#9 Kapan kita berani bersuara?

Saya nggak bisa tahan lagi melihat kelakuan pemimpin negara kelakuan nya seperti ini. Kalau kalian nggak percaya, baca isi website ini -> #SAVEBLOKMAHAKAM

Geramkah? Pasti. Ingin bersuara? Takut tak didengar. Rasanya mereka para petinggi rakyat perlu suntikan dari rakyat nya agar berani mengambil keputusan bahwa negara ini harus merdeka dari jajahan. 67 tahun sudah kita merayakan kemerdekaan. Tapi kenyataan nya? Merdeka akan apa? Saya tak terima. Masih banyak mereka yang belum dapat tempat tinggal yang layak. Masih banyak mereka mencari kehidupan dibawah cahaya lampu lalu lintas. Apakah itu yang disebut merdeka?

Merdeka atas dasar apa kalau begini caranya. Secara tidak langsung kita dijajah. Dijajah akan ekonomi, sumber daya alam. Kenapa mereka para petinggi rakyat tidak berani memutuskan hubungan? Apa karena ada sodoran uang semata dibelakang punggung rakyat? Itu yang patut dipertanyakan. Mengingat hutang negara Indonesia sebesar Rp 1.944,14 triliun. Mau dibayar pakai apa untuk menutupi hutang negara kita tersebut? Jual pulau?

Tanpa harus turun kejalan, mari bersuara. Walaupun kita tak bersuara, tetapi dalam hati pun kita masih bisa berkata “Ya” atau “Tidak”. Mari bersuara. Bersuara akan kemerdekaan yang semesta. Bersuara akan kekayaan Indonesia yang akan kita kelola. Tanpa ada pihak asing. Tanpa ada penjajahan semata. Ini negara kita. Tak ada yang boleh berkuasa.

Advertisements

Mandalawangi-Pangrango

Senja ini, ketika matahari turun
kedalam jurang2mu
aku datang kembali
kedalam ribaanmu, dalam sepimu
dan dalam dinginmu

Walaupun setiap orang berbicara
tentang manfaat dan guna
aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
dan aku terima kau dalam keberadaanmu
seperti kau terima daku

aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
hutanmu adalah misteri segala
cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta

malam itu ketika dingin dan kebisuan
menyelimuti Mandalawangi
Kau datang kembali
dan bicara padaku tentang kehampaan semua

“hidup adalah soal keberanian,
menghadapi yang tanda tanya
tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar
terimalah dan hadapilah”

dan antara ransel2 kosong
dan api unggun yang membara
aku terima itu semua
melampaui batas2 hutanmu,
melampaui batas2 jurangmu
aku cinta padamu Pangrango
karena aku cinta pada keberanian hidup

Jakarta 19-7-1966
Soe Hok-Gie

#8 Mother

Hai-hai. Selama hampir 2 minggu nggak nulis. Rasanya sedikit kaku untuk mencetuskan hal yang untuk di tulis. Bingung mau nulis apa pas udah di depan komputer. Kalau lagi ber-aktifitas aja, pasti banyak banget ide atau hal yang terlintas di otak untuk di tulis. Giliran niat nulis, buyar. Pret. Kayak abang nasi goreng tau nggak. Gak di tungguin lewat mulu, giliran di tungguin gak lewat-lewat. Hazeeeee.

Dan akhirnya.. Saya pun memutuskan untuk menanyakan ke teman saya apa hal yang bisa saya tulis. Pertama nya di tanya, dia juga gak punya ide. Kedua kali nya di tanya, sama aja. Bilang nya nanti di kasih tau kalau ada ide. Kelamaan. Saya akhirnya menanyakan lagi untuk ketiga kali nya untuk menanyakan apakah ada ide atau hal yang saya bisa bahas. Dan akhirnya tercetus lah via bbm dia berkata.. “Tentang kebaktian seorang anak laki-laki terhadap ibunya aja, Sa…” *jleb* Cukup berat. Mengingat saya juga masih banyak banget dosa sama ibu saya.

Dia Fitria Hafidzoh, teman cerita saya akhir-akhir ini. Saya pun ketika di beri tentang hal tersebut, belum banyak hal yang terlintas di kepala saya apa yang mau saya tulis. Saya pun berkata, “Kasih gambaran dikit dong, Fit..” Saya minta nya dikit. Tapi di kasih nya buanyak. Cerita pendek. Cerita yang menyentuh. Seperti ini cerita nya yang di ceritakan oleh Fitria Hafidzoh yang akrab di panggil Fitria.

“Saya pernah diceritain dengan ayah saya, ayah saya punya kenalan namanya Faiz. Nah, di sini si Faiz ini tinggal sama ibunya. Ayahnya meninggal dan ibunya jadi stroke gitu. Kakak-kakak nya itu kayak udah punya kehidupan baru gitu. Nah, si Faiz ini cerita, ibunya ini setiap mandi, buang air, dan sebagainya, itu dirawat oleh anaknya si Faiz itu. Waktu dia mau masuk perguruan tinggi, saking nggak sempetnya, dia benar-benar nggak belajar saking sibuk rawat ibunya itu. Tiba-tiba aja pas lagi ujian, soal-soalnya itu terasa mudah. Malahan dia dapet beasiswa, dsb. Suatu saat ibunya ini minta pergi ke mall. Ya gimana sih, ibu-ibu pasti mau lah ya ke mall. Si ibunya ini (maaf) sering buang air besar dicelana. Nah, si Faiz ini tiap ibunya marah-marah, dia nahan kesal. Dia cuman diam dan gigit lidahnya biar nggak keluar kata-kata yang nyakitin ibunya itu. Pas dimall, kejadian deh, ibunya itu kotorannya (maaf) berceceran dilantai mall. Dengan tulus dan sabarnya, si Faiz itu bersihin. Coba bayangin kalau kita yang disitu, terbesit pasti di pikiran kita rasa “malu”. Tapi Faiz tetap sabar. Pas masuk kuliah, tiap ada jam kosong dia pasti selalu pulang kerumah untuk merawat ibunya. Lalu ibunya ini meninggal, anaknya frustasi benar-benar ditinggal oleh orang yang paling dia cintai.”

Begitu lah Fitria bercerita. Saya pun tak membayangkan. Bagaimana kalau keadaan saya ada di keadaan Faiz. Sungguh mulia perbuatan nya. Tak perlu saya panjang lebarkan, kalian bisa ambil morale story nya kan? Agak non-sense juga, bagaimana Faiz tidak belajar sama sekali karena merawat ibunya, tetapi dengan keajaiban Tuhan, dia bisa mendapatkan beasiswa. Sungguh, sangat adil Engkau ya Tuhan.

Bukankah kita masih mempunyai ibu yang senang merawat kita? Ketika kita bertengkar dengan ibu kita pun, beliau masih mendoakan kita. Kurang mulia apa? Cacian maki kita di belakang punggung beliau, di balas nya dengan doa. Adilkah kita?

Sebelum kita menyesal di hari nanti, yuk belajar me-muliakan sikap kita ke Ibu kita. Belajar menjadi mulia, belajar bersabar, belajar mendengarkan ketika beliau menasihati, belajar mendoakan selalu di setiap doa-doa kita. InsyaAllah, jalan kita selalu lancar. Awalilah seluruh kegiatan dengan meminta ridho dari beliau. InsyaAllah, kegiatan nya selalu lancar.

“Of all the rights of women, the greatest is to be a mother.”
Lin Yutang, Chinese writer

CAST

Image
Fitria Hafidzoh

#7 Do it, now or never

Halaw. Besok senin. Males ya? Sama. Cuman mau nggak mau harus nerima realita nya kalau besok harus jadi pembalap pagi-pagi yang ngejar waktu tutup gerbang sekolah. Kali ini saya mencoba bahas tentang hal yang kelamaan di pikirkan. Coba ya.. Kalau nggak satu pendapat nggak usah ngomel. Kalau se-pendapat alhamdulillah, ditunggu tulisan anda.

Pada dasarnya, ada banyak banget masalah yang membuat kita nggak jadi mengerjakan suatu hal. Gak perlu disebutin. Pasti banyak banget dan in the end malah kesel sama diri sendiri. Kebanyakan mereka pasti nyalahin orang dan keadaan. Blame someone or something. PADAHAL.. Dia sendiri yang salah.

Saya menulis post, pastinya, sebagai pecutan juga untuk saya. Gak ada yang sempurna. Katanya.. Tapi banyak yang menyombongkan diri nya dan menganggap dirinya sempurna. Menyalahkan keadaan. Menyalahkan orang. Menyalahkan semuanya. Pernah nggak sih berpikir kalau pada dasarnya kesalahan itu dari kita awalan nya?

Memang, susah. Sangat susah. Susah sekali. Menyalahkan diri sendiri. Apalagi keadaan nya berantakan, emosi, maunya selalu benar. Memang susah untuk mengalah. Memang susah untuk diam dan mendengar argumen atau ocehan orang lain. Disitulah kita harus belajar. Belajar mengalah. Belajar berpikir bahwa kesalahan ada pada diri kita sendiri. Nggak perlu dikasih contoh. InsyaAllah, kita udah tau dimana kita harus berpikir bahwa kita yang salah ketika ada suatu permasalahan.

Do it! Now or never! Sering denger kata itu? Pasti. Kata itu selalu terucap di hati. Masalah yang udah saya urai diatas, menyalahkan keadaan, menyalahkan orang, semuanya. Padahal diri sendiri yang salah. KEBANYAKAN MIKIR SIH. Bener nggak? Perlu diketahui bahwa, kalau kita ada pada suatu permasalahan, kalau kita kebanyakan mikir, pasti masalah tersebut bakalan makin besar dan pasti berat untuk mencari solusi nya. Sadar atau nggak sadar, kebanyakan mikir itu makan banyak waktu dan in the end nggak bakalan dilakuin jadinya. Contohnya gini..

Misal, saya sedang ada disuatu permasalahan, dimana permasalahan tersebut harus diselesaikan sekarang juga. Tetapi, saya berpikir.. “Kalau gue selesain sekarang, gue selesain nya gimana.. Nggak punya solusi nya. Tapi kalau gue kerjain nanti, masalah nya bakal lebih besar karena permasalah numpuk. Duh gimana ya?” Kebanyakan mikir menyita waktu, pikiran, dan tenaga. Iya kalau pada akhirnya diselesain masalah nya. Kalau nggak? Udah kebanyakan mikir, nguras tenaga, buang-buang waktu, masalahnya gak selesai pula.

So, baiknya gimana? Dikutip dari buku Man Jadda Wajada 2 karya Akbar Zainudin.

Jika kita kesulitan memulai sesuatu, kerjakan saja, mulai saja untuk bekerja. Di tengah jalan nanti, sambil kita berpikir, kita akan menemukan sendiri jalan bagaimana keluar dari kesulitan saat memulai di awal.

Jadi, gausah kebanyakan mikir ya. Just do it. Semoga post ini bermanfaat dan semoga minggu pertama di bulan November ini berjalan dengan lancar dan berjalan seperti apa yang kita inginkan. InsyaAllah, amin.

31 – 40

31. One who cannot tolerate small ills can never accomplish great things.
32. Know the ropes.
33. Love many things.
34. Be patient; patience can wait for anything.
35. Make decisions based on the whole picture.
36. Your eyes are the windows of your soul.
37. Your character is your destiny.
38. Trust can be destroyed faster than it can built.
39. We are sometimes taken into troubled waters not to drown, but to be cleansed.
40. What you have been taught to believe is not as important as what you know.

Random.

Orang pada sibuk belajar Matematika. Takut disuruh maju. Kalau nggak bisa, suatu kata terucap dari guru. Pfffft. Ini malah nulis.

Entah kenapa, setiap saya habis baca, pasti maunya nulis terus. Saya habis baca blog nya Iga Massardi. Mantan gitaris The Trees And The Wild. Band yang ber-genre.. Gatau. Yang jelas, lagu nya super sekali. Dengan sentuhan 3 gitar yang berbeda. Recommended to hear.

Nggak tau mau nulis apa. Hanya sekedar bercerita. Kadang apa yang dilakuin juga tak ada artinya. Disekolah yang dipuja. Bingung mau ngapain. Belajar tak mau, pulang pun segan. Yasudah, saya coba membahas satu hal.

Baru tadi pagi ada debat antar Calon Ketua Osis disekolah saya. Entah kenapa, saya rasa mereka belum siap. Karena disetiap statement mereka, terdapat kata.. Mungkin. Ya, mungkin. Berarti belum pasti kan?  Setiap program yang akan mereka utarakan, diawali dengan kata, mungkin.

Salah satu dari mereka berkata, “Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini.” Rasanya saya ingin bertanya kepada dia. Apakah kalau dia loncat dari atas gedung 30 lantai tanpa apapun tidak meninggal? Tidak ada yang tidak mungkin itu hanya bagi Tuhan. Ada beberapa hal yang tidak bisa kita kerjakan. Hanya saja, tinggal bagaimana kita berusaha membuat hal yang tidak bisa kita kerjakan tersebut menjadi bisa dikerjakan. Padahal kita tau itu gak bisa dikerjakan. Bingung ya? Sama.

Saya nggak cuman bahas satu hal dipost kali ini. Karena saya buat post ini sedang dalam keadaan pelajaran. Kimia. Kimia. Kimia. Nggak ngerti sama sekali. Mereka sibuk ngerjain soal. Sedangkan saya? Sibuk nulis untuk post baru. Terdengar cukup gila juga karena udah kelas 3 SMA dan mau Ujian Nasional tapi kerjaan nya masih aja kayak gini. Passion berkata. Saya lebih prefer untuk menulis dibandingkan untuk mengerjakan soal. Daripada saya cuman bengang-bengong ngeliatin orang ngerjain soal kimia tapi saya nggak ngerti, mending saya nulis. Jadi curhat kan..

Terkadang itu orang pikiran nya kemana-mana. Badan nya disitu. Cuman pikiran nya melayang-layang nan jauh nggak disitu. Mikirin sesuatu. Nggak cuman saya aja pasti. Kalian juga. Masalah yang ngebuat kita nggak fokus mengerjakan apa yang lagi kita kerjakan. Contoh nya gini nih, lagi pelajaran Kimia, kepikiran untuk nulis. Ya gini.. Nggak belajar jadinya, malah nulis. Untuk fokus pun nggak segampang yang kita pikirkan. Niatnya udah fokus, tapi tetap aja melayang-layang tuh masalah dipikiran kita yang sedang mencoba fokus dengan yang kita kerjakan. Lucu sih.  Lagi nulis soal yang ada kata “Lorong”. Karena kita lagi mikirin makanan, jadi ketulis nya “Lontong”. Hazeeeeee.

Daripada saya tidur mending saya nulis. Disekolah. Random. Ini random.