Sombongkah Saya Selama ini?

Hari ini, Senin, 8 Juli 2013, menjadi tanggal yang akan selalu diingat sebagian orang. Dan akan menjadi tanggal yang akan selalu dilupakan, bagi sebagian orang yang lain. Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri lewat jalur tertulis, membuktikan siapa yang tak pantas dan yang pantas untuk mendapatkannya. Diliat dari manakah? Dari usaha nya serta doa nya. Lalu, sombongkah saya selama ini?

Saya menjadi salah satu korban dari ratusan, bahkan ribuan orang yang berhasil gagal masuk via jalur SBMPTN. Entah kenapa, kegagalan kali ini benar-benar memecut saya tak sebagaimana mestinya. Rasa-rasanya, ucapan yang dilontarkan bapak saya kepada saya, memukul saya dihati sehingga tak seharusnya saya tersenyum lebar karena kegagalan ini.

Beda dari SNMPTN, kali ini saya menangis. Entah, kali ini rasanya berbeda. Sampai akhirnya saya dipanggil oleh bapak saya “Adeeeeek!” dengan sedikit lantang. Saya celingak-celinguk dari lantai 2, “Ada apa Pah?” Lalu bapak saya langsung menanyakan, “Kamu sudah shalat belum?” Sudah jam setengah 7, saya masih “down”, jadi.. “Belum, Pah.” Lalu bapak saya berkata dengan tenangnya.. “Shalat, Dek. Kamu itu mau ditolong Allah, shalat nya harusnya lebih dikuatkan lagi..”

Selesai shalat, saya jauh lebih tenang. Saya kebawah, dan dengan kebiasaan-kebiasaan yang sudah-sudah jika saya sudah “nakal”, pasti diceramahin, dengan panjang lebar. “Semua itu diliat dari usaha nya, Dek. Jangan lah kamu sombong. Kalau kamu terima, dan dengan bangga nya kamu berkata dalam hati dan ke teman-teman kamu, ‘Usaha saya setengah-setengah, tapi dapet tuh!’ Nggak ada kayak gitu, Dek. Namanya usaha itu ya harus se-maksimal mungkin. Setelah kamu usaha, baru doa nya dikuatkan. Terutama shalat nya. Apalagi shalat malam.”

Iya. Penyakit. Selama ini saya bergantung kepada doa. Tanpa usaha yang sebanding dengan doa nya. Lalu bapak saya lanjut berkata, “Kamu nggak bisa, Dek, doa dengan jalan kamu sendiri.” Saya bingung, lalu saya bertanya, “Maksudnya dengan jalan aku sendiri?” Lalu bapak saya berkata, “Maksudnya, kamu doa untuk minta itulah, inilah, dengan kemauan kamu sendiri. Allah nggak suka seperti itu.” Iya, jadi saya selama ini doa untuk kemauan saya. Bukan untuk mendapat ridhoNya. Dan itu salah. Tak patut dicontoh.

Dan kata-kata berikut rasa-rasanya amat memukul hati saya. Slogan yang ada dalam kamar saya dan pikiran saya, “Universitas Indonesia harga mati!”, pecah dengan sendirinya.

Bapak saya berkata, “Nggak ngaruh kamu mau kuliah dimanapun. Kalau kamu bisa kuliah di Universitas kurang TOP pun dengan bisa ranking disana, kamu pasti berguna! Daripada dapat Universitas TOP tapi kamu nggak bisa ranking. Mau jadi apa kamu misalnya IP dibawah 3 walau Universitas nya sangat unggulan?”

Lalu, salah satu teman terbaik saya, Aries Tiara Rifansyah, berkata, “Gapapalah Swasta, Negeri, sama aja. Semua tergantung kita yang ngejalanin.” Bukankah kalimat ini sudah sering saya dengar? Kenapa baru sadar sekarang?

Sesaat saya berpikir kedua kalimat tersebut. Lalu saya tersenyum. Gagal kok senyum? Karena rencanaNya lebih indah!

Selamat yang sudah dapat kuliah, semoga diberikan kemudahan dalam menjalani dan pastinya, sukses disana.

Bagi yang belum, tersenyumlah. Karena sedang diuji untuk ditingkatkan derajat nya. Agar menjadi orang yang lebih baik, lebih sabar, lebih banyak tersenyum.

Rencana Tuhan lebih indah itu memang tidak bisa langsung dibuktikan dalam jangka pendek, misal 1-2 bulan. Rencana Tuhan lebih indah itu bisa dibuktikan dalam jangka panjang, setelah itu kalian akan berkata dalam hati, “Ya Tuhan, jadi ini rencanaMu 4 tahun yang lalu?” Bersyukurlah, bersyukurlah, dan bersyukurlah.

 

CAST

Super Dad
Super Dad
Aries Tiara Rifansyah
Aries Tiara Rifansyah

 

8 thoughts on “Sombongkah Saya Selama ini?”

  1. bener banget so apa yang lo omongin sabar aja ya so
    tapi emang gua jadi mikir kalo Allah bukannya tidak adil, tapi memang Dia punya rencana yang terkadang tak bisa di duga duga. terkadang ada orang yang udah usaha keras + doa pula, tapi gagal. Sementara ada orang2 yang usahanya pas pasan dan kurang doa pula(kayak gua contohnya), eh malah tembus… rencana indah-Nya eman ga ada yang tau so.

  2. iya so thanks ya! lo juga semoga sukses dan dapet di universitas yang lu mau🙂
    lo coba manalagi nih? lo ikut simak?

  3. waah Alhamdulillah sama sama so kan berkat usaha lu juga pastinya haha
    accent ga ada bukber bukbernya nih so? ehehe :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s