naungi. Sejak dari janin, kita sudah diberikan pelajaran-pelajaran oleh orang tua kita yang (mungkin) kita tak ingat. Keluarga-pun adalah sekolah pertama yang kita naungi sebelum masuk ke sekolah beneran. Lalu, dalam keluarga, kita banyak belajar, dari hal-hal kecil, sampai hal-hal yang besar. Dalam keluarga, kita ditempa menjadi seseorang. Entah itu seseorang yang hebat, maupun seseorang yang (naudzubillahminzalik) buruk. Tak jarang, jika keluarganya (maaf-maaf) kurang baik, maka anak-anaknya pun juga seperti itu. Dan bagaimana kita menilai kadar baik atau tidaknya sebuah keluarga? Menurut saya dari orang tua nya.

Ada hadits yang menjelaskan betapa pentingnya peranan orang tua terhadap anak. Rasulullah Saw ditanya tentang peranan kedua orang tua. Beliau lalu menjawab, “Mereka adalah (yang menyebabkan) surgamu atau nerakamu.” (HR. Ibnu Majah). Dalam artian, kalau berbakti kepada orang tua, kita bisa masuk surga. Dan kalau bersikap durhaka, kita bisa masuk neraka.

Saya ingat, ibu saya pernah berkata, “Dek, kalau kamu punya anak nanti, kamu kalau ngasih tau jangan teriak-teriak, nanti anaknya ikutan, lho..” dan kalimat ibu saya ini sungguh terbukti. Saya sering memperhatikan cara berinteraksi teman saya. Dan saya coba main ke rumahnya. Alhasil, pada saat ke rumah teman saya tersebut, cara orang tua nya berinteraksi, tidak jauh berbeda dengan anaknya.

Kalimat ibu saya tersebut tidak berlaku hanya pada ucapan, tetapi juga tindakan. Secara tidak langsung, apa yang orang tua kita lakukan, kita akan mencontohnya. Secara tidak langsung, ya. Entah itu turunan dari gen orang tua kita, atau memang kita mencontohnya.

Kita sebagai anak yang baik harus mencontoh apa yang orang tua kita lakukan, tetapi jangan bodoh. Maksudnya jangan bodoh, kalau orang tua melakukan tindakan yang buruk, ya jangan dicontoh. Semisal, orang tua kita merokok, ya jangan dicontoh. Kalau memang dicontoh berarti kita gagal menjadi anak yang baik. Pun begitu juga dengan orang tua. Orang tua harus memberikan contoh yang baik oleh anaknya sehingga anaknya bisa mencontoh apa yang mereka lakukan.

Sebagai contoh, bapak saya itu perokok. Tetapi, bapak saya tidak pernah melarang saya merokok. Toh, pun kalau melarang, saya pun bisa menuntut balik kenapa beliau merokok. Memang terkesan tidak etis karena membantah orang tua, tetapi memang begitu adanya. Orang tua harus memberikan contoh yang baik.

Memang, kita telah diajarkan banyak hal dari orang tua kita sejak kita belum mengerti apa-apa. Istilahnya kita itu set by default. Tetapi kita tidak boleh menerimanya begitu saja, dong? Masa’ iya kita pasrah saja tentang apa yang diajarkan oleh orang tua kita. Apalagi kalau diajarkan yang tidak baik. Harus dipikir ulang beribu kali rasanya.

Nah, point yang saya ingin tekankan ada pada pembahasan berikut.

Maksud dari quality time adalah, menghabiskan waktu dengan keluarga. Saya baru menjadi anak kos. Saya pulang ke rumah seminggu sekali, setiap hari Sabtu, dan balik ke kosan lagi hari Senin pagi. Saya jadi anak kos jalan empat bulan. Dan saya merasakan betapa nikmatnya kumpul dengan keluarga di akhir minggu.

Memang, terkesan sedikit berlebihan, mungkin. Tetapi, begitulah memang. Keluarga saya sering membuka pembicaraan mengenai hal-hal tentang masa depan, keluarga, saudara, atau hal-hal lainnya setelah makan malam. Di meja makan, kita banyak belajar. Dan ini berjalan sudah cukup lama. Dari situ saya banyak belajar, dari forum keluargalah istilahnya. Saya mendengar dengan baik apa yang orang tua saya utarakan, atau berbagi pendapat dengan kakak-kakak saya. Dan dari berbagi pendapat tersebut kita bisa mendapatkan hal yang bisa kita pelajari, entah itu untuk masa depan kita maupun untuk sekarang.

Rasanya hal ini harus dicoba untuk dilakukan. Berkumpul dengan keluarga. Entah itu sehabis makan malam, nonton TV bareng di kamar orang tua, makan malem bersama di luar rumah, dan hal-hal yang lainnya. Karena, kemungkinan besar kita akan menyesal dan kangen karena telah menyia-nyiakan waktu kita bersama keluarga setelah kita sudah dewasa nanti. Saya yakin itu..

Lalu, sudahkah kita menyempatkan waktu untuk menelpon dan menanyakan kabar orang tua kita di sela-sela kesibukan kita? Pernahkah kita berpikir bahwa orang tua kita sangat merindukan kehadiran kita? Tahukah bahwa orangtua terkadang segan menelpon kita karena takut mengganggu? Sudahkah kita memberikan “Quality Time” untuk keluarga kita?

The Best Thing to spend on your family is your TIME. Bahwa keluarga adalah harta yang harus kita jaga selalu. Bahkan tak ternilai. Dari keluarga kita diajarkan untuk berjalan. Lalu, jangan berlari meninggalkannya begitu saja. 🙂

Image
Keluarga tercinta.

Bernafaslah, Tersenyumlah, dan Bersyukurlah

Dalam tulisan kali ini, saya mencoba untuk membahas tentang kejadian-kejadian sehari-hari yang (mungkin) sepele, tetapi banyak manfaatnya. Yaitu, bernafas, tersenyum, lalu bersyukur. Kenapa saya mencoba membahas hal ini? Karena saya sering melihat hal-hal sepele yang bermakna ini, jarang diterapkan oleh orang-orang di sekitar saya. Khususnya teman-teman saya. Saya pun terkadang lupa menerapkan hal-hal yang sepele ini. Tapi setelah saya coba terapkan, banyak manfaatnya.

Setiap manusia pasti mempunyai kesibukan masing-masing. Dan tak jarang, kesibukan tersebut membuat kita lupa dengan hal-hal yang sepele. Dan kebanyakan, hal-hal sepele yang kita lewatkan itu adalah hal sepele yang ternyata banyak manfaatnya. Kesibukan tersebut seakan membuat kita lupa berbagai hal. Jangankan hal-hal sepele, hal yang penting pun terkadang kita lupakan, saking sibuknya.

Dari kesibukan tersebut pula, kita mendapatkan banyak derita. Biasanya, kesibukan yang tak berujung bisa menyebabkan depresi, stress, galau, sakau. Sakau disini artinya, “Sakit Karena Engkau,” ya. Bukan sakau narkoba.

Selain kesibukan, terkadang banyaknya jam kosong yang membuat kita kerjaannya cuman bengong melompong juga menjadi penyebabnya. Apalagi kalau bengongnya udah menyangkut paut soal rezeki. Dari bengong melompong, ujung-ujungnya jadi ngelah-ngeluh nggak jelas. Tuhan dituntut, “Ya, Tuhan, kenapa Engkau memberiku rezeki yang tidak sepadan dengan si A, si B, si C……..si Z.” kurang lebih seperti itu.

Sekarang masalahnya adalah apa iya kita akan terus sibuk lalu lupa bersyukur ataupun bengong lalu sibuk mengeluh? Kemudian..

Bernafaslah
Terkadang, kita lupa akan apa yang sudah Tuhan berikan kepada kita. Salah satu hal sepele yang kita lupakan adalah bernafas. Tanpa nafas, kita mungkin hanya seonggok tulang yang tak bergerak. Ataupun segumpal organ yang tak berfungsi. Kemudian untuk apa Tuhan memberikan kita kemampuan untuk bernafas kalau bukan untuk menyembah-Nya? Kita diberikan kesempatan selama 24 jam non-stop setiap harinya untuk bernafas, tetapi kita sering menyepelekannya. Pernahkah kita pada satu waktu menikmati nafas dan kemudian bersyukur atas yang diberikan-Nya? Pada satu contoh, banyak orang yang (maaf) sakit pernafasan. Entah itu asma, kanker, atau penyakit lainnya yang jelas menyakitkan. Dan kita yang sehat, malah melupakan nikmatnya rasa bernafas tersebut. Rasa-rasanya, hanya dengan menjaga ciptaan-Nya pun sudah lebih dari cukup. Terkadang kita khilaf, sering merusak organ paru-paru kita dengan asap-asap yang tak bertanggung jawab. Sehingga (mungkin) nantinya kita nggak akan bisa bernafas seperti biasanya lagi. Lalu bernafaslah, sebelum nafas itu menghilang. Nikmatilah, sebelum nafas itu menghilang. Dan, fyi, bernafas dalam-dalam (menghirup udara dari hidung lalu mengeluarkannya lewat mulut pelan-pelan) bisa membuat kita lebih tenang dan berpikir lebih jernih.

Tersenyumlah
Tuhan telah memberikan ekspresi terbaik dalam setiap orang yaitu tersenyum. Bahkan jatuh cinta pun tak luput dari sebuah senyuman hehehe. Kalau kita tidak menjaganya, lalu apa yang menghiasi wajah kita? Keseringan dari kita memberi ekspresi cemberut jika ada hal-hal yang tidak sejalan dengan keinginan kita. Wajar sih, tapi masa iya terus-terusan cemberut? Tersenyum itu memberi reaksi positif. Secara tidak langsung, orang yang kita senyumi atau yang tersenyum menjadi lebih gembira hatinya. Disadari maupun tidak, lho. Coba saja. Yang jelas, ketika ada suatu masalah dalam hidup kita yang tidak sesuai dengan keinginan kita, cobalah untuk tutup mata sejenak dan tersenyum. Niscaya, pikiran positif akan datang begitu saja. Bukankah Allah telah menjelaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 216: “…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” Intinya, apapun masalah yang dihadapi, tetap tersenyumlah. Pada satu contoh, orang-orang jalanan yang tidak mempunyai rumah saja masih bisa tersenyum ketika ia mendapatkan uang dari apa yang mereka kerjakan. Sedangkan kita yang mempunyai apa yang mereka tidak punya, masih cemberut? Coba pikir ulang. 🙂

Bersyukurlah
Dan point yang ini adalah pelengkap dari point-point sebelumnya. Sebagai manusia kita suka khilaf, pada saat kita mendapatkan apa yang kita mau, kita lupa bersyukur. Ketika kita tidak mendapatkan apa yang kita mau, kita malah mengeluh. Jadi Raisa, serba salah. Dalam hal ini seharusnya ketika kita mendapatkan apa yang kita mau, tentu kita harus bersyukur. Ketika kita tidak mendapatkan apa yang kita mau, kita harus bersabar. Sabar itu unlimited, lho. Bersyukur itu nggak ribet, kok. Simple saja, dengan mengucap “Alhamdulillah” kita sudah bersyukur atas apa yang diberikannya. Sungguh, bersyukur itu sangat bermanfaat. Kenapa saya bilang sangat bermanfaat? Ketika kita bersyukur, Tuhan akan memberikan kita nikmat yang berlebih. Tetapi ketika kita mengeluh bahkan kufur nikmat, azab dari Nya amat pedih. Jadi, pada satu contoh, ketika kita punya motor, bersyukurlah. Siapa tau Tuhan memberikan kita rezeki berlebih karena kita bersyukur dengan memberi kita mobil. Janganlah sekali-sekali mengeluh. INGAT, masih banyak mereka yang tidak punya motor. Apapun yang kita punya, bersyukurlah. Karena semua nikmat dari Nya pasti ada maksud dan tujuannya. Sebagai penutup point ini, Rasulullah bersabda, “Lihatlah orang yang di bawah kalian dan janganlah melihat orang yang di atas kalian, karena yang demikian itu lebih layak bagi kalian untuk tidak memandang rendah nikmat Allah yang dilimpahkan kepada kalian.” (HR Muslim dan Tirmidzi)

Pada akhirnya jika kita bersyukur, dengan sendirinya kita akan menghargai nikmat dari bernafas dan tersenyum. Walau memang sulit dilakukan, apalagi ketika kita mendapatkan musibah. Sulit sekali rasanya tetap bersyukur. Tetapi percayalah, dalam setiap musibah, pasti ada hikmahnya. Disadari dengan cepat maupun lambat, yang jelas pasti ada.

Dengan bersyukur, kita mengerti apa yang mereka tidak dapatkan. Dengan bersyukur, kita mengerti arti dari menghargai. Dengan bersyukur, yang jelas, semua lebih indah.

Note: Kutipan Surat dan Hadist, dikutip dari buku Notes From Qatar karya Muhammad Assad.