[Cerita Pendek] Cermin Tiga Jam

IMG_9141
Ilustrasi oleh: Muhammad Farhan. Check his instagram on @awangfarhan

Pintu kamarku tiba-tiba dibuka, tanpa sekali pun ketokan.

“Dek, kamu nggak makan?” Tanya kakak perempuanku sambil menatapku heran.

Aku hanya melihatnya dengan sekilas tanda tak acuh, lalu kembali menatap cermin. Merasa tak dipedulikan, kakakku menutup pintu kamarku agak keras dan membuat meja rias persis di seberangku jadi bergetar. Tetapi pandanganku tetap jelas melihat diriku di dalam sana. Duduk tegap, tak bergerak. Walau cermin bergetar.

***

“Sudah lama sekali rasanya, ya, kita enggak ngobrol. Padahal baru tiga tahun semenjak yang terakhir.”

“Tiga tahun, ya? Ha-ha gue lupa. Terakhir kali yang gue inget pas…., hmm..,”

“Minta izin pakai sepatu yang gue kasih?” Tanyaku.

“Ah, iya!” Teriaknya sambil tertawa. Sumringah.

Namanya Kaza. Perempuan berparas manis yang jika laki-laki melihatnya pasti pikirannya menuju ke, “kupinang kau dengan Bismillah.” Ia sekarang tinggal jauh dari kota metropolitan. Mencoba untuk memberikan yang terbaik kepada sesama dengan mengajar di sekolah dasar terpencil di Nusa Tenggara Timur. Niatnya sungguh mulia.

Sampe sekarang pun gue juga cukup heran kenapa Tuhan kasih gue jalan seperti ini. Listrik serba terbatas, sinyal pun hidup segan mati tak mau, dan harus hemat air. Ya, tapi kembali lagi, sih, gue inget kalimat lo yang gue rasain sekarang.”

“Kalimat gue? Apa, Za? Tanyaku sambil menaikan satu alis.

“Menjadi bahagia itu nggak sulit. Dengan berbagi ke orang lain dan bersyukur atas apa yang kita punya, hati tenang. Tuhan Maha Adil, bukan?”

Aku mengangguk sambil tersenyum. Tuhan Maha Adil. Rasanya aku lupa pernah berbicara seperti itu. Aku tak merasa sama sekali sedang berada di jalur kalimat yang kamu bicarakan, Kaza. Gumamku dalam hati.

***

Pertemuan kami berawal dari kegemaran mendengarkan radio. Aku, sejak kelas satu SMP, selalu ditemani radio saat menutup mata dan membukanya kembali. Kata ibu, tidak baik menyalakan radio semalaman, apalagi pada saat tidur. Sayang listrik, katanya. Maka mulailah semenjak ibu berbicara seperti itu, aku rutinkan untuk mengatur sleep timer sekitar 30 menit sehingga pada saat aku terlelap, radio pun juga.

Kebiasaanku mendengar radio pada saat tidur berkembang hingga kelas satu SMA. Bahkan, mulai ada waktu tertentu yang aku tak akan lewatkan karena telah menjadi waktu favorit. Misalnya pada malam minggu. Orang-orang biasanya akan menghabiskan malam minggunya untuk jalan-jalan dengan pacar atau sekedar bertemu teman lama. Tidak untukku. Aku menikmati suara dari penyiar favoritku dan lantunan lagu jazz dengan line-up penyanyi sekelas Norah Jones, Renee Olstead, Al Jarreau, dan lainnya.

Aku pun tak ragu untuk request lagu melalui sms atau social media yang pada saat itu sangat booming: Twitter. Biasanya si penyiar sudah menyusun deretan lagu yang bisa di-request, sehingga kita hanya bisa memilih apa yang bisa disiapkan saja. Aku ingat pada saat itu meminta penyiar untuk diputarkan lagu Try a Little Tenderness yang dinyanyikan oleh Michael Buble melalui Twitter. Setelah kita me-request lagu, penyiar akan membacakan request tersebut dari siapa dan untuk siapa. Aku, tak menunjukkan request tersebut kepada siapa-siapa karena tak ada temanku yang ku tahu suka mendengarkan radio pada saat itu.

Tak kunjung dibaca request-an ku, aku memutuskan memeriksa timeline Twitter radio bersangkutan untuk melihat ada berapa banyak yang meminta lagu pilihannya diputarkan. Ku buka UberTwitter di BlackBerry Geminiku dan dengan tangkas mengarahkan trackpad pada kolom search.

Dari sekian banyak pe-request lagu, mataku tertuju pada salah satu akun Twitter. Aku klik profilnya dan kemudian menyadari bahwa request-an ku sama, dengannya. Oh, hanya kebetulan, pikirku pada saat itu.

Setelah menutup UberTwitter, namaku dengan namanya disebutkan sebagai pe-request lagu dan kemudian lagu terputar.

***

“Jadi, udah punya rencana apa nih buat tahun-tahun berikutnya?” Tanyaku sambil menyeruput espresso.

“Entahlah. Untuk sekarang yang ada di pikiran gue kayaknya jalanin dulu aja. Kadang gue berpikir kita itu terlalu cemas akan masa depan yang terlalu jauh. Akhirnya kehidupan yang sekarang jadi terlupakan.”

Ah, Kaza. Rasa-rasanya setiap kalimat yang keluar dari mulutmu, ditujukkan pada ku ya?

Aku mengangguk tanda setuju dengan argumennya.

“Kalo lo, gimana? Kayaknya udah punya rencana mateng banget nih buat masa depan, he-he.” Tanyanya sambil tersenyum sarkas.

“Ha-ha, enggak juga. Cuman punya rencana untuk travelling keliling Eropa. Doakan ya, Za.”

“Kalau bisa gue doain, gue doain, kok. Takut lupa he-he.”

Aku menggeleng sambil tersenyum pertanda kamu tak berubah sejak dahulu.

Kemudian kami kembali sibuk dengan bacaan buku kami masing-masing. Aku membaca Letter to Felice karangan Franz Kafka, ia membaca The Alchemist karangan Paulo Coelho. Suasana kafe-buku itu amat sunyi karena sepi pengunjung. Hanya ada kami berdua yang datang pada weekday ini. Biasanya di akhir pekan, kafe-buku ini penuh. Kami pun semakin berbicara dengan diam. Dengan rangkaian kalimat buku yang ada di dalam pikiran masing-masing.

***

Ternyata tidak sesekali aku melihatnya sering me-request lagu melalui Twitter. Sempat beberapa kali aku melihatnya di timeline radio bersangkutan dan akupun semakin penasaran siapa perempuan ini. Tapi bagaimana aku dapat mengetahuinya lebih jauh? Kalo langsung di-mention, pasti keliatan banyak orang. Ketahuan banget modusnya. Pikirku pada saat itu.

Akhirnya aku pun mencoba untuk tidak menghiraukan siapa perempuan tersebut. Sampai pada akhirnya di hari sekolah, aku memutuskan untuk makan siang dengan teman-temanku di kantin yang pada hari itu sepi karena para senior telah libur selesai Ujian Nasional. Setelah memesan Soto Betawi terfavorit di sekolah ini, aku duduk sekitar lima meter dari pintu masuk kantin. Tak lama kemudian, ada seorang perempuan yang menarik perhatianku berjalan masuk ke kantin bersama teman-temannya. Aku perhatikan dirinya dan langsung bertanya kepada salah satu temanku yang eksis di sekolah. Biasanya ia kenal satu dengan yang lainnya.

“Itu cewek yang rambutnya lurus, berponi, dan agak ikal, siapa?” Sambil melihatnya agar temanku tahu siapa yang aku maksud.

“Oh, namanya Kaza. Anak kelas 10…, hmm…, berapa ya, lupa.”

Aku tersenyum, salah tingkah.

“Kenape, lo? Naksir?” Tanya temanku.

“Sedikit, he-he.. Punya kontak BBM-nya?”

“Kayaknya jomblo, deh. Cocok sama lo. Nanti gue cariin kontaknya, oke?”

Aku mengangguk sambil tersenyum.

Tak selang berapa lama temanku bertingkah. “KAZA! Ada yang naksir nih!” Teriak temanku ke arahnya.

Aku membalikkan arah duduk. Pura-pura makan.

Setelah mendapatkan kontaknya, aku memberanikan diri untuk membuka obrolan. Mulai dari, “Lo sering request lagu di radio, ya?” Dan ternyata memang dia orangnya. Perempuan yang selama ini aku perhatikan sering meminta diputarkan lagu favoritnya kepada penyiar favoritku (favoritnya juga) ternyata satu sekolah denganku.

Dua bulan berlalu akhirnya kami merasa cocok. Aku ingat pada saat itu hari Jum’at dan keesokan harinya bulan Ramadhan. Aku putuskan untuk bertemu dengannya pada hari itu dan membawakannya setangkai mawar merah.

***

Seperti dahulu, kami dapat menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk nongkrong di kafe. Selain karena radio, hal yang membuat kami cocok adalah jalan-jalan untuk mencoba kopi di banyak tempat nongkrong dan kegemara mendengarkan lagu jazz. Apalagi sekarang ia mulai suka membaca buku. Aku semakin merasa cocok, sekarang.

Hobi Kaza membaca buku baruku ketahui ketika kami sudah lama tak berkontak-kontakan dan setelah sibuk dengan dunia masing-masing, sampai akhirnya aku memintanya untuk bertemu pada hari ini. Kebetulan ia sedang pulang dari tugasnya dan menanggapi baik ajakanku.

“Sudah larut malam. To the point, ya. Buat apa lo ngajak gue ketemu?” Tanya Kaza setelah menutup buku yang daritadi ia baca.

Aku kaget. Posisiku yang daritadi selonjoran sontak berubah menjadi tegap. “Hmm.., gini, Za..” Aku bingung memulainya darimana.

“Ada apa?”

Dua menit aku terdiam. Berpikir agar kalimatku tidak membuatnya bingung atau menyinggung. Sementara Kaza tidak bertanya lagi dan menatapku dengan tenang seolah-olah ia tahu pembahasan yang akan aku lanjutkan.

“Gue berangkat ke Birmingham, lusa.”

Ia sempat diam sepuluh detik untuk menelaah kata-kataku, kemudian, “WAH, seriously, Birmingham?! I’m happy to hear that! Selamat, ya! Berapa lama kuliah di sana?!” Teriaknya sambil tersenyum. Senyum yang aku lihat pada saat ia menerima mawar merah yang aku beri.

“Terima kasih, Za. Sekitar satu setengah tahun sampai dua tahun. Kalo bisa cepat, sih, satu setengah tahun.”

“Oooh, cepat juga, ya. Bawain oleh-oleh kalo pulang, oke? He-he..”

“Iya. Oh ya, ada satu hal lagi yang mau gue sampaikan.”

“Apa?” Tanyanya sambil membenarkan posisi duduknya tanda penasaran.

“Se-pulang gue sekolah dari sana, gue mau ketemu orang tua lo, Za.”

Ia terdiam. Senyumannya tiba-tiba redup seakan kalimatku menusuk saraf bibirnya. Sama halnya denganku. Aku tak berani menatap matanya. Kami sama-sama menatap ke bawah pertanda tak percaya diri.

“Maaf, gue enggak bisa.”

“Kenapa?” Tanyaku tanpa menatapnya.

“Tahun depan. Gue kirimin tiket pulang khusus untuk lo, ya. Please, gue mohon, dateng. At least ke resepsinya..”

Aku menatapnya dan terdiam. Kehilangan kata-kata.

***

Tatapanku semakin lama-semakin kabur. Sampai pada akhirnya teriakkan kakak perempuanku dari luar kamar untuk menyuruhku makan malam menyadarkan aku yang telah tiga jam duduk di depan cermin.

Aku menarik nafas panjang. Kemudian berpikir seakan-akan ada ‘dunia’ di dalam cermin yang telah aku hidupi. Impian dan khayalan pun dapat lebih pahit daripada realita.

Pada akhirnya aku sadar, bahwa tak selamanya aku dapat hidup di ‘dunia’ itu. Aku harus menerima realita saat ini bahwa terkadang kita hanya dipertemukan oleh seseorang, tanpa harus dipersatukan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s