Hedon(is)(me)(?)

Seperti yang kita ketahui akhir-akhir ini, kata Hedon sering terdengar di kuping kita. Semacam, “Eh, doi nggak lulus PTN tuh. Hedon banget sih jadi orang.” Lalu apa itu Hedon?

Diambil dari mbah Wikipedia, Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak mungkin dan sedapat mungkin menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan. Hedonisme merupakan ajaran atau pandangan bahwa kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan hidup dan tindakan manusia.

Jadi, semacam kaum-kaum Hedonis tak kenal yang namanya “bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.” Mereka hanya kenal 2 kata dalam hidupnya: 1. Senang; 2. Selamanya. Dan mereka tak pernah sadar bahwa Hedonisme sifatnya sementara. Lalu, apakah kita termasuk kaum-kaum Hedonis?

Rasa-rasanya memang sulit mengetahui sifat diri. Lantas, terkadang orang yang harus terlebih dahulu memberi kita peringatan terhadap suatu hal, lalu kita baru sadar bahwa ada sifat di diri kita yang tak baik rupanya. Jadi, selama ini kita beranggapan bahwa semuanya baik-baik saja. Terutama dalam sifat diri.

Membaca sifat diri dibanding sifat perempuan yang cantik rupanya yang baru dikenal untuk mencoba lebih dekat memang jauh lebih susah. Semacam kita perlu duplikat diri sendiri untuk berbincang, berpendapat, bertukar pikiran, sehingga kita mengetahui siapa diri kita. Sayangnya, semua itu hanya fiksi yang tak berujung yang ditulis seseorang entah dimana.

Berdasarkan apa yang saya simpulkan terhadap kaum-kaum Hedon yang bersemayam disekitar pemukiman kota maupun kabupaten lalu kelurahan, mereka cenderung lebih banyak bersenang-senang dibanding berkarya. Contoh dari bersenang-senang? Pengeluaran untuk membeli belanjaan di mall nan megah dan pengeluaran untuk jalan setiap malam minggu di awal bulan lebih besar daripada pengeluaran untuk menabung.

Sebagaimana kita ketahui dalam rumus Ekonomi, S = I. Dimana S untuk Saving, dan I untuk Invest. Jadi kalau kita menabung itu sama saja investasi. Tetapi kaum Hedonis, bisa dirumuskan dengan C > S. Dengan C untuk Consumption. Apalagi rata-rata kaum Hedonis adalah mereka-mereka yang masih muda dan belum mempunyai Y untuk Yield (pendapatan). Pendapatan nya nol, tapi konsumsi nya besar. Rugikah? Jelas. Mereka hanya bersenang-senang pada saat ini. Di masa depan, kemungkinan kaum Hedonis akan melarat selarat-laratnya. Lalu mereka bersakit-sakitan. Semacam hubungan seks bebas. Lalu terkena penyakit sifilis.

Jadi, semua hal yang bersifat sementara itu tak baik rupanya. Lalu bagaimana membedakan hal-hal yang bersifat sementara maupun sebaliknya? Menurut saya, hal-hal yang bersifat sementara itu bisa dibedakan dengan mana yang kita butuhkan dan mana yang kita inginkan. Kebutuhan dan keinginan itu tidak sema. Keinginan itu sifatnya (mungkin) sementara. Sedangkan kebutuhan itu sifatnya (mungkin) selamanya.

Keinginan dan kebutuhan tidak selalu berbanding lurus. Terkadang mereka bentrok. Kaum Hedonis hanya meluruskan mana yang mereka inginkan. “Kebutuhan itu nomor 2.” kata kaum Hedonis. “Lalu, apakah saya selama ini termasuk kaum Hedonis?” Yang tau jawabannya hanya diri sendiri.

Seseorang yang sudah dewasa pasti tau mana yang salah dan mana yang benar. Begitu juga dengan mana yang sifatnya sementara dan mana yang sifatnya selamanya. Mana yang dunia, dan mana yang akhirat.

Iba Hati

Iba hati. Melihat seseorang bersembayang di tempat suci, walau tak bisa jalan. Sesaat kami masih mengeluh. Malu rasanya akan diri yang masih berkeluh resah untuk berjalan menuju tempat ibadah. Sedangkan orang itu, yang hanya bisa duduk saja, ikhlas. Sesaat tampak tersenyum. Apa yang disenyumi?

Iba hati. Melihat anak muda, berjalan dengan sedikit membungkuk, memikul karung putih yang terlihat berat. Menyapa setiap tempat sampah. Terlihat seperti mencari emas. Lantas orang itu berharap menemukan sebuah emas. Yang akan dijualnya. Sehingga ia tak memikul karung putih lagi. Melainkan tas ber-password tiga. Dengan setelan jas ala James Bond, bukan pakaian kumuh lagi.

Iba hati. Melihat orang lain dijalanan membuka kedua tangannya sambil berlirih kecil untuk diberi. Sesaat kami masih mengeluh. Karena harta yang tak senada dengan kemauan.

Iba hati. Ketika melihat seseorang mengambil makanannya (kembali) dari tanah, yang mana makanan tersebut dibuatnya untuk berbuka puasa. Sesaat kami masih mengeluh. Karena hidangan yang kurang lengkap, rasanya.

Iba hati. Melihat orang lain dengan lelapnya menutup mata, dipinggir jalan. Beralaskan kardus bekas indomie. Sesaat kami masih mengeluh. Tak bisa tertidur pulas, padahal beralaskan tempat tidur yang pas.

Iba hati. Melihat saudara kami di daerah sana, belajar dengan fasilitas yang seadanya. Seperti belajar di kelas yang mewah, terlihatnya. Sesaat kami masih mengeluh. Karena bingung akan sekolah dimana. Padahal tinggal pilih saja tak ada sulitnya.

Iba hati. Melihat orang yang sudah mati hati. Yang tak pernah merasakan rasa kasihan. Yang tak pernah merasakan belas kasih. Sesaat kami masih mengeluh. Padahal mempunyai salah satu rasa hati.

Yang bila disapa, “Siapa namamu?”
“Iba hati.” jawabnya malu.

Sombongkah Saya Selama ini?

Hari ini, Senin, 8 Juli 2013, menjadi tanggal yang akan selalu diingat sebagian orang. Dan akan menjadi tanggal yang akan selalu dilupakan, bagi sebagian orang yang lain. Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri lewat jalur tertulis, membuktikan siapa yang tak pantas dan yang pantas untuk mendapatkannya. Diliat dari manakah? Dari usaha nya serta doa nya. Lalu, sombongkah saya selama ini?

Saya menjadi salah satu korban dari ratusan, bahkan ribuan orang yang berhasil gagal masuk via jalur SBMPTN. Entah kenapa, kegagalan kali ini benar-benar memecut saya tak sebagaimana mestinya. Rasa-rasanya, ucapan yang dilontarkan bapak saya kepada saya, memukul saya dihati sehingga tak seharusnya saya tersenyum lebar karena kegagalan ini.

Beda dari SNMPTN, kali ini saya menangis. Entah, kali ini rasanya berbeda. Sampai akhirnya saya dipanggil oleh bapak saya “Adeeeeek!” dengan sedikit lantang. Saya celingak-celinguk dari lantai 2, “Ada apa Pah?” Lalu bapak saya langsung menanyakan, “Kamu sudah shalat belum?” Sudah jam setengah 7, saya masih “down”, jadi.. “Belum, Pah.” Lalu bapak saya berkata dengan tenangnya.. “Shalat, Dek. Kamu itu mau ditolong Allah, shalat nya harusnya lebih dikuatkan lagi..”

Selesai shalat, saya jauh lebih tenang. Saya kebawah, dan dengan kebiasaan-kebiasaan yang sudah-sudah jika saya sudah “nakal”, pasti diceramahin, dengan panjang lebar. “Semua itu diliat dari usaha nya, Dek. Jangan lah kamu sombong. Kalau kamu terima, dan dengan bangga nya kamu berkata dalam hati dan ke teman-teman kamu, ‘Usaha saya setengah-setengah, tapi dapet tuh!’ Nggak ada kayak gitu, Dek. Namanya usaha itu ya harus se-maksimal mungkin. Setelah kamu usaha, baru doa nya dikuatkan. Terutama shalat nya. Apalagi shalat malam.”

Iya. Penyakit. Selama ini saya bergantung kepada doa. Tanpa usaha yang sebanding dengan doa nya. Lalu bapak saya lanjut berkata, “Kamu nggak bisa, Dek, doa dengan jalan kamu sendiri.” Saya bingung, lalu saya bertanya, “Maksudnya dengan jalan aku sendiri?” Lalu bapak saya berkata, “Maksudnya, kamu doa untuk minta itulah, inilah, dengan kemauan kamu sendiri. Allah nggak suka seperti itu.” Iya, jadi saya selama ini doa untuk kemauan saya. Bukan untuk mendapat ridhoNya. Dan itu salah. Tak patut dicontoh.

Dan kata-kata berikut rasa-rasanya amat memukul hati saya. Slogan yang ada dalam kamar saya dan pikiran saya, “Universitas Indonesia harga mati!”, pecah dengan sendirinya.

Bapak saya berkata, “Nggak ngaruh kamu mau kuliah dimanapun. Kalau kamu bisa kuliah di Universitas kurang TOP pun dengan bisa ranking disana, kamu pasti berguna! Daripada dapat Universitas TOP tapi kamu nggak bisa ranking. Mau jadi apa kamu misalnya IP dibawah 3 walau Universitas nya sangat unggulan?”

Lalu, salah satu teman terbaik saya, Aries Tiara Rifansyah, berkata, “Gapapalah Swasta, Negeri, sama aja. Semua tergantung kita yang ngejalanin.” Bukankah kalimat ini sudah sering saya dengar? Kenapa baru sadar sekarang?

Sesaat saya berpikir kedua kalimat tersebut. Lalu saya tersenyum. Gagal kok senyum? Karena rencanaNya lebih indah!

Selamat yang sudah dapat kuliah, semoga diberikan kemudahan dalam menjalani dan pastinya, sukses disana.

Bagi yang belum, tersenyumlah. Karena sedang diuji untuk ditingkatkan derajat nya. Agar menjadi orang yang lebih baik, lebih sabar, lebih banyak tersenyum.

Rencana Tuhan lebih indah itu memang tidak bisa langsung dibuktikan dalam jangka pendek, misal 1-2 bulan. Rencana Tuhan lebih indah itu bisa dibuktikan dalam jangka panjang, setelah itu kalian akan berkata dalam hati, “Ya Tuhan, jadi ini rencanaMu 4 tahun yang lalu?” Bersyukurlah, bersyukurlah, dan bersyukurlah.

 

CAST

Super Dad
Super Dad
Aries Tiara Rifansyah
Aries Tiara Rifansyah

 

Life is Unfair? Think Again

Akhir-akhir ini, dunia siswa-siswi sekolah yang baru saja lulus dari SMA semacam terheran-heran dengan hidup nya dan orang lain. Kata yang sering muncul dipikiran mereka adalah: Tidak adil. “They don’t deserve it!” Seolah kalimat tersebut mereka lontarkan dalam pikiran mereka tanpa satupun yang pernah mengucap nya.

Perguruan Tinggi Negeri. P-T-N. Semacam harga mati bagi sebagian orang. Sebagian lagi, nothing to lose. Seolah swasta maupun negeri tidak dijadikannya masalah. 27 Mei lalu, hari itu. Ada beberapa orang yang berpikir bahwa hidup itu tidak adil. Khusus nya bagi mereka.

Hari itu diumumkan hasil masuk perguruan tinggi negeri via jalur rapot. Ada yang keterima, ada yang tidak. Ada yang tersenyum, ada yang tertunduk, malu. Seakan hasil kerja keras 3 tahun buyar, bagi mereka yang gagal. Ada satu hal yang lebih mencengangkan lagi..

Saya bercakap dengan beberapa teman dari sekolah yang berbeda-beda. Cerita mereka selalu sama: “Temen gue si A, belajar nggak pernah, kerjaan nya main mulu, di kelas tidur, nongkrong terus kerjaan nya nge-rokok, DAPET undangan!!!” Dan saya mulai mencoba berpikir sehat tentang hal itu. Seolah menganalisis kejadian tersebut. Kenapa bisa terjadi?

Percakapan saya dengan salah satu teman saya, Reza Falufi. Seakan membuat saya berpikir. Kata dia, “Iya, rata-rata anak yang dapat undangan, doa orang tua nya kuat.” Sesaat saya berpikir. Terfokuskan ke anak-anak yang menjadi buah bicara teman-teman saya. Yang seakan tak pantas untuk mendapatkan undangan karena sikap nya.

Berdasarkan pikiran saya: Orang yang nakal yang mendapatkan undangan. Pertama, memang itu sudah rezeki nya dia. Kedua, karena anak nya nakal, orang tua nya berdoa (mungkin) lebih banyak dibandingkan orang yang tidak nakal atau baik-baik saja. Ketiga, saya tak habis pikir jika anak-anak nakal ini tidak mendapatkan undangan. Mungkin, akan lebih nakal karena stress bisa terjadi karena belum mendapatkan kuliah.

Lalu untuk yang tidak mendapatkan undangan?

Cobalah untuk bersyukur. Kalau kata teman saya, Reza Falufi. Masuk lewat jalur tulis itu lebih terhormat. Karena saingannya se-Indonesia Raya dan karena jelas, nilai nya tak bisa dimanipulasi. Kalau jalur undangan, maaf, ada nilai-nilai yang sengaja di “katrol” oleh pihak yang tak bertanggung jawab agar bisa mendapatkan undangan dan tak berarti semua orang yang mendapatkan undangan nilai nya di “katrol”, tidak.

Seakan kegagalan tersebut, memecut sebagian orang untuk belajar lebih gigih agar pantas untuk mendapatkan hal-hal yang diinginkannya.

So, life is unfair? Some people thought about it. Then think again. God has a better plan for us. We don’t know about our future. But He knows.

Satu hal yang selalu ada dalam pikiran saya ketika saya gagal;

RencanaMu lebih indah, Tuhan.

CAST

Image
Reza Falufi