Life is Unfair? Think Again

Akhir-akhir ini, dunia siswa-siswi sekolah yang baru saja lulus dari SMA semacam terheran-heran dengan hidup nya dan orang lain. Kata yang sering muncul dipikiran mereka adalah: Tidak adil. “They don’t deserve it!” Seolah kalimat tersebut mereka lontarkan dalam pikiran mereka tanpa satupun yang pernah mengucap nya.

Perguruan Tinggi Negeri. P-T-N. Semacam harga mati bagi sebagian orang. Sebagian lagi, nothing to lose. Seolah swasta maupun negeri tidak dijadikannya masalah. 27 Mei lalu, hari itu. Ada beberapa orang yang berpikir bahwa hidup itu tidak adil. Khusus nya bagi mereka.

Hari itu diumumkan hasil masuk perguruan tinggi negeri via jalur rapot. Ada yang keterima, ada yang tidak. Ada yang tersenyum, ada yang tertunduk, malu. Seakan hasil kerja keras 3 tahun buyar, bagi mereka yang gagal. Ada satu hal yang lebih mencengangkan lagi..

Saya bercakap dengan beberapa teman dari sekolah yang berbeda-beda. Cerita mereka selalu sama: “Temen gue si A, belajar nggak pernah, kerjaan nya main mulu, di kelas tidur, nongkrong terus kerjaan nya nge-rokok, DAPET undangan!!!” Dan saya mulai mencoba berpikir sehat tentang hal itu. Seolah menganalisis kejadian tersebut. Kenapa bisa terjadi?

Percakapan saya dengan salah satu teman saya, Reza Falufi. Seakan membuat saya berpikir. Kata dia, “Iya, rata-rata anak yang dapat undangan, doa orang tua nya kuat.” Sesaat saya berpikir. Terfokuskan ke anak-anak yang menjadi buah bicara teman-teman saya. Yang seakan tak pantas untuk mendapatkan undangan karena sikap nya.

Berdasarkan pikiran saya: Orang yang nakal yang mendapatkan undangan. Pertama, memang itu sudah rezeki nya dia. Kedua, karena anak nya nakal, orang tua nya berdoa (mungkin) lebih banyak dibandingkan orang yang tidak nakal atau baik-baik saja. Ketiga, saya tak habis pikir jika anak-anak nakal ini tidak mendapatkan undangan. Mungkin, akan lebih nakal karena stress bisa terjadi karena belum mendapatkan kuliah.

Lalu untuk yang tidak mendapatkan undangan?

Cobalah untuk bersyukur. Kalau kata teman saya, Reza Falufi. Masuk lewat jalur tulis itu lebih terhormat. Karena saingannya se-Indonesia Raya dan karena jelas, nilai nya tak bisa dimanipulasi. Kalau jalur undangan, maaf, ada nilai-nilai yang sengaja di “katrol” oleh pihak yang tak bertanggung jawab agar bisa mendapatkan undangan dan tak berarti semua orang yang mendapatkan undangan nilai nya di “katrol”, tidak.

Seakan kegagalan tersebut, memecut sebagian orang untuk belajar lebih gigih agar pantas untuk mendapatkan hal-hal yang diinginkannya.

So, life is unfair? Some people thought about it. Then think again. God has a better plan for us. We don’t know about our future. But He knows.

Satu hal yang selalu ada dalam pikiran saya ketika saya gagal;

RencanaMu lebih indah, Tuhan.

CAST

Image
Reza Falufi

2 thoughts on “Life is Unfair? Think Again”

  1. gw kira reza smp sa.. bagus deh ini gw setuju.. kapan2 mampir ke blog gw yak fantasycircus.wordpress.com🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s