Muram

Sampailah pada akhirnya
Dimana pada suatu hari
Semua orang menanti,
Hidup atau mati

Semua nya tetap suram
Perempuan yang bikin kusam
Berjalan di benak
Seperti tulang lunak

Pagi tetap menutup mata
Walau tak diinginkan
Yang dipuja selalu datang
Di mimpi yang amat berkesan

Rasa-rasanya, pagi ini terlalu mencekam
Layaknya burung berkata,
Atau hanya karena perempuan yang masih menutup mata?

Menuju Senja, Menuju Semu

This essay is dedicated for those who having trouble with their own stories.

Hari itu, cukup cerah. Perasaan yang tak ada ujungnya rasa-rasanya ingin meledak keluar menuju pikiran seseorang. Disuatu senja. Semua rasa telah diungkapkan. Kepada yang tercinta, saat itu. Pengalaman baru, telah dimulai. Dimana setiap hari ada seseorang yang selalu menghampiri pikiran, tanpa permisi. Kali ini berbeda, karena situasi nya sudah lebih dewasa. “Aku buru-buru nyatain, soalnya besok malam sudah tarawih.” kata laki-laki itu. Pertemuan disenja itu sejenak telah mengukir tulisan dipikiran kedua belah pihak. Dimana kedua belah pihak tersebut telah setuju. Untuk menyatakan pada cinta, yang semu. Rasa-rasa nya bagi perempuan itu satu bulan terlalu cepat. Apalagi bagi laki-laki itu. Sejenak mereka berpikir, “Kenapa rasanya cepat sekali?”

Tak terasa, takbir sudah mengumandang. Perempuan itu pergi ke kampungnya. Untuk menemui sanak saudara. “Kamu mau nitip apa?” kata perempuan itu. “Aku nitip salam saja untuk saudara-saudara mu.” ucap lelaki tersebut melalui telfon terakhir sebelum keberangkatan perempuan itu ke kampungnya. Bak sudah kenal satu sama lain, laki-laki ini dengan percaya diri nya berbicara dengan ibu dari perempuan tersebut. “Tante, mohon maaf ya kalau ada salah-salah.” dengan suara yang agak gemetar melalui telfon dari pulau Jawa terhubung pulau Sumatera.

Setelah pulang dari tanah Sumatera, semua nya terasa baik-baik saja. Sampai pada akhirnya pertengkaran pertama pun dimulai. Seketika semuanya terasa berhenti, dan mereka mulai berpikir, “Kenapa harus saya yang mengalah?” Keegoisan itu tidak pernah berhenti. Karena setiap manusia punya rasa ingin dimengerti. Perbedaan sudut pandang tidak mengakhiri mereka. Akhirnya kedua nya mengalah dan meminta maaf. Ketika seseorang meminta maaf, akankah permintaan maaf tersebut diterima? 3/4 dari 1, menerima. 1/4 nya, hati nya tenggelam dengan tinta hitam dendam. 2 bulan sudah mereka menjalin hubungan, semu. Berangkat bersama, pulang bersama, semua nya serba bersama. Adakah rasa bosan diantara keduanya? Belum.

Pertengkaran yang tiada habisnya, menjadi sarapan dipagi hari, lunch disiang hari, maupun dinner dimalam hari. Semuanya berujung kata ‘Maaf.’ Sedang semuanya lupa akan ucap ‘Terima kasih.’ Senandung maaf selalu ada pada setiap hubungan, semu. Kali ini berbeda. “Aku kan cuman teman dengan dia.” ketik si perempuan disebuah chat. Sejenak, laki-laki itu berpikir. “Apakah separah ini? Sehingga dia tidak boleh berhubungan dengan laki-laki lain walaupun itu temannya?” Semuanya serba terbatas ketika hubungan semu itu terjalin. Semuanya serba mereka berdua. Tidak ada orang lain. Orang lain dilarang ikut campur. Semua nya serba terbuka, jujur, dan tak ada kebohongan diantara keduanya. Layaknya hubungan yang sudah terikat dengan surat.

5 bulan sudah, semuanya tersirat. Liburan menunggu, layaknya honey moon. Kuningan menunggu, menyiapkan sejuta kenangan. Satu liburan yang tak terlupakan, dipikiran kedua ikatan. Bersama salah satu teman, mereka liburan. 5 hari 4 malam rasa-rasanya bukan waktu yang lama. Sehingga kembang api tahun baru pun samar-samar ditelinga mereka. Tak ada liburan tanpa pertengkaran. “Kamu tuh batu banget sih!” Jujur, si laki-laki besar itu. “Emangnya kenapa sih? Nggak boleh kalau aku pakai baju itu?” Jawab perempuan membela sudut pandang nya. Karena masalah sepele saja bisa menjadi besar karena ada dihubungan, semu. Tahun baru rasanya tetap hubungan lama. Tetapi tidak dengan masalah lama. Selalu, masalah baru. Hubungan semu itu masalah. Sudah ada ikatan kontrak dikedua nya.

Perempuan itu perempuan baik. Tidak neko-neko, tidak macam-macam, dan tidak liar. Beruntung, sungguh beruntung laki-laki ini bisa menjalin kebahagiaan, semu, bersama. Perempuan itu tidak banyak cakap. Karena sesungguhnya perempuan yang baik adalah perempuan yang tidak banyak bicara, dan menjaga lisannya. Hari itu hari baru, diawal tahun. Akankah hubungan tersebut semakin semu?

Balada Problema Twitter

Energen pagi ini.. Sepet, panas, kurang manis. Kalau kata salah satu teman saya, “kayak PDKT yang nggak direspon”. Oke. Setuju. I write this, based on my experience. No offense at all. I just write what’s on my mind.

Twitter. Sebuah jejaring sosial yang penuh dengan kontroversi, pro-kontra, hujatan, dan lain sebagainya. Kenapa saya sebut seperti itu? Karena Twitter itu tajam. Bak silet yang digariskan ke kulit. Kenapa tajam? Karena Twitter tak punya warning. Kalau kata kakak saya yang perempuan, “You can say anything what is in your mind. But, do not forget to take the consequences of your act“. Well, welcome to the world where word has no limit.

Twitter juga punya keuntungan. Bagi yang lagi jatuh cinta, mudah nya untuk kepo Twitter-nya doi pun jadi keuntungan tersendiri. Selain itu, mudah nya informasi yang didapat juga menjadi keuntungan lainnya. Karena beberapa media menggunakan Twitter sebagai media untuk memberikan informasi yang aktual. Jadi, yang lagi happening bisa ketauan when you open up your timeline.

Selain punya keuntungan, Twitter pun juga punya kerugian. Apa saja kerugian tersebut? Kembali, based on my experience that I have conclude, cukup banyak. Berikut beberapa kerugian yang telah saya rangkum dalam pikiran.

Negative words = negative though
Banyak yang tidak sadar (mungkin), bahwa ketika kita melihat ucapan yang tidak baik di Twitter, pikiran kita pun menjadi negative karena ucapan tersebut. Melihat teman jadi galau, secara nggak langsung kita jadi galau juga. For the reason why nya saya kurang begitu tahu, tapi yang jelas, itu berpengaruh, man. Cobain aja sendiri.

Terlalu kepo
Hah? Terlalu Kepo? Iya. Jikalau ada yang dicinta, dan kita terlalu kepo terhadap doi. Niscaya, semua conversation Twitternya bakal kita bacain. Belum lagi yang gampang jealous. Ngeliat si doi reply-reply-an sama orang lain, galau..

Terlalu percaya diri
Terlalu percaya diri disini bisa diartikan banyak omong. Dari jam 1 pagi sampai jam 1 pagi lagi kerjaan nya nge-tweet mulu. Sampai Twitter-nya kena limit. Nggak ngerti kalau limit tuh bagaimana. Yang jelas, terlalu percaya diri bisa membuat orang yang melihat, illfeel. Alhamdulillah, kalau tweet-nya berkualitas. Gapapa nge-tweet terus..

You can find anything you want to find
Yes, mau cari apa aja di search nya Twitter, pasti ada. Even, the negative one. Apatuh? Ya itu. Hal-hal yang berbau pornografi. Bahkan, ada account yang khusus men-share foto-foto yang tak bertanggung jawab. Tobatan nasuha, ya Tuhan..

Salah prasangka, berburuk sangka
Ini krusial banget, man. Banyak tweet-tweet yang ambigu. Di tweet dengan enak nya aja gitu. Tapi yang ngerasa banyak. Apa mereka yang kepedean? Contoh, saya lagi nge-tweet, tiba-tiba ada orang muncul di timeline saya berucap, “Berisik banget sih loe!”. Nahlho, sebagai manusia yang wajar saya pun kadang suka merasa. Padahal, tweet tersebut tidak tertuju untuk siapapun. Mungkin banyak yang merasa, bukan saya saja. Lalu saya pun membalas nge-tweet, “Emang w doang yang berisik?”. Trololololol.

The problem with; Following & followers
Nah, yang satu ini juga cukup krusial. Karena faktanya, kalau followers seseorang banyak, dia dikatakan “g4uL”. Entah, dari mana persepsi ini datang. Padahal, belum tentu. Dunia maya dengan dunia nyata itu berbeda, boy! Karena banyak yang didunia maya seperti itu, ketika didunia nyata tidak seperti itu. Terkecuali, doi artis atau public speaker yang udah kelihatan oke nya. Kalau masalah following, mungkin banyak yang mempermasalahkan, following lebih banyak dari followersSo, why? Is that a problem? Siapa tau yang di follow nya akun-akun yang berkualitas. Ndak usah minder.. Live your own life.

Ketika dunia maya menjadi pelampiasan
Ketika tersebut bertemu tersebut, akankah berbanding lurus? Akankah sama? Disini (as I see), banyak yang menjadikan Twitter sebagai pelampiasan dunia nyata. Ketika didunia nyata kita tak bisa berkata apapun, didunia maya pun kita bisa. Tak sedikit orang yang menjadikan dunia maya sebagai ajang “cemoohan”. Karena jika didunia nyata orang tersebut membuat “cemoohan”, niscaya, amuk massa tak dapat dihindari.

Ketika dunia maya tidak sama dengan dunia nyata
Banyak orang seperti ini yang didunia nyata nya (maaf) anti-social (ansos). Ansos itu maksudnya, didunia nyata orang tersebut jarang sekali berkomunikasi dengan orang lain. Jarang berinteraksi. Tetapi, jika didunia maya orang tersebut banyak sekali omongnya. Banyak temannya. This is not fair. Kenapa? I can’t imagine when they meet on the real world. Begitu ketemu, jiper, dokem, diem. Man, please be real.

Follow to unfollow
This is the hot one.
Saya pun nggak mengerti. Saya pun kadang-kadang ikut dalam aliran ini. Kenapa follow dan unfollow itu jadi masalah? Well, (mungkin) banyak yang pertemanan nya sedikit berkonflik karena masalah ini. Ketika seseorang dimintai. Follow back dong kk..” tetapi orang tersebut tidak meng-approve permintaan nya tersebut, pertemanan jadi buyar. Man, saya lupa saya baca tulisan siapa. Yang jelas, based on my point of view, “Follow back gue dong!”, itu artinya sama saja “Ikutin hidup gue dong!”. Kalau diartikan timeline kita itu sebagai track hidup didunia maya. Banyak yang teman nya di unfollow lagi karena nggak di follow back. Follow itu karena tertarik. Bukan karena menarik. Kembali, ini dunia nyata, bukan dunia maya.

That’s all. Mungkin itu beberapa problema Twitter yang sudah saya rangkum based on my point of view and experience. Kembali, tulisan ini bukan diniatkan untuk “menyerang” seseorang. I just write what’s on my mind. Then, why don’t you write what’s on your mind?

 

This is the real world, not cyberspace.

Rahasia

Tak ada sore dan udara menjadi segar
Tak ada gelap, lalu mata enggan menatap
Tak ada bintang mati, butiran pasir terbang ke langit
Tak ada fajar, hanya remang malam
Semua tlah hilang terserap matahari

Harum mawar memburu bulan
Rahasia tetap diam tak terucap
Untuk itu semua aku mencarimu
Berikan tanganmu, jabat jemariku
Yang kau tinggalkan hanya harum tubuhmu
Berikan suaramu, bawa semua bisikanku memanggil namamu

Atau kau ingin aku berteriak sekencang kencangnya
Agar seluruh ruangan ini bergetar oleh suaraku

Rahasia by Payung Teduh