Catatan dari Semarang Tawang

Processed with VSCO with a6 preset
Merapi dari Merbabu

(Mungkin) Masih banyak orang yang enggan menghabiskan hartanya untuk berlibur atau ke tempat yang belum pernah ia datangi.

Jika ditanya mengapa, mereka menjawab, “lebih baik uangnya ku tabung tuk masa depan.”

Lalu bagi sebagian orang lainnya, ke tempat yang belum pernah ia kunjungi adalah sebuah tabungan juga untuk masa depannya.

Maka kelak, ketika sebagian dari mereka yang menabung tuk masa depannya ingin berpergian, akhirnya tak punya waktu karena terlalu banyak urusan yang tak dapat ditinggal, seperti keluarga.

Lalu mereka yang tak punya tabungan harta tuk masa depan, telah berpergian ke ratusan tempat. Walau (mungkin) akhirnya hanya sedikit tabungan, setidaknya mereka punya cerita untuk anak-cucunya.

Sebagai tabungan sebuah keinginan, bahwa hidup tak bisa stagnan dan harus bergerak untuk sebuah pelajaran.

Semarang, 21 Januari 2016

فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا
[Maka berjalanlah kamu ke setiap pelusuk bumi itu; 67:15]

Tentang Kopi dan Ingatannya pada Gula

Processed with VSCO with hb2 preset

“Bu, aku ingin kopi.”

“Kopi hazelnut yang kita beli di Malaysia itu?”

“Bukan, yang barusan Ibu buat untuk Bapak.”

Tanpa menjawab, dengan cekatan ia mengambil gelas yang isinya kira-kira 300 mililiter, buah tangan dari resepsi Widya & Andi dengan sebuah gambar laki-laki yang membawa motor kopling menggonceng si perempuan. Keduanya lengkap berpakaian adat Jawa Tengah.

Ia ambil bubuk kopi Kapal Api dari alumunium tempat ia biasa menyimpannya yang berumur sudah lebih dari 12 tahun, terhitung sejak aku masih kelas 2 SD, di rak geser di bawah kompor.

Ia masukkan bubuk kopi sekitar dua sendok teh ke dalam gelas disusul satu sendok teh gula dari Tupperware di sebelah kanan kompor, yang dapat menampung satu kilo gula bungkus.

Setelah semua komposisi siap, ia tuangkan air panas dari ceret yang matang 10 menit lalu. Gelembung kecil sesekali terlihat dari gelas itu. Tak lupa ia aduk dengan sendok teh bekas gula dan bubuk kopi. 9 adukan. Tidak lebih, tidak kurang.

Ia angkat sendok teh dari dalam gelas lalu ia taruh gelasnya di meja bulat berdiameter 84 centimeter di seberang kompor pertanda kopi siap diminum. Gumpalan buih terlihat di tengah pusaran adukannya.

Tanpa basa-basi, aku ambil gelas tersebut lalu membawanya ke meja kerja tanpa mengucap terima kasih.

Pahit di awal seruputan, lalu manis, disusul dengan asam. Selalu seperti itu rotasinya. Senada hidup.

Andai kopi itu hidup. Karena pahit, bukan berarti aku harus mengeluh dan menyerah untuk meminumnya lagi, kan?

Sebagai ucapan yang luput diutarakan. Terima kasih Ibu, telah mengingatkanku serta tak lupa memasukkan gula sebagai ingatan bahwa kopi tak melulu pahit.

[Review Buku] Blind Willow, Sleeping Woman: Kumpulan Cerita Pendek Haruki Murakami

Processed with VSCO

Murakami telah bersilih ganti menulis novel dan cerita pendek sejak debutnya menjadi penulis fiksi pada 1979. Fase-nya selalu seperti ini: ketika ia telah selesai menulis novel, ia menemukan dirinya ingin menulis cerita pendek. Ketika cerita pendek selesai ia tulis, ia menemukan dirinya ingin menulis novel.

Keinginannya untuk menulis cerita pendek tumbuh setelah ia menulis dua novel pendek: Hear the Wind Sing and Pinball dan 1973. Di antara 1980 hingga 1981 ia menulis tiga cerita pendek pertamanya. A Slow Boat to China, A ‘Poor Aunt’ Story, dan New York Mining Disaster. Dua judul terakhir terdapat di buku keluaran 2006 ini.

The short story is a kind of experimental laboratory for me as a novelist,” tulis Murakami di Introduction buku yang mendapat rating 3.83 di Goodreads.

***

Tak berbeda dengan Kafka on the Shore (review di sini), gaya penulisan Murakami yang surealis menimbulkan rasa ganjal. Ada bagian logika yang menolak ketidak-masuk-akalan cerita Murakami. Misalnya pada cerita The Rise and Fall of Sharpie Cake. Bagaimana sebuah burung dapat berteriak, “Sharpies?

Meskipun terkadang perasaan kembali menolak untuk menerima cerita surealis, paragraf demi paragraf saya halap dengan memerhatikan detail Murakami saat menulis. Saya yakin itu menjadi senjata utama agar pembacanya dapat terjun jauh ke dalam rangkaian kata-katanya sehingga bukan alur cerita yang dicari tetapi sensasinya.

***

Plot-twist pada cerita pendek Murakami menjadi harapan saya karena alur cerita Kafka on the Shore, yang berhasil saya selesaikan dalam 2 bulan. Buku ini saya selesaikan hampir 4 bulan. Bukan karena buruknya alur cerita yang ia tulis, atau sulitnya vocabulary yang saya temukan sehingga butuh memakan waktu yang lama. Tetapi, karena minimnya keinginan saya untuk melanjutkan cerita demi cerita.

Jika membaca Kafka on the Shore (novel) muncul keinginan yang besar untuk menyelesaikannya dengan segera karena chapter demi chapter yang berkaitan, membaca Blind Willow, Sleeping Woman (cerita pendek) butuh kesabaran untuk memulai alur cerita dan menemukan tokoh yang baru untuk diingat. Karena beberapa cerita pendek yang disajikannya saya kurang ingat bahkan cenderung terlupakan karena plot yang kurang menarik.

A Perfect Day for Kangaroos, The Year of Spaghetti, The Ice Man, dan The Kidney-Shaped Stone That Moves Every Day, menjadi pilihan terbaik saya dari 24 cerita pendek yang Murakami sajikan.

Nilai 3 dari 5 menjadi pilihan saya mengingat kurang banyaknya cerita pendek yang berbekas dalam pikiran saya. Hanya 4 dari 24 cerita pendek. Tetapi secara rata-rata buku ini wajib untuk dibaca penggemar dan penulis cerita pendek. Karena bagi saya pribadi, saya dapat belajar bagaimana membuat sebuah alur cerita pendek dengan maupun tanpa plot twist.

Buku berbahasa Inggris setebal 362 halaman ini dapat dibeli di toko buku Books & Beyond atau Kinokuniya dengan harga $16.00 atau kisaran Rp220.000.

Berikut kutipan pilihan saya pada buku ini:

  • You can never change things back to the way they were. –Page 237
  • Death is not the opposite of life, but a part of it. –Page 237
  • Everyone is looking for something from someone. –Page 240
  • “There are only three ways to get along with a girl: one, shut up and listen to what she has to say; two, tell her you like what she’s wearing; and three, treat her to really good food. Easy, huh? If you do all that and still don’t get the results you want, better give up.” –Page 289.
  • “Sometimes we don’t need words,” –Page 305
  • “You will probably become involved with many women in the future, but you will be wasting your time if a woman is the wrong one for you.” –Page 312.
  • Everything in the world has its reasons for doing what it does. –Page 325.

[Cerita Pendek] Sepak Bola dan Senja Itu

Setiap hari, suara cempreng anak umur 10 s/d 12 terdengar memanggil nama temannya, berdiri persis di depan pagarnya disusul dengan kalimat, “main yuuuuk!”

Sekali. Dua kali. Tiga kali. Tidak menyaut. Mereka tak kehilangan akal. Dipencetnya bel rumah teman yang dipanggil agar terdengar, atau berbarengan dengan teman yang lainnya, memanggil nama yang bersangkutan agar terdengar lebih kencang.

.   .   .

Satu per-satu anak muncul di taman sebesar 2x lapangan futsal, disusul suara bola yang dihentakkan ke aspal jalanan di sekitar taman. Semakin siang dimulainya, semakin baik, pikir kami. Setelah berkumpul, kami dibagi menjadi 2 tim. Salah satu dari kami pasti selalu mengusahakan agar yang jago tidak dengan yang jago agar permainan dapat lebih seru.

“Mana sandal lu? Sandal gue udah dipake di gawang sana.” Suaranya yang agak nge-bass membuat ia tidak seperti anak-anak seumurannya.

“Nih,” jawab Ilham sambil mencopot sandal jepit swallow biru-nya.

“Oke, sekarang kita ke sana, gambreng, ya!”

Dikumpulkannya anak-anak yang bermain di taman itu untuk kemudian diajak gambreng. Ia menghitung anak yang ada di situ, tetapi…. Ah, kelebihan satu, pikirnya.

“Kelebihan satu, nih, orangnya. Kalo begitu, gue sama Dhika, Gema, hmm.. sama Adit. Sisanya di gawang sana.” Sambil menunjuk pohon yang dijadikan salah satu tiang gawang dengan sandal menjadi penanda tiang transparan satunya. Meskipun ada akar-akar yang cukup besar di sekitar permukaan pohonnya, kami tidak terlalu menghiraukan. Dimulainya pertandingan ditandai siulan priwitan dari Adna. Sampai pada tengah permainan..

PRANGGGG!

“Waduh! Kabur enggak, nih?” Tanya Ado sambil membenarkan celana Quiksilver pendeknya yang kedodoran karena kebesaran.

“Enggak usah, palingan nenek gue cuman marah-marah bentar terus kita bisa main lagi, tenang aja,” kata Adit. Mimiknya terlihat seperti memikirkan bagaimana reaksi neneknya yang keluar dari rumahnya setelah bola yang dipakai untuk bermain mengenai pot bunga rawatannya.

Tak lama kemudian, engsel pintu rumah Adit terlihat bergerak ke bawah disusul langkah gegap gempita dari dalam. Tanpa kami disadari, neneknya sudah berada di belakang pagar hitam rumah Adit, menghadap ke arah kami. Nenek Adit menggunakan daster bunga-bunga, rambutnya dikuncir. Hiasan kalung dan gelang emas terlihat dipakainya.

“HEH, TONG! Siape yang nendang tadi?!”

Hening.

“Ngaku, enggak?! Kalo enggak ngaku bolanya gua ambil, nih!” semakin teriak Nenek Adit kepada kami.

Kemudian Dhika memecah keheningan di antara kami yang hanya melongo melihat nenek Adit mengoceh tiada henti. Dengan ekspresi muka yang panik, ia bilang “Eh, ngaku buruan, ngaku! Ntar bola gue diambil besok kita enggak bisa main, nih.” Walau Dhika tahu siapa yang menendang, tetapi ia sungkan untuk menyuruh penendang mengaku.

Setelah Dhika berbicara, berlari kecil dari belakang, Tian dengan gagah langsung mendekati pagar rumah Adit yang persis di seberangnya, bola tergeletak. Tanpa basa-basi dan melihat nenek Adit yang berjarak kurang dari satu meter, ia langsung mengambil bola, berbalik badan, berlari kecil menuju arah kami, meloncati selokan, dan kembali area bermain. Sementara nenek Adit masih mengocehi kami yang bukan seperti memarahi tetapi terlihat seperti memantrai.

Sepak bola senja itu kami lanjutkan kembali. Setiap dari kami bermain tak beralaskan kaki. Ada rasa nyaman dan puas ketika menendang bola tanpa alas kaki. Walaupun sesekali tersandung batu, tertancap duri tanaman, atau beradu tulang kering yang menyebabkan memar, tidak mengurungkan niat kami untuk tidak beralaskan kaki.

Sering, anak lain seumuran kami tanpa diundang. Datang dan bermain di sekitaran area bermain bola yang terdapat ayunan dan besi untuk bergelantungan, dan berharap diajak bermain. Tak jarang juga, kami bermain tanpa menghiraukan anak yang baru muncul itu.

“Ada yang kenal, nggak?” Tanya Galuh sambil menengok ke anak yang baru datang.

Semua menggelengkan kepala. Kemudian permainan dilanjutkan kembali.

Biasanya, setelah kami bermain selama seminggu berbarengan, salah satu dari kami akan mengusulkan untuk ngadu (sparing) dengan blok lain. Di komplek ini, setiap blok mempunyai taman yang memang digunakan untuk bermain sepak bola dengan permukaan area bermain bola yang berbeda-beda. Kebetulan, blok D, tempat kami bermain, bermain bola di rumput.

“Gimana kalo kita ngadu ke bloknya Ega di blok B?” tanya Dikha.

“Boleh aja, sih. Cuman pada mau kaga? Kan di sana aspal, bukan rumput. Tapi enak, sih, ada gawang aslinya,” jawab Ilham disusul langkahnya sambil memakai sandalnya yang telah selesai dipakai untuk gawang-gawangan.

Kami melihat satu dengan yang lainnya sambil mengangguk, menandakan setuju saja dengan apa yang dikatakan Ilham.

Matahari pun mulai mengumpatkan dirinya. Sering kali salah satu dari kami dipanggil paksa oleh bibi asuh (pembantu) untuk pulang. “Sebentar lagi kan, Maghrib! Ntar kalo maghrib-maghrib masih main diculik kolongwewe, lho!” teriak bibi asuh Jason kepada kami yang masih duduk santai di tengah area bermain bola untuk sekedar mengistirahatkan kaki setelah ia menyuruh Jason pulang yang daritadi hanya bermain di ayunan. Rasa penasaran kami akan diculik dan rasa takut pada kolongwewe bercampur jadi satu yang berujung pada selesainya permainan sore itu dibarengi selesainya adzan maghrib.

Satu per satu dari kami kembali pulang ke rumah. Kesepian ke-tiga jalan menuju taman itu diramaikan oleh suara kami yang membicarakan apa yang telah terjadi pada permainan bola tadi, atau sekedar menanyakan kaset PlayStation apa yang ingin dimainkan nanti malam. 

“Besok main lagi nggak, Yan?

“Main. Lu panggil gue aja, ya,” jawab Tian.

Saya mengangguk.

Tian berjalan belok kanan ke rumahnya, saya berjalan belok ke kiri, menuju rumah dan sesekali menatap langit. Langit, rasa, dan jalan sembilan tahun lalu dengan hari ini, sama sekali tak berubah.

Sesampainya di depan pagar rumah, Ibu saya bertanya sambil membukakan pintu, “Lho, Dek, tumben, nggak naik mobil bareng papa?” Tanpa menjawab, saya semakin tersadar, bahwa saya baru pulang sehabis shalat maghrib di masjid, bukan setelah bermain bola, senja itu.

P.S.: Semua tokoh di cerita ini, ada.

Review Buku: Kafka on The Shore – Haruki Murakami

KafkaKetertarikan saya membeli karya Murakami muncul saat bermain ke toko buku, Books & Beyond, di kampus. Bukunya selalu ada pada susunan best-seller. Penasaran, saya telaah satu per-satu bukunya dengan baik. Mulai dari Norwegian WoodWhat I Talk About RunningThe Strange Library1Q84Dance Dance Dance, dan lainnya.

Hampir di setiap buku, tercantum Author of The Wind-Up Bird Chronicle, yang mengindikasikan bahwa buku tersebut adalah yang terpopuler, mungkin, pikir saya. Tetapi, pikiran saya bukan tertuju pada The Wind-Up Bird Chronicle (yang pada saat itu ada). Pikiran saya tertuju pada, Kafka on the Shore.

Teringat oleh saya Pangeran Siahaan pernah menyebut Kafka on the Shore sebagai buku favoritnya di sebuah video. Tak ragu, saya beli pada 6 Mei lalu setelah saya menyelesaikan I AM ZLATAN.

Butuh 2 bulan, untuk saya, menyelesaikan buku ini (total 489 halaman). Cerita awalnya yang abstrak, yang bagi saya, benar-benar tidak bersangkutan antara chapter satu dengan yang lainnya, membuat saya jarang membaca dan tidak menjadikannya prioritas utama saat waktu kosong.

Sedikit demi sedikit saya lanjutkan membaca, barulah saya mendapatkan feel dari Kafka, tokoh utama pada novel fiksi tersebut. Marukami menggambarkan tokoh-tokoh di dalam novelnya secara datar dan muram. Hal tersebut saya simpulkan karena gaya Murakami yang menuliskan tokohnya seseorang yang suka menyendiri, tidak mempunyai banyak teman, sedikit berinteraksi dengan orang lain, dan suka membaca buku.

Gaya ceritanya yang surealisme sama sekali tidak mengganggu saya yang tidak menyukai ke-tidak-masuk-akal-an. Tetapi, malah membuat saya semakin terkagum akan imajinasi dan detail-nya ia pada saat bercerita dan membawa saya seakan  berada di dalam cerita tersebut, melihat, segala kejadian yang diceritakan penulis yang telah menerbitkan lebih dari 10 buku ini.

Buku ini menjadi salah satu novel fiksi terbaik yang pernah saya baca. Jika ada nilai 4,5 di Goodreads, akan saya beri. Tetapi tidak ada, jadi saya beri nilai 4.

Bagi saya, yang terbaik dari buku ini adalah bagaimana Murakami dapat menyulap pembaca mempunyai imajinasi bagaimana, semisal, ruangan yang diceritakannya tergambar, atau bentuk muka dari tokoh-tokoh yang dibuatnya.

Bagian terbaik yang lainnya, bagi saya, adalah bagaimana Murakami dapat mewajibkan bagi saya membuat sebuah dugaan bagaimana cerita ini berlanjut atau berakhir.

Saya tak perlu menjelaskan bagaimana selesainya buku ini, yang jelas, yang saya butuh sekarang adalah: mendiskusikannya

Happy Reading!

P.S.: Ada bagian di mana pembaca akan kaget dan bergumam, “mengapa ada konten semacam ini?” setidaknya, menurut saya.

Sepuluh-empatpuluh

Setanpun enggan melihat blog ini setelah vakum begitu lamanya. Maka tugas penulis adalah memberitahu malaikat untuk mengusir setan sehingga blog ini bisa dilihat lagi oleh beberapa pengikutnya. Bukan, saya bukan nabi.

Tahukah engkau bahwa menulis membuat masalah yang ada di pikiran menjadi sedikit enteng? Bukan hilang masalahnya, tetapi berkurang bebannya. Cobalah. Sesekali.

Maka dari itu tulisan ini dibuat untuk mengentengkan beban pikiran selama penulis tak menulis. Beban 4 bulan tidak menulis.

Anggap saja anak TK, dan ia bicara, “masalah itu pasti ada jalan keluarnya. Entah lewat air mata, solusi tak terduga, bahkan bunuh diri saja. Tinggal bagaimana cara menyikapinya, bukan?”

Puitis? Memang. Dalam puisi tak ada batasan. Tak ada aturan. Mengerti apa tidak engkau? Engkau mengerti tidak? Apa engkau mengerti? Sesukamu. Tapi perasaan tak bisa sesukamu.

Mati rasa? Apa rasa itu yang mati? Sakit hati? Atau hati yang disakiti? Peduli setan? Apa setan yang peduli? Apapun. Sesukamu.

Jangan menggelengkan kepala. Persepsi engkau hanya untuk engkau. Bukan untuk disebarkan. Persepsiku, persepsiku. Persepsimu, persepsimu. Selamanya tak akan sama.

Lalu, buat apa manusia dibuat berbeda-beda?

Engkau adalah engkau. Engkau bukan aku.

Omong kosong? Jangan terlalu defensive, pikirkan dahulu.

Andai, semua bisa berpikir. Andai.

Hukum gravitasi tak ada. Semua makhluk tak akan pada tempatnya. Termasuk hati, rasa, dan pikiran.

Lalu, buat apa ada Tuhan?

Kalau engkau berkata, “Hidup tak adil,” maka tantanglah Tuhan. Sekali-kalinya engkau menantang, maka sekali-kalinya engkau akan berhenti menentang. Jangan. Jangan sekali-kalinya berani.

Jika engkau pendendam, maka engkau tak percaya Tuhan.

Jika engkau pendendam, maka engkau melangkahi-Nya. Engkau bersikap lebih dari Yang Maha Adil, bukan?

Jika engkau mendendam karena Tuhan (menurut kau) tak adil, maka cepat atau lambat, pertanyaanmu akan terjawab.

Hanya Tuhan dan penulis yang mengerti. Kecuali kau memang suka puisi. Sesukamu.

Anggaplah sebuah tulisan ini hanya kata pengantar blog ini yang sudah mulai usang, sunyi, atau gelap. Selanjutnya akan ada beberapa lampu yang akan menyala, kemudian mulai menulis (lagi).

Sepuluh-empatpuluh.

Tentang Kebiasaan

Kebiasaan adalah sesuatu yang dilakukan secara berulang-ulang tanpa sadar. Secara tidak langsung, ya. Kebiasaan itu kita lakukan secara stagnan, biasanya nggak ada perkembangan.

Kenapa bisa saya sebut nggak ada perkembangan? Karena biasanya kebiasaan itu ya cuma gitu-gitu aja. Dilakukan karena kita sendiripun terkadang nggak menyadarinya. Biasanya kebiasaan itu kebanyakan buruk.

Berdasarkan observasi pandangan saya terhadap kebiasaan, kebiasaan itu tumbuh dari sesuatu yang tidak biasa. Konsep sederhananya, tidak bisa – bisa – kebiasaan – budaya.

Budaya adalah point terakhir. Karena biasanya sudah dianggap budaya jika dilakukan oleh khalayak masyarakat. Kalau masih kebiasaan, biasanya masih dilakukan satu-dua orang. Masih per-individu istilahnya.

Nah, sekarang masalahnya adalah kesadaran atas kebiasaan itu sendiri. Kebiasaan itu ada yang baik, adapula yang buruk. Yang mau saya tekankan disini adalah kebiasaan-kebiasaan buruk yang patut dihilangkan kalau ternyata kita sadar.

Secara tidak langsung, apa yang kita lakukan secara stagnan, akan menjadi sebuah kebiasaan. Secara umum, kita bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah, tetapi kadangkala hati tertutup dengan emosi sehingga keduanya menjadi terbalik.

Pernah suatu ketika, pelatih basket saya mengingatkan saya, “Jangan males, Sa. Nanti jadi kebiasaan, lho.” Dan yang benar saja, kalimat tersebut seakan-akan masih berjalan santai di pikiran saya. Awalnya memang dari yang kecil terlebih dahulu. Lama-kelamaan akan menjadi besar, kemudian kita terbuai, tak sadarkan diri atas apa yang kita lakukan.

Ketakutan terbesar saya terhadap suatu kebiasaan adalah kebiasaan tersebut membabi buta sampai kita dewasa. Ambil saja contoh, dari kecil misalkan kita sudah berani berbohong. Mungkin dari hal yang paling kecil misalkan uang jajan. Tak bisa dihindari, mungkin pada saat dewasa nanti kita akan korupsi.

Contoh yang kedua ini mungkin sedikit nyelekit hati tersangkanya. Dalam hubungan cinta-cintaan, ada beberapa teman saya yang berpikir, “Gapapalah gue have fun sama cewek/cowok lain walaupun gue udah punya pacar. Nakalnya sekarang, nanti pas udah dewasa nggak gatel lagi kok..” Lha, sekarang masalahnya, kalau pas muda udah cari masalah begitu, emangnya pas udah dewasa nanti nggak terbesit bakal ngelakuin hal yang sama? Secara nggak langsung iya, udah janji sekarang nggak ngelakuin itu lagi pas udah dewasa, cuman kan namanya setan pasti ada aja terbesit. Moga-moga nggak ngelakuinnya pas udah berumah tangga aja..

It’s all about habit, Bro. Kalau dari kecil aja udah kebiasaan nggak baik, gimana mau jadi yang terbaik kalau udah dewasa nanti?

Jadi-jadi-jadi, kesimpulannya, sekarang kan udah dewasa nih, udah bisa dan mengerti cara bedain mana yang benar mana yang salah. Apalagi menyangkut-paut soal kebiasaan. Kebiasaan yang dilakukan sehari-hari tanpa adanya paksaan. Jadi, hal-hal yang salah, kalau bisa diperbaiki atau kalau memang benar salah, ya dihilangkan saja dari peradaban.

Biar semuanya lebih baik..