Menuju Senja, Menuju Semu

This essay is dedicated for those who having trouble with their own stories.

Hari itu, cukup cerah. Perasaan yang tak ada ujungnya rasa-rasanya ingin meledak keluar menuju pikiran seseorang. Disuatu senja. Semua rasa telah diungkapkan. Kepada yang tercinta, saat itu. Pengalaman baru, telah dimulai. Dimana setiap hari ada seseorang yang selalu menghampiri pikiran, tanpa permisi. Kali ini berbeda, karena situasi nya sudah lebih dewasa. “Aku buru-buru nyatain, soalnya besok malam sudah tarawih.” kata laki-laki itu. Pertemuan disenja itu sejenak telah mengukir tulisan dipikiran kedua belah pihak. Dimana kedua belah pihak tersebut telah setuju. Untuk menyatakan pada cinta, yang semu. Rasa-rasa nya bagi perempuan itu satu bulan terlalu cepat. Apalagi bagi laki-laki itu. Sejenak mereka berpikir, “Kenapa rasanya cepat sekali?”

Tak terasa, takbir sudah mengumandang. Perempuan itu pergi ke kampungnya. Untuk menemui sanak saudara. “Kamu mau nitip apa?” kata perempuan itu. “Aku nitip salam saja untuk saudara-saudara mu.” ucap lelaki tersebut melalui telfon terakhir sebelum keberangkatan perempuan itu ke kampungnya. Bak sudah kenal satu sama lain, laki-laki ini dengan percaya diri nya berbicara dengan ibu dari perempuan tersebut. “Tante, mohon maaf ya kalau ada salah-salah.” dengan suara yang agak gemetar melalui telfon dari pulau Jawa terhubung pulau Sumatera.

Setelah pulang dari tanah Sumatera, semua nya terasa baik-baik saja. Sampai pada akhirnya pertengkaran pertama pun dimulai. Seketika semuanya terasa berhenti, dan mereka mulai berpikir, “Kenapa harus saya yang mengalah?” Keegoisan itu tidak pernah berhenti. Karena setiap manusia punya rasa ingin dimengerti. Perbedaan sudut pandang tidak mengakhiri mereka. Akhirnya kedua nya mengalah dan meminta maaf. Ketika seseorang meminta maaf, akankah permintaan maaf tersebut diterima? 3/4 dari 1, menerima. 1/4 nya, hati nya tenggelam dengan tinta hitam dendam. 2 bulan sudah mereka menjalin hubungan, semu. Berangkat bersama, pulang bersama, semua nya serba bersama. Adakah rasa bosan diantara keduanya? Belum.

Pertengkaran yang tiada habisnya, menjadi sarapan dipagi hari, lunch disiang hari, maupun dinner dimalam hari. Semuanya berujung kata ‘Maaf.’ Sedang semuanya lupa akan ucap ‘Terima kasih.’ Senandung maaf selalu ada pada setiap hubungan, semu. Kali ini berbeda. “Aku kan cuman teman dengan dia.” ketik si perempuan disebuah chat. Sejenak, laki-laki itu berpikir. “Apakah separah ini? Sehingga dia tidak boleh berhubungan dengan laki-laki lain walaupun itu temannya?” Semuanya serba terbatas ketika hubungan semu itu terjalin. Semuanya serba mereka berdua. Tidak ada orang lain. Orang lain dilarang ikut campur. Semua nya serba terbuka, jujur, dan tak ada kebohongan diantara keduanya. Layaknya hubungan yang sudah terikat dengan surat.

5 bulan sudah, semuanya tersirat. Liburan menunggu, layaknya honey moon. Kuningan menunggu, menyiapkan sejuta kenangan. Satu liburan yang tak terlupakan, dipikiran kedua ikatan. Bersama salah satu teman, mereka liburan. 5 hari 4 malam rasa-rasanya bukan waktu yang lama. Sehingga kembang api tahun baru pun samar-samar ditelinga mereka. Tak ada liburan tanpa pertengkaran. “Kamu tuh batu banget sih!” Jujur, si laki-laki besar itu. “Emangnya kenapa sih? Nggak boleh kalau aku pakai baju itu?” Jawab perempuan membela sudut pandang nya. Karena masalah sepele saja bisa menjadi besar karena ada dihubungan, semu. Tahun baru rasanya tetap hubungan lama. Tetapi tidak dengan masalah lama. Selalu, masalah baru. Hubungan semu itu masalah. Sudah ada ikatan kontrak dikedua nya.

Perempuan itu perempuan baik. Tidak neko-neko, tidak macam-macam, dan tidak liar. Beruntung, sungguh beruntung laki-laki ini bisa menjalin kebahagiaan, semu, bersama. Perempuan itu tidak banyak cakap. Karena sesungguhnya perempuan yang baik adalah perempuan yang tidak banyak bicara, dan menjaga lisannya. Hari itu hari baru, diawal tahun. Akankah hubungan tersebut semakin semu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s