Sepuluh-empatpuluh

Setanpun enggan melihat blog ini setelah vakum begitu lamanya. Maka tugas penulis adalah memberitahu malaikat untuk mengusir setan sehingga blog ini bisa dilihat lagi oleh beberapa pengikutnya. Bukan, saya bukan nabi.

Tahukah engkau bahwa menulis membuat masalah yang ada di pikiran menjadi sedikit enteng? Bukan hilang masalahnya, tetapi berkurang bebannya. Cobalah. Sesekali.

Maka dari itu tulisan ini dibuat untuk mengentengkan beban pikiran selama penulis tak menulis. Beban 4 bulan tidak menulis.

Anggap saja anak TK, dan ia bicara, “masalah itu pasti ada jalan keluarnya. Entah lewat air mata, solusi tak terduga, bahkan bunuh diri saja. Tinggal bagaimana cara menyikapinya, bukan?”

Puitis? Memang. Dalam puisi tak ada batasan. Tak ada aturan. Mengerti apa tidak engkau? Engkau mengerti tidak? Apa engkau mengerti? Sesukamu. Tapi perasaan tak bisa sesukamu.

Mati rasa? Apa rasa itu yang mati? Sakit hati? Atau hati yang disakiti? Peduli setan? Apa setan yang peduli? Apapun. Sesukamu.

Jangan menggelengkan kepala. Persepsi engkau hanya untuk engkau. Bukan untuk disebarkan. Persepsiku, persepsiku. Persepsimu, persepsimu. Selamanya tak akan sama.

Lalu, buat apa manusia dibuat berbeda-beda?

Engkau adalah engkau. Engkau bukan aku.

Omong kosong? Jangan terlalu defensive, pikirkan dahulu.

Andai, semua bisa berpikir. Andai.

Hukum gravitasi tak ada. Semua makhluk tak akan pada tempatnya. Termasuk hati, rasa, dan pikiran.

Lalu, buat apa ada Tuhan?

Kalau engkau berkata, “Hidup tak adil,” maka tantanglah Tuhan. Sekali-kalinya engkau menantang, maka sekali-kalinya engkau akan berhenti menentang. Jangan. Jangan sekali-kalinya berani.

Jika engkau pendendam, maka engkau tak percaya Tuhan.

Jika engkau pendendam, maka engkau melangkahi-Nya. Engkau bersikap lebih dari Yang Maha Adil, bukan?

Jika engkau mendendam karena Tuhan (menurut kau) tak adil, maka cepat atau lambat, pertanyaanmu akan terjawab.

Hanya Tuhan dan penulis yang mengerti. Kecuali kau memang suka puisi. Sesukamu.

Anggaplah sebuah tulisan ini hanya kata pengantar blog ini yang sudah mulai usang, sunyi, atau gelap. Selanjutnya akan ada beberapa lampu yang akan menyala, kemudian mulai menulis (lagi).

Sepuluh-empatpuluh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s