Budaya Indonesia, Budaya Siapa?

Tulisan ini sebenarnya essay, tugas individu ospek kampus dengan tema: Isu Budaya di Indonesia. Cuman ingin sharing-sharing saja dan siapa tau berkenan. Happy reading!

Sebagaimana yang kita ketahui, Indonesia mempunyai budaya yang beragam dan amat banyak. Budaya juga bisa diartikan perbedaan. Karena budaya tidak hanya satu. Budaya mempunyai ruang lingkup yang luas. Seperti Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi satu. Tapi yang menjadi pertanyaan selama ini adalah, sudahkah kita bersatu dalam budaya Indonesia tersebut?

Akibat yang sering kali muncul dalam konteks memperjuangkan budaya adalah ketika budaya kita diklaim oleh Negara lain. Tidak tanggung-tanggung, demo pun diaksikan dalam memperjuangkan budaya kita yang diklaim tersebut. Lalu, kemanakah kita selama ini? Kasus ini seperti seorang majikan yang tak pernah memberi makan kucingnya. Lalu ketika kucingnya pergi menghilang, majikannya mencari nya setengah mati. Ini lucu.

Memang jelas, suatu hal lebih berharga ketika hal tersebut telah menghilang. Mending menghilang untuk sementara, kalau selama-lamanya? Kadang saya pun tak habis pikir kepada mereka yang apatis (tak acuh atau tak peduli terhadap suatu hal) awalnya. Tidak sedikit yang mengaku cinta Indonesia, tapi berkoarnya hanya ketika pada saat suatu budaya kita dijajah oleh orang lain. Istilahnya, kalau tidak ada isu sosial yang “WOW” mereka tidak akan pernah muncul. Tenggelam didasar bumi pertiwi. Miris. Munafik adalah kata cocok bagi mereka yang mengaku cinta Indonesia tetapi hanya muncul ketika sudah diserang. Pertanyaan kedua, ,masih maukah kita menjadi orang yang munafik?

Budaya Indonesia itu infinite. Tak terbatas. Semua yang dianggap benar-benar itu sudah termasuk budaya. Padahal tidak semua nya yang dianggap benar itu memang dasarnya benar. Ada juga yang salah. Tak usah jauh-jauh. Budaya mengendarai mobil selama ini saya sebut itu kesalahan besar. Contohnya: Ketika kita mengendarai mobil di dalam kompleks perumahan kita, kita nggak pernah memakai sit belt. Kenapa? Jawabannya adalah karena tidak ada polisi. Kalau statement itu selalu menjadi jawaban, berarti selama ini kita memakai sit belt hanya untuk menghindari penilangan polisi. BUKAN, untuk keselamatan kita sendiri.

Memang, jawaban orang awam pasti, “Emangnya kalau dikompleks bisa kecelakaan? Naik mobil.” Bodoh. Jawaban paling bodoh yang pernah saya dengar. Begitulah jadi orang awam, otaknya pendek. Semua hal itu memungkinkan. Kembali saya tegaskan, hanya orang awamlah yang berpikir seperti itu. Pertanyaan ketiga, sudahkah benar apa yang selama ini kita anggap benar?

Mungkin Anda bertanya dalam pikiran Anda mengapa saya memberi judul, “Budaya Indonesia, Budaya Siapa?” Selama ini saya menganggap budaya Indonesia adalah budaya turunan dari nenek moyang kita. Jelas, itu telah ter-set by default. Tapi bukan berarti budaya yang salah kita terima begitu saja. Banyak sekali budaya yang dianggap benar oleh nenek moyang kita, padahal salah di zaman kita. Sebut saja fenomena “Pamali.” Yang kalau dilantunkan, pasti ada yang menyaut, “Bu-mali nya mana?”

Sebut saja kejadian, “Jangan berfoto bersama dalam jumlah ganjil.” Kenapa? “Karena salah satu dari yang di foto akan cepat meninggal. Biasanya yang ditengah.” Saya tidak sebut ini pembodohan, tetapi saya juga tidak sebut ini sebagai kepercayaan. Jelas, tinggal bagaimana kita menyikapi hal tersebut karena hal tersebut adanya dari nenek moyang kita. Kalau dipikir secara logika bersih, yang memegang kendali kematian hanya Tuhan. Kalaupun memang ada kejadian yang persis seperti itu, bukankah kita harus mempercayai kehendak Tuhan dibanding kebudayaan Pamali tersebut? Ini yang kadang menjadi kesalahan kaprah kepada zaman kita yang sudah ter­-set by default dari nenek moyang kita.

Kita beri contoh satu lagi, sebut saja kebiasaan mengigit kuku. Katanya kalau kita kebiasaan mengigit kuku akan mengundang nasib buruk dan pembawaan sering gugup dan juga akan menderita batin. Kembali, saya tegaskan bahwa kepercayaan ini semua kembali pada diri kita masing-masing. Mau percaya boleh, mau tidak juga boleh. Dipikir secara logika sehat (lagi), jelas Tuhan lah yang memberikan kita musibah maupun cobaan. Bicara soal nasib, nasib itu pilihan. Kita bernasib buruk atau tidaknya, semua tergantung kepada kita. Karena Tuhan hanya memberikan kita takdir, tetapi bukan nasib. Pertanyaan ketiga, Siapa yang kita percayai? Lebih percaya kepada Tuhan atau kepercayaan yang sudah diset-by default­ oleh nenek moyang kita?

Secara tidak langsung, sinonim dari kata kebiasaan adalah kebudayaan. Ada suatu kebiasaan yang amat saya benci melihatnya. Suatu ketika, saya pernah mengalami hal ini. Ketika mengendarai sepeda motor dan ada lampu merah, jelas saya berhenti. Jalanan kosong, tetapi mobil yang ada dibelakang saya men-klakson tak ada hentinya. Oh ternyata, angkutan umum. Sudah jadi kebiasaan bagi mereka jikalau lampu merah lalu jalan kosong melompong, mereka terobos. Ini kan lampu merah. Atau mereka melihatnya secara terbalik? Atau mereka buta warna? Atau mereka ingin cepat mati? Entahlah.

Ada suatu peran dalam kebudayaan Indonesia yang jikalau peran tersebut digunakan dengan baik, niscaya Indonesia jauh lebih baik dari statement ini. Yap, peran pemuda. Saya sebagai pemuda merasakan bagaimana kehidupan hedonis bisa membutakan pengetahuan dan keinginan saya dalam membenahi Indonesia yang lebih baik. Jelas, kehidupan hedonis atau kesenangan sesaat tak bisa kita pungkiri dalam kehidupan remaja ini. Apalagi, banyak hal-hal yang mendukung untuk kita sebagai remaja menjadi hedon. Seperti orang tua yang tak ada kunjungnya berhenti memberi kita uang setiap hari. Secara pikiran logis niat orang tua memang baik, agar kita diam, tak banyak omong. Tapi hal ini bisa saja kita salah pergunakan untuk hal-hal yang tak baik rupanya.

Sebut sajalah marijuana atau ganja atau narkoba. Kadang orang yang berlebihan duit, khususnya remaja, membesarkan keinginan mereka untuk hal-hal yang baru. Yang akhirnya mereka tak bisa jauhi. Kehidupan yang sudah tak lagi diprotect oleh orang tua menjadi momen yang pas untuk remaja dalam melakukan hal-hal yang diluar kewajaran. Jelas, lama-kelamaan ini akan menjadi suatu kebudayaan (baca: kebiasaan). Kalau memang kebudayaan kita sebagai remaja hancur lebur seperti ini, akankah baik Indonesia dimasa depannya? Jelas itu hanya statement yang berangan-angan. Mimpi. Ada baiknya kita sebagai pemuda menjadi motor kebudayaan yang baru dan baik. Bukan menjadi mobil yang menabrak-nabrak segalanya lalu menjadi contoh yang buruk.

Disini, peran orang tua juga amat penting. Jelas, kita tak bisa memungkiri bahwa pendidikan yang diberi oleh orang tua kita adalah pendidikan yang sering kita anggap yang terbaik. Tentunya, hal tersebut harus dipikir kembali secara baik. Ada juga orang tua yang mendidik kita dengan cara yang salah, dimana pada saat kita berkecimbung di masyarakat luas kita baru menyadari bahwa pendidikan yang orang tua beri kepada kita salah. Ada baiknya sekarang kita berpikir dua kali dalam menerima pendidikan. Apa yang dianggap orang benar, belum tentu benar juga untuk kita, kan?

Lalu kita sebagai penerus orang tua, yang akan mendidik anak kita kelak, jelas harus lebih baik. Setiap orang tua dalam mendidik anaknya kan berbeda-beda caranya. Tentunya, hal-hal buruk orang tua kita selama mendidik kita, kita singkirkan. Ketika orang tua dan anak melakukan komunikasi yang baik, akan baik pula akhlak keduanya.

Saya pun sedikit khawatir melihat pemuda-pemuda saat ini. Mereka malas membaca. Padahal sudah dijelaskan bahwa buku adalah jendela dunia. Sekarang mereka melihat jendela dunia melalui smartphone. Yang jika dibanting dunia tersebut akan lenyap. Menghilang. Mati.

Lalu solusi dari kebudayaan Indonesia yang perlahan-lahan menghilang apa? Menurut saya, ada baiknya budaya-budaya nenek moyang kita terdahulu yang buruk, kita buang jauh-jauh. Yang sudah JELAS memang itu tidak baik, buang! Kebudayaan yang baik rupanya jelas harus kita jaga dan lestarikan. Jangan lupa, kita sebagai pemuda adalah motor penggerak dalam segala hal. Apalagi dalam hal kebiasaan. Karena kebiasaan yang baik rupanya yang kita lakukan selama kita muda, akan berlanjut seiring kita menjadi tua. Dimana saat kita tua nanti, kebudayaan-kebudayaan (kebiasaan-kebiasaan) yang baik rupanya akan kita ajarkan kepada anak maupun cucu kita. Jangan takut untuk memberanikan diri melawan kebudayaan-kebudayaan yang buruk. Seperti halnya yang sudah saya contohkan tadi seperti kasus lampu lalu lintas.

Saya tegaskan kembali disini, bahwa semua kembali kepada diri sendiri. Kemauan, keberanian, perubahan, semuanya berawal dari kita sendiri. Sudahlah, tak usah muluk-muluk bahwa orang lain yang memulai duluan. Mereka juga berpikir hal yang sama, bahwa kita yang akan melakukannya terlebih dahulu. Kalau sama-sama saling menunggu, siapa yang akan memulai duluan? Ada baiknya, kita yang sudah tahu jawabannya, yang sudah tahu kebaikannya, yang sudah tahu langkah awalnya, memulai.

Karena, Indonesia membutuhkan orang yang berani memulai dan merubah hal-hal yang lebih baik. Indonesia membutuhkan kita.

MARI MERUBAH KEBUDAYAAN (BACA: KEBIASAAN) UNTUK INDONESIA YANG LEBIH BAIK!

Sampai Kapan Mau tetap Apatis?

Mungkin banyak yang kaget ataupun tak mengira mengapa saya akhir-akhir ini berubah menjadi sosok yang sok bijak, sok kritis, sok peduli dengan Negara nya, sok nasionalisme, sok pemuda tahun 45, or whatever. Suatu statement motivasi tak akan pernah berhasil memotivasi seseorang sampai seseorang tersebut mengalami nya sendiri. Kalau digampangin maksudnya, “Lo nggak bakalan pernah percaya nikmatnya sesuatu kalau lo sendiri belom ngerasain.”

Pada dasarnya, manusia, khususnya remaja, cenderung apatis terhadap sesuatu. Apalagi terhadap sesuatu yang bukan dalam kendalinya. Sangat teramat apatis. Hingga pada suatu saat, mereka akan mengalami kondisi dimana ke-apatisan nya tersebut membuat bencana terhadap dirinya sendiri. Membuat ia geram. Yang pada akhirnya mengantarkan ia kepada kondisi dimana ia tak bisa lagi diam. Iya, kritis.

Sejak SMP, saya benci pemerintah. Saya hanya bisa berkomentar yang tidak-tidak tentang mereka, mencemooh, menghardik, melanturkan kata-kata yang tak pernah enak jika didengar. Ke-apatisan ini berlangsung hingga saya SMA. Kalau ditanya, “Lo nggak ikut OSIS, Sa?” Jawabannya selalu, “Ah, ngapain gue panas-panasan dilapangan, dimarah-marahin gitu. Ngurus ina-itulah, nggak jelas. Mending gue main..” Itu ucapan saya pada saat kelas satu SMA. Hingga pada akhirnya saya menjilat ludah saya sendiri pada saat kelulusan, “Gue nyesel nggak ikut OSIS, deh.” Ucap saya terhadap salah satu teman saya.

Pertanyaannya adalah, kenapa saya menjadi kritis?

Ada suatu momen dimana saya geram terhadap kondisi-kondisi penduduk diluar pulau Jawa, khususnya daerah-daerah terpencil yang amat minim infrastrukturnya. Disitu saya berpikir bahwa ketidakpedulian akan membawa saya ke suatu kondisi dimana saya harus berpikir untuk mencari solusi dari permasalahan tersebut. Akhirnya saya mulai mengikuti isu-isu sosial dan mulai mencari solusi terhadap masalah-masalah tersebut.

Karena suatu tanggung jawab bukan hanya pada pemerintah nya saja jikalau saudara-saudara kita yang dipulau sana tidak bisa makan seperti apa yang kita makan sekarang. Tanggung jawab kita juga, sebagai warga Negara yang wajib memberikan kesejahteraan.

Apatis itu bodoh. Kenapa saya sebut bodoh? Katanya tidak peduli (apatis), tapi nyata nya selalu mencemooh suatu Lembaga Masyarakat karena tingkah lakunya yang senonoh main asal bakar sana-bakar sini.

Katanya tidak peduli (apatis), tapi selalu komentar jikala koruptor selalu tersenyum kala dirinya sudah menjadi tersangka. “Najis itu orang! Masih aja senyam-senyum padahal udah jadi tersangka!” Katanya tidak peduli? Kok berkomentar?

Alasan mengapa kritis itu penting?
Jikalau memutuskan untuk menjadi apatis, jangan BERKOMENTAR, jangan MELAKUKAN APA PUN, jangan BERANJAK, jika suatu kebijakan telah menindas diri anda sendiri. Salah anda sendiri kenapa tetap memutuskan untuk tetap apatis terhadap sesuatu.

Kritis itu kalau dilihat memang aneh. Aneh, karena selalu berteriak tentang kebenaran. Aneh, karena dilihat sok pahlawan. Aneh, karena selalu memperjuangkan hak-hak orang kecil.

Namun, kesalahan itu pada orang yang melihat, bukan pada orang yang melakukan kebaikan.

Sudah saatnya sekarang kita beranjak dari zona apatis. Sulit memang, tapi pasti bisa.

Suatu hal memang harus dipaksakan terlebih dahulu. Hingga bisa, lalu terbiasa.

Bagaimana caranya kritis?
Cobalah amati isu-isu sosial. Cobalah untuk beraspirasi. Cobalah berpikir bagaimana solusi masalah-masalah yang tak ada habisnya seperti korupsi, pembunuhan, pemerkosaan, dan kejahatan lainnya. Suarakan solusi tersebut via social media atau media-media lainnya seperti koran, majalah, dan lainnya. Caranya? Mari kita belajar menulis. Bagaimana caranya menulis? Kunci nya cuman satu. Rajin membaca. Orang yang mahir menulis pasti suka membaca, begitu juga sebaliknya. Lihat saja penulis-penulis yang sudah terkenal dan tanyakan berapa buku yang sudah ia baca.

Stop berkomentar yang tidak baik, start berkomentar untuk solusi yang terbaik.

Menghianati Tuhan

Apa yang saya tulis di post kali ini adalah berdasarkan apa yang saya rasakan. Secara tidak langsung, secara sadar maupun tidak, kita semua mengalami ini. Entah, hanya mereka yang (mungkin) beriman amat dekat dengan Nya yang tak pernah merasakannya.

Sebagai manusia yang normal, setiap manusia mempunyai sebuah keinginan. Dan keinginan tersebut secara sadar harus dipenuhi. Karena manusia tak pernah bisa lepas dari apa yang mereka inginkan, seringkali kebutuhan terbelakangi. Sering kali juga bahwa apa yang diinginkan tidak sebanding lurus dengan yang dibutuhkan. Berdoa dan berusaha adalah satu-satunya cara untuk memenuhi apa yang diingini, betul?

Dalam konteks berusaha untuk mendapatkan apa yang diinginkan, tak usah berpanjang lebar. Semua sudah jelas, tanpa adanya usaha, sesuatu tak akan bergerak, kata teori Fisika. Sama seperti hal nya kehidupan yang sebenarnya. Jikalau kita pun sendiri malas untuk bergerak, bagaimana mau beranjak dari suatu tempat?

Dalam konteks berdoa, kali ini berbeda. Saya sebut berdoa kali ini penghianatan. Kenapa saya sebut seperti itu? Karena itulah yang saya rasakan selama ini. Kasus jelasnya seperti ini;

Tuhan menciptakan manusia untuk beribadah untuk Nya. Dan kadangkala ibadah kita bukan untuk oleh Nya. Melainkan untuk sesuatu ataupun keinginan yang harus kita penuhi dalam konteks waktu yang menyangkut masa depan.

Jelas, semua keinginan yang terkabul ataupun terwujud adalah;
1. Hasil dari jerih payah usaha kita, DAN
2. Oleh izin Nya

Kadangkala kita terlupa akan point yang kedua. Saya merasakannya sendiri. Dan barangkali beberapa orang secara tidak sadar melakukan hal seperti ini juga.

Saya begitu gentar dan kuatnya berdoa dalam konteks untuk mendapatkan apa yang saya inginkan. Ketika sesuatu yang saya inginkan setengah mati tersebut sudah terwujud, seakan doa-doa saya sebelum keinginan saya terwujud lenyap dalam waktu kurang lebih se-minggu.

Semua terasa begitu semu. Seperti karyawan yang mendekati boss-nya hanya karena ada maunya. Lalu ditinggalnya begitu saja boss-nya begitu karyawan nya sudah mendapatkan apa yang dia inginkan.

Ini namanya penghianatan. Penghianatan besar atas dasar keinginan yang tak kita ketahui ceritanya jikalau Tuhan tak mengizinkan perwujudan keinginan kita. Dikabulkan saja serasa mati setelah melangkah, bagaimana tidak?

Pada akhirnya semua akan kembali pada Nya. Alangkah sombong dan angkuh nya kita, jika penghianatan ini akan terus berjalan seiring berjalannya waktu, seiring membesarnya keinginan kita, yang tak ada habisnya. Ada baiknya ingatan kita kembali pada saat keinginan kita belum terwujud.

Rendah hati, rendah diri, sedikit menunduk, dihadapan Nya.