Kereta Ekonomi untuk Sesuap Nasi

Holla!

Hari ini saya mendapatkan pemikiran yang cukup tragis sekaligus manis. Dimana dalam sebuah pengelihatan mata, Anda pun bisa mengerti apa yang mereka rasakan. Dalam sebuah pengelihatan mata, kita bisa melihat dunia lebih luas. Dalam sebuah pengelihatan mata, kita bisa menjadi iba hati. Dalam pengelihatan mata, semua nya tertuju kedalam pikiran masing-masing.

Malam kemarin saya memutuskan untuk sepedahan pagi tadi. Sudah lama tak ber-cardio ria. Untuk timbangan badan saya rusak. Jadinya bisa ngeles dikit kalau ditanya soal berat badan. Sulit rasanya untuk bangun dipagi hari. Mengingat sekolah sudah selesai. Kadang perlu berantem dulu dengan alarm handphone kalau pagi-pagi. Jam setengah 6 pagi saya sudah terbangun. Sempat cemas seketika melihat awan yang cukup mendung. Lambat laun Alhamdulillah cerah. Semangat rasanya ketika melihat awan yang bergulung di pagi hari. Cantik. Kayak……………….

Jam setengah 8 pagi saya berangkat bersama kedua teman saya. Tujuan disetiap minggu pagi adalah Senayan. A.k.a Car Free Day. Tetapi saya jarang melihat orang yang langsung gowes dari Bekasi menuju kesana. Biasanya mereka membawa mobil dengan sepeda nya, lalu baru sepedahan disana. Musuh nomor satu pesepeda adalah angkot, metro mini, kopaja, bus besar, dan motor. Apalagi sepeda fixed gear yang tak ada rem nya. Saya perlu berpikir puluhan kali jika mau ngebut-ngebutan.

Pagi ini terlalu padat dengan kendaraan. Tumben-tumbenan warga Bekasi sudah bangun pagi untuk entah kemana. Yang jelas terlalu padat. Sehingga kami baru sampai sana sekitar jam 8.15. Sesampai nya di Senayan, kami langsung menuju ke Sabang untuk menyantap nasi uduk. Nasi uduk disana TOP MARKOTOB. Walau sedikit mahal, tetapi worth it lah. Apalagi dari Bekasi udah gowes. Bak surga dimulut ketika menyantap nya. Kalau ada yang CFD kapan-kapan, cobain deh. Kompas nya, setelah dari Plaza Indonesia (arah dari bundaran HI) lampu merah belok kanan. Lalu setelah itu bakalan ketemu lampu merah lagi. Lalu belok kiri. Nanti lurus sedikit sekitar 100meter, ada Seven Eleven di sebelah kiri, nah nasi uduk nya pas banget di depan Sevel tersebut.

Perjalanan pulang kali ini sedikit berbeda. Karena teman saya mengajak saya untuk pulang naik kereta Ekonomi dari Stasiun Gondangdia. Dekat situ. Biasa-biasa nya saya pulang gowes lagi. Rasanya kalau balik gowes dari Senayan menuju Bekasi tuh….. Krik. Panas, lalu lintas sudah memadat, polusi udara, dan segala macamnya. Kalau nggak kuat, nggak dianjurkan gowes lagi balik nya. Yang ada nggak bakal lurus genjot nya.

Kalau dahulu kata teman saya, pesepeda boleh untuk naik kereta AC. Sekarang boleh nya hanya kereta Ekonomi. Untuk tiket, diberlakukan 2 tiket. Karena kita membawa sepeda. Mungkin sepeda dihitung orang. Harga tiket nya hanya 2000 rupiah x 2. Untuk hari minggu, kereta Ekonomi dari Kota menuju Bekasi hanya lewat 2 kali sehari. Yang pertama jam 9 pagi, dan yang kedua jam 6 sore. Jadi, makan kita nggak nikmat, mengingat harus segera ke stasiun. Takut ketinggalan kereta.

Setelah membeli tiket, kami segera menunggu. Sekitar 5 menit, kereta pun datang. Saya nggak begitu kaget, begitu datang kereta tersebut dengan anak-anak jalanan membawa gitar-gitaran duduk dipintu masuk kereta. Kereta tersebut masih sepi. Seiring berjalan nya kereta, stasiun demi stasiun pun dilewati. Makin lama makin ramai. Tujuannya pun nggak bukan dan nggak lain, stasiun Bekasi. Semakin ramai penumpang, semakin ramai juga pengamen dan penjual. Ya namanya juga kereta Ekonomi. Semuanya jadi satu disitu.

Pengamen pertama cukup membuat hati saya iba. Melihat ibu dengan anaknya mengamen. Ibu tersebut kaki kiri nya entah kemana, yang jelas beliau memakai tongkat dan ditemani anaknya dengan membawa amplifier untuk bernyanyi dengan diiringi musik yang sudah di set. Ibu tersebut mengamen dari satu gerbong ke gerbong lainnya dengan (maaf) mengesot. Ada juga anak jalanan yang berpakaian seperti anak punk jadul di Amerika. Kalau kesan pertama secara umum melihat mereka apa? Kalau nggak kriminal, ya kriminal. Benar? Nyatanya mereka duduk dengan tenang. Salah satu diantara mereka menyandar kepada temannya untuk sebentar menutup mata. Miris melihatnya. Apa yang ada dibenak saya adalah; Dimana orang tua mereka?

Banyak juga penjual yang ada di kereta tersebut. Mulai dari penjual headset, penjual peralatan rumah tangga dari plastik, penjual buku anak-anak, penjual tahu Sumedang, dan banyak lagi lainnya. Rasa-rasanya memang cukup adil jika berjualan dikereta. Dengan harga tiket 2000 rupiah, penjual bisa melewati beberapa stasiun dengan penumpang yang keluar-masuk. Untung pastinya, karena tiket yang murah.

Ada 2 orang pengamen dengan gitar nya yang sedikit membuat saya berpikir. Suara mereka saya acungkan jempol. Saya berpikir, bahwa setiap pengamen itu diwajibkan untuk mempunyai suara yang bagus. Karena jika tidak, mereka tidak akan mendapatkan uang. Jadi intinya, hampir setiap pengamen mempunyai suara yang bagus. Lalu saya berpikir, kenapa tidak ada ajang pengamen mencari bakat? Stasiun televisi terlalu banyak memberikan kesempatan kepada golongan menengah keatas. Sehingga golongan menengah kebawah, termasuk para pengamen tersebut, hanya dapat berajang di kereta, dari rumah kerumah, di tempat makan, dan lainnya. Kalau dikasih wadah, pasti jauh lebih baik. Karena pengamen juga manusia. Bukan hanya butuh uang, tetapi juga butuh wadah dan pendidikan yang layak dimana mereka bisa memberikan aspirasi dan bakat mereka. Alangkah indah nya jika sesuap nasi bisa dicari dengan cara yang lebih baik.

Saya turun di stasiun Kranji. Dimana ada sedikit kendala ketika saya pulang dari Kranji. Yak, rantai copot. Untung tak apa dan bisa dipasang lagi. Setelah beberapa menit meng-gowes dengan megap-megap, Alhamdulillah, akhirnya sampai dirumah.

Yang bisa saya simpulkan, kita mempunyai mata untuk bisa merasakan. Alhamdulillah masih diberi kesempatan untuk melihat. Kadang manusia salah kaprah, harusnya melihat yang baik-baik, malah melihat yang buruk-buruk. Rasa-rasanya tulisan ini juga pecutan bagi saya.

Yang jelas, disetiap situasi, bahkan situasi burukpun, kita bisa sedikit berpikir dan mencari celah untuk membuat semua menjadi lebih baik.

IMG-20130609-00788
Nasi Uduk Sabang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s