[Cerita Pendek] 00.01

2016-01-01 12.07.49 3.jpg

Hingga saat itu ia tidak mengerti mengapa Tuhan memberitahu waktu yang belum datang melalui mimpinya.

***

00.01. Ia terbangun dan mendengar suara letupan kembang api yang menggelegar diikuti teriakan orang-orang dari luar kosannya. Satu letusan kecil. Dua letusan besar. Dua letusan kecil. Tiga letusan besar. Seterusnya hingga ia mengurungkan niat untuk keluar dari kamarnya untuk sekedar melihat ratusan warna yang menghiasi langit pada malam satu tahun sekali itu. Percuma saja memeriahkan malam ini dengan ribuan bahkan jutaan api yang menjadi kembang di langit-langit, sebelum dan sesudah kembang itu dinyalakan, kau akan sama saja, tak berubah, pikirnya.

15 menit ia mengurungkan niat, hingga mulai sunyi di sekelilingnya, tanda perayaan telah selesai. Dari jendela berukuran 1×1 meter ia intip ke luar. Sudah tak ada kembang api, saatnya keluar. Lapar juga perutku ini. Kamar kosnya ukuran 2×3 dijadikannya tempat kesunyian paling nyaman dari segala tetek bengek keramaian di sekitarnya.

Ia buka pintu kosannya sembari mengambil sandal jepit dari belakang pintu. Ia langkahkan kaki kanannya dahulu, kiri, lalu menutup pintu dan menguncinya. Ia berjalan ke kanan menuju tangga 5 meter dari pintu kosannya, melewati 2 kamar kosan yang gelap gulita, tak ada penghuni. Ia memang sengaja memilih kamar kosannya di lantai 2 agar tak terganggu oleh ramainya lalu-lalang orang di lantai 1.

Setelah turun tangga, ia menuju pagar yang tidak dikunci. Walaupun penghuni kosan seluruhnya laki-laki, tapi biasanya setelah jam 12 malam pagar telah dikunci. Mungkin karena tahun baru, pikirnya. Ia berjalan ke kiri setelah menutup pagar kosan.

15 meter dari gang kosannya yang hanya cukup satu mobil sedan untuk melewatinya terdapat jalan raya dengan keramaiannya. Hingga jam 2 pun ‘abang’ ketoprak dan nasi goreng biasanya masih jualan, melayani mahasiswa yang masih mengerjakan tugasnya atau insomnia.

4 meter sebelum sampai di jalan raya ia merasa agak janggal. Di malam-malam biasa, jalan ini ramai, tapi kenapa tidak ada orang lalu-lalang di malam perayaan seperti ini?

Tepat 1 meter sebelum sampai di pertigaan jalan raya itu ia sudah tahu jawabannya. Semua orang tergeletak tak bergerak tanpa sedikitpun ada darah, tanpa sedikitpun ada tanda pembantaian, hanya ada kepulan asap di langit-langit. Lalu sadar hanya ia yang berdiri tegak. Merasa seakan di kota mati.

***

Sambil memegang kepalanya, ia berjalan 4 meter dari pagar kosannya ke kanan, menuju rumah kontrakan dengan warung kecil di depannya yang menjual minuman, makanan ringan, roti-rotian, dan obat pertolongan pertama.

“Bu, ada obat migrain?
“Ada, Dek, sekedap, tak ambilkan dulu.”

Sembari menunggu ibu warung mengambilkan obat di dalam rumahnya, ia sempat melihat 5 anak kecil, kisaran 6-9 tahun memegangi kembang api dan petasan korek sambil berlari dan bercanda ke arah jalan raya.

“Nih, Dek.”
“Berapa, Bu?”
“3000, Dek. Kenapa kamu? Sakit?” Tanya ibu warung sambil memberikan obat berbungkus merah.
“Nggak, Bu, cuman sakit kepala aja habis bangun tidur 15 menit yang lalu.”
“Oh, yasudah, cepat sembuh.”
Hatur nuhun, Bu.”

Ia berbalik badan untuk siap kembali ke kosannya. Pada saat sampai di depan pagar, ia terhenti karena dari arah jalan raya lewat temannya dengan sepeda motor.

“Bro, enggak ikut ke alun-alunkah? Anak-anak pada di sana, ramai,” tanya temannya sambil mematikan motor 150cc-nya.
“Enggak. Sakit kepalaku.”
“Yakin? Ada perempuan yang kamu suka, lho.”
“Peduli setan. Biar mati saja dia,” jawabnya sembari menutup pagar dan berbalik badan menuju tangga. Tanpa sempat temannya menjawab, ia sudah menaiki anak tangga pertama.

19.21. Belum pernah ia merasakan sakit kepala yang cukup kuat seperti ini. Selama 2 tahun kuliah di luar kota ini ia sehat tak pernah sakit sekalipun. Setelah minum obat tanpa makan malam, ia putuskan untuk tidur-tiduran di kasurnya. Mungkin dapat membaik, pikirnya.

***

Satu. Dua. Tiga. Kembang api meletus di langit-langit diikuti kepulan asap yang baunya berbeda. Ia tak pedulikan selama ia aman di dalam kamar. Hingga perutnya lapar. Ia putuskan untuk cari makan di pertigaan jalan raya tempat ketoprak ataupun nasi goreng berjualan. Ketoprak dengan telor dadar, bakwan, dan cabai merah 5 buah menjadi favoritnya di tengah malam seperti ini.

Ia buka pintu kosannya sembari mengambil sandal jepit dari belakang pintu. Ia langkahkan kaki kanannya dahulu, kiri, lalu menutup pintu dan menguncinya. Ia berjalan ke kanan menuju tangga 5 meter dari pintu kosannya, melewati 2 kamar kosan yang gelap gulita, tak ada penghuni.

Setelah turun tangga, ia menuju pagar yang tidak dikunci, berjalan ke kiri ke arah pertigaan jalan raya.

1 meter sebelum sampainya ia di pertigaan, yang ia lihat hanya puluhan orang bergeletakan tanpa sedikitpun darah, tanpa sedikitpun tanda pembantaian. Lalu ia sadar…………, matanya pelan-pelan terbuka karena suara adzan isya dari masjid persis di sebelah kosannya. Ah, Tuhan, maafkan, ketiduran. Aku melewati shalat maghrib. Ia langsung berdiri dari tidurnya, sempoyongan.

Kenapa kepalaku pusing begini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s