Tentang Kebiasaan

Kebiasaan adalah sesuatu yang dilakukan secara berulang-ulang tanpa sadar. Secara tidak langsung, ya. Kebiasaan itu kita lakukan secara stagnan, biasanya nggak ada perkembangan.

Kenapa bisa saya sebut nggak ada perkembangan? Karena biasanya kebiasaan itu ya cuma gitu-gitu aja. Dilakukan karena kita sendiripun terkadang nggak menyadarinya. Biasanya kebiasaan itu kebanyakan buruk.

Berdasarkan observasi pandangan saya terhadap kebiasaan, kebiasaan itu tumbuh dari sesuatu yang tidak biasa. Konsep sederhananya, tidak bisa – bisa – kebiasaan – budaya.

Budaya adalah point terakhir. Karena biasanya sudah dianggap budaya jika dilakukan oleh khalayak masyarakat. Kalau masih kebiasaan, biasanya masih dilakukan satu-dua orang. Masih per-individu istilahnya.

Nah, sekarang masalahnya adalah kesadaran atas kebiasaan itu sendiri. Kebiasaan itu ada yang baik, adapula yang buruk. Yang mau saya tekankan disini adalah kebiasaan-kebiasaan buruk yang patut dihilangkan kalau ternyata kita sadar.

Secara tidak langsung, apa yang kita lakukan secara stagnan, akan menjadi sebuah kebiasaan. Secara umum, kita bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah, tetapi kadangkala hati tertutup dengan emosi sehingga keduanya menjadi terbalik.

Pernah suatu ketika, pelatih basket saya mengingatkan saya, “Jangan males, Sa. Nanti jadi kebiasaan, lho.” Dan yang benar saja, kalimat tersebut seakan-akan masih berjalan santai di pikiran saya. Awalnya memang dari yang kecil terlebih dahulu. Lama-kelamaan akan menjadi besar, kemudian kita terbuai, tak sadarkan diri atas apa yang kita lakukan.

Ketakutan terbesar saya terhadap suatu kebiasaan adalah kebiasaan tersebut membabi buta sampai kita dewasa. Ambil saja contoh, dari kecil misalkan kita sudah berani berbohong. Mungkin dari hal yang paling kecil misalkan uang jajan. Tak bisa dihindari, mungkin pada saat dewasa nanti kita akan korupsi.

Contoh yang kedua ini mungkin sedikit nyelekit hati tersangkanya. Dalam hubungan cinta-cintaan, ada beberapa teman saya yang berpikir, “Gapapalah gue have fun sama cewek/cowok lain walaupun gue udah punya pacar. Nakalnya sekarang, nanti pas udah dewasa nggak gatel lagi kok..” Lha, sekarang masalahnya, kalau pas muda udah cari masalah begitu, emangnya pas udah dewasa nanti nggak terbesit bakal ngelakuin hal yang sama? Secara nggak langsung iya, udah janji sekarang nggak ngelakuin itu lagi pas udah dewasa, cuman kan namanya setan pasti ada aja terbesit. Moga-moga nggak ngelakuinnya pas udah berumah tangga aja..

It’s all about habit, Bro. Kalau dari kecil aja udah kebiasaan nggak baik, gimana mau jadi yang terbaik kalau udah dewasa nanti?

Jadi-jadi-jadi, kesimpulannya, sekarang kan udah dewasa nih, udah bisa dan mengerti cara bedain mana yang benar mana yang salah. Apalagi menyangkut-paut soal kebiasaan. Kebiasaan yang dilakukan sehari-hari tanpa adanya paksaan. Jadi, hal-hal yang salah, kalau bisa diperbaiki atau kalau memang benar salah, ya dihilangkan saja dari peradaban.

Biar semuanya lebih baik..

Advertisements

Quality Time

Kali ini saya akan membahas tentang betapa pentingnya orang tua, dan waktu dengan keluarga. Dua hal ini sangat berkaitan dalam kebaikan, namun pasti diantara kita ada yang kurang acuh terhadap kedua hal tersebut, termasuk saya..

Keluarga adalah organisasi pertama yang kita naungi. Sejak dari janin, kita sudah diberikan pelajaran-pelajaran oleh orang tua kita yang (mungkin) kita tak ingat. Keluarga-pun adalah sekolah pertama yang kita naungi sebelum masuk ke sekolah beneran. Lalu, dalam keluarga, kita banyak belajar, dari hal-hal kecil, sampai hal-hal yang besar. Dalam keluarga, kita ditempa menjadi seseorang. Entah itu seseorang yang hebat, maupun seseorang yang (naudzubillahminzalik) buruk. Tak jarang, jika keluarganya (maaf-maaf) kurang baik, maka anak-anaknya pun juga seperti itu. Dan bagaimana kita menilai kadar baik atau tidaknya sebuah keluarga? Menurut saya dari orang tua nya.

Ada hadits yang menjelaskan betapa pentingnya peranan orang tua terhadap anak. Rasulullah Saw ditanya tentang peranan kedua orang tua. Beliau lalu menjawab, “Mereka adalah (yang menyebabkan) surgamu atau nerakamu.” (HR. Ibnu Majah). Dalam artian, kalau berbakti kepada orang tua, kita bisa masuk surga. Dan kalau bersikap durhaka, kita bisa masuk neraka.

Saya ingat, ibu saya pernah berkata, “Dek, kalau kamu punya anak nanti, kamu kalau ngasih tau jangan teriak-teriak, nanti anaknya ikutan, lho..” dan kalimat ibu saya ini sungguh terbukti. Saya sering memperhatikan cara berinteraksi teman saya. Dan saya coba main ke rumahnya. Alhasil, pada saat ke rumah teman saya tersebut, cara orang tua nya berinteraksi, tidak jauh berbeda dengan anaknya.

Kalimat ibu saya tersebut tidak berlaku hanya pada ucapan, tetapi juga tindakan. Secara tidak langsung, apa yang orang tua kita lakukan, kita akan mencontohnya. Secara tidak langsung, ya. Entah itu turunan dari gen orang tua kita, atau memang kita mencontohnya.

Kita sebagai anak yang baik harus mencontoh apa yang orang tua kita lakukan, tetapi jangan bodoh. Maksudnya jangan bodoh, kalau orang tua melakukan tindakan yang buruk, ya jangan dicontoh. Semisal, orang tua kita merokok, ya jangan dicontoh. Kalau memang dicontoh berarti kita gagal menjadi anak yang baik. Pun begitu juga dengan orang tua. Orang tua harus memberikan contoh yang baik oleh anaknya sehingga anaknya bisa mencontoh apa yang mereka lakukan.

Sebagai contoh, bapak saya itu perokok. Tetapi, bapak saya tidak pernah melarang saya merokok. Toh, pun kalau melarang, saya pun bisa menuntut balik kenapa beliau merokok. Memang terkesan tidak etis karena membantah orang tua, tetapi memang begitu adanya. Orang tua harus memberikan contoh yang baik.

Memang, kita telah diajarkan banyak hal dari orang tua kita sejak kita belum mengerti apa-apa. Istilahnya kita itu set by default. Tetapi kita tidak boleh menerimanya begitu saja, dong? Masa’ iya kita pasrah saja tentang apa yang diajarkan oleh orang tua kita. Apalagi kalau diajarkan yang tidak baik. Harus dipikir ulang beribu kali rasanya.

Nah, point yang saya ingin tekankan ada pada pembahasan berikut.

Maksud dari quality time adalah, menghabiskan waktu dengan keluarga. Saya baru menjadi anak kos. Saya pulang ke rumah seminggu sekali, setiap hari Sabtu, dan balik ke kosan lagi hari Senin pagi. Saya jadi anak kos jalan empat bulan. Dan saya merasakan betapa nikmatnya kumpul dengan keluarga di akhir minggu.

Memang, terkesan sedikit berlebihan, mungkin. Tetapi, begitulah memang. Keluarga saya sering membuka pembicaraan mengenai hal-hal tentang masa depan, keluarga, saudara, atau hal-hal lainnya setelah makan malam. Di meja makan, kita banyak belajar. Dan ini berjalan sudah cukup lama. Dari situ saya banyak belajar, dari forum keluargalah istilahnya. Saya mendengar dengan baik apa yang orang tua saya utarakan, atau berbagi pendapat dengan kakak-kakak saya. Dan dari berbagi pendapat tersebut kita bisa mendapatkan hal yang bisa kita pelajari, entah itu untuk masa depan kita maupun untuk sekarang.

Rasanya hal ini harus dicoba untuk dilakukan. Berkumpul dengan keluarga. Entah itu sehabis makan malam, nonton TV bareng di kamar orang tua, makan malem bersama di luar rumah, dan hal-hal yang lainnya. Karena, kemungkinan besar kita akan menyesal dan kangen karena telah menyia-nyiakan waktu kita bersama keluarga setelah kita sudah dewasa nanti. Saya yakin itu..

Lalu, sudahkah kita menyempatkan waktu untuk menelpon dan menanyakan kabar orang tua kita di sela-sela kesibukan kita? Pernahkah kita berpikir bahwa orang tua kita sangat merindukan kehadiran kita? Tahukah bahwa orangtua terkadang segan menelpon kita karena takut mengganggu? Sudahkah kita memberikan “Quality Time” untuk keluarga kita?

The Best Thing to spend on your family is your TIME. Bahwa keluarga adalah harta yang harus kita jaga selalu. Bahkan tak ternilai. Dari keluarga kita diajarkan untuk berjalan. Lalu, jangan berlari meninggalkannya begitu saja. 🙂

Image
Keluarga tercinta.

Bernafaslah, Tersenyumlah, dan Bersyukurlah

Dalam tulisan kali ini, saya mencoba untuk membahas tentang kejadian-kejadian sehari-hari yang (mungkin) sepele, tetapi banyak manfaatnya. Yaitu, bernafas, tersenyum, lalu bersyukur. Kenapa saya mencoba membahas hal ini? Karena saya sering melihat hal-hal sepele yang bermakna ini, jarang diterapkan oleh orang-orang di sekitar saya. Khususnya teman-teman saya. Saya pun terkadang lupa menerapkan hal-hal yang sepele ini. Tapi setelah saya coba terapkan, banyak manfaatnya.

Setiap manusia pasti mempunyai kesibukan masing-masing. Dan tak jarang, kesibukan tersebut membuat kita lupa dengan hal-hal yang sepele. Dan kebanyakan, hal-hal sepele yang kita lewatkan itu adalah hal sepele yang ternyata banyak manfaatnya. Kesibukan tersebut seakan membuat kita lupa berbagai hal. Jangankan hal-hal sepele, hal yang penting pun terkadang kita lupakan, saking sibuknya.

Dari kesibukan tersebut pula, kita mendapatkan banyak derita. Biasanya, kesibukan yang tak berujung bisa menyebabkan depresi, stress, galau, sakau. Sakau disini artinya, “Sakit Karena Engkau,” ya. Bukan sakau narkoba.

Selain kesibukan, terkadang banyaknya jam kosong yang membuat kita kerjaannya cuman bengong melompong juga menjadi penyebabnya. Apalagi kalau bengongnya udah menyangkut paut soal rezeki. Dari bengong melompong, ujung-ujungnya jadi ngelah-ngeluh nggak jelas. Tuhan dituntut, “Ya, Tuhan, kenapa Engkau memberiku rezeki yang tidak sepadan dengan si A, si B, si C……..si Z.” kurang lebih seperti itu.

Sekarang masalahnya adalah apa iya kita akan terus sibuk lalu lupa bersyukur ataupun bengong lalu sibuk mengeluh? Kemudian..

Bernafaslah
Terkadang, kita lupa akan apa yang sudah Tuhan berikan kepada kita. Salah satu hal sepele yang kita lupakan adalah bernafas. Tanpa nafas, kita mungkin hanya seonggok tulang yang tak bergerak. Ataupun segumpal organ yang tak berfungsi. Kemudian untuk apa Tuhan memberikan kita kemampuan untuk bernafas kalau bukan untuk menyembah-Nya? Kita diberikan kesempatan selama 24 jam non-stop setiap harinya untuk bernafas, tetapi kita sering menyepelekannya. Pernahkah kita pada satu waktu menikmati nafas dan kemudian bersyukur atas yang diberikan-Nya? Pada satu contoh, banyak orang yang (maaf) sakit pernafasan. Entah itu asma, kanker, atau penyakit lainnya yang jelas menyakitkan. Dan kita yang sehat, malah melupakan nikmatnya rasa bernafas tersebut. Rasa-rasanya, hanya dengan menjaga ciptaan-Nya pun sudah lebih dari cukup. Terkadang kita khilaf, sering merusak organ paru-paru kita dengan asap-asap yang tak bertanggung jawab. Sehingga (mungkin) nantinya kita nggak akan bisa bernafas seperti biasanya lagi. Lalu bernafaslah, sebelum nafas itu menghilang. Nikmatilah, sebelum nafas itu menghilang. Dan, fyi, bernafas dalam-dalam (menghirup udara dari hidung lalu mengeluarkannya lewat mulut pelan-pelan) bisa membuat kita lebih tenang dan berpikir lebih jernih.

Tersenyumlah
Tuhan telah memberikan ekspresi terbaik dalam setiap orang yaitu tersenyum. Bahkan jatuh cinta pun tak luput dari sebuah senyuman hehehe. Kalau kita tidak menjaganya, lalu apa yang menghiasi wajah kita? Keseringan dari kita memberi ekspresi cemberut jika ada hal-hal yang tidak sejalan dengan keinginan kita. Wajar sih, tapi masa iya terus-terusan cemberut? Tersenyum itu memberi reaksi positif. Secara tidak langsung, orang yang kita senyumi atau yang tersenyum menjadi lebih gembira hatinya. Disadari maupun tidak, lho. Coba saja. Yang jelas, ketika ada suatu masalah dalam hidup kita yang tidak sesuai dengan keinginan kita, cobalah untuk tutup mata sejenak dan tersenyum. Niscaya, pikiran positif akan datang begitu saja. Bukankah Allah telah menjelaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 216: “…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” Intinya, apapun masalah yang dihadapi, tetap tersenyumlah. Pada satu contoh, orang-orang jalanan yang tidak mempunyai rumah saja masih bisa tersenyum ketika ia mendapatkan uang dari apa yang mereka kerjakan. Sedangkan kita yang mempunyai apa yang mereka tidak punya, masih cemberut? Coba pikir ulang. 🙂

Bersyukurlah
Dan point yang ini adalah pelengkap dari point-point sebelumnya. Sebagai manusia kita suka khilaf, pada saat kita mendapatkan apa yang kita mau, kita lupa bersyukur. Ketika kita tidak mendapatkan apa yang kita mau, kita malah mengeluh. Jadi Raisa, serba salah. Dalam hal ini seharusnya ketika kita mendapatkan apa yang kita mau, tentu kita harus bersyukur. Ketika kita tidak mendapatkan apa yang kita mau, kita harus bersabar. Sabar itu unlimited, lho. Bersyukur itu nggak ribet, kok. Simple saja, dengan mengucap “Alhamdulillah” kita sudah bersyukur atas apa yang diberikannya. Sungguh, bersyukur itu sangat bermanfaat. Kenapa saya bilang sangat bermanfaat? Ketika kita bersyukur, Tuhan akan memberikan kita nikmat yang berlebih. Tetapi ketika kita mengeluh bahkan kufur nikmat, azab dari Nya amat pedih. Jadi, pada satu contoh, ketika kita punya motor, bersyukurlah. Siapa tau Tuhan memberikan kita rezeki berlebih karena kita bersyukur dengan memberi kita mobil. Janganlah sekali-sekali mengeluh. INGAT, masih banyak mereka yang tidak punya motor. Apapun yang kita punya, bersyukurlah. Karena semua nikmat dari Nya pasti ada maksud dan tujuannya. Sebagai penutup point ini, Rasulullah bersabda, “Lihatlah orang yang di bawah kalian dan janganlah melihat orang yang di atas kalian, karena yang demikian itu lebih layak bagi kalian untuk tidak memandang rendah nikmat Allah yang dilimpahkan kepada kalian.” (HR Muslim dan Tirmidzi)

Pada akhirnya jika kita bersyukur, dengan sendirinya kita akan menghargai nikmat dari bernafas dan tersenyum. Walau memang sulit dilakukan, apalagi ketika kita mendapatkan musibah. Sulit sekali rasanya tetap bersyukur. Tetapi percayalah, dalam setiap musibah, pasti ada hikmahnya. Disadari dengan cepat maupun lambat, yang jelas pasti ada.

Dengan bersyukur, kita mengerti apa yang mereka tidak dapatkan. Dengan bersyukur, kita mengerti arti dari menghargai. Dengan bersyukur, yang jelas, semua lebih indah.

Note: Kutipan Surat dan Hadist, dikutip dari buku Notes From Qatar karya Muhammad Assad.

YOLO – You Only Live Once

Setelah cukup lama vakum dari dunia per-opinian, akhirnya saya mencoba memulai lagi menulis apa-apa yang ada dipikiran saya. Resah rasanya jika suatu pikiran tidak dituangkan dalam bentuk yang nyata, entah itu melalui ucapan maupun dalam bentuk tulisan. Saya memilih menuangkan hal tersebut dalam bentuk tulisan. Alasannya pun jelas, ketika saya mencoba menuangkan hal-hal yang saya pikirkan dalam bentuk ucapan, terkadang orang yang saya ajak ngobrol kurang paham atas apa yang saya ucapkan. Masa’ saya harus berbicara dengan calon mertua saya nanti agar saya bisa dimengerti? ((:

YOLO. You only live once. Kamu hanya hidup sekali, katanya. Saya tau kalimat tersebut dari lagunya The Strokes. Dan, ternyata menjadi tagline anak-anak hipster zaman sekarang. Terkadang, tagline tersebut suka disalah artikan oleh banyak orang, khususnya anak muda. Anak muda yang bergembira, lalu lupa diri. Saya hanya mencoba membuka pikiran para pembaca melalui hal yang saya pikirkan. Mengingat, (mungkin) masih banyak orang-orang yang menyia-nyiakan hidupnya hanya karena tagline tersebut.

Anak muda, tak pernah terhindar dari foya-foya. Saya pun merasakannya. Karena saya belum tua. Tua itu pasti, dewasa itu pilihan, katanya.., tetapi nyatanya masih banyak yang seperti anak muda, padahal sudah tua. Egoisme atau sifat mau menang sendiri yang ada pada seseorang lah yang menjadi hambatan, kenapa sampai sekarang masih banyak orang tua, rasa muda. Tak usah susah-susah mencari contoh, lihatlah pemimpin-pemimpin kita yang duduk di parlemen sana. Bukannya memberi contoh yang baik, malah melakukan kejahatan biadab. Apalagi namanya kalau bukan sifat keanak-anak kecilannya yang tak mau kalah alias serakah? Yang korupsi harus dihukum mati. Mungkin.

Dalam kebanyakan kaca mata anak muda, tagline, “You only live once,” berasumsi bahwa kita harus bersenang-senang tanpa memikirkan hari setelahnya. A.k.a, “yang penting gue seneng sekarang, bodo amat dah besok mah..” satu kata yang cocok untuk para anak muda yang seperti itu: Hedon. Ada pendapat lain bahwa, “hidup kan cuman sekali, ngapain sih dibawa susah? Yang penting kita seneng-seneng aje..” be mature, please.

Tak banyak orang yang sudah berpikiran jauh kedepan. Umur delapan belas tahun, tetapi rasa sudah dua puluh lima tahun. Sudah memikirkan apa-apa yang akan dipersiapkan untuk pernikahan. Anak muda seperti ini lah yang mengerti apa arti dari tagline, YOLO, tersebut. Setidaknya, jika kita sudah berpikiran jauh ke depan, setidaknya kita lebih  maju satu langkah dari teman-teman yang masih memikirkan dirinya yang sekarang.

YOLO. Maka dari itu, bukankah semua-semuanya harus digunakan dengan baik? Waktu, uang, kesempatan, pertemuan, cinta, dan lain-lain yang berkaitan dengan masa depan harus digunakan sebaik-baiknya. Bukankah suatu kesempatan yang sulit didapat tidak akan terulang? Sama seperti hidup. Jangan berharap mendapatkan kesempatan kedua yang, sama..

Jika perlu dikatakan, katakanlah. Jika perlu diungkapkan, ungkapkanlah. Jika perlu dilakukan, lakukanlah. Selagi kesempatan itu masih ada.., you only live once.

Budaya Indonesia, Budaya Siapa?

Tulisan ini sebenarnya essay, tugas individu ospek kampus dengan tema: Isu Budaya di Indonesia. Cuman ingin sharing-sharing saja dan siapa tau berkenan. Happy reading!

Sebagaimana yang kita ketahui, Indonesia mempunyai budaya yang beragam dan amat banyak. Budaya juga bisa diartikan perbedaan. Karena budaya tidak hanya satu. Budaya mempunyai ruang lingkup yang luas. Seperti Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi satu. Tapi yang menjadi pertanyaan selama ini adalah, sudahkah kita bersatu dalam budaya Indonesia tersebut?

Akibat yang sering kali muncul dalam konteks memperjuangkan budaya adalah ketika budaya kita diklaim oleh Negara lain. Tidak tanggung-tanggung, demo pun diaksikan dalam memperjuangkan budaya kita yang diklaim tersebut. Lalu, kemanakah kita selama ini? Kasus ini seperti seorang majikan yang tak pernah memberi makan kucingnya. Lalu ketika kucingnya pergi menghilang, majikannya mencari nya setengah mati. Ini lucu.

Memang jelas, suatu hal lebih berharga ketika hal tersebut telah menghilang. Mending menghilang untuk sementara, kalau selama-lamanya? Kadang saya pun tak habis pikir kepada mereka yang apatis (tak acuh atau tak peduli terhadap suatu hal) awalnya. Tidak sedikit yang mengaku cinta Indonesia, tapi berkoarnya hanya ketika pada saat suatu budaya kita dijajah oleh orang lain. Istilahnya, kalau tidak ada isu sosial yang “WOW” mereka tidak akan pernah muncul. Tenggelam didasar bumi pertiwi. Miris. Munafik adalah kata cocok bagi mereka yang mengaku cinta Indonesia tetapi hanya muncul ketika sudah diserang. Pertanyaan kedua, ,masih maukah kita menjadi orang yang munafik?

Budaya Indonesia itu infinite. Tak terbatas. Semua yang dianggap benar-benar itu sudah termasuk budaya. Padahal tidak semua nya yang dianggap benar itu memang dasarnya benar. Ada juga yang salah. Tak usah jauh-jauh. Budaya mengendarai mobil selama ini saya sebut itu kesalahan besar. Contohnya: Ketika kita mengendarai mobil di dalam kompleks perumahan kita, kita nggak pernah memakai sit belt. Kenapa? Jawabannya adalah karena tidak ada polisi. Kalau statement itu selalu menjadi jawaban, berarti selama ini kita memakai sit belt hanya untuk menghindari penilangan polisi. BUKAN, untuk keselamatan kita sendiri.

Memang, jawaban orang awam pasti, “Emangnya kalau dikompleks bisa kecelakaan? Naik mobil.” Bodoh. Jawaban paling bodoh yang pernah saya dengar. Begitulah jadi orang awam, otaknya pendek. Semua hal itu memungkinkan. Kembali saya tegaskan, hanya orang awamlah yang berpikir seperti itu. Pertanyaan ketiga, sudahkah benar apa yang selama ini kita anggap benar?

Mungkin Anda bertanya dalam pikiran Anda mengapa saya memberi judul, “Budaya Indonesia, Budaya Siapa?” Selama ini saya menganggap budaya Indonesia adalah budaya turunan dari nenek moyang kita. Jelas, itu telah ter-set by default. Tapi bukan berarti budaya yang salah kita terima begitu saja. Banyak sekali budaya yang dianggap benar oleh nenek moyang kita, padahal salah di zaman kita. Sebut saja fenomena “Pamali.” Yang kalau dilantunkan, pasti ada yang menyaut, “Bu-mali nya mana?”

Sebut saja kejadian, “Jangan berfoto bersama dalam jumlah ganjil.” Kenapa? “Karena salah satu dari yang di foto akan cepat meninggal. Biasanya yang ditengah.” Saya tidak sebut ini pembodohan, tetapi saya juga tidak sebut ini sebagai kepercayaan. Jelas, tinggal bagaimana kita menyikapi hal tersebut karena hal tersebut adanya dari nenek moyang kita. Kalau dipikir secara logika bersih, yang memegang kendali kematian hanya Tuhan. Kalaupun memang ada kejadian yang persis seperti itu, bukankah kita harus mempercayai kehendak Tuhan dibanding kebudayaan Pamali tersebut? Ini yang kadang menjadi kesalahan kaprah kepada zaman kita yang sudah ter­-set by default dari nenek moyang kita.

Kita beri contoh satu lagi, sebut saja kebiasaan mengigit kuku. Katanya kalau kita kebiasaan mengigit kuku akan mengundang nasib buruk dan pembawaan sering gugup dan juga akan menderita batin. Kembali, saya tegaskan bahwa kepercayaan ini semua kembali pada diri kita masing-masing. Mau percaya boleh, mau tidak juga boleh. Dipikir secara logika sehat (lagi), jelas Tuhan lah yang memberikan kita musibah maupun cobaan. Bicara soal nasib, nasib itu pilihan. Kita bernasib buruk atau tidaknya, semua tergantung kepada kita. Karena Tuhan hanya memberikan kita takdir, tetapi bukan nasib. Pertanyaan ketiga, Siapa yang kita percayai? Lebih percaya kepada Tuhan atau kepercayaan yang sudah diset-by default­ oleh nenek moyang kita?

Secara tidak langsung, sinonim dari kata kebiasaan adalah kebudayaan. Ada suatu kebiasaan yang amat saya benci melihatnya. Suatu ketika, saya pernah mengalami hal ini. Ketika mengendarai sepeda motor dan ada lampu merah, jelas saya berhenti. Jalanan kosong, tetapi mobil yang ada dibelakang saya men-klakson tak ada hentinya. Oh ternyata, angkutan umum. Sudah jadi kebiasaan bagi mereka jikalau lampu merah lalu jalan kosong melompong, mereka terobos. Ini kan lampu merah. Atau mereka melihatnya secara terbalik? Atau mereka buta warna? Atau mereka ingin cepat mati? Entahlah.

Ada suatu peran dalam kebudayaan Indonesia yang jikalau peran tersebut digunakan dengan baik, niscaya Indonesia jauh lebih baik dari statement ini. Yap, peran pemuda. Saya sebagai pemuda merasakan bagaimana kehidupan hedonis bisa membutakan pengetahuan dan keinginan saya dalam membenahi Indonesia yang lebih baik. Jelas, kehidupan hedonis atau kesenangan sesaat tak bisa kita pungkiri dalam kehidupan remaja ini. Apalagi, banyak hal-hal yang mendukung untuk kita sebagai remaja menjadi hedon. Seperti orang tua yang tak ada kunjungnya berhenti memberi kita uang setiap hari. Secara pikiran logis niat orang tua memang baik, agar kita diam, tak banyak omong. Tapi hal ini bisa saja kita salah pergunakan untuk hal-hal yang tak baik rupanya.

Sebut sajalah marijuana atau ganja atau narkoba. Kadang orang yang berlebihan duit, khususnya remaja, membesarkan keinginan mereka untuk hal-hal yang baru. Yang akhirnya mereka tak bisa jauhi. Kehidupan yang sudah tak lagi diprotect oleh orang tua menjadi momen yang pas untuk remaja dalam melakukan hal-hal yang diluar kewajaran. Jelas, lama-kelamaan ini akan menjadi suatu kebudayaan (baca: kebiasaan). Kalau memang kebudayaan kita sebagai remaja hancur lebur seperti ini, akankah baik Indonesia dimasa depannya? Jelas itu hanya statement yang berangan-angan. Mimpi. Ada baiknya kita sebagai pemuda menjadi motor kebudayaan yang baru dan baik. Bukan menjadi mobil yang menabrak-nabrak segalanya lalu menjadi contoh yang buruk.

Disini, peran orang tua juga amat penting. Jelas, kita tak bisa memungkiri bahwa pendidikan yang diberi oleh orang tua kita adalah pendidikan yang sering kita anggap yang terbaik. Tentunya, hal tersebut harus dipikir kembali secara baik. Ada juga orang tua yang mendidik kita dengan cara yang salah, dimana pada saat kita berkecimbung di masyarakat luas kita baru menyadari bahwa pendidikan yang orang tua beri kepada kita salah. Ada baiknya sekarang kita berpikir dua kali dalam menerima pendidikan. Apa yang dianggap orang benar, belum tentu benar juga untuk kita, kan?

Lalu kita sebagai penerus orang tua, yang akan mendidik anak kita kelak, jelas harus lebih baik. Setiap orang tua dalam mendidik anaknya kan berbeda-beda caranya. Tentunya, hal-hal buruk orang tua kita selama mendidik kita, kita singkirkan. Ketika orang tua dan anak melakukan komunikasi yang baik, akan baik pula akhlak keduanya.

Saya pun sedikit khawatir melihat pemuda-pemuda saat ini. Mereka malas membaca. Padahal sudah dijelaskan bahwa buku adalah jendela dunia. Sekarang mereka melihat jendela dunia melalui smartphone. Yang jika dibanting dunia tersebut akan lenyap. Menghilang. Mati.

Lalu solusi dari kebudayaan Indonesia yang perlahan-lahan menghilang apa? Menurut saya, ada baiknya budaya-budaya nenek moyang kita terdahulu yang buruk, kita buang jauh-jauh. Yang sudah JELAS memang itu tidak baik, buang! Kebudayaan yang baik rupanya jelas harus kita jaga dan lestarikan. Jangan lupa, kita sebagai pemuda adalah motor penggerak dalam segala hal. Apalagi dalam hal kebiasaan. Karena kebiasaan yang baik rupanya yang kita lakukan selama kita muda, akan berlanjut seiring kita menjadi tua. Dimana saat kita tua nanti, kebudayaan-kebudayaan (kebiasaan-kebiasaan) yang baik rupanya akan kita ajarkan kepada anak maupun cucu kita. Jangan takut untuk memberanikan diri melawan kebudayaan-kebudayaan yang buruk. Seperti halnya yang sudah saya contohkan tadi seperti kasus lampu lalu lintas.

Saya tegaskan kembali disini, bahwa semua kembali kepada diri sendiri. Kemauan, keberanian, perubahan, semuanya berawal dari kita sendiri. Sudahlah, tak usah muluk-muluk bahwa orang lain yang memulai duluan. Mereka juga berpikir hal yang sama, bahwa kita yang akan melakukannya terlebih dahulu. Kalau sama-sama saling menunggu, siapa yang akan memulai duluan? Ada baiknya, kita yang sudah tahu jawabannya, yang sudah tahu kebaikannya, yang sudah tahu langkah awalnya, memulai.

Karena, Indonesia membutuhkan orang yang berani memulai dan merubah hal-hal yang lebih baik. Indonesia membutuhkan kita.

MARI MERUBAH KEBUDAYAAN (BACA: KEBIASAAN) UNTUK INDONESIA YANG LEBIH BAIK!

Sampai Kapan Mau tetap Apatis?

Mungkin banyak yang kaget ataupun tak mengira mengapa saya akhir-akhir ini berubah menjadi sosok yang sok bijak, sok kritis, sok peduli dengan Negara nya, sok nasionalisme, sok pemuda tahun 45, or whatever. Suatu statement motivasi tak akan pernah berhasil memotivasi seseorang sampai seseorang tersebut mengalami nya sendiri. Kalau digampangin maksudnya, “Lo nggak bakalan pernah percaya nikmatnya sesuatu kalau lo sendiri belom ngerasain.”

Pada dasarnya, manusia, khususnya remaja, cenderung apatis terhadap sesuatu. Apalagi terhadap sesuatu yang bukan dalam kendalinya. Sangat teramat apatis. Hingga pada suatu saat, mereka akan mengalami kondisi dimana ke-apatisan nya tersebut membuat bencana terhadap dirinya sendiri. Membuat ia geram. Yang pada akhirnya mengantarkan ia kepada kondisi dimana ia tak bisa lagi diam. Iya, kritis.

Sejak SMP, saya benci pemerintah. Saya hanya bisa berkomentar yang tidak-tidak tentang mereka, mencemooh, menghardik, melanturkan kata-kata yang tak pernah enak jika didengar. Ke-apatisan ini berlangsung hingga saya SMA. Kalau ditanya, “Lo nggak ikut OSIS, Sa?” Jawabannya selalu, “Ah, ngapain gue panas-panasan dilapangan, dimarah-marahin gitu. Ngurus ina-itulah, nggak jelas. Mending gue main..” Itu ucapan saya pada saat kelas satu SMA. Hingga pada akhirnya saya menjilat ludah saya sendiri pada saat kelulusan, “Gue nyesel nggak ikut OSIS, deh.” Ucap saya terhadap salah satu teman saya.

Pertanyaannya adalah, kenapa saya menjadi kritis?

Ada suatu momen dimana saya geram terhadap kondisi-kondisi penduduk diluar pulau Jawa, khususnya daerah-daerah terpencil yang amat minim infrastrukturnya. Disitu saya berpikir bahwa ketidakpedulian akan membawa saya ke suatu kondisi dimana saya harus berpikir untuk mencari solusi dari permasalahan tersebut. Akhirnya saya mulai mengikuti isu-isu sosial dan mulai mencari solusi terhadap masalah-masalah tersebut.

Karena suatu tanggung jawab bukan hanya pada pemerintah nya saja jikalau saudara-saudara kita yang dipulau sana tidak bisa makan seperti apa yang kita makan sekarang. Tanggung jawab kita juga, sebagai warga Negara yang wajib memberikan kesejahteraan.

Apatis itu bodoh. Kenapa saya sebut bodoh? Katanya tidak peduli (apatis), tapi nyata nya selalu mencemooh suatu Lembaga Masyarakat karena tingkah lakunya yang senonoh main asal bakar sana-bakar sini.

Katanya tidak peduli (apatis), tapi selalu komentar jikala koruptor selalu tersenyum kala dirinya sudah menjadi tersangka. “Najis itu orang! Masih aja senyam-senyum padahal udah jadi tersangka!” Katanya tidak peduli? Kok berkomentar?

Alasan mengapa kritis itu penting?
Jikalau memutuskan untuk menjadi apatis, jangan BERKOMENTAR, jangan MELAKUKAN APA PUN, jangan BERANJAK, jika suatu kebijakan telah menindas diri anda sendiri. Salah anda sendiri kenapa tetap memutuskan untuk tetap apatis terhadap sesuatu.

Kritis itu kalau dilihat memang aneh. Aneh, karena selalu berteriak tentang kebenaran. Aneh, karena dilihat sok pahlawan. Aneh, karena selalu memperjuangkan hak-hak orang kecil.

Namun, kesalahan itu pada orang yang melihat, bukan pada orang yang melakukan kebaikan.

Sudah saatnya sekarang kita beranjak dari zona apatis. Sulit memang, tapi pasti bisa.

Suatu hal memang harus dipaksakan terlebih dahulu. Hingga bisa, lalu terbiasa.

Bagaimana caranya kritis?
Cobalah amati isu-isu sosial. Cobalah untuk beraspirasi. Cobalah berpikir bagaimana solusi masalah-masalah yang tak ada habisnya seperti korupsi, pembunuhan, pemerkosaan, dan kejahatan lainnya. Suarakan solusi tersebut via social media atau media-media lainnya seperti koran, majalah, dan lainnya. Caranya? Mari kita belajar menulis. Bagaimana caranya menulis? Kunci nya cuman satu. Rajin membaca. Orang yang mahir menulis pasti suka membaca, begitu juga sebaliknya. Lihat saja penulis-penulis yang sudah terkenal dan tanyakan berapa buku yang sudah ia baca.

Stop berkomentar yang tidak baik, start berkomentar untuk solusi yang terbaik.

Menghianati Tuhan

Apa yang saya tulis di post kali ini adalah berdasarkan apa yang saya rasakan. Secara tidak langsung, secara sadar maupun tidak, kita semua mengalami ini. Entah, hanya mereka yang (mungkin) beriman amat dekat dengan Nya yang tak pernah merasakannya.

Sebagai manusia yang normal, setiap manusia mempunyai sebuah keinginan. Dan keinginan tersebut secara sadar harus dipenuhi. Karena manusia tak pernah bisa lepas dari apa yang mereka inginkan, seringkali kebutuhan terbelakangi. Sering kali juga bahwa apa yang diinginkan tidak sebanding lurus dengan yang dibutuhkan. Berdoa dan berusaha adalah satu-satunya cara untuk memenuhi apa yang diingini, betul?

Dalam konteks berusaha untuk mendapatkan apa yang diinginkan, tak usah berpanjang lebar. Semua sudah jelas, tanpa adanya usaha, sesuatu tak akan bergerak, kata teori Fisika. Sama seperti hal nya kehidupan yang sebenarnya. Jikalau kita pun sendiri malas untuk bergerak, bagaimana mau beranjak dari suatu tempat?

Dalam konteks berdoa, kali ini berbeda. Saya sebut berdoa kali ini penghianatan. Kenapa saya sebut seperti itu? Karena itulah yang saya rasakan selama ini. Kasus jelasnya seperti ini;

Tuhan menciptakan manusia untuk beribadah untuk Nya. Dan kadangkala ibadah kita bukan untuk oleh Nya. Melainkan untuk sesuatu ataupun keinginan yang harus kita penuhi dalam konteks waktu yang menyangkut masa depan.

Jelas, semua keinginan yang terkabul ataupun terwujud adalah;
1. Hasil dari jerih payah usaha kita, DAN
2. Oleh izin Nya

Kadangkala kita terlupa akan point yang kedua. Saya merasakannya sendiri. Dan barangkali beberapa orang secara tidak sadar melakukan hal seperti ini juga.

Saya begitu gentar dan kuatnya berdoa dalam konteks untuk mendapatkan apa yang saya inginkan. Ketika sesuatu yang saya inginkan setengah mati tersebut sudah terwujud, seakan doa-doa saya sebelum keinginan saya terwujud lenyap dalam waktu kurang lebih se-minggu.

Semua terasa begitu semu. Seperti karyawan yang mendekati boss-nya hanya karena ada maunya. Lalu ditinggalnya begitu saja boss-nya begitu karyawan nya sudah mendapatkan apa yang dia inginkan.

Ini namanya penghianatan. Penghianatan besar atas dasar keinginan yang tak kita ketahui ceritanya jikalau Tuhan tak mengizinkan perwujudan keinginan kita. Dikabulkan saja serasa mati setelah melangkah, bagaimana tidak?

Pada akhirnya semua akan kembali pada Nya. Alangkah sombong dan angkuh nya kita, jika penghianatan ini akan terus berjalan seiring berjalannya waktu, seiring membesarnya keinginan kita, yang tak ada habisnya. Ada baiknya ingatan kita kembali pada saat keinginan kita belum terwujud.

Rendah hati, rendah diri, sedikit menunduk, dihadapan Nya.