Cerita Tandang dari Jiran

Processed with VSCO with hb2 preset

Setelah menaruh bola di ujung garis se-per-empat bulat tendangan pojok, Muhamad Azih sesaat melihat bola sebelum ia kemudian kembali melihat rekannya yang mencoba bergerak menghindari jagaan pemain Indonesia. Ditendangnya bola itu menuju kerumunan pemain yang berhasil dikonversi menjadi gol oleh tandukan Thanabalan Nadarajah yang lolos dari penjagaan Ricky Fajrin ke arah kiri gawang Satria Tama. Stadion Shah Alam pecah. Lebih dari 70.000 pendukung Negeri Jiran bergembira dengan teriakannya. Seketika kami terdiam, merasa tertusuk. Seolah tak percaya pada gol yang terjadi 3 menit sebelum injury time. Semenit kemudian, masih dalam euforia gol, kami terhentak. Sebuah petasan meledak bak bom persis di belakang gawang Malaysia. Kiper mereka terjatuh.

***

Tak ada persiapan, semua dadakan. Setelah menaklukkan Kamboja pada Kamis, 24 Agustus dengan skor 2-0, tim sepakbola U-23 Indonesia ternyata dikabarkan melawan tuan rumah SEA Games 2017 pada Sabtu, 26 Agustus. Terbesit pikiran becanda, “Kalo berangkat kayaknya seru, lawannya tuan rumah, mau coba gimana rasanya away dukung timnas di kandang lawan.” Pernah sekali saya baca bagaimana sensasi saat mendukung timnas di kandang lawan dari salah satu tulisan Pangeran Siahaan, saat mendukung timnas di Malaysia atau Filipina (saya lupa tepatnya tahun berapa).

Pikiran becanda ini saya curahkan ke kakak saya melalui WhatsApp, “Mas, #awayday, yuk,” pada malam Jum’at, 24 Agustus. Ia merespon negatif karena pertimbangan tiket pesawat yang mahal. Selang beberapa menit kemudian, ia balas chat saya dengan informasi harga tiket yang cukup murah untuk H-2 penerbangan. Pada Jum’at pagi, kami beli tiket untuk penerbangan Sabtu, jam 09.05, tanpa kejelasan tiket nonton di stadion. Modal nekat.

Jum’at siang, kami masih belum mendapatkan kejelasan tiket. Akhirnya saya ikuti saran akun Twitter @infosuporter untuk mengikuti group WhatsApp yang dibuat khusus untuk suporter timnas yang ingin bertandang ke Malaysia. Dari situlah saya menghubungi salah satu suporter yang telah mengikuti pertandingan sejak melawan Kamboja yang dengan baik hati menyisihkan 2 tiket untuk saya dan kakak saya. “Tapi saya minta tunjukkin Mas punya tiket pesawat. Prioritas saya yang memang datang dari Jakarta,” ucapnya melalui chat sebagai syarat mendapatkan tiket nonton.

***

Hanya membawa backpack (karena rencana kami hanya 2 malam), kami menuju Soetta dengan Damri. Dari grup WhatsApp, terhitung absen yang berangkat jam 9 pagi itu sekitar 20 orang. Sesampainya di boarding room memang betul, malah menurut saya lebih banyak. Kami berkumpul layaknya teman lama, bertukar informasi 5W+1H. Flight agak terlambat sehingga kami baru terbang jam 10, lalu sampai pukul 12.45 waktu Malaysia (satu jam lebih cepat dari WIB) dengan durasi terbang 1 jam 45 menit.

Sampai di sana suporter yang mencapai 20an orang langsung berpencar dengan tujuan masing-masing. Sedangkan saya dan kakak saya membuat kelompok kecil sebanyak 8 orang. Tujuan kami adalah menuju Bukit Bintang (BB) untuk mengambil tiket baru kemudian menuju Stadion Shah Alam. Setelah mengganti operator Malaysia (karena roaming mahal), langkah kami sempat terhenti 1 setengah jam di imigrasi karena padatnya antrian.

IMG_6169

Pukul 14.30, akhirnya kami lewati imigrasi dan memutuskan untuk menggunakan layanan transportasi Grab dari bandara (KLIA) untuk menuju BB. Sebenarnya naik transportasi umum yang telah disediakan pemerintah Malaysia dengan sangat baik seperti kereta atau bis juga bisa, dengan catatan mempunyai waktu yang senggang. Pertimbangan kami adalah kami harus ke BB sesegera mungkin (karena teman-teman di sana telah menunggu). Apalagi jarak dari KLIA menuju BB sejauh 57 km. Berhasil kami tempuh dengan GrabCar dalam waktu ± 1 jam, dengan ongkos 65 + 20 (tol) Ringgit Malaysia (RM) per mobil. Satu mobil diisi 4 orang.

Sampai di BB kami rehat sejenak untuk makan mie atau nasi goreng dan minum teh tarik khas Malaysia itu. 7 orang teman kami yang telah menunggu, memberikan tiket masuk stadion seharga 21 RM. Selesai briefing, pukul 16:45 kami putuskan untuk berangkat ke stadion Shah Alam. Sebagian besar dari kami menitip tas yang berisikan baju di kosan salah satu suporter yang kerja di sana, mengantisipasi beratnya bawaan jika keadaan terburuknya dikejar pendukung tuan rumah. Sebanyak 8 orang naik 2 mobil rentalan, saya dan kakak saya bersama 4 orang naik Grab 6 seater. Jarak BB ke Shah Alam 30 km, dengan ongkos 55 + 4 (tol) – 6 (promo code) RM.

Karena lalu lintas yang macet, disebabkan oleh banyaknya suporter tuan rumah yang menuju stadion, kami baru sampai di stadion sekitar pukul 18.00. Kami diturunkan di selatan stadion, tepatnya di SPBU Petronas, seksyen 13. Kata supir Grab, ini jadi tempat penumpang turun dan naik ketika ada pertandingan karena letaknya yang strategis. Setelah turun kami lanjutkan dengan berjalan ± 1 km dari selatan stadion menuju pintu barat, tempat masuk suporter Garuda.

Sampai di kuadran A stadion, saya takjub melihat bagaimana antusiasme orang Indonesia yang ingin membela timnasnya bertanding. Seketika saya recall keramaian pada AFF 2010 melawan Filipina di SUGBK. Saya jadi merasa di rumah sendiri. Ramainya suporter tak bisa terlepaskan dari banyaknya orang Indonesia yang memang bekerja di sana.

IMG_5795

Setelah menunggu teman-teman yang menggunakan mobil rental parkir, akhirnya pukul 18.40 kami re-group ber-15 di kuadran A. Kami tidak langsung masuk, karena salah satu teman kami menunggu 2 orang yang menitip tiket padanya. Ini yang menjadi kendala. Mungkin pembaca banyak yang berpikir, “Kenapa dari KLIA enggak langsung ke  stadion Shah Alam saja buat janjian ngasih tiketnya?”

Terlalu banyak orang, buruknya sinyal smartphone, serta tunggu-tungguan yang bisa saja berakibat tidak dapat masuk ke stadion karena penuhMaka teman kami berinisiatif bertemu di BB. “Pas kemarin lawan Kamboja janjian ketemuan di stadion, chaos, makanya lebih baik ketemu dulu di BB ambil tiket,” katanya. Karena ketidakjelasan kabar dari 2 orang ini dan terlalu lama menunggu, dengan berat hati kami putuskan untuk meninggalkan mereka.

Saat pengecekan, kami tidak diperbolehkan membawa botol minum plastik. Teman saya yang membawa tumblr pun harus dititipkan dulu, baru setelah pertandingan diambil kembali. Mungkin dengan alasan di dalam ada pedagang yang menjual minuman maupun makanan. Jarak dari pengecekan ke mulut stadion sekitar 100 meter. Sampai akhirnya kami masuk, dan sadar bahwa jumlah kami amat sedikit dibandingkan suporter seberang.

IMG_5817

Isi stadion didominasi oleh warna hitam-kuning. Mereka sudah mulai melakukan pemanasan pita suara untuk meneriaki kami. Padahal kick off baru akan dimulai 75 menit lagi. Kami duduk di grandstand right, tepatnya di sebelah tribun barat. Tribun di atas dan kanan (tribun selatan)  kami memang dikosongkan. Mungkin antisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, pikir saya.

Pukul 19:45, satu jam sebelum kick off, pemain dari kedua tim masuk untuk melakukan pemanasan. Kami pun tak mau kalah, sebisa mungkin suara ini teriak sekencang-kencangnya agar membakar semangat mereka. Tetapi tetap saja, ada rasa kagum sekaligus ciut ketika Ultras Malaya menampilkan koreografi serta chants yang menyamarkan suara kami. Mereka Ultras Malaya, memimipin nyanyian untuk kemudian diikuti semua suporter Negeri Jiran.

Tepat ketika pemain-pemain selesai pemanasan, saat itu juga di tribun selatan, tribun sebelah kanan kami, dimasuki oleh suporter Malaysia yang berlarian seakan telah melakukan ‘jebolan’. Yang tadinya tribun itu kosong, seketika terisi penuh. Hal ini menimbulkan rasa ngeri dan terancam yang semakin kuat. Perasaan yang tak akan bisa dirasakan di stadion sendiri apalagi di depan televisi.

Pukul 20:38, para pemain masuk ke lapangan disusul sorak sorai gembira seisi stadion. Negara kami diberi giliran pertama untuk menyanyikan lagu kebangsaan. Rasa merinding sekaligus bangga muncul. Apalagi ini di kandang lawan. Akhirnya saya mengerti mengapa pemain sampai-sampai ada yang menangis saat menyanyikannya.

Kami lantangkan Indonesia Raya dengan khidmat tanpa ada pelecehan dari mereka. Begitu juga sebaliknya. Saat mereka menyanyikan lagu kebangsaannya, kami diam dan kagum bagaimana suara mayoritas stadion menggema senada dengan instrumen. Beberapa suporter kami pun ada yang ikut bernyanyi, pertanda mereka telah lama tinggal di sana.

7 menit berselang pertandingan dimulai. Ultras Malaya memimpin chants mereka dengan teriakan, “MA-LAY-SIA!”. Kami tak mau kalah dengan membalas, “IN-DO-NE-SIA!”, diselingi viking war chant ala Islandia, dan nyanyian Garuda Di Dadaku. Pertandingan pertama diakhiri dengan skor kacamata. Kedua tim seimbang saling menyerang. Malaysia dibuat tak berdaya dengan zonal marking Indonesia, sedangkan Indonesia kurang baik dalam final third mereka. Penyakit lama yang tak sembuh-sembuh bahkan cenderung kambuh: penyelesaian.

Ketika babak kedua dimulai, banyak bangku stadion yang masih kosong. Kebanyakan dari suporter kedua tim, termasuk kami, memutuskan untuk membeli minum untuk mengatasi dehidrasi. Makanan juga dibeli buat ganjal perut yang mulai ribut. Pertandinganpun berjalan alot. Sesekali kami menahan nafas dan berhenti dari nyanyian kami ketika kami sedang terserang, tak jarang juga kami marah-marah sendiri karena kegagalan passing dan eksekusi saat menyerang.

86 menit berlalu dapat disimpulkan Garuda Muda memang lebih mendominasi pertandingan dengan penguasaan bola sebesar 57%. Evan Dimas  sangat aktif membantu saat bertahan maupun menyerang. Hanif Sjahbandi, partner Evan Dimas, yang ditugaskan menggantikan peran Hargianto, terlihat kurang apik karena beberapa kali saya lihat melakukan passing error. Febri Haryadi di flank kiri buat ketar-ketir bek Malaysia dengan skill dan pace bintang limanya.

Hingga akhirnya menit 87, Malaysia mendapatkan tendangan pojok. Entah kenapa saat itu saya langsung menutupi setengah muka saya dengan baju. Segala tendangan mati dari awal pertandingan memang membuat kami, para suporter, gugup. Apalagi tendangan pojok kali ini. Semakin guguplah kami karena berada di penghujung waktu normal. Kami menahan nafas.

Selang beberapa detik setelah Muhamad Azih, gelandang tengah mereka, menendang bola, nafas kami tertahan tak menghela. Penyerang mereka, Thanabalan Nadarajah, yang akhirnya menjadi top skorer dengan total 4 gol, berhasil lolos dari jagaan Ricky Fajrin untuk selanjutnya menanduk bola ke arah kiri gawang Satria Tama. Setelah gol terjadi, saya tutupi kepala dengan baju saya selama beberapa detik.

Saya tak melihat bagaimana reaksi sekitar saya pada saat itu. Yang jelas kami semua lemas. Suporter mereka yang berada di tribun atas seketika berlari lalu menengoki kami yang di bawah sambil berteriak kegirangan. Saya dan beberapa teman saya sempat terpancing emosi, dengan meneriaki kembali mereka. Tapi apa daya, suara dari seisi stadion tak akan bisa kami tembus.

Kami yang masih sibuk meneriaki mereka di tribun atas, yang sempat melempari kami botol air mineral, dikagetkan oleh suara petasan bak bom meledak tepat 10 meter di belakang gawang Malaysia, sekitar 100 meter dari tribun kami, disusul teriakan seisi stadion suporter Malaysia. Perasaan terancam kami, tepatnya saya, saat itu amat tinggi. Saking besarnya ledakan saya kira itu bom. Mungkin bukan kami sebagai suporter saja yang diciutkan dengan petasan tersebut, tetapi para pemain khususnya.

Gavin Kwan yang pada saat itu sedang pemanasan dengan Miguel Gandia, pelatih fisik timnas, di belakang gawang Malaysia,  langsung berlari mencari perlindungan menuju bench. Ternyata Gavin Kwan terkena ledakan tersebut hingga melukai betis kirinya. Kiper Malaysia juga terjatuh kesakitan memegangi mukanya. Tim medis sampai masuk ke lapangan untuk mengecek apakah cideranya parah. Selang beberapa waktu, ia kembali berdiri melanjutkan pertandingan.

Pertandingan dilanjutkan dengan tambahan waktu 5 menit. Layaknya tim yang telah unggul, pemain mereka cenderung membuang-buang waktu ketika bola throw-in atau goal kick. Indonesia mendapatkan satu kesempatan emas melalui tendangan pojok. Tetapi gagal dikonversi dengan baik. Hingga akhirnya kesempatan terakhir pada menit 96, Saddil Ramdani melakukan lob pass kepada Osvaldo Haay, gagal diintercept oleh pemain Malaysia, hingga bek mereka, Irfan Zakaria, melakukan tekel yang cukup keras kepada Osvaldo Haay.

Kami berteriak. Berharap wasit memberikan tendangan penalti. Tapi wasit terlalu naif untuk memberikan penalti kepada lawan dari tuan rumah di penghujung waktu. Sekilas penguasaan bola antar kedua pemain memang 50:50, tapi menurut saya bola itu cenderung dimiliki Osvaldo Haay. Mungkin sang wasit berpikir daripada diamuk 70.000 penonton, mending tidak saya kasih. Setelah goal kick, peluit panjang resmi dibunyikan. Seketika para Garuda Muda ini roboh terlentang. Sebagian dari kami memilih juga untuk diam, masih tak percaya gol yang terjadi 10 menit yang lalu.

Lain halnya dengan Aliansi Suporter Indonesia di Malaysia yang sejak awal memimpin chants. Mereka memilih untuk membakar semangat kami kembali dengan viking war chant. Tetapi banyak dari kami yang masih menatap kosong ke arah lapangan. Sedangkan suporter mereka masih berteriak kegirangan karena masuk final. Tak sedikit juga pemain mereka yang mencoba menghibur pemain kami yang sedang menangis.

Setelah kedua tim saling berjabat tangan, para Garuda Muda berkumpul dan memberikan ucapan terima kasih dengan mendekati kami. Kami balas terima kasih mereka dengan tepuk tangan, yang telah berusaha semaksimal mungkin menyenangkan hati kami khususnya yang datang dari kampung halaman.

Dalam suasana yang masih ramai oleh teriakan girang dari suporter mereka, kami ber-15 memutuskan untuk segera keluar dari stadion untuk kembali ke BB. Mengantisipasi tingginya arus keluar stadion yang mungkin dapat memicu kerusuhan. Di luar stadion sudah banyak polisi Malaysia siap dengan senjatanya untuk mengatasi huru-hara pasca pertandingan. Saat di luar stadionpun, kami masih mendengar chants suporter Malaysia yang larut dalam euforia masuk final.

Sekitar jam 00.30, Ahad dini hari, Alhamdulillah, walaupun macet, kami sampai dengan selamat di BB dengan waktu perjalanan ± 1 setengah jam. Kami istirahat sejenak di rumah makan yang sama sebelum berangkat ke stadion tadi, sebelum akhirnya berpisah dengan tujuan masing-masing. Ada yang pulang jam 9 pagi, jam 1 siang, sedangkan saya dan kakak saya memutuskan untuk pulang Senin jam 6 pagi.

***

Sebenarnya saya agak kecewa dengan pihak keamanan stadion yang membolehkan masuk suporter Malaysia di sebelah kanan tribun kami (tribun selatan), ditambah dengan fakta bahwa petasan yang meledak bak bom itu dilempar dari tribun tersebut. Tetapi andai kedua hal itu tidak terjadi, mungkin tulisan ini akan membosankan dan sensasi yang saya rasakan akan biasa-biasa saja. Bagaimana kami dikepung oleh suporter tuan rumah dari segala arah. Bagaimana rasa terancam itu muncul setelah petasan itu meledak, bahkan salah satu teman saya, yang masih kuliah semester 2, sampai bilang ia merasa takut dan ciut atas ledakan tersebut.

Mungkin beberapa orang ada yang berpikir, “Ngapain, sih, nonton bola sampai ke luar negeri? Kan bisa lewat TV?” Tidak sampai Anda mencobanya sendiri. Kemenangan tim yang kita dukung menurut saya hanyalah sebuah bonus.

Pertandingan sesungguhnya ada pada sensasi saat mendukung negeri bukan di kandang sendiri. Jikalau ada kesempatan dan rezeki, cobalah sesekali. Tiada rugi. Buat bahan cerita untuk anak dan istri!

Sampai jumpa di kandang lain, Ultras Garuda!

IMG_6143

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Catatan dari Semarang Tawang

Processed with VSCO with a6 preset
Merapi dari Merbabu

(Mungkin) Masih banyak orang yang enggan menghabiskan hartanya untuk berlibur atau ke tempat yang belum pernah ia datangi.

Jika ditanya mengapa, mereka menjawab, “lebih baik uangnya ku tabung tuk masa depan.”

Lalu bagi sebagian orang lainnya, ke tempat yang belum pernah ia kunjungi adalah sebuah tabungan juga untuk masa depannya.

Maka kelak, ketika sebagian dari mereka yang menabung tuk masa depannya ingin berpergian, akhirnya tak punya waktu karena terlalu banyak urusan yang tak dapat ditinggal, seperti keluarga.

Lalu mereka yang tak punya tabungan harta tuk masa depan, telah berpergian ke ratusan tempat. Walau (mungkin) akhirnya hanya sedikit tabungan, setidaknya mereka punya cerita untuk anak-cucunya.

Sebagai tabungan sebuah keinginan, bahwa hidup tak bisa stagnan dan harus bergerak untuk sebuah pelajaran.

Semarang, 21 Januari 2016

فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا
[Maka berjalanlah kamu ke setiap pelusuk bumi itu; 67:15]

Tentang Kopi dan Ingatannya pada Gula

Processed with VSCO with hb2 preset

“Bu, aku ingin kopi.”

“Kopi hazelnut yang kita beli di Malaysia itu?”

“Bukan, yang barusan Ibu buat untuk Bapak.”

Tanpa menjawab, dengan cekatan ia mengambil gelas yang isinya kira-kira 300 mililiter, buah tangan dari resepsi Widya & Andi dengan sebuah gambar laki-laki yang membawa motor kopling menggonceng si perempuan. Keduanya lengkap berpakaian adat Jawa Tengah.

Ia ambil bubuk kopi Kapal Api dari alumunium tempat ia biasa menyimpannya yang berumur sudah lebih dari 12 tahun, terhitung sejak aku masih kelas 2 SD, di rak geser di bawah kompor.

Ia masukkan bubuk kopi sekitar dua sendok teh ke dalam gelas disusul satu sendok teh gula dari Tupperware di sebelah kanan kompor, yang dapat menampung satu kilo gula bungkus.

Setelah semua komposisi siap, ia tuangkan air panas dari ceret yang matang 10 menit lalu. Gelembung kecil sesekali terlihat dari gelas itu. Tak lupa ia aduk dengan sendok teh bekas gula dan bubuk kopi. 9 adukan. Tidak lebih, tidak kurang.

Ia angkat sendok teh dari dalam gelas lalu ia taruh gelasnya di meja bulat berdiameter 84 centimeter di seberang kompor pertanda kopi siap diminum. Gumpalan buih terlihat di tengah pusaran adukannya.

Tanpa basa-basi, aku ambil gelas tersebut lalu membawanya ke meja kerja tanpa mengucap terima kasih.

Pahit di awal seruputan, lalu manis, disusul dengan asam. Selalu seperti itu rotasinya. Senada hidup.

Andai kopi itu hidup. Karena pahit, bukan berarti aku harus mengeluh dan menyerah untuk meminumnya lagi, kan?

Sebagai ucapan yang luput diutarakan. Terima kasih Ibu, telah mengingatkanku serta tak lupa memasukkan gula sebagai ingatan bahwa kopi tak melulu pahit.

[Review Buku] Blind Willow, Sleeping Woman: Kumpulan Cerita Pendek Haruki Murakami

Processed with VSCO

Murakami telah bersilih ganti menulis novel dan cerita pendek sejak debutnya menjadi penulis fiksi pada 1979. Fase-nya selalu seperti ini: ketika ia telah selesai menulis novel, ia menemukan dirinya ingin menulis cerita pendek. Ketika cerita pendek selesai ia tulis, ia menemukan dirinya ingin menulis novel.

Keinginannya untuk menulis cerita pendek tumbuh setelah ia menulis dua novel pendek: Hear the Wind Sing and Pinball dan 1973. Di antara 1980 hingga 1981 ia menulis tiga cerita pendek pertamanya. A Slow Boat to China, A ‘Poor Aunt’ Story, dan New York Mining Disaster. Dua judul terakhir terdapat di buku keluaran 2006 ini.

The short story is a kind of experimental laboratory for me as a novelist,” tulis Murakami di Introduction buku yang mendapat rating 3.83 di Goodreads.

***

Tak berbeda dengan Kafka on the Shore (review di sini), gaya penulisan Murakami yang surealis menimbulkan rasa ganjal. Ada bagian logika yang menolak ketidak-masuk-akalan cerita Murakami. Misalnya pada cerita The Rise and Fall of Sharpie Cake. Bagaimana sebuah burung dapat berteriak, “Sharpies?

Meskipun terkadang perasaan kembali menolak untuk menerima cerita surealis, paragraf demi paragraf saya halap dengan memerhatikan detail Murakami saat menulis. Saya yakin itu menjadi senjata utama agar pembacanya dapat terjun jauh ke dalam rangkaian kata-katanya sehingga bukan alur cerita yang dicari tetapi sensasinya.

***

Plot-twist pada cerita pendek Murakami menjadi harapan saya karena alur cerita Kafka on the Shore, yang berhasil saya selesaikan dalam 2 bulan. Buku ini saya selesaikan hampir 4 bulan. Bukan karena buruknya alur cerita yang ia tulis, atau sulitnya vocabulary yang saya temukan sehingga butuh memakan waktu yang lama. Tetapi, karena minimnya keinginan saya untuk melanjutkan cerita demi cerita.

Jika membaca Kafka on the Shore (novel) muncul keinginan yang besar untuk menyelesaikannya dengan segera karena chapter demi chapter yang berkaitan, membaca Blind Willow, Sleeping Woman (cerita pendek) butuh kesabaran untuk memulai alur cerita dan menemukan tokoh yang baru untuk diingat. Karena beberapa cerita pendek yang disajikannya saya kurang ingat bahkan cenderung terlupakan karena plot yang kurang menarik.

A Perfect Day for Kangaroos, The Year of Spaghetti, The Ice Man, dan The Kidney-Shaped Stone That Moves Every Day, menjadi pilihan terbaik saya dari 24 cerita pendek yang Murakami sajikan.

Nilai 3 dari 5 menjadi pilihan saya mengingat kurang banyaknya cerita pendek yang berbekas dalam pikiran saya. Hanya 4 dari 24 cerita pendek. Tetapi secara rata-rata buku ini wajib untuk dibaca penggemar dan penulis cerita pendek. Karena bagi saya pribadi, saya dapat belajar bagaimana membuat sebuah alur cerita pendek dengan maupun tanpa plot twist.

Buku berbahasa Inggris setebal 362 halaman ini dapat dibeli di toko buku Books & Beyond atau Kinokuniya dengan harga $16.00 atau kisaran Rp220.000.

Berikut kutipan pilihan saya pada buku ini:

  • You can never change things back to the way they were. –Page 237
  • Death is not the opposite of life, but a part of it. –Page 237
  • Everyone is looking for something from someone. –Page 240
  • “There are only three ways to get along with a girl: one, shut up and listen to what she has to say; two, tell her you like what she’s wearing; and three, treat her to really good food. Easy, huh? If you do all that and still don’t get the results you want, better give up.” –Page 289.
  • “Sometimes we don’t need words,” –Page 305
  • “You will probably become involved with many women in the future, but you will be wasting your time if a woman is the wrong one for you.” –Page 312.
  • Everything in the world has its reasons for doing what it does. –Page 325.

[Cerita Pendek] Sepak Bola dan Senja Itu

Setiap hari, suara cempreng anak umur 10 s/d 12 terdengar memanggil nama temannya, berdiri persis di depan pagarnya disusul dengan kalimat, “main yuuuuk!”

Sekali. Dua kali. Tiga kali. Tidak menyaut. Mereka tak kehilangan akal. Dipencetnya bel rumah teman yang dipanggil agar terdengar, atau berbarengan dengan teman yang lainnya, memanggil nama yang bersangkutan agar terdengar lebih kencang.

.   .   .

Satu per-satu anak muncul di taman sebesar 2x lapangan futsal, disusul suara bola yang dihentakkan ke aspal jalanan di sekitar taman. Semakin siang dimulainya, semakin baik, pikir kami. Setelah berkumpul, kami dibagi menjadi 2 tim. Salah satu dari kami pasti selalu mengusahakan agar yang jago tidak dengan yang jago agar permainan dapat lebih seru.

“Mana sandal lu? Sandal gue udah dipake di gawang sana.” Suaranya yang agak nge-bass membuat ia tidak seperti anak-anak seumurannya.

“Nih,” jawab Ilham sambil mencopot sandal jepit swallow biru-nya.

“Oke, sekarang kita ke sana, gambreng, ya!”

Dikumpulkannya anak-anak yang bermain di taman itu untuk kemudian diajak gambreng. Ia menghitung anak yang ada di situ, tetapi…. Ah, kelebihan satu, pikirnya.

“Kelebihan satu, nih, orangnya. Kalo begitu, gue sama Dhika, Gema, hmm.. sama Adit. Sisanya di gawang sana.” Sambil menunjuk pohon yang dijadikan salah satu tiang gawang dengan sandal menjadi penanda tiang transparan satunya. Meskipun ada akar-akar yang cukup besar di sekitar permukaan pohonnya, kami tidak terlalu menghiraukan. Dimulainya pertandingan ditandai siulan priwitan dari Adna. Sampai pada tengah permainan..

PRANGGGG!

“Waduh! Kabur enggak, nih?” Tanya Ado sambil membenarkan celana Quiksilver pendeknya yang kedodoran karena kebesaran.

“Enggak usah, palingan nenek gue cuman marah-marah bentar terus kita bisa main lagi, tenang aja,” kata Adit. Mimiknya terlihat seperti memikirkan bagaimana reaksi neneknya yang keluar dari rumahnya setelah bola yang dipakai untuk bermain mengenai pot bunga rawatannya.

Tak lama kemudian, engsel pintu rumah Adit terlihat bergerak ke bawah disusul langkah gegap gempita dari dalam. Tanpa kami disadari, neneknya sudah berada di belakang pagar hitam rumah Adit, menghadap ke arah kami. Nenek Adit menggunakan daster bunga-bunga, rambutnya dikuncir. Hiasan kalung dan gelang emas terlihat dipakainya.

“HEH, TONG! Siape yang nendang tadi?!”

Hening.

“Ngaku, enggak?! Kalo enggak ngaku bolanya gua ambil, nih!” semakin teriak Nenek Adit kepada kami.

Kemudian Dhika memecah keheningan di antara kami yang hanya melongo melihat nenek Adit mengoceh tiada henti. Dengan ekspresi muka yang panik, ia bilang “Eh, ngaku buruan, ngaku! Ntar bola gue diambil besok kita enggak bisa main, nih.” Walau Dhika tahu siapa yang menendang, tetapi ia sungkan untuk menyuruh penendang mengaku.

Setelah Dhika berbicara, berlari kecil dari belakang, Tian dengan gagah langsung mendekati pagar rumah Adit yang persis di seberangnya, bola tergeletak. Tanpa basa-basi dan melihat nenek Adit yang berjarak kurang dari satu meter, ia langsung mengambil bola, berbalik badan, berlari kecil menuju arah kami, meloncati selokan, dan kembali area bermain. Sementara nenek Adit masih mengocehi kami yang bukan seperti memarahi tetapi terlihat seperti memantrai.

Sepak bola senja itu kami lanjutkan kembali. Setiap dari kami bermain tak beralaskan kaki. Ada rasa nyaman dan puas ketika menendang bola tanpa alas kaki. Walaupun sesekali tersandung batu, tertancap duri tanaman, atau beradu tulang kering yang menyebabkan memar, tidak mengurungkan niat kami untuk tidak beralaskan kaki.

Sering, anak lain seumuran kami tanpa diundang. Datang dan bermain di sekitaran area bermain bola yang terdapat ayunan dan besi untuk bergelantungan, dan berharap diajak bermain. Tak jarang juga, kami bermain tanpa menghiraukan anak yang baru muncul itu.

“Ada yang kenal, nggak?” Tanya Galuh sambil menengok ke anak yang baru datang.

Semua menggelengkan kepala. Kemudian permainan dilanjutkan kembali.

Biasanya, setelah kami bermain selama seminggu berbarengan, salah satu dari kami akan mengusulkan untuk ngadu (sparing) dengan blok lain. Di komplek ini, setiap blok mempunyai taman yang memang digunakan untuk bermain sepak bola dengan permukaan area bermain bola yang berbeda-beda. Kebetulan, blok D, tempat kami bermain, bermain bola di rumput.

“Gimana kalo kita ngadu ke bloknya Ega di blok B?” tanya Dikha.

“Boleh aja, sih. Cuman pada mau kaga? Kan di sana aspal, bukan rumput. Tapi enak, sih, ada gawang aslinya,” jawab Ilham disusul langkahnya sambil memakai sandalnya yang telah selesai dipakai untuk gawang-gawangan.

Kami melihat satu dengan yang lainnya sambil mengangguk, menandakan setuju saja dengan apa yang dikatakan Ilham.

Matahari pun mulai mengumpatkan dirinya. Sering kali salah satu dari kami dipanggil paksa oleh bibi asuh (pembantu) untuk pulang. “Sebentar lagi kan, Maghrib! Ntar kalo maghrib-maghrib masih main diculik kolongwewe, lho!” teriak bibi asuh Jason kepada kami yang masih duduk santai di tengah area bermain bola untuk sekedar mengistirahatkan kaki setelah ia menyuruh Jason pulang yang daritadi hanya bermain di ayunan. Rasa penasaran kami akan diculik dan rasa takut pada kolongwewe bercampur jadi satu yang berujung pada selesainya permainan sore itu dibarengi selesainya adzan maghrib.

Satu per satu dari kami kembali pulang ke rumah. Kesepian ke-tiga jalan menuju taman itu diramaikan oleh suara kami yang membicarakan apa yang telah terjadi pada permainan bola tadi, atau sekedar menanyakan kaset PlayStation apa yang ingin dimainkan nanti malam. 

“Besok main lagi nggak, Yan?

“Main. Lu panggil gue aja, ya,” jawab Tian.

Saya mengangguk.

Tian berjalan belok kanan ke rumahnya, saya berjalan belok ke kiri, menuju rumah dan sesekali menatap langit. Langit, rasa, dan jalan sembilan tahun lalu dengan hari ini, sama sekali tak berubah.

Sesampainya di depan pagar rumah, Ibu saya bertanya sambil membukakan pintu, “Lho, Dek, tumben, nggak naik mobil bareng papa?” Tanpa menjawab, saya semakin tersadar, bahwa saya baru pulang sehabis shalat maghrib di masjid, bukan setelah bermain bola, senja itu.

P.S.: Semua tokoh di cerita ini, ada.

Review Buku: Kafka on The Shore – Haruki Murakami

KafkaKetertarikan saya membeli karya Murakami muncul saat bermain ke toko buku, Books & Beyond, di kampus. Bukunya selalu ada pada susunan best-seller. Penasaran, saya telaah satu per-satu bukunya dengan baik. Mulai dari Norwegian WoodWhat I Talk About RunningThe Strange Library1Q84Dance Dance Dance, dan lainnya.

Hampir di setiap buku, tercantum Author of The Wind-Up Bird Chronicle, yang mengindikasikan bahwa buku tersebut adalah yang terpopuler, mungkin, pikir saya. Tetapi, pikiran saya bukan tertuju pada The Wind-Up Bird Chronicle (yang pada saat itu ada). Pikiran saya tertuju pada, Kafka on the Shore.

Teringat oleh saya Pangeran Siahaan pernah menyebut Kafka on the Shore sebagai buku favoritnya di sebuah video. Tak ragu, saya beli pada 6 Mei lalu setelah saya menyelesaikan I AM ZLATAN.

Butuh 2 bulan, untuk saya, menyelesaikan buku ini (total 489 halaman). Cerita awalnya yang abstrak, yang bagi saya, benar-benar tidak bersangkutan antara chapter satu dengan yang lainnya, membuat saya jarang membaca dan tidak menjadikannya prioritas utama saat waktu kosong.

Sedikit demi sedikit saya lanjutkan membaca, barulah saya mendapatkan feel dari Kafka, tokoh utama pada novel fiksi tersebut. Marukami menggambarkan tokoh-tokoh di dalam novelnya secara datar dan muram. Hal tersebut saya simpulkan karena gaya Murakami yang menuliskan tokohnya seseorang yang suka menyendiri, tidak mempunyai banyak teman, sedikit berinteraksi dengan orang lain, dan suka membaca buku.

Gaya ceritanya yang surealisme sama sekali tidak mengganggu saya yang tidak menyukai ke-tidak-masuk-akal-an. Tetapi, malah membuat saya semakin terkagum akan imajinasi dan detail-nya ia pada saat bercerita dan membawa saya seakan  berada di dalam cerita tersebut, melihat, segala kejadian yang diceritakan penulis yang telah menerbitkan lebih dari 10 buku ini.

Buku ini menjadi salah satu novel fiksi terbaik yang pernah saya baca. Jika ada nilai 4,5 di Goodreads, akan saya beri. Tetapi tidak ada, jadi saya beri nilai 4.

Bagi saya, yang terbaik dari buku ini adalah bagaimana Murakami dapat menyulap pembaca mempunyai imajinasi bagaimana, semisal, ruangan yang diceritakannya tergambar, atau bentuk muka dari tokoh-tokoh yang dibuatnya.

Bagian terbaik yang lainnya, bagi saya, adalah bagaimana Murakami dapat mewajibkan bagi saya membuat sebuah dugaan bagaimana cerita ini berlanjut atau berakhir.

Saya tak perlu menjelaskan bagaimana selesainya buku ini, yang jelas, yang saya butuh sekarang adalah: mendiskusikannya

Happy Reading!

P.S.: Ada bagian di mana pembaca akan kaget dan bergumam, “mengapa ada konten semacam ini?” setidaknya, menurut saya.

Sepuluh-empatpuluh

Setanpun enggan melihat blog ini setelah vakum begitu lamanya. Maka tugas penulis adalah memberitahu malaikat untuk mengusir setan sehingga blog ini bisa dilihat lagi oleh beberapa pengikutnya. Bukan, saya bukan nabi.

Tahukah engkau bahwa menulis membuat masalah yang ada di pikiran menjadi sedikit enteng? Bukan hilang masalahnya, tetapi berkurang bebannya. Cobalah. Sesekali.

Maka dari itu tulisan ini dibuat untuk mengentengkan beban pikiran selama penulis tak menulis. Beban 4 bulan tidak menulis.

Anggap saja anak TK, dan ia bicara, “masalah itu pasti ada jalan keluarnya. Entah lewat air mata, solusi tak terduga, bahkan bunuh diri saja. Tinggal bagaimana cara menyikapinya, bukan?”

Puitis? Memang. Dalam puisi tak ada batasan. Tak ada aturan. Mengerti apa tidak engkau? Engkau mengerti tidak? Apa engkau mengerti? Sesukamu. Tapi perasaan tak bisa sesukamu.

Mati rasa? Apa rasa itu yang mati? Sakit hati? Atau hati yang disakiti? Peduli setan? Apa setan yang peduli? Apapun. Sesukamu.

Jangan menggelengkan kepala. Persepsi engkau hanya untuk engkau. Bukan untuk disebarkan. Persepsiku, persepsiku. Persepsimu, persepsimu. Selamanya tak akan sama.

Lalu, buat apa manusia dibuat berbeda-beda?

Engkau adalah engkau. Engkau bukan aku.

Omong kosong? Jangan terlalu defensive, pikirkan dahulu.

Andai, semua bisa berpikir. Andai.

Hukum gravitasi tak ada. Semua makhluk tak akan pada tempatnya. Termasuk hati, rasa, dan pikiran.

Lalu, buat apa ada Tuhan?

Kalau engkau berkata, “Hidup tak adil,” maka tantanglah Tuhan. Sekali-kalinya engkau menantang, maka sekali-kalinya engkau akan berhenti menentang. Jangan. Jangan sekali-kalinya berani.

Jika engkau pendendam, maka engkau tak percaya Tuhan.

Jika engkau pendendam, maka engkau melangkahi-Nya. Engkau bersikap lebih dari Yang Maha Adil, bukan?

Jika engkau mendendam karena Tuhan (menurut kau) tak adil, maka cepat atau lambat, pertanyaanmu akan terjawab.

Hanya Tuhan dan penulis yang mengerti. Kecuali kau memang suka puisi. Sesukamu.

Anggaplah sebuah tulisan ini hanya kata pengantar blog ini yang sudah mulai usang, sunyi, atau gelap. Selanjutnya akan ada beberapa lampu yang akan menyala, kemudian mulai menulis (lagi).

Sepuluh-empatpuluh.