Review Buku: Kafka on The Shore – Haruki Murakami

KafkaKetertarikan saya membeli karya Murakami muncul saat bermain ke toko buku, Books & Beyond, di kampus. Bukunya selalu ada pada susunan best-seller. Penasaran, saya telaah satu per-satu bukunya dengan baik. Mulai dari Norwegian WoodWhat I Talk About RunningThe Strange Library1Q84Dance Dance Dance, dan lainnya.

Hampir di setiap buku, tercantum Author of The Wind-Up Bird Chronicle, yang mengindikasikan bahwa buku tersebut adalah yang terpopuler, mungkin, pikir saya. Tetapi, pikiran saya bukan tertuju pada The Wind-Up Bird Chronicle (yang pada saat itu ada). Pikiran saya tertuju pada, Kafka on the Shore.

Teringat oleh saya Pangeran Siahaan pernah menyebut Kafka on the Shore sebagai buku favoritnya di sebuah video. Tak ragu, saya beli pada 6 Mei lalu setelah saya menyelesaikan I AM ZLATAN.

Butuh 2 bulan, untuk saya, menyelesaikan buku ini (total 489 halaman). Cerita awalnya yang abstrak, yang bagi saya, benar-benar tidak bersangkutan antara chapter satu dengan yang lainnya, membuat saya jarang membaca dan tidak menjadikannya prioritas utama saat waktu kosong.

Sedikit demi sedikit saya lanjutkan membaca, barulah saya mendapatkan feel dari Kafka, tokoh utama pada novel fiksi tersebut. Marukami menggambarkan tokoh-tokoh di dalam novelnya secara datar dan muram. Hal tersebut saya simpulkan karena gaya Murakami yang menuliskan tokohnya seseorang yang suka menyendiri, tidak mempunyai banyak teman, sedikit berinteraksi dengan orang lain, dan suka membaca buku.

Gaya ceritanya yang surealisme sama sekali tidak mengganggu saya yang tidak menyukai ke-tidak-masuk-akal-an. Tetapi, malah membuat saya semakin terkagum akan imajinasi dan detail-nya ia pada saat bercerita dan membawa saya seakan  berada di dalam cerita tersebut, melihat, segala kejadian yang diceritakan penulis yang telah menerbitkan lebih dari 10 buku ini.

Buku ini menjadi salah satu novel fiksi terbaik yang pernah saya baca. Jika ada nilai 4,5 di Goodreads, akan saya beri. Tetapi tidak ada, jadi saya beri nilai 4.

Bagi saya, yang terbaik dari buku ini adalah bagaimana Murakami dapat menyulap pembaca mempunyai imajinasi bagaimana, semisal, ruangan yang diceritakannya tergambar, atau bentuk muka dari tokoh-tokoh yang dibuatnya.

Bagian terbaik yang lainnya, bagi saya, adalah bagaimana Murakami dapat mewajibkan bagi saya membuat sebuah dugaan bagaimana cerita ini berlanjut atau berakhir.

Saya tak perlu menjelaskan bagaimana selesainya buku ini, yang jelas, yang saya butuh sekarang adalah: mendiskusikannya

Happy Reading!

P.S.: Ada bagian di mana pembaca akan kaget dan bergumam, “mengapa ada konten semacam ini?” setidaknya, menurut saya.

3 thoughts on “Review Buku: Kafka on The Shore – Haruki Murakami”

  1. Saya sedang di pertengahan membaca what i talk about when i talk about running. Sejauh ini saya suka cara Murakami bertutur dan menyelipkan pesan-pesannya. Begitu smooth…

    Next saya ingin membuktikan review Mas Aksa tentang Kafka…

    Terima kasih sudah mereview..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s