[Cerita Pendek] Cermin Tiga Jam

IMG_9141
Ilustrasi oleh: Muhammad Farhan. Check his instagram on @awangfarhan

Pintu kamarku tiba-tiba dibuka, tanpa sekali pun ketokan.

“Dek, kamu nggak makan?” Tanya kakak perempuanku sambil menatapku heran.

Aku hanya melihatnya dengan sekilas tanda tak acuh, lalu kembali menatap cermin. Merasa tak dipedulikan, kakakku menutup pintu kamarku agak keras dan membuat meja rias persis di seberangku jadi bergetar. Tetapi pandanganku tetap jelas melihat diriku di dalam sana. Duduk tegap, tak bergerak. Walau cermin bergetar.

***

“Sudah lama sekali rasanya, ya, kita enggak ngobrol. Padahal baru tiga tahun semenjak yang terakhir.”

“Tiga tahun, ya? Ha-ha gue lupa. Terakhir kali yang gue inget pas…., hmm..,”

“Minta izin pakai sepatu yang gue kasih?” Tanyaku.

“Ah, iya!” Teriaknya sambil tertawa. Sumringah.

Namanya Kaza. Perempuan berparas manis yang jika laki-laki melihatnya pasti pikirannya menuju ke, “kupinang kau dengan Bismillah.” Ia sekarang tinggal jauh dari kota metropolitan. Mencoba untuk memberikan yang terbaik kepada sesama dengan mengajar di sekolah dasar terpencil di Nusa Tenggara Timur. Niatnya sungguh mulia.

Sampe sekarang pun gue juga cukup heran kenapa Tuhan kasih gue jalan seperti ini. Listrik serba terbatas, sinyal pun hidup segan mati tak mau, dan harus hemat air. Ya, tapi kembali lagi, sih, gue inget kalimat lo yang gue rasain sekarang.”

“Kalimat gue? Apa, Za? Tanyaku sambil menaikan satu alis.

“Menjadi bahagia itu nggak sulit. Dengan berbagi ke orang lain dan bersyukur atas apa yang kita punya, hati tenang. Tuhan Maha Adil, bukan?”

Aku mengangguk sambil tersenyum. Tuhan Maha Adil. Rasanya aku lupa pernah berbicara seperti itu. Aku tak merasa sama sekali sedang berada di jalur kalimat yang kamu bicarakan, Kaza. Gumamku dalam hati.

***

Pertemuan kami berawal dari kegemaran mendengarkan radio. Aku, sejak kelas satu SMP, selalu ditemani radio saat menutup mata dan membukanya kembali. Kata ibu, tidak baik menyalakan radio semalaman, apalagi pada saat tidur. Sayang listrik, katanya. Maka mulailah semenjak ibu berbicara seperti itu, aku rutinkan untuk mengatur sleep timer sekitar 30 menit sehingga pada saat aku terlelap, radio pun juga.

Kebiasaanku mendengar radio pada saat tidur berkembang hingga kelas satu SMA. Bahkan, mulai ada waktu tertentu yang aku tak akan lewatkan karena telah menjadi waktu favorit. Misalnya pada malam minggu. Orang-orang biasanya akan menghabiskan malam minggunya untuk jalan-jalan dengan pacar atau sekedar bertemu teman lama. Tidak untukku. Aku menikmati suara dari penyiar favoritku dan lantunan lagu jazz dengan line-up penyanyi sekelas Norah Jones, Renee Olstead, Al Jarreau, dan lainnya.

Aku pun tak ragu untuk request lagu melalui sms atau social media yang pada saat itu sangat booming: Twitter. Biasanya si penyiar sudah menyusun deretan lagu yang bisa di-request, sehingga kita hanya bisa memilih apa yang bisa disiapkan saja. Aku ingat pada saat itu meminta penyiar untuk diputarkan lagu Try a Little Tenderness yang dinyanyikan oleh Michael Buble melalui Twitter. Setelah kita me-request lagu, penyiar akan membacakan request tersebut dari siapa dan untuk siapa. Aku, tak menunjukkan request tersebut kepada siapa-siapa karena tak ada temanku yang ku tahu suka mendengarkan radio pada saat itu.

Tak kunjung dibaca request-an ku, aku memutuskan memeriksa timeline Twitter radio bersangkutan untuk melihat ada berapa banyak yang meminta lagu pilihannya diputarkan. Ku buka UberTwitter di BlackBerry Geminiku dan dengan tangkas mengarahkan trackpad pada kolom search.

Dari sekian banyak pe-request lagu, mataku tertuju pada salah satu akun Twitter. Aku klik profilnya dan kemudian menyadari bahwa request-an ku sama, dengannya. Oh, hanya kebetulan, pikirku pada saat itu.

Setelah menutup UberTwitter, namaku dengan namanya disebutkan sebagai pe-request lagu dan kemudian lagu terputar.

***

“Jadi, udah punya rencana apa nih buat tahun-tahun berikutnya?” Tanyaku sambil menyeruput espresso.

“Entahlah. Untuk sekarang yang ada di pikiran gue kayaknya jalanin dulu aja. Kadang gue berpikir kita itu terlalu cemas akan masa depan yang terlalu jauh. Akhirnya kehidupan yang sekarang jadi terlupakan.”

Ah, Kaza. Rasa-rasanya setiap kalimat yang keluar dari mulutmu, ditujukkan pada ku ya?

Aku mengangguk tanda setuju dengan argumennya.

“Kalo lo, gimana? Kayaknya udah punya rencana mateng banget nih buat masa depan, he-he.” Tanyanya sambil tersenyum sarkas.

“Ha-ha, enggak juga. Cuman punya rencana untuk travelling keliling Eropa. Doakan ya, Za.”

“Kalau bisa gue doain, gue doain, kok. Takut lupa he-he.”

Aku menggeleng sambil tersenyum pertanda kamu tak berubah sejak dahulu.

Kemudian kami kembali sibuk dengan bacaan buku kami masing-masing. Aku membaca Letter to Felice karangan Franz Kafka, ia membaca The Alchemist karangan Paulo Coelho. Suasana kafe-buku itu amat sunyi karena sepi pengunjung. Hanya ada kami berdua yang datang pada weekday ini. Biasanya di akhir pekan, kafe-buku ini penuh. Kami pun semakin berbicara dengan diam. Dengan rangkaian kalimat buku yang ada di dalam pikiran masing-masing.

***

Ternyata tidak sesekali aku melihatnya sering me-request lagu melalui Twitter. Sempat beberapa kali aku melihatnya di timeline radio bersangkutan dan akupun semakin penasaran siapa perempuan ini. Tapi bagaimana aku dapat mengetahuinya lebih jauh? Kalo langsung di-mention, pasti keliatan banyak orang. Ketahuan banget modusnya. Pikirku pada saat itu.

Akhirnya aku pun mencoba untuk tidak menghiraukan siapa perempuan tersebut. Sampai pada akhirnya di hari sekolah, aku memutuskan untuk makan siang dengan teman-temanku di kantin yang pada hari itu sepi karena para senior telah libur selesai Ujian Nasional. Setelah memesan Soto Betawi terfavorit di sekolah ini, aku duduk sekitar lima meter dari pintu masuk kantin. Tak lama kemudian, ada seorang perempuan yang menarik perhatianku berjalan masuk ke kantin bersama teman-temannya. Aku perhatikan dirinya dan langsung bertanya kepada salah satu temanku yang eksis di sekolah. Biasanya ia kenal satu dengan yang lainnya.

“Itu cewek yang rambutnya lurus, berponi, dan agak ikal, siapa?” Sambil melihatnya agar temanku tahu siapa yang aku maksud.

“Oh, namanya Kaza. Anak kelas 10…, hmm…, berapa ya, lupa.”

Aku tersenyum, salah tingkah.

“Kenape, lo? Naksir?” Tanya temanku.

“Sedikit, he-he.. Punya kontak BBM-nya?”

“Kayaknya jomblo, deh. Cocok sama lo. Nanti gue cariin kontaknya, oke?”

Aku mengangguk sambil tersenyum.

Tak selang berapa lama temanku bertingkah. “KAZA! Ada yang naksir nih!” Teriak temanku ke arahnya.

Aku membalikkan arah duduk. Pura-pura makan.

Setelah mendapatkan kontaknya, aku memberanikan diri untuk membuka obrolan. Mulai dari, “Lo sering request lagu di radio, ya?” Dan ternyata memang dia orangnya. Perempuan yang selama ini aku perhatikan sering meminta diputarkan lagu favoritnya kepada penyiar favoritku (favoritnya juga) ternyata satu sekolah denganku.

Dua bulan berlalu akhirnya kami merasa cocok. Aku ingat pada saat itu hari Jum’at dan keesokan harinya bulan Ramadhan. Aku putuskan untuk bertemu dengannya pada hari itu dan membawakannya setangkai mawar merah.

***

Seperti dahulu, kami dapat menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk nongkrong di kafe. Selain karena radio, hal yang membuat kami cocok adalah jalan-jalan untuk mencoba kopi di banyak tempat nongkrong dan kegemara mendengarkan lagu jazz. Apalagi sekarang ia mulai suka membaca buku. Aku semakin merasa cocok, sekarang.

Hobi Kaza membaca buku baruku ketahui ketika kami sudah lama tak berkontak-kontakan dan setelah sibuk dengan dunia masing-masing, sampai akhirnya aku memintanya untuk bertemu pada hari ini. Kebetulan ia sedang pulang dari tugasnya dan menanggapi baik ajakanku.

“Sudah larut malam. To the point, ya. Buat apa lo ngajak gue ketemu?” Tanya Kaza setelah menutup buku yang daritadi ia baca.

Aku kaget. Posisiku yang daritadi selonjoran sontak berubah menjadi tegap. “Hmm.., gini, Za..” Aku bingung memulainya darimana.

“Ada apa?”

Dua menit aku terdiam. Berpikir agar kalimatku tidak membuatnya bingung atau menyinggung. Sementara Kaza tidak bertanya lagi dan menatapku dengan tenang seolah-olah ia tahu pembahasan yang akan aku lanjutkan.

“Gue berangkat ke Birmingham, lusa.”

Ia sempat diam sepuluh detik untuk menelaah kata-kataku, kemudian, “WAH, seriously, Birmingham?! I’m happy to hear that! Selamat, ya! Berapa lama kuliah di sana?!” Teriaknya sambil tersenyum. Senyum yang aku lihat pada saat ia menerima mawar merah yang aku beri.

“Terima kasih, Za. Sekitar satu setengah tahun sampai dua tahun. Kalo bisa cepat, sih, satu setengah tahun.”

“Oooh, cepat juga, ya. Bawain oleh-oleh kalo pulang, oke? He-he..”

“Iya. Oh ya, ada satu hal lagi yang mau gue sampaikan.”

“Apa?” Tanyanya sambil membenarkan posisi duduknya tanda penasaran.

“Se-pulang gue sekolah dari sana, gue mau ketemu orang tua lo, Za.”

Ia terdiam. Senyumannya tiba-tiba redup seakan kalimatku menusuk saraf bibirnya. Sama halnya denganku. Aku tak berani menatap matanya. Kami sama-sama menatap ke bawah pertanda tak percaya diri.

“Maaf, gue enggak bisa.”

“Kenapa?” Tanyaku tanpa menatapnya.

“Tahun depan. Gue kirimin tiket pulang khusus untuk lo, ya. Please, gue mohon, dateng. At least ke resepsinya..”

Aku menatapnya dan terdiam. Kehilangan kata-kata.

***

Tatapanku semakin lama-semakin kabur. Sampai pada akhirnya teriakkan kakak perempuanku dari luar kamar untuk menyuruhku makan malam menyadarkan aku yang telah tiga jam duduk di depan cermin.

Aku menarik nafas panjang. Kemudian berpikir seakan-akan ada ‘dunia’ di dalam cermin yang telah aku hidupi. Impian dan khayalan pun dapat lebih pahit daripada realita.

Pada akhirnya aku sadar, bahwa tak selamanya aku dapat hidup di ‘dunia’ itu. Aku harus menerima realita saat ini bahwa terkadang kita hanya dipertemukan oleh seseorang, tanpa harus dipersatukan.

[Cerita Pendek] Kosong

“Pak, kereta arah tujuan Jakarta Kota masih lewat nggak, ya?”

“Masih, Mas. Untung aja Mas datangnya pas. Keretanya udah sampai Stasiun Depok Baru.” Jawab mantap bapak itu.

“Oke, terima kasih, Pak!”

Tanpa berpikir, ia langsung bergerak cepat menuju pintu masuk stasiun kemudian mengeluarkan kartu e-money-nya yang baru berumur dua hari. Ditempelkan kartunya pada sensor pintu masuk stasiun disusul menyalanya checklist warna hijau pertanda besi pintu masuk sudah dapat didorong.

Ia berjalan masuk ke arah besi duduk untuk menunggu kereta. Saat ia menyebrangi rel kereta, ia terhenti lalu menengok ke kiri. Kosong, pikirnya. Menambah dua langkahnya, ia terhenti lagi dan menengok ke kanan. Dari kejauhan terdapat cahaya bulat berwarna kuning, samar-samar. Semakin lama, semakin mendekat.

“Mas, ngapain lama-lama di situ? Kalo mau lewat buruan.” Tegur petugas keamanan stasiun yang menjaga penyebrangan rel kereta tersebut.

Ia kaget dan reflek langsung berlari ke arah tempat duduk besi. Satu dari arah selatan datang Commuter-line tujuan Jakarta-Kota. Tanpa sempat duduk, ia langsung berdiri di depan kereta yang masih berjalan, menunggu untuk benar-benar berhenti dan dibukakan pintu.

Pintu kereta terbuka. Ia langkahkan kaki kanannya dengan mantap ke dalam kereta, berjalan ke arah serong kanannya, duduk di kursi panjang merah dan menatap ke lantai kereta. Pintu akan ditutup.

Hampir tertutup, seorang lelaki dan perempuan tiba-tiba menahan tertutupnya pintu kereta yang otomatis kembali terbuka. Lima detik kemudian, pintunya kembali tertutup. Kereta mulai berjalan perlahan dibarengi dengan suara ngos-ngosan lelaki dan perempuan tadi yang duduk persis di depannya.

Sempat tidak dihiraukan, akhirnya ia melihat ke arah laki-laki dan perempuan yang mulai asik mengobrol di seberangnya. Laki-laki itu memakai flannel hitam dan merah tua, jeans slim-fit abu-abu, dan sepatu Converse Chuck Taylor All-Star low hitam dengan tali putih. Tangan kanannya dihiasi jam tangan G-Shock hitam. Pakaiannya tampak pas, tidak berlebihan.

Sementara si perempuan menggunakan flat shoes merah dengan jeans skinny biru muda. Empat macam gelang terlihat dipakai di tangan kiri dan jam tangan kecil dulu-punya-mama ada di tangan kanannya. Ia menggunakan kardigan hitam ukuran M, yang terlihat sedikit kebesaran, dan kaos V-Neck putih dengan tulisan kanji Jepang di bagian dadanya.

Ia terlihat tidak menggunakan anting. Tidak seperti perempuan biasanya, pikirnya. Rambutnya sepundak, lurus, dan terlihat halus. Kulit lehernya putih, tidak berbeda dengan wajahnya. Dagu dan rahangnya selaras agak lebar, bibirnya tipis, hidungnya pas, tidak terlalu mancung dan pesek. Matanya terlihat agak belo dengan hiasan kantung mata kecil di bawahnya yang terlihat saat ia tertawa. Alisnya tipis, agak pendek, dan bukan alis-alisan. Jidatnya agak jenong. Ah, dia, cantik, gumamnya.

***

Dua puluh menit berlalu laki-laki dan perempuan itu tampak diam seolah memikirkan sesuatu. Keduanya tak lagi mengobrol asik dan tertawa pada saat mereka baru masuk kereta. Si laki-laki terlihat mengantuk karena kepalanya menunduk dengan tangan kanan ada di dagunya sambil sesekali memejamkan mata. Sedangkan si perempuan duduknya tampak tegak tanda sama sekali tidak mengantuk dengan pandangan yang lurus ke depannya.

Ia tak berkedip sekalipun. Apa kamu melihat saya? Pikirnya. Si perempuan masih menatap ke arahnya tetapi ia tahu bahwa mata perempuan itu, kosong. Kosong. Apa yang kamu lihat? Seolah-olah saya tidak ada. Pikirnya lagi. Tak berani membalas tatapan si perempuan, ia kemudian menoleh ke kanan.

Dilihatnya petugas keamanan kereta dengan gagah berjalan dari gerbong sebelumnya dan melewati perempuan yang masih menatapnya, tajam. Disusul suara, Stasiun Duren Kalibata.

Mendengar suara tersebut si laki-laki sontak langsung terbangun dari tidur-ayam-nya.

“Udah sampe, ya?” tanya laki-laki itu.

“Iya,” jawab si perempuan yang tersadar dari tatapannya.

“Yasudah, aku pulang duluan, ya. Kamu hati-hati.”

Si perempuan mengangguk tanpa menoleh.

Terbukanya pintu kereta disusul langkah pelan dari si laki-laki pertanda masih mengantuk. Ia keluar dari kereta dan pintu kereta kembali tertutup.

Kemudian si perempuan, kembali menatap ke depannya seolah-olah tidak ada orang di sana. Kosong. Siapa yang kamu lihat? Tanyanya dalam pikiran, bingung.

***

Lalu kereta berhenti di sebuah stasiun. Pintu kereta terbuka. Tanpa menatap wajah si perempuan, ia langsung berdiri dan berjalan ke arah pintu di serong kanannya. Setelah hentakan pertama kaki kanannya keluar kereta, akhirnya.., terhindar juga dari tatapan kosongnya itu. Cantik, sih. Tapi kok..

Setelah beberapa langkah, persis di belakangnya ternyata ada seseorang mengikuti yang ia tahu siapa. Tanpa menoleh, ia dapat merasakan bahwa ia ditatap, kembali. Ia berjalan cepat menuju arah pintu keluar stasiun. Ditempelkan e-moneynya disusul checklist berwarna hijau. Kemudian ia melihat jam tangannya.

22:21. Apa perempuan se-cantik itu tidak apa-apa pulang ke rumah seorang diri?

Tanpa menjawab pertanyaannya sendiri, ia refleks menoleh ke perempuan.

Si perempuan masih menatapnya. Kosong. Kembali, pikirnya.

“Kamu masih ada?” Tanya si perempuan.

Ia diam. Menunduk. Tak menjawab.

“Sudah lama rasanya aku nantikan momen ini.” Kata perempuan sembari berjalan dua langkah mendekatkan diri padanya.

Ia masih terdiam.

“Kamu ikut aku, ya.”

Tanpa dapat berpikir, ia menganggukan kepalanya pertanda setuju. Diikutinya si perempuan yang berjalan cepat ke arah mobil city car-nya yang diparkir tak jauh dari pintu keluar stasiun.

Setelah 30 menit perjalanan dari stasiun, akhirnya mereka sampai di sebuah apartemen kelas menengah ke atas. Dengan cekatan si perempuan membelokan mobilnya ke arah basement untuk kemudian diparkir. Selama perjalanan, mereka sama sekali tidak berbicara sepatah katapun. Sampai akhirnya ia memecah keheningan setelah si perempuan memarkir dan mematikan mesin mobilnya.

“Kamu..,”

belum selesai berbicara, si perempuan sudah memotong omongannya.

“Ikuti aku.”

Ia hanya mengangguk.

Lalu mereka naik lift menuju lantai 22. Hanya mereka berdua yang naik lift ke lantai itu. Apartemen nampak sepi pertanda sebagian besar penghuninya istirahat. Kemudian ia lihat jam tangannya. 23.06.

Lift terbuka, dengan gagah si perempuan berjalan belok ke kanan dan setelah sembilan langkah ia berhenti di depan kamar nomor 22e. Kunci mobil yang daritadi dipegangnya ternyata tercantol kunci kamarnya. Ia buka kamar tersebut kemudian menoleh ke arahnya sambil menatap seolah-olah berkata, silahkan masuk.

Dengan langkah yang amat pelan ia menuju ke pintu kamar nomor 22e tersebut tanpa melihat tatapan si perempuan. Kemudian ia masuk ke kamar tersebut disusul dengan suara pintu kamar yang dikunci oleh si perempuan.

Ia masih menatap ke lantai tanpa berani melihat isi kamar si perempuan. Kemudian si perempuan melewatinya untuk kemudian berdiri tepat di depannya.

Melihat si perempuan di depannya, ia akhirnya memberanikan diri untuk melihat mata si perempuan.

Masih. Kosong. Pikirnya.

Si perempuan masih menatapnya dengan pandangan yang sama.

“Saya.., ingat siapa kamu.”

Tak menjawab, si perempuan masih dengan tatapannya kemudian memiringkan kepalanya ke kiri dan tersenyum licik.

Ia kembali menunduk.

***

Sinar matahari memasuki kamarnya disusul dengan suara alarm jam tangan. Ia terbangun kemudian dilihat jam tangannya yang tadi malam ia lupa lepas. 08.35.

Sempat memejamkan matanya kembali tiga puluh detik, ia akhirnya terbangun, kaget, teringat ia harus kuliah jam sembilan. Tanpa berpikir akan sarapan ia langsung mandi-militer selama tiga menit kemudian menggunakan baju Nike, celana jeans Lee Cooper dan sepatu Adidas Superstar berwarna dasar putih dan strip hitam yang biasa ia pakai ke kampus.

Ia tutup kamarnya kemudian berlari menuju tangga yang ia sering gunakan untuk turun lantai. Sesampainya di lobby ia langsung berlari ke arah jalan raya dan memanggil ojek yang biasa mangkal di dekat situ.

“Stasiun, lima belas ribu, ya!”

“Wah, dua puluh, Mas. Nggak untung saya lima belas,” jawab si tukang ojek.

Tanpa menawar, ia langsung duduk di jok motor pertanda setuju dengan si tukang ojek.

“Cepet, ya, saya udah telat.”

Tukang ojek mengangguk dan menancapkan gas motor maticnya ke arah stasiun.

***

Saat di kereta, ia lebih senang menghabiskan waktunya dengan membaca buku daripada bermain handphone seperti kebanyakan penumpang. Ia lanjutkan bacaannya, Catch-22 karangan Joseph Heller yang ia baca sejak sebulan yang lalu. Karena buku belum menjadi prioritas di saat waktu senggangnya, ia hanya membaca pada saat di kereta saja.

Setelah lima belas menit kereta berjalan dan ia hanya membaca bukunya, ia akhirnya mengarahkan pandangannya ke kiri untuk sekedar melihat penumpang yang ada. Pada saat menengok ke kanan matanya tertuju pada perempuan yang berdiri menghadap ke pintu kereta dengan headset di kupingnya yang berjarak lima meter dari tempat ia duduk menggunakan kardigan hitam dan baju bertuliskan kanji jepang. Sepuluh detik ia menatapnya, kemudian ia kembali melanjutkan bukunya yang di terbitkan pada 1961 itu.

***

Setelah kelas selesai, ia tidak langsung pulang. Biasanya ia ke perpustakaan kampus untuk memenuhi rasa keingin tahuannya akan banyaknya buku yang ada. Tanpa sekalipun meminjam, kebiasaannya sudah berlangsung selama satu setengah tahun sejak ia pertama kali masuk kuliah.

Biasanya ia hanya membaca satu atau dua chapter sambil berdiri tanpa ada keinginan untuk membawanya pulang. Karena ia tahu jika ia bawa pulang, yang ada buku tersebut terbengkalai karena ia lebih memilih bermain cello dengan teman-teman lamanya.

Hari itu ia pulang agak malam karena ia memutuskan untuk makan pecel lele bersama sahabatnya di dekat stasiun.

Le, besok nggak ada tugas, kan?” Tanyanya kepada Seno, teman pertamanya sejak hari pertama masuk kuliah.

Ora ono sih, Le, wong besok juga mbak’e ora iso masuk. Kon turu kosan-ku wae, lah. Sekalian curhat, Le, hehehe,”

“Yah, males, Le. Besok wae lah, ya,” jawabnya sambil mengeluarkan dompet dari kantong belakang jeans-nya.

Yowes kalo begitu. Janji ya, Le? Banyak yang aku curhatin, nih. Itu loh soal cewek yang kamu kenalin ke aku 2 minggu lalu,” kata Seno dengan aksen Jawa-nya yang kental.

“Oalaaah, gampang itu. Besok ya, Le. Gue pulang dulu, udah kemaleman juga nih takut enggak dapet kereta.”

“Hati-hati ya, Le!” Teriak Seno sambil melambaikan tangan ke arahnya yang berlari menuju stasiun.

***

Di depan stasiun ia sempat berhenti, bengong, dan berpikir.

Ah, sudahlah, paling hanya kebetulan saja. Katanya dalam hati.

Setelah masuk ke dalam stasiun, ia kemudian berjalan menyebrangi rel kereta yang dan sempat berdiam diri di tengahnya. Menengok ke kiri dan kanan serta ditegur oleh petugas stasiun yang berjaga.

Setelah kereta datang, ia naik, kemudian berjalan ke arah serong kanannya dan duduk di kursi kereta yang berwarna merah. Tak lama setelah ia duduk datang perempuan dan laki-laki yang tergopoh-gopoh karena berlari mengejar kereta. Mereka tampak serasi disertai dengan tawa dan obrolan hangat. Ia lihat laki-laki dan perempuan yang duduk di seberangnya.

Laki-laki itu memakai flannel hitam dan merah tua, jeans slim-fit abu-abu, dan sepatu Converse Chuck Taylor All-Star low hitam dengan tali putih. Tangan kanannya dihiasi jam tangan G-Shock hitam. Pakaiannya tampak pas, tidak berlebihan.

Sementara si perempuan menggunakan flat shoes merah dengan jeans skinny biru muda. Empat macam gelang terlihat dipakai di tangan kiri dan jam tangan kecil dulu-punya-mama ada di tangan kanannya. Ia menggunakan kardigan hitam ukuran M, yang terlihat sedikit kebesaran, dan kaos V-Neck putih dengan tulisan kanji Jepang di bagian dadanya. Kemudian ia mulai melihat ke arah wajahnya.

Rambutnya sepundak, lurus, dan terlihat halus. Kulit lehernya putih, tidak berbeda dengan mukanya. Dagu dan rahangnya selaras agak lebar, bibirnya tipis, hidungnya pas, tidak terlalu mancung dan pesek. Matanya terlihat agak…. Ah. Ia terdiam.

Jamnya menunjukkan pukul 22:11 dan laki-laki di seberangnya turun dari kereta dan pamit ke si perempuan.

Sepuluh menit kemudian kereta berhenti dan ia segera turun dari kereta diikuti suara langkah dari belakangnya. Setelah menempelkan e-moneynya pada pintu keluar-masuk stasiun, ia kemudian berhenti dan menatap ke lantai.

Suara langkah semakin lama semakin nyaring ditelinganya dan kemudian seseorang berdiri di depannya.

Dari menunduk, ia kemudian menegakkan kepalanya dan menatap si perempuan.

Tanpa berkata, mereka saling menatap. Kosong. Mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya.

[Cerita Pendek] Sepak Bola dan Senja Itu

Setiap hari, suara cempreng anak umur 10 s/d 12 terdengar memanggil nama temannya, berdiri persis di depan pagarnya disusul dengan kalimat, “main yuuuuk!”

Sekali. Dua kali. Tiga kali. Tidak menyaut. Mereka tak kehilangan akal. Dipencetnya bel rumah teman yang dipanggil agar terdengar, atau berbarengan dengan teman yang lainnya, memanggil nama yang bersangkutan agar terdengar lebih kencang.

.   .   .

Satu per-satu anak muncul di taman sebesar 2x lapangan futsal, disusul suara bola yang dihentakkan ke aspal jalanan di sekitar taman. Semakin siang dimulainya, semakin baik, pikir kami. Setelah berkumpul, kami dibagi menjadi 2 tim. Salah satu dari kami pasti selalu mengusahakan agar yang jago tidak dengan yang jago agar permainan dapat lebih seru.

“Mana sandal lu? Sandal gue udah dipake di gawang sana.” Suaranya yang agak nge-bass membuat ia tidak seperti anak-anak seumurannya.

“Nih,” jawab Ilham sambil mencopot sandal jepit swallow biru-nya.

“Oke, sekarang kita ke sana, gambreng, ya!”

Dikumpulkannya anak-anak yang bermain di taman itu untuk kemudian diajak gambreng. Ia menghitung anak yang ada di situ, tetapi…. Ah, kelebihan satu, pikirnya.

“Kelebihan satu, nih, orangnya. Kalo begitu, gue sama Dhika, Gema, hmm.. sama Adit. Sisanya di gawang sana.” Sambil menunjuk pohon yang dijadikan salah satu tiang gawang dengan sandal menjadi penanda tiang transparan satunya. Meskipun ada akar-akar yang cukup besar di sekitar permukaan pohonnya, kami tidak terlalu menghiraukan. Dimulainya pertandingan ditandai siulan priwitan dari Adna. Sampai pada tengah permainan..

PRANGGGG!

“Waduh! Kabur enggak, nih?” Tanya Ado sambil membenarkan celana Quiksilver pendeknya yang kedodoran karena kebesaran.

“Enggak usah, palingan nenek gue cuman marah-marah bentar terus kita bisa main lagi, tenang aja,” kata Adit. Mimiknya terlihat seperti memikirkan bagaimana reaksi neneknya yang keluar dari rumahnya setelah bola yang dipakai untuk bermain mengenai pot bunga rawatannya.

Tak lama kemudian, engsel pintu rumah Adit terlihat bergerak ke bawah disusul langkah gegap gempita dari dalam. Tanpa kami disadari, neneknya sudah berada di belakang pagar hitam rumah Adit, menghadap ke arah kami. Nenek Adit menggunakan daster bunga-bunga, rambutnya dikuncir. Hiasan kalung dan gelang emas terlihat dipakainya.

“HEH, TONG! Siape yang nendang tadi?!”

Hening.

“Ngaku, enggak?! Kalo enggak ngaku bolanya gua ambil, nih!” semakin teriak Nenek Adit kepada kami.

Kemudian Dhika memecah keheningan di antara kami yang hanya melongo melihat nenek Adit mengoceh tiada henti. Dengan ekspresi muka yang panik, ia bilang “Eh, ngaku buruan, ngaku! Ntar bola gue diambil besok kita enggak bisa main, nih.” Walau Dhika tahu siapa yang menendang, tetapi ia sungkan untuk menyuruh penendang mengaku.

Setelah Dhika berbicara, berlari kecil dari belakang, Tian dengan gagah langsung mendekati pagar rumah Adit yang persis di seberangnya, bola tergeletak. Tanpa basa-basi dan melihat nenek Adit yang berjarak kurang dari satu meter, ia langsung mengambil bola, berbalik badan, berlari kecil menuju arah kami, meloncati selokan, dan kembali area bermain. Sementara nenek Adit masih mengocehi kami yang bukan seperti memarahi tetapi terlihat seperti memantrai.

Sepak bola senja itu kami lanjutkan kembali. Setiap dari kami bermain tak beralaskan kaki. Ada rasa nyaman dan puas ketika menendang bola tanpa alas kaki. Walaupun sesekali tersandung batu, tertancap duri tanaman, atau beradu tulang kering yang menyebabkan memar, tidak mengurungkan niat kami untuk tidak beralaskan kaki.

Sering, anak lain seumuran kami tanpa diundang. Datang dan bermain di sekitaran area bermain bola yang terdapat ayunan dan besi untuk bergelantungan, dan berharap diajak bermain. Tak jarang juga, kami bermain tanpa menghiraukan anak yang baru muncul itu.

“Ada yang kenal, nggak?” Tanya Galuh sambil menengok ke anak yang baru datang.

Semua menggelengkan kepala. Kemudian permainan dilanjutkan kembali.

Biasanya, setelah kami bermain selama seminggu berbarengan, salah satu dari kami akan mengusulkan untuk ngadu (sparing) dengan blok lain. Di komplek ini, setiap blok mempunyai taman yang memang digunakan untuk bermain sepak bola dengan permukaan area bermain bola yang berbeda-beda. Kebetulan, blok D, tempat kami bermain, bermain bola di rumput.

“Gimana kalo kita ngadu ke bloknya Ega di blok B?” tanya Dikha.

“Boleh aja, sih. Cuman pada mau kaga? Kan di sana aspal, bukan rumput. Tapi enak, sih, ada gawang aslinya,” jawab Ilham disusul langkahnya sambil memakai sandalnya yang telah selesai dipakai untuk gawang-gawangan.

Kami melihat satu dengan yang lainnya sambil mengangguk, menandakan setuju saja dengan apa yang dikatakan Ilham.

Matahari pun mulai mengumpatkan dirinya. Sering kali salah satu dari kami dipanggil paksa oleh bibi asuh (pembantu) untuk pulang. “Sebentar lagi kan, Maghrib! Ntar kalo maghrib-maghrib masih main diculik kolongwewe, lho!” teriak bibi asuh Jason kepada kami yang masih duduk santai di tengah area bermain bola untuk sekedar mengistirahatkan kaki setelah ia menyuruh Jason pulang yang daritadi hanya bermain di ayunan. Rasa penasaran kami akan diculik dan rasa takut pada kolongwewe bercampur jadi satu yang berujung pada selesainya permainan sore itu dibarengi selesainya adzan maghrib.

Satu per satu dari kami kembali pulang ke rumah. Kesepian ke-tiga jalan menuju taman itu diramaikan oleh suara kami yang membicarakan apa yang telah terjadi pada permainan bola tadi, atau sekedar menanyakan kaset PlayStation apa yang ingin dimainkan nanti malam. 

“Besok main lagi nggak, Yan?

“Main. Lu panggil gue aja, ya,” jawab Tian.

Saya mengangguk.

Tian berjalan belok kanan ke rumahnya, saya berjalan belok ke kiri, menuju rumah dan sesekali menatap langit. Langit, rasa, dan jalan sembilan tahun lalu dengan hari ini, sama sekali tak berubah.

Sesampainya di depan pagar rumah, Ibu saya bertanya sambil membukakan pintu, “Lho, Dek, tumben, nggak naik mobil bareng papa?” Tanpa menjawab, saya semakin tersadar, bahwa saya baru pulang sehabis shalat maghrib di masjid, bukan setelah bermain bola, senja itu.

P.S.: Semua tokoh di cerita ini, ada.

Review Buku: Kafka on The Shore – Haruki Murakami

KafkaKetertarikan saya membeli karya Murakami muncul saat bermain ke toko buku, Books & Beyond, di kampus. Bukunya selalu ada pada susunan best-seller. Penasaran, saya telaah satu per-satu bukunya dengan baik. Mulai dari Norwegian WoodWhat I Talk About RunningThe Strange Library1Q84Dance Dance Dance, dan lainnya.

Hampir di setiap buku, tercantum Author of The Wind-Up Bird Chronicle, yang mengindikasikan bahwa buku tersebut adalah yang terpopuler, mungkin, pikir saya. Tetapi, pikiran saya bukan tertuju pada The Wind-Up Bird Chronicle (yang pada saat itu ada). Pikiran saya tertuju pada, Kafka on the Shore.

Teringat oleh saya Pangeran Siahaan pernah menyebut Kafka on the Shore sebagai buku favoritnya di sebuah video. Tak ragu, saya beli pada 6 Mei lalu setelah saya menyelesaikan I AM ZLATAN.

Butuh 2 bulan, untuk saya, menyelesaikan buku ini (total 489 halaman). Cerita awalnya yang abstrak, yang bagi saya, benar-benar tidak bersangkutan antara chapter satu dengan yang lainnya, membuat saya jarang membaca dan tidak menjadikannya prioritas utama saat waktu kosong.

Sedikit demi sedikit saya lanjutkan membaca, barulah saya mendapatkan feel dari Kafka, tokoh utama pada novel fiksi tersebut. Marukami menggambarkan tokoh-tokoh di dalam novelnya secara datar dan muram. Hal tersebut saya simpulkan karena gaya Murakami yang menuliskan tokohnya seseorang yang suka menyendiri, tidak mempunyai banyak teman, sedikit berinteraksi dengan orang lain, dan suka membaca buku.

Gaya ceritanya yang surealisme sama sekali tidak mengganggu saya yang tidak menyukai ke-tidak-masuk-akal-an. Tetapi, malah membuat saya semakin terkagum akan imajinasi dan detail-nya ia pada saat bercerita dan membawa saya seakan  berada di dalam cerita tersebut, melihat, segala kejadian yang diceritakan penulis yang telah menerbitkan lebih dari 10 buku ini.

Buku ini menjadi salah satu novel fiksi terbaik yang pernah saya baca. Jika ada nilai 4,5 di Goodreads, akan saya beri. Tetapi tidak ada, jadi saya beri nilai 4.

Bagi saya, yang terbaik dari buku ini adalah bagaimana Murakami dapat menyulap pembaca mempunyai imajinasi bagaimana, semisal, ruangan yang diceritakannya tergambar, atau bentuk muka dari tokoh-tokoh yang dibuatnya.

Bagian terbaik yang lainnya, bagi saya, adalah bagaimana Murakami dapat mewajibkan bagi saya membuat sebuah dugaan bagaimana cerita ini berlanjut atau berakhir.

Saya tak perlu menjelaskan bagaimana selesainya buku ini, yang jelas, yang saya butuh sekarang adalah: mendiskusikannya

Happy Reading!

P.S.: Ada bagian di mana pembaca akan kaget dan bergumam, “mengapa ada konten semacam ini?” setidaknya, menurut saya.

Sepuluh-empatpuluh

Setanpun enggan melihat blog ini setelah vakum begitu lamanya. Maka tugas penulis adalah memberitahu malaikat untuk mengusir setan sehingga blog ini bisa dilihat lagi oleh beberapa pengikutnya. Bukan, saya bukan nabi.

Tahukah engkau bahwa menulis membuat masalah yang ada di pikiran menjadi sedikit enteng? Bukan hilang masalahnya, tetapi berkurang bebannya. Cobalah. Sesekali.

Maka dari itu tulisan ini dibuat untuk mengentengkan beban pikiran selama penulis tak menulis. Beban 4 bulan tidak menulis.

Anggap saja anak TK, dan ia bicara, “masalah itu pasti ada jalan keluarnya. Entah lewat air mata, solusi tak terduga, bahkan bunuh diri saja. Tinggal bagaimana cara menyikapinya, bukan?”

Puitis? Memang. Dalam puisi tak ada batasan. Tak ada aturan. Mengerti apa tidak engkau? Engkau mengerti tidak? Apa engkau mengerti? Sesukamu. Tapi perasaan tak bisa sesukamu.

Mati rasa? Apa rasa itu yang mati? Sakit hati? Atau hati yang disakiti? Peduli setan? Apa setan yang peduli? Apapun. Sesukamu.

Jangan menggelengkan kepala. Persepsi engkau hanya untuk engkau. Bukan untuk disebarkan. Persepsiku, persepsiku. Persepsimu, persepsimu. Selamanya tak akan sama.

Lalu, buat apa manusia dibuat berbeda-beda?

Engkau adalah engkau. Engkau bukan aku.

Omong kosong? Jangan terlalu defensive, pikirkan dahulu.

Andai, semua bisa berpikir. Andai.

Hukum gravitasi tak ada. Semua makhluk tak akan pada tempatnya. Termasuk hati, rasa, dan pikiran.

Lalu, buat apa ada Tuhan?

Kalau engkau berkata, “Hidup tak adil,” maka tantanglah Tuhan. Sekali-kalinya engkau menantang, maka sekali-kalinya engkau akan berhenti menentang. Jangan. Jangan sekali-kalinya berani.

Jika engkau pendendam, maka engkau tak percaya Tuhan.

Jika engkau pendendam, maka engkau melangkahi-Nya. Engkau bersikap lebih dari Yang Maha Adil, bukan?

Jika engkau mendendam karena Tuhan (menurut kau) tak adil, maka cepat atau lambat, pertanyaanmu akan terjawab.

Hanya Tuhan dan penulis yang mengerti. Kecuali kau memang suka puisi. Sesukamu.

Anggaplah sebuah tulisan ini hanya kata pengantar blog ini yang sudah mulai usang, sunyi, atau gelap. Selanjutnya akan ada beberapa lampu yang akan menyala, kemudian mulai menulis (lagi).

Sepuluh-empatpuluh.

Tentang Kebiasaan

Kebiasaan adalah sesuatu yang dilakukan secara berulang-ulang tanpa sadar. Secara tidak langsung, ya. Kebiasaan itu kita lakukan secara stagnan, biasanya nggak ada perkembangan.

Kenapa bisa saya sebut nggak ada perkembangan? Karena biasanya kebiasaan itu ya cuma gitu-gitu aja. Dilakukan karena kita sendiripun terkadang nggak menyadarinya. Biasanya kebiasaan itu kebanyakan buruk.

Berdasarkan observasi pandangan saya terhadap kebiasaan, kebiasaan itu tumbuh dari sesuatu yang tidak biasa. Konsep sederhananya, tidak bisa – bisa – kebiasaan – budaya.

Budaya adalah point terakhir. Karena biasanya sudah dianggap budaya jika dilakukan oleh khalayak masyarakat. Kalau masih kebiasaan, biasanya masih dilakukan satu-dua orang. Masih per-individu istilahnya.

Nah, sekarang masalahnya adalah kesadaran atas kebiasaan itu sendiri. Kebiasaan itu ada yang baik, adapula yang buruk. Yang mau saya tekankan disini adalah kebiasaan-kebiasaan buruk yang patut dihilangkan kalau ternyata kita sadar.

Secara tidak langsung, apa yang kita lakukan secara stagnan, akan menjadi sebuah kebiasaan. Secara umum, kita bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah, tetapi kadangkala hati tertutup dengan emosi sehingga keduanya menjadi terbalik.

Pernah suatu ketika, pelatih basket saya mengingatkan saya, “Jangan males, Sa. Nanti jadi kebiasaan, lho.” Dan yang benar saja, kalimat tersebut seakan-akan masih berjalan santai di pikiran saya. Awalnya memang dari yang kecil terlebih dahulu. Lama-kelamaan akan menjadi besar, kemudian kita terbuai, tak sadarkan diri atas apa yang kita lakukan.

Ketakutan terbesar saya terhadap suatu kebiasaan adalah kebiasaan tersebut membabi buta sampai kita dewasa. Ambil saja contoh, dari kecil misalkan kita sudah berani berbohong. Mungkin dari hal yang paling kecil misalkan uang jajan. Tak bisa dihindari, mungkin pada saat dewasa nanti kita akan korupsi.

Contoh yang kedua ini mungkin sedikit nyelekit hati tersangkanya. Dalam hubungan cinta-cintaan, ada beberapa teman saya yang berpikir, “Gapapalah gue have fun sama cewek/cowok lain walaupun gue udah punya pacar. Nakalnya sekarang, nanti pas udah dewasa nggak gatel lagi kok..” Lha, sekarang masalahnya, kalau pas muda udah cari masalah begitu, emangnya pas udah dewasa nanti nggak terbesit bakal ngelakuin hal yang sama? Secara nggak langsung iya, udah janji sekarang nggak ngelakuin itu lagi pas udah dewasa, cuman kan namanya setan pasti ada aja terbesit. Moga-moga nggak ngelakuinnya pas udah berumah tangga aja..

It’s all about habit, Bro. Kalau dari kecil aja udah kebiasaan nggak baik, gimana mau jadi yang terbaik kalau udah dewasa nanti?

Jadi-jadi-jadi, kesimpulannya, sekarang kan udah dewasa nih, udah bisa dan mengerti cara bedain mana yang benar mana yang salah. Apalagi menyangkut-paut soal kebiasaan. Kebiasaan yang dilakukan sehari-hari tanpa adanya paksaan. Jadi, hal-hal yang salah, kalau bisa diperbaiki atau kalau memang benar salah, ya dihilangkan saja dari peradaban.

Biar semuanya lebih baik..

Quality Time

Kali ini saya akan membahas tentang betapa pentingnya orang tua, dan waktu dengan keluarga. Dua hal ini sangat berkaitan dalam kebaikan, namun pasti diantara kita ada yang kurang acuh terhadap kedua hal tersebut, termasuk saya..

Keluarga adalah organisasi pertama yang kita naungi. Sejak dari janin, kita sudah diberikan pelajaran-pelajaran oleh orang tua kita yang (mungkin) kita tak ingat. Keluarga-pun adalah sekolah pertama yang kita naungi sebelum masuk ke sekolah beneran. Lalu, dalam keluarga, kita banyak belajar, dari hal-hal kecil, sampai hal-hal yang besar. Dalam keluarga, kita ditempa menjadi seseorang. Entah itu seseorang yang hebat, maupun seseorang yang (naudzubillahminzalik) buruk. Tak jarang, jika keluarganya (maaf-maaf) kurang baik, maka anak-anaknya pun juga seperti itu. Dan bagaimana kita menilai kadar baik atau tidaknya sebuah keluarga? Menurut saya dari orang tua nya.

Ada hadits yang menjelaskan betapa pentingnya peranan orang tua terhadap anak. Rasulullah Saw ditanya tentang peranan kedua orang tua. Beliau lalu menjawab, “Mereka adalah (yang menyebabkan) surgamu atau nerakamu.” (HR. Ibnu Majah). Dalam artian, kalau berbakti kepada orang tua, kita bisa masuk surga. Dan kalau bersikap durhaka, kita bisa masuk neraka.

Saya ingat, ibu saya pernah berkata, “Dek, kalau kamu punya anak nanti, kamu kalau ngasih tau jangan teriak-teriak, nanti anaknya ikutan, lho..” dan kalimat ibu saya ini sungguh terbukti. Saya sering memperhatikan cara berinteraksi teman saya. Dan saya coba main ke rumahnya. Alhasil, pada saat ke rumah teman saya tersebut, cara orang tua nya berinteraksi, tidak jauh berbeda dengan anaknya.

Kalimat ibu saya tersebut tidak berlaku hanya pada ucapan, tetapi juga tindakan. Secara tidak langsung, apa yang orang tua kita lakukan, kita akan mencontohnya. Secara tidak langsung, ya. Entah itu turunan dari gen orang tua kita, atau memang kita mencontohnya.

Kita sebagai anak yang baik harus mencontoh apa yang orang tua kita lakukan, tetapi jangan bodoh. Maksudnya jangan bodoh, kalau orang tua melakukan tindakan yang buruk, ya jangan dicontoh. Semisal, orang tua kita merokok, ya jangan dicontoh. Kalau memang dicontoh berarti kita gagal menjadi anak yang baik. Pun begitu juga dengan orang tua. Orang tua harus memberikan contoh yang baik oleh anaknya sehingga anaknya bisa mencontoh apa yang mereka lakukan.

Sebagai contoh, bapak saya itu perokok. Tetapi, bapak saya tidak pernah melarang saya merokok. Toh, pun kalau melarang, saya pun bisa menuntut balik kenapa beliau merokok. Memang terkesan tidak etis karena membantah orang tua, tetapi memang begitu adanya. Orang tua harus memberikan contoh yang baik.

Memang, kita telah diajarkan banyak hal dari orang tua kita sejak kita belum mengerti apa-apa. Istilahnya kita itu set by default. Tetapi kita tidak boleh menerimanya begitu saja, dong? Masa’ iya kita pasrah saja tentang apa yang diajarkan oleh orang tua kita. Apalagi kalau diajarkan yang tidak baik. Harus dipikir ulang beribu kali rasanya.

Nah, point yang saya ingin tekankan ada pada pembahasan berikut.

Maksud dari quality time adalah, menghabiskan waktu dengan keluarga. Saya baru menjadi anak kos. Saya pulang ke rumah seminggu sekali, setiap hari Sabtu, dan balik ke kosan lagi hari Senin pagi. Saya jadi anak kos jalan empat bulan. Dan saya merasakan betapa nikmatnya kumpul dengan keluarga di akhir minggu.

Memang, terkesan sedikit berlebihan, mungkin. Tetapi, begitulah memang. Keluarga saya sering membuka pembicaraan mengenai hal-hal tentang masa depan, keluarga, saudara, atau hal-hal lainnya setelah makan malam. Di meja makan, kita banyak belajar. Dan ini berjalan sudah cukup lama. Dari situ saya banyak belajar, dari forum keluargalah istilahnya. Saya mendengar dengan baik apa yang orang tua saya utarakan, atau berbagi pendapat dengan kakak-kakak saya. Dan dari berbagi pendapat tersebut kita bisa mendapatkan hal yang bisa kita pelajari, entah itu untuk masa depan kita maupun untuk sekarang.

Rasanya hal ini harus dicoba untuk dilakukan. Berkumpul dengan keluarga. Entah itu sehabis makan malam, nonton TV bareng di kamar orang tua, makan malem bersama di luar rumah, dan hal-hal yang lainnya. Karena, kemungkinan besar kita akan menyesal dan kangen karena telah menyia-nyiakan waktu kita bersama keluarga setelah kita sudah dewasa nanti. Saya yakin itu..

Lalu, sudahkah kita menyempatkan waktu untuk menelpon dan menanyakan kabar orang tua kita di sela-sela kesibukan kita? Pernahkah kita berpikir bahwa orang tua kita sangat merindukan kehadiran kita? Tahukah bahwa orangtua terkadang segan menelpon kita karena takut mengganggu? Sudahkah kita memberikan “Quality Time” untuk keluarga kita?

The Best Thing to spend on your family is your TIME. Bahwa keluarga adalah harta yang harus kita jaga selalu. Bahkan tak ternilai. Dari keluarga kita diajarkan untuk berjalan. Lalu, jangan berlari meninggalkannya begitu saja. :)

Image
Keluarga tercinta.