Di Atas Air, dan di Sekitarnya

Jum’at 18 Januari 2013.

Satu hari terlewat sudah untuk menulis sebuah jurnal. Topik untuk 2 hari ini adalah, “Banjir”. Dimulai dari kemarin hari. Sudah 3 hari terakhir ini, pagi hari selalu disapa dengan dinginnya rintik hujan. Dimana, tak satupun cahaya matahari menembus tebalnya awan yang memberi hujan. Saya pun berangkat. Setengah jalan, hujan semakin deras dan deras. Sampailah saya disekolah. Pelajaran awal, selalu. Hari kamis. Guru magabut (makan gaji buta) yang nggak pernah datang dan tak tahu keberadaan nya. Hujan tetap hujan dan semakin deras. Jam kedua, Kimia. Kali ini, hujan tak berkompromi. Sehingga, air ditengah lapangan sekolah saya mulai menggenang. Dan sampai akhirnya, tempat parkir didepan sekolah saya yang ada puluhan motor, banjir total. Satu hal yang wajib dilakukan oleh siswa adalah, menyelamatkan motor. Termasuk motor saya. Siswa terlihat ‘gercep’ (gerak cepat) menanggapi hujan yang tak berkompromi ini. Sampai pada saatnya dimana ada beberapa motor yang tersisa. Yang entah kemana yang punya. Nggak menyadari kalau motornya sebentar lagi jadi kura-kura. Akhirnya saya dan 2 teman saya, Aries dan Aden, ber-inisiatif untuk mengangkat nya. Dengan tenaga setengah yang megap-megap karena ditengah banjir dan hujan, akhirnya beberapa motor terselamatkan.

Ada satu hal yang membuat seluruh siswa berteriak. Wakasek memutuskan untuk memulangkan siswa karena situasi yang (mungkin) menurut saya kritis. Pulanglah siswa dengan riang gembira sontak muka panik takut rumah nya terendam. Saya pun memutuskan untuk membantu korban banjir dengan pergi ke posko yang niatnya di Bidara Cina. Pergilah saya dengan Aries. Ternyata dan ternyata, Cawang terlalu macet untuk dilewati motor, apalagi mobil. Tak bergerak sama sekali. Akhirnya saya mencoba melihat situasi rumah-rumah yang ada dipinggiran Kalimalang, tetapi tak bisa dibantu karena air kali terlalu deras. Saya dan Aries pun memutuskan untuk mencoba melihat situasi di Giant Hypermall Bekasi. Yang katanya, disana terendam banjir dibasement nya. “Siapa tau ada iPhone 4 ngambang, Sa..” sontak Aries. Sesampainya dipinggir jalan Giant, tak terlihat tanda-tanda banjir yang begitu parah. Di gas lah motor terus jalan. Dan sampai akhirnya, saya dan Aries pun terpisah. Saya pulang, dia pun begitu. Saya pun pulang tak membawa kesan apa-apa. Hanya niatan untuk membantu, tapi rasanya saya yang menyulitkan nya.

Pagi ini, saya sudah merencanakan dengan Ikhsan untuk pergi ke Tambun guna memberi bantuan ke posko sana. Lagi, hujan menyapa dipagi hari. Kali ini dengan lebih deras. Saya tersentak kaget, ketika mendengar informasi bahwa Villa Nusa Indah, Pondok Gede Permai, dan sekitarnya, terendam banjir setinggi 3-4 meter. Sontak saya langsung menghubungi Ikhsan untuk segera pergi kesana. Baju bekas adalah yang saya bawa, Ikhsan pun saya suruh untuk membawa beberapa. Setelah saya ke lapangan, terlalu ramai rasanya. Sampai-sampai saya beranggapan bahwa ini sudah menjadi tempat rekreasi untuk melihat penderitaan orang. Berfoto-foto diatas kesedihan orang. Sedih, melihat semuanya telah menjadi budaya. Bahwa orang yang menderita bukan untuk dibantu. Tapi untuk dilihat saja.
Saya pun mencoba berbicara dengan bapak yang sedang memakai pelampung. Saya mencoba jelaskan bahwa saya ingin menjadi relawan. Dan seperti biasa, dijawabnya “Nanti, tunggu saja ya!”. Rasanya terlalu lama saya menunggu berdiam diri. Sedangkan mereka perlu bantuan. Saya geram. Akhirnya saya memutuskan untuk coba pergi ke Tambun untuk mencari posko yang sudah diberikan alamatnya oleh salah satu organisasi relawan. Mutarlah saya sepanjang jalan ke Tambun. Modal nekat dan tak tahu jalan sama sekali. Hampir 2 jam saya berputar-putar dengan Ikhsan. Dan sampailah ke komplek yang diberi tahu oleh organisasi tersebut. Sudah sangat dekat rasanya, tetapi apa? Saya tak menemukan tanda-tanda bahwa adanya posko disana. Lagi, sedih rasanya. Saya pun pulang tak membawa sedikit pun pengalaman, dan berpikir sepanjang jalan apa yang telah ibu saya beri tahu semalam sebelumnya. “Adek, kamu boleh bantu-bantu seperti itu, tapi tolong emosi nya dijaga.”. Saya berpikir jelas, bahwa saya menghiraukan apa yang ibu saya telah beri tahu.

Ini jelas cara yang salah dan tak disarankan untuk diikuti. Saya hanya bermodalkan nekat tanpa informasi yang tepat dan lengkap. Rasa-rasanya saya berpikir, jika saya lebih baik dalam me-manage apa yang saya ingin lakukan, tak akan sia-sia seperti ini pastinya. Saya sadar, saya menggebu-gebu dalam menyikapi masalah ini. Sampai akhirnya berujung ke sia-siaan. Tak perlu saya jelaskan hikmah nya, karena setiap manusia telah punya jalannya dalam menyikapi semua masalah yang akan dihadapi nya.

CAST

Image
M. Ikhsan Kurniawan
Image
Aries Tiara Rifansyah
Image
Febri Satria Nugraha (Aden)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s