Menghianati Tuhan

Apa yang saya tulis di post kali ini adalah berdasarkan apa yang saya rasakan. Secara tidak langsung, secara sadar maupun tidak, kita semua mengalami ini. Entah, hanya mereka yang (mungkin) beriman amat dekat dengan Nya yang tak pernah merasakannya.

Sebagai manusia yang normal, setiap manusia mempunyai sebuah keinginan. Dan keinginan tersebut secara sadar harus dipenuhi. Karena manusia tak pernah bisa lepas dari apa yang mereka inginkan, seringkali kebutuhan terbelakangi. Sering kali juga bahwa apa yang diinginkan tidak sebanding lurus dengan yang dibutuhkan. Berdoa dan berusaha adalah satu-satunya cara untuk memenuhi apa yang diingini, betul?

Dalam konteks berusaha untuk mendapatkan apa yang diinginkan, tak usah berpanjang lebar. Semua sudah jelas, tanpa adanya usaha, sesuatu tak akan bergerak, kata teori Fisika. Sama seperti hal nya kehidupan yang sebenarnya. Jikalau kita pun sendiri malas untuk bergerak, bagaimana mau beranjak dari suatu tempat?

Dalam konteks berdoa, kali ini berbeda. Saya sebut berdoa kali ini penghianatan. Kenapa saya sebut seperti itu? Karena itulah yang saya rasakan selama ini. Kasus jelasnya seperti ini;

Tuhan menciptakan manusia untuk beribadah untuk Nya. Dan kadangkala ibadah kita bukan untuk oleh Nya. Melainkan untuk sesuatu ataupun keinginan yang harus kita penuhi dalam konteks waktu yang menyangkut masa depan.

Jelas, semua keinginan yang terkabul ataupun terwujud adalah;
1. Hasil dari jerih payah usaha kita, DAN
2. Oleh izin Nya

Kadangkala kita terlupa akan point yang kedua. Saya merasakannya sendiri. Dan barangkali beberapa orang secara tidak sadar melakukan hal seperti ini juga.

Saya begitu gentar dan kuatnya berdoa dalam konteks untuk mendapatkan apa yang saya inginkan. Ketika sesuatu yang saya inginkan setengah mati tersebut sudah terwujud, seakan doa-doa saya sebelum keinginan saya terwujud lenyap dalam waktu kurang lebih se-minggu.

Semua terasa begitu semu. Seperti karyawan yang mendekati boss-nya hanya karena ada maunya. Lalu ditinggalnya begitu saja boss-nya begitu karyawan nya sudah mendapatkan apa yang dia inginkan.

Ini namanya penghianatan. Penghianatan besar atas dasar keinginan yang tak kita ketahui ceritanya jikalau Tuhan tak mengizinkan perwujudan keinginan kita. Dikabulkan saja serasa mati setelah melangkah, bagaimana tidak?

Pada akhirnya semua akan kembali pada Nya. Alangkah sombong dan angkuh nya kita, jika penghianatan ini akan terus berjalan seiring berjalannya waktu, seiring membesarnya keinginan kita, yang tak ada habisnya. Ada baiknya ingatan kita kembali pada saat keinginan kita belum terwujud.

Rendah hati, rendah diri, sedikit menunduk, dihadapan Nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s