Senada, Cerita..

Finally.. Semua indah pada akhirnya. Mungkin. Akhirnya selesai juga badai pertama bagi anak kelas 3 SMA. Dimana menuai kontroversi, pro-kontra, segala macam kesalah pahaman antara pemerintah dengan pelajar, mungkin. Akhirnya juga, angkatan ini berhasil berangkat. Berangkat menuju kenangan, yang nggak akan pernah dilupakan. Setelah menuai banyak kontroversi lagi.. Dimana banyak yang pro maupun kontra lagi. Banyak masalah nya, dan satu yang harus di underline. Jadi ketua itu, nggak mudah..

Saya, merasakan. Merasakan apa yang saya lihat dari kejauhan. Merasakan bagaimana perjuangan mereka para ketua terdahulu. Tak semudah membalikan tangan tentunya. Disini yang saya rasakan sekali adalah ketika dimana teman yang tadi nya dekat dengan saya, menjadi jauh. Yang tadi nya jauh, menjadi dekat. Yang tadi nya dekat, menjadi semakin mendekat. Yang tadi nya jauh, menjadi semakin menjauh. Terlalu banyak pengalaman yang saya rasakan. Tak lupa saya ucapkan terima kasih atas segala perlakuan baik maupun buruk.

Minggu, 21 April 2013.
Kami pun membuka mata, dengan penuh rasa. Tanpa adanya perasaan, yang berburuk sangka. Tak banyak yang mengingat, bahwa hari ini, ibu Kartini. Jam 5 pagi harus sudah siap, untuk menjalani kenangan, yang rasanya akan cepat berlalu. Lagi-lagi, entah ini salah saya atau bukan. Dijadwalkan jam 5 pagi berangkat, tetapi bus nya belum datang. Setelah menunggu satu setengah jam, akhirnya kami pun berangkat. Perjalanan yang tak singkat menuju tempat kejadian perkara gempa bumi dua hari sebelum keberangkatan. Rasa ceria pun menghangatkan setiap rombongan di bus masing-masing. Sampai akhirnya rasa itu pun padam, diiringi matahari terbenam. Rasa pun mulai resah, ketika melihat jalan yang tak berujung. Sampai akhirnya, mereka mengecilkan suara mereka, dan menutup mata untuk sesaat saja. Kami baru sampai di Dieng, jam 9 malam. AC di bus rasanya tak ada apa-apanya, ketika salah satu karyawan bus membuka pintu bus. Jaket pun rasanya menjadi teman hangat diiringi pelukan-pelukan “akhirnya sampai juga”. Makan malam pun dilahap dengan mewah, dan kamar pun tersedia sudah. Dimana mereka harus menutup mata, untuk bangun jam tiga. Menuju matahari, yang menyinari, esok pagi.

Senin, 22 April 2013.
Suara alarm dari setiap kamar pun berbunyi. Jam setengah tiga pagi. Tak sedikit yang pada akhirnya, mematikannya, untuk memendam rasa. Saya pun bergegas, mengetok pintu disetiap kamar hotel, untuk membangunkan, yang belum bangun. Jam tiga pagi, semua sudah siap. Untuk melihat pemandangan, yang tak mungkin ada di Bekasi. Diiringi rintik hujan, yang kadang mengecilkan hati. Kami pun berangkat. Tak sedikit yang memejamkan mata diperjalanan menuju dataran tinggi, bak melunasi tidur yang belum selesai. Bus kecil pun berhenti. Untuk menghadap sang Illahi, saat adzan Subuh berkumandang. Air wudhu pun membuka mata setiap orang. Dimana sesaat lagi, kebesaran Nya akan dilihat setiap insan. Yap, matahari membuka mata nya, diiringi gunung Sindoro yang tak kalah cantiknya. Mereka pun tak berhenti, memotret momen, yang tak akan ada di Bekasi. Subhanallah, ucapan setiap insan karena kebesaran Nya. Mungkin tak banyak yang bersyukur. Lupa akan nikmat yang masih bisa didapat. Setelah beberapa lama, kami pun berangkat lagi. Menuju Candi Arjuna. Candi diatas pegunungan, 2100 mdpl. Sesampainya disana, semua orang memakai jaketnya. Udara yang menusuk kuping, diiringi napas yang mengeluarkan asap. Bak film-film Hollywood. Keindahannya pun tak kalah. Betapa perkasa nya orang-orang terdahulu. Bisa membuat sebuah bangunan yang berada jauh diatas dataran rendah. Tak lupa kami berfoto ria. Tak sedikit yang meminta foto dengan yang tercinta. Termasuk saya. Iya. Saya. Setelah itu kami balik menuju parkiran untuk menyantap sarapan. Saya pun sempat berhenti, ketika ada ibu & bapak menawari bunga Edelweiss. Saya membeli. Untuk orang yang tercinta. Iya. Ibu saya.. Setelah sarapan, kami bergegas untuk menuju Kawah Singkidang. Begitu kami turun disana, tak sedikit pedagang yang menawarkan dagangannya. Masker. Disana bau belerang. Jelas, pasar masker pasti menang banyak kalau jualan disana. Bau nya seperti kentut. Yang asma dilarang ikut. Sedikit, rasa khawatir. Karena ancaman bahaya bisa saja terjadi. Kawah yang aktif. Setelah dari situ, kita menuju tempat yang telah saya jadikan favorit selama kenangan ini berlangsung. Yap, Telaga Warna. Tempat dimana rasanya banyak cinta, yang telah memuai disana. Sayang, saya bukan punya siapa-siapa. Jadinya, tertawa bersama teman rasanya sudah menambal rasa. Tenang. Tenang. Tenang. Begitu saya menghirup udara segar disana. Ditemani pohon-pohon rindang dan danau yang menyejukan mata. Kadang yang tercinta lewat didepan mata, tetapi apa dikata. Rasa tak bisa berkata. Setelah dari Telaga Warna, kami pun kembali ke penginapan. Sesampainya dipenginapan, kami cepat makan siang. Karena perut tak bisa bertahan. Rasanya penginapan itu, penginapan terbaik yang saya inapi. Disebelah utara hotel, ada gunung Sindoro membesarkan kuncupnya. Disebelah selatan hotel, ada gunung Sumbing yang membesarkan badannya. Sungguh, kuasa yang Maha Besar. Setelah kami membersihkan diri, kami pun check out menuju Candi besar. Candi Borobudur. Ketiga kali nya sudah saya kesana, melihat pemandangan dari atas. Suatu pemandangan tak kalah indah dari wisata-wisata yang sebelumnya. Rasanya kurang pas kalau ke Jogja tak mampir kesini. Setelah dari Candi Borobudur, kami pun segera berangkat ke Kaliurang. Menuju hotel yang katanya sedikit “angker” karena banyak nya cerita dari mbah Google yang tidak diketahui kebenarannya. Sebelum ke hotel, kita pun mampir di Djava Bakpia. Banyak yang membeli. Tak sedikit yang dijual lagi.. Mungkin. Indra, salah satu pemimpin terbaik yang pernah saya temui, mengusulkan adanya acara dimalam nanti. Istilahnya, “Prom-Night”. Kalau menurut saya, Prom-Prom-Night-Night-an. Karena apa? Tidak adanya kesiapan dalam mengadakan acara. Baru approve ke pihak hotel untuk memakai aula, 1 jam sebelum acara dimulai. Apalagi siswa-siswi nya sudah kalang kabut. Nggak tahan untuk beristirahat karena lelah sudah seharian berjalan. Dengan persiapan seadanya, acara pun terlaksanakan. Walau kesannya tak terlalu meriah, tapi alhamdulillah. Seluruh siswa dan siswi respect untuk ikut dalam acara tersebut. Walau baru mulai jam 11 malam dan mata sudah satu watt.

Selasa, 23 April 2013.
Acara selesai jam setengah 1 pagi. Diiringi tepuk tangan meriah dan mata yang mulai memejamkan mata dengan sendirinya. Sebagian banyak memutuskan untuk tidur, sebagian lagi memutuskan untuk makan dilobby hotel. Termasuk saya. Lucunya, banyak teman saya yang tidak tidur dikamarnya karena mendengar cerita-cerita yang tak diketahui kebenarannya. Begitu pula saya, yang ketiduran dikursi lobby hotel. Begitu bangun, begitu sadar banyak teman yang meninggalkan saya karena mereka sudah mengantuk. Dengan jalan terpatah-patah, saya menuju kamar hotel dan tidur. Lagi, tidur hanya 3 jam saja per-hari selama menjalani kenangan ini. Di bus pun saya tak tertidur. Begitu bangun dari lelapnya tidur, kami pun sarapan pagi. Yang bangun telat, yang paling gaenak. Makanannya sudah hampir habis. Saya telat bangun. Tapi alhamdulillah, masih bisa sarapan. Banyak orang disana yang menahan laparnya dipagi hari. Setelah kami check out dari hotel, kami pun pergi ke Kota Gede. Tempat dimana perak-perak dibuat. Tempat dimana bulatan yang ada dijari manis dibuat. Tempat dimana kerajinan 80juta dibuat. Rasa-rasanya, menukar sebuah kerajinan dengan motor Kawasaki Ninja 250cc tidak adil. Setelah dari Kota Gede, kami pergi ke Taman Sari. Yap, tempat dimana para selir raja berada. Konon, ada lebih dari 40 selir ditempat tersebut terdahulu nya. Yang cowok pun terbayang-bayang. Bagaimana rasanya mejadi raja ditemani 40 selir pilihan. Ah.. Imajinasi belaka. Setelah muter-muter dibawah terik matahari, kali ini kami akan dibawa ke Parangtritis. Pantai yang mitosnya kalau pakai baju hijau disitu, nggak tau kenapa. Sebelum kesana kami makan siang dahulu. Ada satu perasaan kesal dihati saya. Ketika melihat musholla nya begitu kecil dan panas. Sungguh, membuat musholla ditempat sisa seperti itu bukanlah hal yang baik. Setelah semua selesai makan siang dan sholat, kami pun segera berangkat menuju Pantai. Sesampai nya disana, hawa panas dan angin dari laut pun sesaat menusuk kulit. Panas. Panas. Panas. Rasanya pasir pun juga ikut memuai hawa. Rasanya pun seperti jalan tak memakai alas. Panas, sekali. Tak sedikit juga yang mengabadikan momen-momen indah disana. Sayang, yang tercinta hanya terlihat dimata, keinginan untuk berteriak, dipendam dalam-dalam. Tempat selanjutnya adalah tempat dimana tidak afdol jika ke Jogjakarta tidak kesini. Yap, Malioboro. Tempat sejuta pembeli dan tempat sejuta pedagang. Saya memutuskan untuk tidak membelikan apa-apa. Amanah dari ibu saya ketika saya bertanya “Mah, mau nitip apa?” Beliau pun menjawab senada.. “Nggak usah, Dek. Masih banyak baju dirumah..” Well, saya dan beberapa teman saya yang bukan tipe pemborong barang, akhirnya memutuskan untuk berjalan kaki. Menikmati suasana Jogjakarta di sore hari. Kalau di Jogjakarta itu yang di kangenin suasana nya. Sungguh, bukan oleh-oleh nya. Tak lupa beberapa dari kami pergi ke Angkringan. Kalau di Bekasi, Nasi Kucing. Tapi disini lebih oke. Ada Kopi Joss, Tape Susu, dan satu hidangan yang harus banget dicoba ketika berada di Jogjakarta adalah.. Ketan Bakar / Jadah Bakar. Man, itu makanan kalau dikasih susu kental manis diatasnya.. Ya Tuhan.. Yang lupa, lain kali kalau kesana cobain ya. Tempat angkringan yang oke disebelah utara Malioboro. Diseberang rel kereta api. Setelah dari Malioboro dengan sejuta pengeluaran dari setiap orang untuk membeli barang, kami pun makan malam. Dengan diiringi cerita-cerita yang cantik selama 3 hari, rasa-rasanya terlalu cepat berlalu sampai akhirnya kita harus kembali ke Bekasi. Kami pun berangkat jam 9 malam, dari Jogjakarta.

Rabu, 24 April 2013.
Rasa-rasanya, jedotan saya bersama teman saya itu tak juga dirasakan oleh saya. Tetapi banyak orang. Ketika bus menancap gas dengan kencang dan mungkin tak sadar ada jalan rusak dengan bolongan yang dalam. Hujan bakpia pun tak terbendungi. Rasa negatif pada awal tidur dikarenakan supir bus yang membawa bus seperti racer F1 akhirnya menjadi positif. Diiringi mata yang semakin berat. Akhirnya bus kami pun berhenti di Cirebon. Adzan subuh pertanda untuk berhenti untuk mengucap syukur dipagi hari. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan, dan berhenti direstoran lokal. Untuk menyantap sarapan pagi. Jika yang mau sarapan. Jika yang tidak, bisa pergi ke sebelah utara untuk menikmati indahnya laut utara yang penuh dengan oil rig. Saya pun tak tidur sama sekali setelah sholat subuh. Akhirnya bus pun sampai disekolah tercinta. Jam dua belas siang. Dimana dijadwalkan, rombongan sudah sampai pada pukul tujuh pagi. Sesampainya, kami disambut hujan deras. Diiringi pelukan-pelukan “Alhamdulillah”, diiringi pelukan-pelukan “Thank you ya!”. Sungguh, suatu kebahagiaan bagi saya bisa melihat teman-teman saya tersenyum ceria sesampai nya disini.

Pada akhirnya, sedih campur bahagia pun saya rasakan. Yang mana, sedih karena kenangan cepat berlalu dan saya pun akan jarang melihat teman-teman saya tersenyum ceria dengan canda tawa yang abstrak. Bahagia pun juga, dimana saya bisa melihat muka-muka bahagia teman-teman saya setelah empat hari perjalanan yang tak akan dilupakan dan akan menjadi cerita-cerita indah kala tua nanti. Saya mewakili seluruh panitia perpisahan SMA Negeri 5 Bekasi tahun ajaran 2012/2013, mohon maaf jika ada ucapan maupun sikap yang kurang berkenan dihati. Saya berterima kasih juga kepada kalian, karena sudah men-sukseskan acara ini. Tanpa kalian, acara ini tak berarti. Seperti lirik lagu Malino yang dimainkan oleh The Trees and The Wild.

Kau rindukan, waktu yang pergi
Datanglah, kembali, padaku

 

Gunung Sindoro
Gunung Sindoro
Golden Sunrise, Dieng
Golden Sunrise, Dieng
Candi Arjuna
Candi Arjuna
Kawah Singkidang
Kawah Singkidang
Telaga Warna
Telaga Warna
Candi Borobudur
Candi Borobudur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s