[Cerita Pendek] Kosong

“Pak, kereta arah tujuan Jakarta Kota masih lewat nggak, ya?”

“Masih, Mas. Untung aja Mas datangnya pas. Keretanya udah sampai Stasiun Depok Baru.” Jawab mantap bapak itu.

“Oke, terima kasih, Pak!”

Tanpa berpikir, ia langsung bergerak cepat menuju pintu masuk stasiun kemudian mengeluarkan kartu e-money-nya yang baru berumur dua hari. Ditempelkan kartunya pada sensor pintu masuk stasiun disusul menyalanya checklist warna hijau pertanda besi pintu masuk sudah dapat didorong.

Ia berjalan masuk ke arah besi duduk untuk menunggu kereta. Saat ia menyebrangi rel kereta, ia terhenti lalu menengok ke kiri. Kosong, pikirnya. Menambah dua langkahnya, ia terhenti lagi dan menengok ke kanan. Dari kejauhan terdapat cahaya bulat berwarna kuning, samar-samar. Semakin lama, semakin mendekat.

“Mas, ngapain lama-lama di situ? Kalo mau lewat buruan.” Tegur petugas keamanan stasiun yang menjaga penyebrangan rel kereta tersebut.

Ia kaget dan reflek langsung berlari ke arah tempat duduk besi. Satu dari arah selatan datang Commuter-line tujuan Jakarta-Kota. Tanpa sempat duduk, ia langsung berdiri di depan kereta yang masih berjalan, menunggu untuk benar-benar berhenti dan dibukakan pintu.

Pintu kereta terbuka. Ia langkahkan kaki kanannya dengan mantap ke dalam kereta, berjalan ke arah serong kanannya, duduk di kursi panjang merah dan menatap ke lantai kereta. Pintu akan ditutup.

Hampir tertutup, seorang lelaki dan perempuan tiba-tiba menahan tertutupnya pintu kereta yang otomatis kembali terbuka. Lima detik kemudian, pintunya kembali tertutup. Kereta mulai berjalan perlahan dibarengi dengan suara ngos-ngosan lelaki dan perempuan tadi yang duduk persis di depannya.

Sempat tidak dihiraukan, akhirnya ia melihat ke arah laki-laki dan perempuan yang mulai asik mengobrol di seberangnya. Laki-laki itu memakai flannel hitam dan merah tua, jeans slim-fit abu-abu, dan sepatu Converse Chuck Taylor All-Star low hitam dengan tali putih. Tangan kanannya dihiasi jam tangan G-Shock hitam. Pakaiannya tampak pas, tidak berlebihan.

Sementara si perempuan menggunakan flat shoes merah dengan jeans skinny biru muda. Empat macam gelang terlihat dipakai di tangan kiri dan jam tangan kecil dulu-punya-mama ada di tangan kanannya. Ia menggunakan kardigan hitam ukuran M, yang terlihat sedikit kebesaran, dan kaos V-Neck putih dengan tulisan kanji Jepang di bagian dadanya.

Ia terlihat tidak menggunakan anting. Tidak seperti perempuan biasanya, pikirnya. Rambutnya sepundak, lurus, dan terlihat halus. Kulit lehernya putih, tidak berbeda dengan wajahnya. Dagu dan rahangnya selaras agak lebar, bibirnya tipis, hidungnya pas, tidak terlalu mancung dan pesek. Matanya terlihat agak belo dengan hiasan kantung mata kecil di bawahnya yang terlihat saat ia tertawa. Alisnya tipis, agak pendek, dan bukan alis-alisan. Jidatnya agak jenong. Ah, dia, cantik, gumamnya.

***

Dua puluh menit berlalu laki-laki dan perempuan itu tampak diam seolah memikirkan sesuatu. Keduanya tak lagi mengobrol asik dan tertawa pada saat mereka baru masuk kereta. Si laki-laki terlihat mengantuk karena kepalanya menunduk dengan tangan kanan ada di dagunya sambil sesekali memejamkan mata. Sedangkan si perempuan duduknya tampak tegak tanda sama sekali tidak mengantuk dengan pandangan yang lurus ke depannya.

Ia tak berkedip sekalipun. Apa kamu melihat saya? Pikirnya. Si perempuan masih menatap ke arahnya tetapi ia tahu bahwa mata perempuan itu, kosong. Kosong. Apa yang kamu lihat? Seolah-olah saya tidak ada. Pikirnya lagi. Tak berani membalas tatapan si perempuan, ia kemudian menoleh ke kanan.

Dilihatnya petugas keamanan kereta dengan gagah berjalan dari gerbong sebelumnya dan melewati perempuan yang masih menatapnya, tajam. Disusul suara, Stasiun Duren Kalibata.

Mendengar suara tersebut si laki-laki sontak langsung terbangun dari tidur-ayam-nya.

“Udah sampe, ya?” tanya laki-laki itu.

“Iya,” jawab si perempuan yang tersadar dari tatapannya.

“Yasudah, aku pulang duluan, ya. Kamu hati-hati.”

Si perempuan mengangguk tanpa menoleh.

Terbukanya pintu kereta disusul langkah pelan dari si laki-laki pertanda masih mengantuk. Ia keluar dari kereta dan pintu kereta kembali tertutup.

Kemudian si perempuan, kembali menatap ke depannya seolah-olah tidak ada orang di sana. Kosong. Siapa yang kamu lihat? Tanyanya dalam pikiran, bingung.

***

Lalu kereta berhenti di sebuah stasiun. Pintu kereta terbuka. Tanpa menatap wajah si perempuan, ia langsung berdiri dan berjalan ke arah pintu di serong kanannya. Setelah hentakan pertama kaki kanannya keluar kereta, akhirnya.., terhindar juga dari tatapan kosongnya itu. Cantik, sih. Tapi kok..

Setelah beberapa langkah, persis di belakangnya ternyata ada seseorang mengikuti yang ia tahu siapa. Tanpa menoleh, ia dapat merasakan bahwa ia ditatap, kembali. Ia berjalan cepat menuju arah pintu keluar stasiun. Ditempelkan e-moneynya disusul checklist berwarna hijau. Kemudian ia melihat jam tangannya.

22:21. Apa perempuan se-cantik itu tidak apa-apa pulang ke rumah seorang diri?

Tanpa menjawab pertanyaannya sendiri, ia refleks menoleh ke perempuan.

Si perempuan masih menatapnya. Kosong. Kembali, pikirnya.

“Kamu masih ada?” Tanya si perempuan.

Ia diam. Menunduk. Tak menjawab.

“Sudah lama rasanya aku nantikan momen ini.” Kata perempuan sembari berjalan dua langkah mendekatkan diri padanya.

Ia masih terdiam.

“Kamu ikut aku, ya.”

Tanpa dapat berpikir, ia menganggukan kepalanya pertanda setuju. Diikutinya si perempuan yang berjalan cepat ke arah mobil city car-nya yang diparkir tak jauh dari pintu keluar stasiun.

Setelah 30 menit perjalanan dari stasiun, akhirnya mereka sampai di sebuah apartemen kelas menengah ke atas. Dengan cekatan si perempuan membelokan mobilnya ke arah basement untuk kemudian diparkir. Selama perjalanan, mereka sama sekali tidak berbicara sepatah katapun. Sampai akhirnya ia memecah keheningan setelah si perempuan memarkir dan mematikan mesin mobilnya.

“Kamu..,”

belum selesai berbicara, si perempuan sudah memotong omongannya.

“Ikuti aku.”

Ia hanya mengangguk.

Lalu mereka naik lift menuju lantai 22. Hanya mereka berdua yang naik lift ke lantai itu. Apartemen nampak sepi pertanda sebagian besar penghuninya istirahat. Kemudian ia lihat jam tangannya. 23.06.

Lift terbuka, dengan gagah si perempuan berjalan belok ke kanan dan setelah sembilan langkah ia berhenti di depan kamar nomor 22e. Kunci mobil yang daritadi dipegangnya ternyata tercantol kunci kamarnya. Ia buka kamar tersebut kemudian menoleh ke arahnya sambil menatap seolah-olah berkata, silahkan masuk.

Dengan langkah yang amat pelan ia menuju ke pintu kamar nomor 22e tersebut tanpa melihat tatapan si perempuan. Kemudian ia masuk ke kamar tersebut disusul dengan suara pintu kamar yang dikunci oleh si perempuan.

Ia masih menatap ke lantai tanpa berani melihat isi kamar si perempuan. Kemudian si perempuan melewatinya untuk kemudian berdiri tepat di depannya.

Melihat si perempuan di depannya, ia akhirnya memberanikan diri untuk melihat mata si perempuan.

Masih. Kosong. Pikirnya.

Si perempuan masih menatapnya dengan pandangan yang sama.

“Saya.., ingat siapa kamu.”

Tak menjawab, si perempuan masih dengan tatapannya kemudian memiringkan kepalanya ke kiri dan tersenyum licik.

Ia kembali menunduk.

***

Sinar matahari memasuki kamarnya disusul dengan suara alarm jam tangan. Ia terbangun kemudian dilihat jam tangannya yang tadi malam ia lupa lepas. 08.35.

Sempat memejamkan matanya kembali tiga puluh detik, ia akhirnya terbangun, kaget, teringat ia harus kuliah jam sembilan. Tanpa berpikir akan sarapan ia langsung mandi-militer selama tiga menit kemudian menggunakan baju Nike, celana jeans Lee Cooper dan sepatu Adidas Superstar berwarna dasar putih dan strip hitam yang biasa ia pakai ke kampus.

Ia tutup kamarnya kemudian berlari menuju tangga yang ia sering gunakan untuk turun lantai. Sesampainya di lobby ia langsung berlari ke arah jalan raya dan memanggil ojek yang biasa mangkal di dekat situ.

“Stasiun, lima belas ribu, ya!”

“Wah, dua puluh, Mas. Nggak untung saya lima belas,” jawab si tukang ojek.

Tanpa menawar, ia langsung duduk di jok motor pertanda setuju dengan si tukang ojek.

“Cepet, ya, saya udah telat.”

Tukang ojek mengangguk dan menancapkan gas motor maticnya ke arah stasiun.

***

Saat di kereta, ia lebih senang menghabiskan waktunya dengan membaca buku daripada bermain handphone seperti kebanyakan penumpang. Ia lanjutkan bacaannya, Catch-22 karangan Joseph Heller yang ia baca sejak sebulan yang lalu. Karena buku belum menjadi prioritas di saat waktu senggangnya, ia hanya membaca pada saat di kereta saja.

Setelah lima belas menit kereta berjalan dan ia hanya membaca bukunya, ia akhirnya mengarahkan pandangannya ke kiri untuk sekedar melihat penumpang yang ada. Pada saat menengok ke kanan matanya tertuju pada perempuan yang berdiri menghadap ke pintu kereta dengan headset di kupingnya yang berjarak lima meter dari tempat ia duduk menggunakan kardigan hitam dan baju bertuliskan kanji jepang. Sepuluh detik ia menatapnya, kemudian ia kembali melanjutkan bukunya yang di terbitkan pada 1961 itu.

***

Setelah kelas selesai, ia tidak langsung pulang. Biasanya ia ke perpustakaan kampus untuk memenuhi rasa keingin tahuannya akan banyaknya buku yang ada. Tanpa sekalipun meminjam, kebiasaannya sudah berlangsung selama satu setengah tahun sejak ia pertama kali masuk kuliah.

Biasanya ia hanya membaca satu atau dua chapter sambil berdiri tanpa ada keinginan untuk membawanya pulang. Karena ia tahu jika ia bawa pulang, yang ada buku tersebut terbengkalai karena ia lebih memilih bermain cello dengan teman-teman lamanya.

Hari itu ia pulang agak malam karena ia memutuskan untuk makan pecel lele bersama sahabatnya di dekat stasiun.

Le, besok nggak ada tugas, kan?” Tanyanya kepada Seno, teman pertamanya sejak hari pertama masuk kuliah.

Ora ono sih, Le, wong besok juga mbak’e ora iso masuk. Kon turu kosan-ku wae, lah. Sekalian curhat, Le, hehehe,”

“Yah, males, Le. Besok wae lah, ya,” jawabnya sambil mengeluarkan dompet dari kantong belakang jeans-nya.

Yowes kalo begitu. Janji ya, Le? Banyak yang aku curhatin, nih. Itu loh soal cewek yang kamu kenalin ke aku 2 minggu lalu,” kata Seno dengan aksen Jawa-nya yang kental.

“Oalaaah, gampang itu. Besok ya, Le. Gue pulang dulu, udah kemaleman juga nih takut enggak dapet kereta.”

“Hati-hati ya, Le!” Teriak Seno sambil melambaikan tangan ke arahnya yang berlari menuju stasiun.

***

Di depan stasiun ia sempat berhenti, bengong, dan berpikir.

Ah, sudahlah, paling hanya kebetulan saja. Katanya dalam hati.

Setelah masuk ke dalam stasiun, ia kemudian berjalan menyebrangi rel kereta yang dan sempat berdiam diri di tengahnya. Menengok ke kiri dan kanan serta ditegur oleh petugas stasiun yang berjaga.

Setelah kereta datang, ia naik, kemudian berjalan ke arah serong kanannya dan duduk di kursi kereta yang berwarna merah. Tak lama setelah ia duduk datang perempuan dan laki-laki yang tergopoh-gopoh karena berlari mengejar kereta. Mereka tampak serasi disertai dengan tawa dan obrolan hangat. Ia lihat laki-laki dan perempuan yang duduk di seberangnya.

Laki-laki itu memakai flannel hitam dan merah tua, jeans slim-fit abu-abu, dan sepatu Converse Chuck Taylor All-Star low hitam dengan tali putih. Tangan kanannya dihiasi jam tangan G-Shock hitam. Pakaiannya tampak pas, tidak berlebihan.

Sementara si perempuan menggunakan flat shoes merah dengan jeans skinny biru muda. Empat macam gelang terlihat dipakai di tangan kiri dan jam tangan kecil dulu-punya-mama ada di tangan kanannya. Ia menggunakan kardigan hitam ukuran M, yang terlihat sedikit kebesaran, dan kaos V-Neck putih dengan tulisan kanji Jepang di bagian dadanya. Kemudian ia mulai melihat ke arah wajahnya.

Rambutnya sepundak, lurus, dan terlihat halus. Kulit lehernya putih, tidak berbeda dengan mukanya. Dagu dan rahangnya selaras agak lebar, bibirnya tipis, hidungnya pas, tidak terlalu mancung dan pesek. Matanya terlihat agak…. Ah. Ia terdiam.

Jamnya menunjukkan pukul 22:11 dan laki-laki di seberangnya turun dari kereta dan pamit ke si perempuan.

Sepuluh menit kemudian kereta berhenti dan ia segera turun dari kereta diikuti suara langkah dari belakangnya. Setelah menempelkan e-moneynya pada pintu keluar-masuk stasiun, ia kemudian berhenti dan menatap ke lantai.

Suara langkah semakin lama semakin nyaring ditelinganya dan kemudian seseorang berdiri di depannya.

Dari menunduk, ia kemudian menegakkan kepalanya dan menatap si perempuan.

Tanpa berkata, mereka saling menatap. Kosong. Mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya.

2 thoughts on “[Cerita Pendek] Kosong”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s