Universitas, Fakultas, Jurusan, dan Segala Macam Kegalauannya

Mungkin disaat sekarang ini, disaat dimana siswa kelas 3 SMA tahun ajaran 2012/2013 sedang bingung-bingung nya memilih masa depan, saya memberanikan untuk angkat bicara soal permasalahan yang (mungkin) sedang sangat trend sampai beberapa bulan kedepan.

Apa yang saya lihat tak lain berdasarkan dari apa yang saya alami dan apa yang saya lihat. Sejauh ini, sepertinya masalah tersebut kian membingungkan, semakin bingung, dan sepertinya tak berujung kisahnya. Disini saya hanya mencoba untuk berbagi pikiran dalam menyelesaikan masalah tersebut. Apa yang saya tulis, adalah berdasarkan sudut pandang saya, pikiran saya, serta fakta-fakta yang saya alami, dalam kehidupan belakangan ini. Tak ada keharusan untuk setuju ataupun mengikuti.

Pertama
Berdasarkan apa yang telah saya lihat dan alami, mereka yang bingung adalah yang nilai nya, dikatakan cukup bagus. Dan perlu diketahui bahwa mereka yang (maaf) nilai nya jelek, sangat percaya diri dalam mengatasi masalah tersebut. Dan berdasarkan beberapa tulisan yang saya baca, mereka yang nilai nya kurang bagus memang merasa dirinya kurang. Dan lebih percaya diri disatu jurusan, misal. Perlu diketahui bahwa pesimis dan tau diri adalah berbeda. Karena memang itu pilihan nya dan dia hanya fokus ke SATU jurusan dan dia optimis untuk mendapatkan nya. Dibanding dengan yang nilainya bagus? Seperti ini menurut saya. Jadi, karena nilai mereka bagus, (mungkin) mereka berpikir bahwa sudah ada beberapa jurusan yang PASTI diterima jika mereka memilih nya. Karena nilai mereka bagus dan bisa dikatakan bahwa mereka “jago” didalam beberapa mata pelajaran.

Kedua
Pesimis. Yap, mereka rentan pesimis. Mereka disini adalah mereka yang nilai nya bagus. Saya tak tahu kenapa juga apa yang menjadi alasan mereka bahwa mereka TIDAK berani mengajukan rapor nya ataupun ujian tulis dijurusan tertentu. DIMANA, mereka yang nilai nya kurang bagus, berani untuk mengajukan rapor dan bersaing dijurusan tersebut. Padahal, berdasarkan apa yang telah saya baca, tugas kita adalah untuk mencoba. Soal masalah gagal atau sukses adalah perjalanan dari mencoba tersebut. Kalau kata Nike, Just Do It.

Ketiga
Masalah tersebut siapa yang membuat? Diri sendiri kan? SEHARUSNYA, masalah tersebut yang menyelesaikan dan mengatasi adalah diri sendiri. Bukan orang lain! Menurut saya, banyak yang salah langkah soal masalah konsultasi. Dimana, berdasarkan apa yang telah teman saya alami, mereka malah makin bingung. Karena apa? Mereka meminta kepada teman, guru konseling, atau siapa untuk memberi advice, “Gue cocok dijurusan mana?”. Disini, saya melihat bahwa pertanyaan seperti itu hanya akan membingungkan dan TIDAK SESUAI dengan kemampuan diri, maupun hati. Karena apa? Karena mereka memberi saran atas dasar sudut pandang mereka. DIMANA, sudut pandang setiap orang berbeda-beda. Bisa saja ada salah satu seorang teman saya meminta saya untuk memberi saran, saya bilang A. Lalu dia minta lagi saran ke guru konseling. Guru tersebut bilang B. Bingunglah akhirnya.

Keempat
Hal ini sangat membuat saya miris. Khusus nya, kepada orang tua yang (menurut saya) salah mendidik anaknya. Dimana, mereka para orang tua menekankan anaknya bahwa, “Kamu habis lulus kuliah, kerja nya ditempat A aja ya.” KERJA. Selalu. Beberapa anak, atau mungkin semua. Berpikir, “Gue bakal kerja dimana setelah gue lulus kuliah?”. Dan hampir semua (juga) bersudut pandang bahwa sekarang, dizaman sekarang. Mencari kerja adalah hal yang SULIT. I think this is a never ending problem. Dimana, seharusnya mereka yang berpendidikan semakin tinggi adalah mereka-mereka yang memberi lapangan kerja. Bukan malah yang KERJA. Saya lihat disini banyak orang hanya berpikir hanya untuk dirinya sendiri. Coba, jika mereka berpikir bahwa mereka harus membuka lapangan kerja, dimana tingkat pengangguran di Indonesia tinggi. Jikala mereka membuka lapangan kerja, mereka mengurangi beban pemerintah, dan hidup lebih bebas dibanding hanya menjadi (maaf) “karyawan”.

Kelima
Tekanan oleh orang tua. Beberapa orang berpikir bahwa disini adalah masalah yang mutlak dan tidak bisa dikecualikan. Dimana, ada beberapa orang tua yang menekankan anaknya untuk menjadi apa yang mereka dambakan. Bukan untuk menjadi apa yang anak dambakan. Ada yang berpikir bahwa nasihat orang tua adalah yang terbaik. OK, saya terima statement itu. TAPI, apakah nasihat orang tua pasti membuat kita berhasil? Disini saya bukan mengajarkan bahwa kita tidak boleh mendengar nasihat orang tua, bukan begitu. Disini saya hanya berbagi pikiran, bahwa orang tua harus diajak ngobrol tentang masa depan anaknya. Yang saya lihat, ketika keinginan orang tua tak sama dengan keinginan anak, anak akan menjadi stress, dan akhirnya menyalahkan orang tua nya. Cobalah, untuk berbicara apa adanya, dari hati kalau perlu bahwa apa yang kita perlukan. Memang, awalnya mungkin orang tua menolak keinginan anak. Tetapi setidaknya itu membuat mereka menjadi berpikir. Bahwa ini adalah HIDUP KITA. Bukan hidup mereka (orang tua). Mereka hanya sebagai pembimbing kita, penasehat kita, pelurus kita, disaat kita keluar jalur dari apa yang kita cita-citakan.

Keenam
Mereka berpikir bahwa apa yang telah mereka pelajari pada suatu hari, lalu dikemudian hari hal tersebut tidak gunakan, mereka menyesal. Ada, yang berpikiran bahwa siswa IPA yang akhirnya masuk ke jurusan IPS, adalah suatu penyesalan. Menurut saya, itu bagi mereka yang berpikir pendek. Perlu digaris bawahi, bahwa apa yang telah dipelajari dalam hidup, apapun itu, tidak ada yang tidak berguna. Semua berguna. Apalah arti menyesal jika tak bisa mengambil hikmah dari penyesalan tersebut?

Ketujuh
Emosi. Disini emosi sangat berperan dalam pergantian keputusan. Walau hanya sedetik. Dimana ada beberapa orang yang, istilahnya saya sebut “emosi sesaat”. Hari ini mereka mengganti keputusan jurusan yang akan mereka ambil. Lalu, besoknya dirubah lagi. Apa yang menyebabkan berganti nya keputusan tersebut? Ya, emosi. Dimana ada hal-hal yang membuat mereka menjadi emosi. Contoh, ketika ada suatu tayangan televisi yang menayangkan tentang bagaimana cara membuat mobil. Dan kebetulan, dibagian mesin nya lumayan lama. Lalu dirubahlah keputusan seseorang karena suatu hal. Disini kita harus mengenal, mana emosi, dan mana nurani.

Kedelapan
Ada juga beberapa orang yang merasa kasian kepada temannya yang telah memilih jurusan yang disukai nya. Dan ada juga beberapa orang yang terlalu sibuk mengurusi saingan nya. Dimana, temannya nanti adalah pesaingnya dimasa depan dan seharusnya kita fokus kepada diri sendiri dan memantapkan diri. Tak usah berpikir para pesaing kita. Membuang waktu artinya jikala kita terlalu sibuk melihat pesaing kita.

Itulah beberapa masalah yang telah saya simpulkan.

Lalu
Pada akhirnya, yang bisa dipercaya hanya diri sendiri. Menurut saya. This is our life. Yang memegang kemudi kehidupan adalah kita sendiri. Dimana, kita harus percaya pada diri sendiri bahwa segala akar masalah munculnya dari diri sendiri dan yang harus mengatasi dan memberi jalan keluar adalah diri sendiri. Kita tidak bisa menghindar dari diri sendiri. Cobalah merenung, merenung, dan merenung apa yang ada dalam diri. Apa yang bisa menjadi potensi diri. Jangan sampai, kehidupan kita berantakan hanya karena orang lain yang membuat keputusan hidup kita tanpa adanya tanggung jawab.

99% of life are driven by ourself. And 1% by others.

Advertisements

#15 Segala Salah Kaprah dan Sudut Pandang

Salah. Atas semua presepsi yang kebanyakan orang miliki, bahwa banyak yang mengartikan sesuatu dengan sesuatu yang diucap. Kali ini saya akan mencoba menulis semua tentang segala kaprahan yang mungkin bisa dijadikan sudut pandang baru bagi pembaca, jika berkenan.

Salah kaprah mungkin sudah menjadi hal yang biasa. Dan sudah menjadi budaya (mungkin) bagi kebanyakan orang. Karena apa? Karena mereka hanya melihat dari satu sudut pandang bahwa nilai tersebut adalah salah. Jika kita perhatikan lebih baik lagi, bahwa semua sesuatu adalah baik. Hanya saja, kebanyakan dari kita menganggap bahwa itu salah, salah, dan salah. Beranggapan lah bahwa sesuatu tersebut tidak baik.

Salah kaprah, mungkin bagi kebanyakan orang biasa. Tetapi, bagi orang yang senang berpikir, salah kaprah bisa menjadi kekeliruan publik dan (mungkin) berbahaya. Yang harusnya sudut pandang nya adalah baik, tetapi menjadi tidak baik. Itu yang harus diantisipasi.

Contoh nya seperti ini, kebanyakan dari kita, bahkan hampir semua, terlalu terpaku dengan penyampaian seseorang dibandingkan dengan maksud orang tersebut. Misal, pada suatu ketika, saya sedang tidur dengan lelap, lalu kakak saya menggedor-gedor pintu saya agar saya sholat subuh. Disini, kebanyakan dari kita menggaris bawahi bahwa menggedor-gedor pintu adalah hal yang sangat tidak masuk akal untuk orang yang sedang tidur dan sangat membuat geram. Istilahnya, ngajak berantem. Disini yang harus digaris bawahi adalah, maksud dari menggedor-gedor pintu tersebut. Adalah agar saya sholat subuh dan tidak kesiangan. Maksudnya baik kan? Kebanyakan dari kita salah disini, bahwa apa yang disampaikan lebih dimasukkan kedalam pikiran dibandingkan dengan apa yang dimaksud.

Sulit memang rasanya, jika pada suatu ketika ada seseorang, apakah itu teman, orang yang tidak kenal, atau siapalah. Mereka menanyakan kepada kita sesuatu dengan nada yang cukup tinggi, yang bagi sebagian orang menganggap bahwa itu adalah tidak sopan dan seperti mengajak berantem. Lagi, yang harus digaris bawahi adalah maksud dari ucapan tersebut. Ada baiknya, segala sesuatu yang disampaikan orang dipikirkan terlebih dahulu dengan akal sehat, apa maksudnya.

Bicara lagi soal salah kaprah, disini saya mencoba belajar melihat sudut pandang baru. Kenapa? Karena tidak semua hal yang kebanyakan dari kita lihat adalah sesuatu yang tidak baik, dan bisa jadi sangat baik bagi seseorang yang lain. Salah satu contohnya adalah seperti ini.

Salah satu hal yang mungkin kebanyakan dari kita melihat sesuatu hal itu tidak baik adalah, pekerjaan model. Ya, mungkin dalam sudut pandang besar adalah pekerjaan yang semena-mena, bitchy, terlalu vulgar, atau apalah yang bermunculan disetiap pikiran orang. Tetapi disini kita hanya melihat pekerjaan tersebut dengan sudut pandang kita sendiri. Cobalah untuk melihat sudut pandang dari orang yang menjadi model tersebut. Salah satu teman saya, adalah ‘calon’ model. Ya, dia sudah menjadi cover beberapa majalah. Sampai pada suatu ketika, saya menanyakan hal yang mungkin tidak lazim untuk ditanyakan. Disini saya mendapatkan sudut pandang baru bahwa dia sebagai model sangatlah baik hatinya. Kenapa? Dia bilang, sebagian dari hasil berkerja sebagai model tersebut, dia sisihkan untuk ibunya. Sungguh suatu sikap yang mulia mengingat bahwa pekerjaan model tersebut dilihat tidak baik bagi banyak sudut pandang orang, tetapi sangatlah mulia bagi dia yang berkerja.

Dalam tulisan ini, yang saya tekankan adalah bagaimana kita melihat seseorang dengan sudut pandang baru. Bahwa, apa yang saya telah sebutkan yaitu, segala sesuatu yang tidak baik bagi kebanyakan orang belum tentu memang tidak baik. Karena dengan sudut pandang baru, kita bisa menafsirkan bagaimana ‘rasanya’ menjadi seseorang.

Ada suatu kutipan, bahwa berdekatlah dengan orang yang dibenci atau tidak disukai. Karena dengan kita didekatnya, kita akan menemukan sudut pandang baru.