Bernafaslah, Tersenyumlah, dan Bersyukurlah

Dalam tulisan kali ini, saya mencoba untuk membahas tentang kejadian-kejadian sehari-hari yang (mungkin) sepele, tetapi banyak manfaatnya. Yaitu, bernafas, tersenyum, lalu bersyukur. Kenapa saya mencoba membahas hal ini? Karena saya sering melihat hal-hal sepele yang bermakna ini, jarang diterapkan oleh orang-orang di sekitar saya. Khususnya teman-teman saya. Saya pun terkadang lupa menerapkan hal-hal yang sepele ini. Tapi setelah saya coba terapkan, banyak manfaatnya.

Setiap manusia pasti mempunyai kesibukan masing-masing. Dan tak jarang, kesibukan tersebut membuat kita lupa dengan hal-hal yang sepele. Dan kebanyakan, hal-hal sepele yang kita lewatkan itu adalah hal sepele yang ternyata banyak manfaatnya. Kesibukan tersebut seakan membuat kita lupa berbagai hal. Jangankan hal-hal sepele, hal yang penting pun terkadang kita lupakan, saking sibuknya.

Dari kesibukan tersebut pula, kita mendapatkan banyak derita. Biasanya, kesibukan yang tak berujung bisa menyebabkan depresi, stress, galau, sakau. Sakau disini artinya, “Sakit Karena Engkau,” ya. Bukan sakau narkoba.

Selain kesibukan, terkadang banyaknya jam kosong yang membuat kita kerjaannya cuman bengong melompong juga menjadi penyebabnya. Apalagi kalau bengongnya udah menyangkut paut soal rezeki. Dari bengong melompong, ujung-ujungnya jadi ngelah-ngeluh nggak jelas. Tuhan dituntut, “Ya, Tuhan, kenapa Engkau memberiku rezeki yang tidak sepadan dengan si A, si B, si C……..si Z.” kurang lebih seperti itu.

Sekarang masalahnya adalah apa iya kita akan terus sibuk lalu lupa bersyukur ataupun bengong lalu sibuk mengeluh? Kemudian..

Bernafaslah
Terkadang, kita lupa akan apa yang sudah Tuhan berikan kepada kita. Salah satu hal sepele yang kita lupakan adalah bernafas. Tanpa nafas, kita mungkin hanya seonggok tulang yang tak bergerak. Ataupun segumpal organ yang tak berfungsi. Kemudian untuk apa Tuhan memberikan kita kemampuan untuk bernafas kalau bukan untuk menyembah-Nya? Kita diberikan kesempatan selama 24 jam non-stop setiap harinya untuk bernafas, tetapi kita sering menyepelekannya. Pernahkah kita pada satu waktu menikmati nafas dan kemudian bersyukur atas yang diberikan-Nya? Pada satu contoh, banyak orang yang (maaf) sakit pernafasan. Entah itu asma, kanker, atau penyakit lainnya yang jelas menyakitkan. Dan kita yang sehat, malah melupakan nikmatnya rasa bernafas tersebut. Rasa-rasanya, hanya dengan menjaga ciptaan-Nya pun sudah lebih dari cukup. Terkadang kita khilaf, sering merusak organ paru-paru kita dengan asap-asap yang tak bertanggung jawab. Sehingga (mungkin) nantinya kita nggak akan bisa bernafas seperti biasanya lagi. Lalu bernafaslah, sebelum nafas itu menghilang. Nikmatilah, sebelum nafas itu menghilang. Dan, fyi, bernafas dalam-dalam (menghirup udara dari hidung lalu mengeluarkannya lewat mulut pelan-pelan) bisa membuat kita lebih tenang dan berpikir lebih jernih.

Tersenyumlah
Tuhan telah memberikan ekspresi terbaik dalam setiap orang yaitu tersenyum. Bahkan jatuh cinta pun tak luput dari sebuah senyuman hehehe. Kalau kita tidak menjaganya, lalu apa yang menghiasi wajah kita? Keseringan dari kita memberi ekspresi cemberut jika ada hal-hal yang tidak sejalan dengan keinginan kita. Wajar sih, tapi masa iya terus-terusan cemberut? Tersenyum itu memberi reaksi positif. Secara tidak langsung, orang yang kita senyumi atau yang tersenyum menjadi lebih gembira hatinya. Disadari maupun tidak, lho. Coba saja. Yang jelas, ketika ada suatu masalah dalam hidup kita yang tidak sesuai dengan keinginan kita, cobalah untuk tutup mata sejenak dan tersenyum. Niscaya, pikiran positif akan datang begitu saja. Bukankah Allah telah menjelaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 216: “…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” Intinya, apapun masalah yang dihadapi, tetap tersenyumlah. Pada satu contoh, orang-orang jalanan yang tidak mempunyai rumah saja masih bisa tersenyum ketika ia mendapatkan uang dari apa yang mereka kerjakan. Sedangkan kita yang mempunyai apa yang mereka tidak punya, masih cemberut? Coba pikir ulang.🙂

Bersyukurlah
Dan point yang ini adalah pelengkap dari point-point sebelumnya. Sebagai manusia kita suka khilaf, pada saat kita mendapatkan apa yang kita mau, kita lupa bersyukur. Ketika kita tidak mendapatkan apa yang kita mau, kita malah mengeluh. Jadi Raisa, serba salah. Dalam hal ini seharusnya ketika kita mendapatkan apa yang kita mau, tentu kita harus bersyukur. Ketika kita tidak mendapatkan apa yang kita mau, kita harus bersabar. Sabar itu unlimited, lho. Bersyukur itu nggak ribet, kok. Simple saja, dengan mengucap “Alhamdulillah” kita sudah bersyukur atas apa yang diberikannya. Sungguh, bersyukur itu sangat bermanfaat. Kenapa saya bilang sangat bermanfaat? Ketika kita bersyukur, Tuhan akan memberikan kita nikmat yang berlebih. Tetapi ketika kita mengeluh bahkan kufur nikmat, azab dari Nya amat pedih. Jadi, pada satu contoh, ketika kita punya motor, bersyukurlah. Siapa tau Tuhan memberikan kita rezeki berlebih karena kita bersyukur dengan memberi kita mobil. Janganlah sekali-sekali mengeluh. INGAT, masih banyak mereka yang tidak punya motor. Apapun yang kita punya, bersyukurlah. Karena semua nikmat dari Nya pasti ada maksud dan tujuannya. Sebagai penutup point ini, Rasulullah bersabda, “Lihatlah orang yang di bawah kalian dan janganlah melihat orang yang di atas kalian, karena yang demikian itu lebih layak bagi kalian untuk tidak memandang rendah nikmat Allah yang dilimpahkan kepada kalian.” (HR Muslim dan Tirmidzi)

Pada akhirnya jika kita bersyukur, dengan sendirinya kita akan menghargai nikmat dari bernafas dan tersenyum. Walau memang sulit dilakukan, apalagi ketika kita mendapatkan musibah. Sulit sekali rasanya tetap bersyukur. Tetapi percayalah, dalam setiap musibah, pasti ada hikmahnya. Disadari dengan cepat maupun lambat, yang jelas pasti ada.

Dengan bersyukur, kita mengerti apa yang mereka tidak dapatkan. Dengan bersyukur, kita mengerti arti dari menghargai. Dengan bersyukur, yang jelas, semua lebih indah.

Note: Kutipan Surat dan Hadist, dikutip dari buku Notes From Qatar karya Muhammad Assad.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s