Sampai Kapan Mau tetap Apatis?

Mungkin banyak yang kaget ataupun tak mengira mengapa saya akhir-akhir ini berubah menjadi sosok yang sok bijak, sok kritis, sok peduli dengan Negara nya, sok nasionalisme, sok pemuda tahun 45, or whatever. Suatu statement motivasi tak akan pernah berhasil memotivasi seseorang sampai seseorang tersebut mengalami nya sendiri. Kalau digampangin maksudnya, “Lo nggak bakalan pernah percaya nikmatnya sesuatu kalau lo sendiri belom ngerasain.”

Pada dasarnya, manusia, khususnya remaja, cenderung apatis terhadap sesuatu. Apalagi terhadap sesuatu yang bukan dalam kendalinya. Sangat teramat apatis. Hingga pada suatu saat, mereka akan mengalami kondisi dimana ke-apatisan nya tersebut membuat bencana terhadap dirinya sendiri. Membuat ia geram. Yang pada akhirnya mengantarkan ia kepada kondisi dimana ia tak bisa lagi diam. Iya, kritis.

Sejak SMP, saya benci pemerintah. Saya hanya bisa berkomentar yang tidak-tidak tentang mereka, mencemooh, menghardik, melanturkan kata-kata yang tak pernah enak jika didengar. Ke-apatisan ini berlangsung hingga saya SMA. Kalau ditanya, “Lo nggak ikut OSIS, Sa?” Jawabannya selalu, “Ah, ngapain gue panas-panasan dilapangan, dimarah-marahin gitu. Ngurus ina-itulah, nggak jelas. Mending gue main..” Itu ucapan saya pada saat kelas satu SMA. Hingga pada akhirnya saya menjilat ludah saya sendiri pada saat kelulusan, “Gue nyesel nggak ikut OSIS, deh.” Ucap saya terhadap salah satu teman saya.

Pertanyaannya adalah, kenapa saya menjadi kritis?

Ada suatu momen dimana saya geram terhadap kondisi-kondisi penduduk diluar pulau Jawa, khususnya daerah-daerah terpencil yang amat minim infrastrukturnya. Disitu saya berpikir bahwa ketidakpedulian akan membawa saya ke suatu kondisi dimana saya harus berpikir untuk mencari solusi dari permasalahan tersebut. Akhirnya saya mulai mengikuti isu-isu sosial dan mulai mencari solusi terhadap masalah-masalah tersebut.

Karena suatu tanggung jawab bukan hanya pada pemerintah nya saja jikalau saudara-saudara kita yang dipulau sana tidak bisa makan seperti apa yang kita makan sekarang. Tanggung jawab kita juga, sebagai warga Negara yang wajib memberikan kesejahteraan.

Apatis itu bodoh. Kenapa saya sebut bodoh? Katanya tidak peduli (apatis), tapi nyata nya selalu mencemooh suatu Lembaga Masyarakat karena tingkah lakunya yang senonoh main asal bakar sana-bakar sini.

Katanya tidak peduli (apatis), tapi selalu komentar jikala koruptor selalu tersenyum kala dirinya sudah menjadi tersangka. “Najis itu orang! Masih aja senyam-senyum padahal udah jadi tersangka!” Katanya tidak peduli? Kok berkomentar?

Alasan mengapa kritis itu penting?
Jikalau memutuskan untuk menjadi apatis, jangan BERKOMENTAR, jangan MELAKUKAN APA PUN, jangan BERANJAK, jika suatu kebijakan telah menindas diri anda sendiri. Salah anda sendiri kenapa tetap memutuskan untuk tetap apatis terhadap sesuatu.

Kritis itu kalau dilihat memang aneh. Aneh, karena selalu berteriak tentang kebenaran. Aneh, karena dilihat sok pahlawan. Aneh, karena selalu memperjuangkan hak-hak orang kecil.

Namun, kesalahan itu pada orang yang melihat, bukan pada orang yang melakukan kebaikan.

Sudah saatnya sekarang kita beranjak dari zona apatis. Sulit memang, tapi pasti bisa.

Suatu hal memang harus dipaksakan terlebih dahulu. Hingga bisa, lalu terbiasa.

Bagaimana caranya kritis?
Cobalah amati isu-isu sosial. Cobalah untuk beraspirasi. Cobalah berpikir bagaimana solusi masalah-masalah yang tak ada habisnya seperti korupsi, pembunuhan, pemerkosaan, dan kejahatan lainnya. Suarakan solusi tersebut via social media atau media-media lainnya seperti koran, majalah, dan lainnya. Caranya? Mari kita belajar menulis. Bagaimana caranya menulis? Kunci nya cuman satu. Rajin membaca. Orang yang mahir menulis pasti suka membaca, begitu juga sebaliknya. Lihat saja penulis-penulis yang sudah terkenal dan tanyakan berapa buku yang sudah ia baca.

Stop berkomentar yang tidak baik, start berkomentar untuk solusi yang terbaik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s