[Cerita Pendek] Sepak Bola dan Senja Itu

Setiap hari, suara cempreng anak umur 10 s/d 12 terdengar memanggil nama temannya, berdiri persis di depan pagarnya disusul dengan kalimat, “main yuuuuk!”

Sekali. Dua kali. Tiga kali. Tidak menyaut. Mereka tak kehilangan akal. Dipencetnya bel rumah teman yang dipanggil agar terdengar, atau berbarengan dengan teman yang lainnya, memanggil nama yang bersangkutan agar terdengar lebih kencang.

.   .   .

Satu per-satu anak muncul di taman sebesar 2x lapangan futsal, disusul suara bola yang dihentakkan ke aspal jalanan di sekitar taman. Semakin siang dimulainya, semakin baik, pikir kami. Setelah berkumpul, kami dibagi menjadi 2 tim. Salah satu dari kami pasti selalu mengusahakan agar yang jago tidak dengan yang jago agar permainan dapat lebih seru.

“Mana sandal lu? Sandal gue udah dipake di gawang sana.” Suaranya yang agak nge-bass membuat ia tidak seperti anak-anak seumurannya.

“Nih,” jawab Ilham sambil mencopot sandal jepit swallow biru-nya.

“Oke, sekarang kita ke sana, gambreng, ya!”

Dikumpulkannya anak-anak yang bermain di taman itu untuk kemudian diajak gambreng. Ia menghitung anak yang ada di situ, tetapi…. Ah, kelebihan satu, pikirnya.

“Kelebihan satu, nih, orangnya. Kalo begitu, gue sama Dhika, Gema, hmm.. sama Adit. Sisanya di gawang sana.” Sambil menunjuk pohon yang dijadikan salah satu tiang gawang dengan sandal menjadi penanda tiang transparan satunya. Meskipun ada akar-akar yang cukup besar di sekitar permukaan pohonnya, kami tidak terlalu menghiraukan. Dimulainya pertandingan ditandai siulan priwitan dari Adna. Sampai pada tengah permainan..

PRANGGGG!

“Waduh! Kabur enggak, nih?” Tanya Ado sambil membenarkan celana Quiksilver pendeknya yang kedodoran karena kegendutan.

“Enggak usah, palingan nenek gue cuman marah-marah bentar terus kita bisa main lagi, tenang aja,” kata Adit. Mimiknya terlihat seperti memikirkan bagaimana reaksi neneknya yang keluar dari rumahnya setelah bola yang dipakai untuk bermain mengenai pot bunga rawatannya.

Tak lama kemudian, engsel pintu rumah Adit terlihat bergerak ke bawah disusul langkah gegap gempita dari dalam. Tanpa kami disadari, neneknya sudah berada di belakang pagar hitam rumah Adit, menghadap ke arah kami. Nenek Adit menggunakan daster bunga-bunga, rambutnya dikuncir. Hiasan kalung dan gelang emas terlihat dipakainya.

“HEH, TONG! Siape yang nendang tadi?!”

Hening.

“Ngaku, enggak?! Kalo enggak ngaku bolanya gua ambil, nih!” semakin teriak Nenek Adit kepada kami.

Kemudian Dhika memecah keheningan di antara kami yang hanya melongo melihat nenek Adit mengoceh tiada henti. Dengan ekspresi muka yang panik, ia bilang “Eh, ngaku buruan, ngaku! Ntar bola gue diambil besok kita enggak bisa main, nih.” Walau Dhika tahu siapa yang menendang, tetapi ia sungkan untuk menyuruh penendang mengaku.

Setelah Dhika berbicara, berlari kecil dari belakang, Tian dengan gagah langsung mendekati pagar rumah Adit yang persis di seberangnya, bola tergeletak. Tanpa basa-basi dan melihat nenek Adit yang berjarak kurang dari satu meter, ia langsung mengambil bola, berbalik badan, berlari kecil menuju arah kami, meloncati selokan, dan kembali area bermain. Sementara nenek Adit masih mengocehi kami yang bukan seperti memarahi tetapi terlihat seperti memantrai.

Sepak bola senja itu kami lanjutkan kembali. Setiap dari kami bermain tak beralaskan kaki. Ada rasa nyaman dan puas ketika menendang bola tanpa alas kaki. Walaupun sesekali tersandung batu, tertancap duri tanaman, atau beradu tulang kering yang menyebabkan memar, tidak mengurungkan niat kami untuk tidak beralaskan kaki.

Sering, anak lain seumuran kami tanpa diundang. Datang dan bermain di sekitaran area bermain bola yang terdapat ayunan dan besi untuk bergelantungan, dan berharap diajak bermain. Tak jarang juga, kami bermain tanpa menghiraukan anak yang baru muncul itu.

“Ada yang kenal, nggak?” Tanya Galuh sambil menengok ke anak yang baru datang.

Semua menggelengkan kepala. Kemudian permainan dilanjutkan kembali.

Biasanya, setelah kami bermain selama seminggu berbarengan, salah satu dari kami akan mengusulkan untuk ngadu (sparing) dengan blok lain. Di komplek ini, setiap blok mempunyai taman yang memang digunakan untuk bermain sepak bola dengan permukaan area bermain bola yang berbeda-beda. Kebetulan, blok D, tempat kami bermain, bermain bola di rumput.

“Gimana kalo kita ngadu ke bloknya Ega di blok B?” tanya Dikha.

“Boleh aja, sih. Cuman pada mau kaga? Kan di sana aspal, bukan rumput. Tapi enak, sih, ada gawang aslinya,” jawab Ilham disusul langkahnya sambil memakai sandalnya yang telah selesai dipakai untuk gawang-gawangan.

Kami melihat satu dengan yang lainnya sambil mengangguk, menandakan setuju saja dengan apa yang dikatakan Ilham.

Matahari pun mulai mengumpatkan dirinya. Sering kali salah satu dari kami dipanggil paksa oleh bibi asuh (pembantu) untuk pulang. “Sebentar lagi kan, Maghrib! Ntar kalo maghrib-maghrib masih main diculik kolongwewe, lho!” teriak bibi asuh Jason kepada kami yang masih duduk santai di tengah area bermain bola untuk sekedar mengistirahatkan kaki setelah ia menyuruh Jason pulang yang daritadi hanya bermain di ayunan. Rasa penasaran kami akan diculik dan rasa takut pada kolongwewe bercampur jadi satu yang berujung pada selesainya permainan sore itu dibarengi selesainya adzan maghrib.

Satu per satu dari kami kembali pulang ke rumah. Kesepian ke-tiga jalan menuju taman itu diramaikan oleh suara kami yang membicarakan apa yang telah terjadi pada permainan bola tadi, atau sekedar menanyakan kaset PlayStation apa yang ingin dimainkan nanti malam. 

“Besok main lagi nggak, Yan?

“Main. Lu panggil gue aja, ya,” jawab Tian.

Saya mengangguk.

Tian berjalan belok kanan ke rumahnya, saya berjalan belok ke kiri, menuju rumah dan sesekali menatap langit. Langit, rasa, dan jalan sembilan tahun lalu dengan hari ini, sama sekali tak berubah.

Sesampainya di depan pagar rumah, Ibu saya bertanya sambil membukakan pintu, “Lho, Dek, tumben, nggak naik mobil bareng papa?” Tanpa menjawab, saya semakin tersadar, bahwa saya baru pulang sehabis shalat maghrib di masjid, bukan setelah bermain bola, senja itu.

P.S.: Semua tokoh di cerita ini, ada.

Review Buku: Kafka on The Shore – Haruki Murakami

KafkaKetertarikan saya membeli karya Murakami muncul saat bermain ke toko buku, Books & Beyond, di kampus. Bukunya selalu ada pada susunan best-seller. Penasaran, saya telaah satu per-satu bukunya dengan baik. Mulai dari Norwegian WoodWhat I Talk About RunningThe Strange Library1Q84Dance Dance Dance, dan lainnya.

Hampir di setiap buku, tercantum Author of The Wind-Up Bird Chronicle, yang mengindikasikan bahwa buku tersebut adalah yang terpopuler, mungkin, pikir saya. Tetapi, pikiran saya bukan tertuju pada The Wind-Up Bird Chronicle (yang pada saat itu ada). Pikiran saya tertuju pada, Kafka on the Shore.

Teringat oleh saya Pangeran Siahaan pernah menyebut Kafka on the Shore sebagai buku favoritnya di sebuah video. Tak ragu, saya beli pada 6 Mei lalu setelah saya menyelesaikan I AM ZLATAN.

Butuh 2 bulan, untuk saya, menyelesaikan buku ini (total 489 halaman). Cerita awalnya yang abstrak, yang bagi saya, benar-benar tidak bersangkutan antara chapter satu dengan yang lainnya, membuat saya jarang membaca dan tidak menjadikannya prioritas utama saat waktu kosong.

Sedikit demi sedikit saya lanjutkan membaca, barulah saya mendapatkan feel dari Kafka, tokoh utama pada novel fiksi tersebut. Marukami menggambarkan tokoh-tokoh di dalam novelnya secara datar dan muram. Hal tersebut saya simpulkan karena gaya Murakami yang menuliskan tokohnya seseorang yang suka menyendiri, tidak mempunyai banyak teman, sedikit berinteraksi dengan orang lain, dan suka membaca buku.

Gaya ceritanya yang surealisme sama sekali tidak mengganggu saya yang tidak menyukai ke-tidak-masuk-akal-an. Tetapi, malah membuat saya semakin terkagum akan imajinasi dan detail-nya ia pada saat bercerita dan membawa saya seakan  berada di dalam cerita tersebut, melihat, segala kejadian yang diceritakan penulis yang telah menerbitkan lebih dari 10 buku ini.

Buku ini menjadi salah satu novel fiksi terbaik yang pernah saya baca. Jika ada nilai 4,5 di Goodreads, akan saya beri. Tetapi tidak ada, jadi saya beri nilai 4.

Bagi saya, yang terbaik dari buku ini adalah bagaimana Murakami dapat menyulap pembaca mempunyai imajinasi bagaimana, semisal, ruangan yang diceritakannya tergambar, atau bentuk muka dari tokoh-tokoh yang dibuatnya.

Bagian terbaik yang lainnya, bagi saya, adalah bagaimana Murakami dapat mewajibkan bagi saya membuat sebuah dugaan bagaimana cerita ini berlanjut atau berakhir.

Saya tak perlu menjelaskan bagaimana selesainya buku ini, yang jelas, yang saya butuh sekarang adalah: mendiskusikannya

Happy Reading!

P.S.: Ada bagian di mana pembaca akan kaget dan bergumam, “mengapa ada konten semacam ini?” setidaknya, menurut saya.

Sepuluh-empatpuluh

Setanpun enggan melihat blog ini setelah vakum begitu lamanya. Maka tugas penulis adalah memberitahu malaikat untuk mengusir setan sehingga blog ini bisa dilihat lagi oleh beberapa pengikutnya. Bukan, saya bukan nabi.

Tahukah engkau bahwa menulis membuat masalah yang ada di pikiran menjadi sedikit enteng? Bukan hilang masalahnya, tetapi berkurang bebannya. Cobalah. Sesekali.

Maka dari itu tulisan ini dibuat untuk mengentengkan beban pikiran selama penulis tak menulis. Beban 4 bulan tidak menulis.

Anggap saja anak TK, dan ia bicara, “masalah itu pasti ada jalan keluarnya. Entah lewat air mata, solusi tak terduga, bahkan bunuh diri saja. Tinggal bagaimana cara menyikapinya, bukan?”

Puitis? Memang. Dalam puisi tak ada batasan. Tak ada aturan. Mengerti apa tidak engkau? Engkau mengerti tidak? Apa engkau mengerti? Sesukamu. Tapi perasaan tak bisa sesukamu.

Mati rasa? Apa rasa itu yang mati? Sakit hati? Atau hati yang disakiti? Peduli setan? Apa setan yang peduli? Apapun. Sesukamu.

Jangan menggelengkan kepala. Persepsi engkau hanya untuk engkau. Bukan untuk disebarkan. Persepsiku, persepsiku. Persepsimu, persepsimu. Selamanya tak akan sama.

Lalu, buat apa manusia dibuat berbeda-beda?

Engkau adalah engkau. Engkau bukan aku.

Omong kosong? Jangan terlalu defensive, pikirkan dahulu.

Andai, semua bisa berpikir. Andai.

Hukum gravitasi tak ada. Semua makhluk tak akan pada tempatnya. Termasuk hati, rasa, dan pikiran.

Lalu, buat apa ada Tuhan?

Kalau engkau berkata, “Hidup tak adil,” maka tantanglah Tuhan. Sekali-kalinya engkau menantang, maka sekali-kalinya engkau akan berhenti menentang. Jangan. Jangan sekali-kalinya berani.

Jika engkau pendendam, maka engkau tak percaya Tuhan.

Jika engkau pendendam, maka engkau melangkahi-Nya. Engkau bersikap lebih dari Yang Maha Adil, bukan?

Jika engkau mendendam karena Tuhan (menurut kau) tak adil, maka cepat atau lambat, pertanyaanmu akan terjawab.

Hanya Tuhan dan penulis yang mengerti. Kecuali kau memang suka puisi. Sesukamu.

Anggaplah sebuah tulisan ini hanya kata pengantar blog ini yang sudah mulai usang, sunyi, atau gelap. Selanjutnya akan ada beberapa lampu yang akan menyala, kemudian mulai menulis (lagi).

Sepuluh-empatpuluh.

Tentang Kebiasaan

Kebiasaan adalah sesuatu yang dilakukan secara berulang-ulang tanpa sadar. Secara tidak langsung, ya. Kebiasaan itu kita lakukan secara stagnan, biasanya nggak ada perkembangan.

Kenapa bisa saya sebut nggak ada perkembangan? Karena biasanya kebiasaan itu ya cuma gitu-gitu aja. Dilakukan karena kita sendiripun terkadang nggak menyadarinya. Biasanya kebiasaan itu kebanyakan buruk.

Berdasarkan observasi pandangan saya terhadap kebiasaan, kebiasaan itu tumbuh dari sesuatu yang tidak biasa. Konsep sederhananya, tidak bisa – bisa – kebiasaan – budaya.

Budaya adalah point terakhir. Karena biasanya sudah dianggap budaya jika dilakukan oleh khalayak masyarakat. Kalau masih kebiasaan, biasanya masih dilakukan satu-dua orang. Masih per-individu istilahnya.

Nah, sekarang masalahnya adalah kesadaran atas kebiasaan itu sendiri. Kebiasaan itu ada yang baik, adapula yang buruk. Yang mau saya tekankan disini adalah kebiasaan-kebiasaan buruk yang patut dihilangkan kalau ternyata kita sadar.

Secara tidak langsung, apa yang kita lakukan secara stagnan, akan menjadi sebuah kebiasaan. Secara umum, kita bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah, tetapi kadangkala hati tertutup dengan emosi sehingga keduanya menjadi terbalik.

Pernah suatu ketika, pelatih basket saya mengingatkan saya, “Jangan males, Sa. Nanti jadi kebiasaan, lho.” Dan yang benar saja, kalimat tersebut seakan-akan masih berjalan santai di pikiran saya. Awalnya memang dari yang kecil terlebih dahulu. Lama-kelamaan akan menjadi besar, kemudian kita terbuai, tak sadarkan diri atas apa yang kita lakukan.

Ketakutan terbesar saya terhadap suatu kebiasaan adalah kebiasaan tersebut membabi buta sampai kita dewasa. Ambil saja contoh, dari kecil misalkan kita sudah berani berbohong. Mungkin dari hal yang paling kecil misalkan uang jajan. Tak bisa dihindari, mungkin pada saat dewasa nanti kita akan korupsi.

Contoh yang kedua ini mungkin sedikit nyelekit hati tersangkanya. Dalam hubungan cinta-cintaan, ada beberapa teman saya yang berpikir, “Gapapalah gue have fun sama cewek/cowok lain walaupun gue udah punya pacar. Nakalnya sekarang, nanti pas udah dewasa nggak gatel lagi kok..” Lha, sekarang masalahnya, kalau pas muda udah cari masalah begitu, emangnya pas udah dewasa nanti nggak terbesit bakal ngelakuin hal yang sama? Secara nggak langsung iya, udah janji sekarang nggak ngelakuin itu lagi pas udah dewasa, cuman kan namanya setan pasti ada aja terbesit. Moga-moga nggak ngelakuinnya pas udah berumah tangga aja..

It’s all about habit, Bro. Kalau dari kecil aja udah kebiasaan nggak baik, gimana mau jadi yang terbaik kalau udah dewasa nanti?

Jadi-jadi-jadi, kesimpulannya, sekarang kan udah dewasa nih, udah bisa dan mengerti cara bedain mana yang benar mana yang salah. Apalagi menyangkut-paut soal kebiasaan. Kebiasaan yang dilakukan sehari-hari tanpa adanya paksaan. Jadi, hal-hal yang salah, kalau bisa diperbaiki atau kalau memang benar salah, ya dihilangkan saja dari peradaban.

Biar semuanya lebih baik..

Quality Time

Kali ini saya akan membahas tentang betapa pentingnya orang tua, dan waktu dengan keluarga. Dua hal ini sangat berkaitan dalam kebaikan, namun pasti diantara kita ada yang kurang acuh terhadap kedua hal tersebut, termasuk saya..

Keluarga adalah organisasi pertama yang kita naungi. Sejak dari janin, kita sudah diberikan pelajaran-pelajaran oleh orang tua kita yang (mungkin) kita tak ingat. Keluarga-pun adalah sekolah pertama yang kita naungi sebelum masuk ke sekolah beneran. Lalu, dalam keluarga, kita banyak belajar, dari hal-hal kecil, sampai hal-hal yang besar. Dalam keluarga, kita ditempa menjadi seseorang. Entah itu seseorang yang hebat, maupun seseorang yang (naudzubillahminzalik) buruk. Tak jarang, jika keluarganya (maaf-maaf) kurang baik, maka anak-anaknya pun juga seperti itu. Dan bagaimana kita menilai kadar baik atau tidaknya sebuah keluarga? Menurut saya dari orang tua nya.

Ada hadits yang menjelaskan betapa pentingnya peranan orang tua terhadap anak. Rasulullah Saw ditanya tentang peranan kedua orang tua. Beliau lalu menjawab, “Mereka adalah (yang menyebabkan) surgamu atau nerakamu.” (HR. Ibnu Majah). Dalam artian, kalau berbakti kepada orang tua, kita bisa masuk surga. Dan kalau bersikap durhaka, kita bisa masuk neraka.

Saya ingat, ibu saya pernah berkata, “Dek, kalau kamu punya anak nanti, kamu kalau ngasih tau jangan teriak-teriak, nanti anaknya ikutan, lho..” dan kalimat ibu saya ini sungguh terbukti. Saya sering memperhatikan cara berinteraksi teman saya. Dan saya coba main ke rumahnya. Alhasil, pada saat ke rumah teman saya tersebut, cara orang tua nya berinteraksi, tidak jauh berbeda dengan anaknya.

Kalimat ibu saya tersebut tidak berlaku hanya pada ucapan, tetapi juga tindakan. Secara tidak langsung, apa yang orang tua kita lakukan, kita akan mencontohnya. Secara tidak langsung, ya. Entah itu turunan dari gen orang tua kita, atau memang kita mencontohnya.

Kita sebagai anak yang baik harus mencontoh apa yang orang tua kita lakukan, tetapi jangan bodoh. Maksudnya jangan bodoh, kalau orang tua melakukan tindakan yang buruk, ya jangan dicontoh. Semisal, orang tua kita merokok, ya jangan dicontoh. Kalau memang dicontoh berarti kita gagal menjadi anak yang baik. Pun begitu juga dengan orang tua. Orang tua harus memberikan contoh yang baik oleh anaknya sehingga anaknya bisa mencontoh apa yang mereka lakukan.

Sebagai contoh, bapak saya itu perokok. Tetapi, bapak saya tidak pernah melarang saya merokok. Toh, pun kalau melarang, saya pun bisa menuntut balik kenapa beliau merokok. Memang terkesan tidak etis karena membantah orang tua, tetapi memang begitu adanya. Orang tua harus memberikan contoh yang baik.

Memang, kita telah diajarkan banyak hal dari orang tua kita sejak kita belum mengerti apa-apa. Istilahnya kita itu set by default. Tetapi kita tidak boleh menerimanya begitu saja, dong? Masa’ iya kita pasrah saja tentang apa yang diajarkan oleh orang tua kita. Apalagi kalau diajarkan yang tidak baik. Harus dipikir ulang beribu kali rasanya.

Nah, point yang saya ingin tekankan ada pada pembahasan berikut.

Maksud dari quality time adalah, menghabiskan waktu dengan keluarga. Saya baru menjadi anak kos. Saya pulang ke rumah seminggu sekali, setiap hari Sabtu, dan balik ke kosan lagi hari Senin pagi. Saya jadi anak kos jalan empat bulan. Dan saya merasakan betapa nikmatnya kumpul dengan keluarga di akhir minggu.

Memang, terkesan sedikit berlebihan, mungkin. Tetapi, begitulah memang. Keluarga saya sering membuka pembicaraan mengenai hal-hal tentang masa depan, keluarga, saudara, atau hal-hal lainnya setelah makan malam. Di meja makan, kita banyak belajar. Dan ini berjalan sudah cukup lama. Dari situ saya banyak belajar, dari forum keluargalah istilahnya. Saya mendengar dengan baik apa yang orang tua saya utarakan, atau berbagi pendapat dengan kakak-kakak saya. Dan dari berbagi pendapat tersebut kita bisa mendapatkan hal yang bisa kita pelajari, entah itu untuk masa depan kita maupun untuk sekarang.

Rasanya hal ini harus dicoba untuk dilakukan. Berkumpul dengan keluarga. Entah itu sehabis makan malam, nonton TV bareng di kamar orang tua, makan malem bersama di luar rumah, dan hal-hal yang lainnya. Karena, kemungkinan besar kita akan menyesal dan kangen karena telah menyia-nyiakan waktu kita bersama keluarga setelah kita sudah dewasa nanti. Saya yakin itu..

Lalu, sudahkah kita menyempatkan waktu untuk menelpon dan menanyakan kabar orang tua kita di sela-sela kesibukan kita? Pernahkah kita berpikir bahwa orang tua kita sangat merindukan kehadiran kita? Tahukah bahwa orangtua terkadang segan menelpon kita karena takut mengganggu? Sudahkah kita memberikan “Quality Time” untuk keluarga kita?

The Best Thing to spend on your family is your TIME. Bahwa keluarga adalah harta yang harus kita jaga selalu. Bahkan tak ternilai. Dari keluarga kita diajarkan untuk berjalan. Lalu, jangan berlari meninggalkannya begitu saja. :)

Image
Keluarga tercinta.

Mari Bersedekah!

Di kesempatan kali ini, saya akan membahas tentang manfaat-manfaat memberi atau yang biasa disebut sedekah. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa kita hidup sebagai makhluk sosial. Dalam kata lain, tidak bisa hidup sendiri. Apa-apa yang kita perlukan dalam dunia ini menyangkut orang lain. Memberi dan menerima pun rasanya sudah menjadi hal yang menjadi sangkut-paut dalam kehidupan sosial. Masalahnya adalah rasa untuk memberi pada sesama cenderung dilupakan. Tidak banyak yang tahu bahwa ternyata dibalik “memberi” itu, banyak manfaatnya. Apa sajakah itu?

Ada pepatah mengatakan, “lebih baik memberi daripada menerima,” atau pepatah lain, “lebih baik tangan di atas daripada tangan di bawah.” Rasanya pun memang lebih baik begitu. Kalau dipikir-pikir, meminta-minta atau mengemis itu tidak etis karena terkesan seperti orang yang tidak punya atau miskin.

Dalam islam pun kita diajarkan untuk tidak mengemis. Abdullah bin Umar radhiallahu’anhuma berkata, Nabi shallallahu’alaihi wassalam bersabda bahwa, “Terus-menerus seseorang itu suka meminta-minta kepada orang lain hingga pada hari kiamat dia datang dalam keadaan di wajahnya tidak ada sepotong dagingpun.” (HR. Al-Bukhari no. 1474 dan Muslim no. 1725) atau dalam hadist lainnya, “Barang siapa meminta-minta kepada orang lain tanpa adanya kebutuhan, maka seolah-olah ia memakan bara api.” Begitu mengerikannya perumpamaan orang yang mengemis-ngemis. Lalu, bagaimana orang yang bersedekah?

Bersedekah adalah solusi bagi segala masalah. Saya percaya itu. Dan yang suka menjadi masalah dalam sedekah adalah ikhlas atau tidaknya seseorang dalam sedekah tersebut. Banyak yang beranggapan bahwa, “Gue sedekah 2ribu yang penting gue ikhlas!” atau seperti, “Sedekah 10ribu kayaknya kebanyakan, deh. Lagian kalau gue kasih segitu, pasti nanti dibuat macem-macem duitnya.” Dalam kasus ini, saya masih sedikit bingung. Karena yang namanya ikhlas, bukannya mengeluarkan uang yang banyak? Kalau 2ribu bukannya nggak ikhlas ya? Coba dipikir hehehe. Lain lagi tentang masalah yang sedekah kebanyakan. Kalau itu, menurut saya, masalah si penerima sedekahnya mau dipake untuk apa duitnya, ya itu urusan dia. Yang penting kita sudah memberi.

Dalam Al-Qur’an dan hadist sudah dijelaskan bahwa, ”Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (pembayarannya oleh Allah) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (QS.Al-Hadid:18) dan “Sesungguhnya sedekah seseorang walau hanya sesuap, akan dikembangbiakkan oleh-Nya seperti gunung, maka bersedekahlah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Jadi, nggak usah takut miskin kalau sedekah. Malah akan dilipat gandakan harta kita. “Harta itu tidak akan kurang dengan disedekahkan.” (HR. Imam Muslim).

Dalam suatu hadist juga pun, sedekah itu menjauhkan kita dari musibah. Dari Ali bin Abi Thalib r.a., Rasulullah saw. bersabda, “Segeralah bersedekah, sesungguhnya musibah tidak dapat melintasi (mendahului) sedekah.” Jadi, kalau mendapati sebuah musibah, entah itu handphone rusak, putus cinta, kecelakaan, dan lain-lain, mungkin karena sedekahnya kurang hehehe.

Sebagai contoh, saya punya cerita unik dan mencengangkan soal sedekah. Tetapi cerita ini tidak ada maksud untuk menyombongkan diri. Cerita ini hanyalah sebuah kehendak dari Allah, agar bisa menjadi manfaat bagi orang banyak, InshaAllah.

Subhanallah. Kata pertama saya yang saya ucapkan saat semuanya terjadi karena kehendak-Nya. Saya adalah penjual Jersey Bola. Barang tersebut diimpor langsung dari negeri tetangga, Thailand. Saya berjualan terhitung dari akhir November 2010. Saat itu saya masih duduk dikelas 1 SMA, dan berumur 15 tahun.

Saya membaca Notes From Qatar 1 pada pertengahan Mei 2011. Alhamdulillah, penulisnya, Muhammad Assad, telah membukakan hati saya tentang hebat nya bersedekah. Mulai dari situ saya memberanikan diri untuk sedekah yang sedikit lebih besar dari sebelumnya. Kalau dulu, sedekah nya dari sisa-sisaan kembalian membeli barang. Kalau sekarang, tak ada kembalian. Adanya utuh masuk ke kotak amal. Alhamdulillah..

Saya jualan Jersey Bola sistem nya per-kloter. Kurang lebih jangka waktu satu kloter ke kloter lainnya adalah satu bulan. Rata-rata, order yang saya dapat dari per-kloter, kurang-lebih, 20an. Paling banyak waktu itu adalah 32pcs order. Karena yang biasa membeli teman-teman saya, jadi pasar jualan saya ya ke teman-teman saya saja. Kalau adapun orang yang tidak dikenal memesan, tidak masalah, tetapi jarang. Saya pun lebih aktif didunia online dalam memasarkan barang.

Pada Februari 2012 lalu, orderan saya agak berbeda dari sebelum-sebelumnya. Teman saya, tiba-tiba datang kepada saya lalu berkata, “Sa, om gue mau order sebanyak 150pcs. Dapat harga berapa nih?” Alhamdulillah. Saya lupa karena saya sedekah apa, tetapi yang jelas saya percaya bahwa itu karena sedekah. Setelah negosiasi yang cukup panjang, akhirnya ter-orderlah barang itu sebanyak 144pcs.

Distributor saya yang biasanya mendapati order dari saya sedikit, kali ini agak bingung. “Sa, itu siapa yang order sebanyak itu?” Saya pun menjawab, “Om-nya teman saya, Mas. Orang DPR.” Tadinya, teman saya tidak mau order ke saya. Dia masih mencari penjual lain yang menjual barang tersebut lebih murah. Tetapi karena kehendak Allah, mungkin dia akhirnya memilih saya. Karena teman dekat juga. Jadi, urusan negosiasi tidak ribet.

Banyak kendala yang dialami ketika barang telah diorder. Dari masalah DP yang biasanya 50% menjadi 75%, maupun estimasi barang dari Thailand ke Indonesia. Tetapi, setelah melalui banyak kendala dan masalah, akhirnya barang tersebut sampai juga. “Alhamdulillah,” ucap saya. Profit yang saya dapat waktu itu, kurang-lebih sekitar 3,5juta rupiah. Seorang anak berumur 16 tahun yang masih duduk dikelas 2 SMA mendapatkan untung sebanyak itu patut nya hanya bersyukur, bersyukur, dan bersyukur.

Pada Februari 2012 itu saya sedang membaca Notes From Qatar 2. Kembali, sang penulis, Muhammad Assad telah membuka hati saya jauh lebih lebar tentang sedekah. Pada saat itupun saya sedang berada dalam puncak kegembiraan karena telah mendapat uang yang cukup banyak. Dan dalam kegembiraan tersebut, saya memberanikan diri untuk menyumbangkan uang saya sebanyak 1,5juta rupiah. Setelah berunding dengan orang tua saya, khusus nya bapak saya, akhirnya saya diberi izin untuk menyedekahkan uang tersebut. Awalnya bapak saya sedikit keberatan dengan keputusan saya mengingat uang banyak untuk anak muda ya patutnya ditabung. Tetapi setelah saya jelaskan dengan mantap, akhirnya diizinkan. Alhamdulillah, terlaksana dengan ikhlas.

Sebagaimana telah ditulis dalam surat Al-Baqarah ayat 261, bahwa;

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.

Dan Allah tak pernah dan tak akan pernah ingkar janji. Setelah penantian lama, akhirnya keajaiban itu datang juga. Pada September 2012, teman saya yang pada Februari 2012 itu memesan sebanyak 150pcs, pada bulan September itu dia memesan lagi. Kali ini.., “Sa! Om-gue mau pesan Jersey lagi tuh! Banyak banget, Sa!” Saya pun bingung dan bertanya, “Berapa banyak memangnya?” Dan teman saya pun menjawab dengan senyum, “500pcs, Sa..” Subhanallah. Maha Besar Kuasa-Nya. Saya pun sedikit tidak percaya atas orderan sebanyak itu. Distributor saya pun sangat kualahan karena dia juga tidak pernah mendapatkan order sebanyak itu.

Kembali, banyak kendala dan masalah ketika proses orderan tersebut dibuat. Entah karena barang nya nggak ada, ataupun barang telat dari jadwal yang seharusnya. Tetapi pada akhirnya barang tersebut bisa sampai dengan selamat. Walaupun tidak sebanyak yang diorder, tetapi saya tetap bersyukur. Alhamdulillah, keuntungan yang saya dapat, kurang-lebih sebesar 8juta rupiah.

Pada akhirnya semua kembali kepada Allah. Tuhan semesta alam. Yang menghendaki semua perkara maupun urusan. Alhamdulillah, syukur tak ada habisnya. Di umur saya yang cukup muda, saya sudah mendapatkan banyak pelajaran yang berharga tentang sedekah.

Namun satu hal yang patut diingat! Allah tak selalu memberikan balasan sedekah dengan UANG. Jangan salah kaprah. Karena Allah maha Mengetahui apa yang hamba-Nya butuhkan. Jadi, bisa saja Allah memberikan balasan dengan memberikan kita kesehatan, memberikan rezeki melalui orang tua kita, menjauhkan kita dari musibah, dan lain-lain. Jangan lupa untuk berdoa juga, karena sedekah diiringi doa itu amat dahsyat!

Sebagai penutup, ada satu kisah pada zaman Nabi saw. yang mana seseorang yang banyak hutang berdiam di masjid di saat orang-orang bekerja. Ketika ditanya oleh Nabi saw., orang tersebut menjawab bahwa ia sedang banyak hutang. Yang menarik adalah Nabi saw. mengajarkan beliau sebuah doa, yang mana doa tersebut tidak menyebut sama sekali “Bukakanlah pintu rezeki” atau “Perbanyaklah rezeki saya sehingga bisa membayar hutang”. Tetapi doa yang diajarkan oleh Nabi saw. adalah meminta perlindungan dari rasa malas dan bakhil (pelit). Hadist-hadist di atas menjelaskan tentang doa ini, bahwa ke-tidak-pelitan seseorang untuk bersedekah membuka pintu rezeki orang tersebut. Doa tersebut adalah: “Ya Allah! Aku berlindung kepada-Mu daripada kegundahan dan kesedihan, daripada kelemahan dan kemalasan, daripada sifat pengecut dan bakhil (pelit), daripada kesempitan hutang dan penindasan orang.” Dalam keadaan sempit pun, kita diharuskan untuk bersedekah.

Dan penutup tulisan kali ini, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa bersedekah dengan sesuatu senilai satu buah kurma yang diperolehnya dari hasil kerja yang baik, bukan haram, dan Allah itu tidak akan menerima kecuali yang baik. Maka sesungguhnya Allah akan menerima sedekah orang itu dengan tangan kanannya, sebagai kiasan kekuasaanNya, kemudian memperkembangkan pahala sedekah tersebut untuk orang yang melakukannya, sebagaimana seseorang dari engkau semua memperkembangkan anak kudanya sehingga menjadi seperti gunung – yakni memenuhi lembah gunung karena banyaknya.” (Muttafaq ‘alaih, dari Abu Hurairah r.a.)

InshaAllah, semua akan menjadi berkah jika kita bersedekah. Lalu, sudahkah anda bersedekah hari ini? :)

Bernafaslah, Tersenyumlah, dan Bersyukurlah

Dalam tulisan kali ini, saya mencoba untuk membahas tentang kejadian-kejadian sehari-hari yang (mungkin) sepele, tetapi banyak manfaatnya. Yaitu, bernafas, tersenyum, lalu bersyukur. Kenapa saya mencoba membahas hal ini? Karena saya sering melihat hal-hal sepele yang bermakna ini, jarang diterapkan oleh orang-orang di sekitar saya. Khususnya teman-teman saya. Saya pun terkadang lupa menerapkan hal-hal yang sepele ini. Tapi setelah saya coba terapkan, banyak manfaatnya.

Setiap manusia pasti mempunyai kesibukan masing-masing. Dan tak jarang, kesibukan tersebut membuat kita lupa dengan hal-hal yang sepele. Dan kebanyakan, hal-hal sepele yang kita lewatkan itu adalah hal sepele yang ternyata banyak manfaatnya. Kesibukan tersebut seakan membuat kita lupa berbagai hal. Jangankan hal-hal sepele, hal yang penting pun terkadang kita lupakan, saking sibuknya.

Dari kesibukan tersebut pula, kita mendapatkan banyak derita. Biasanya, kesibukan yang tak berujung bisa menyebabkan depresi, stress, galau, sakau. Sakau disini artinya, “Sakit Karena Engkau,” ya. Bukan sakau narkoba.

Selain kesibukan, terkadang banyaknya jam kosong yang membuat kita kerjaannya cuman bengong melompong juga menjadi penyebabnya. Apalagi kalau bengongnya udah menyangkut paut soal rezeki. Dari bengong melompong, ujung-ujungnya jadi ngelah-ngeluh nggak jelas. Tuhan dituntut, “Ya, Tuhan, kenapa Engkau memberiku rezeki yang tidak sepadan dengan si A, si B, si C……..si Z.” kurang lebih seperti itu.

Sekarang masalahnya adalah apa iya kita akan terus sibuk lalu lupa bersyukur ataupun bengong lalu sibuk mengeluh? Kemudian..

Bernafaslah
Terkadang, kita lupa akan apa yang sudah Tuhan berikan kepada kita. Salah satu hal sepele yang kita lupakan adalah bernafas. Tanpa nafas, kita mungkin hanya seonggok tulang yang tak bergerak. Ataupun segumpal organ yang tak berfungsi. Kemudian untuk apa Tuhan memberikan kita kemampuan untuk bernafas kalau bukan untuk menyembah-Nya? Kita diberikan kesempatan selama 24 jam non-stop setiap harinya untuk bernafas, tetapi kita sering menyepelekannya. Pernahkah kita pada satu waktu menikmati nafas dan kemudian bersyukur atas yang diberikan-Nya? Pada satu contoh, banyak orang yang (maaf) sakit pernafasan. Entah itu asma, kanker, atau penyakit lainnya yang jelas menyakitkan. Dan kita yang sehat, malah melupakan nikmatnya rasa bernafas tersebut. Rasa-rasanya, hanya dengan menjaga ciptaan-Nya pun sudah lebih dari cukup. Terkadang kita khilaf, sering merusak organ paru-paru kita dengan asap-asap yang tak bertanggung jawab. Sehingga (mungkin) nantinya kita nggak akan bisa bernafas seperti biasanya lagi. Lalu bernafaslah, sebelum nafas itu menghilang. Nikmatilah, sebelum nafas itu menghilang. Dan, fyi, bernafas dalam-dalam (menghirup udara dari hidung lalu mengeluarkannya lewat mulut pelan-pelan) bisa membuat kita lebih tenang dan berpikir lebih jernih.

Tersenyumlah
Tuhan telah memberikan ekspresi terbaik dalam setiap orang yaitu tersenyum. Bahkan jatuh cinta pun tak luput dari sebuah senyuman hehehe. Kalau kita tidak menjaganya, lalu apa yang menghiasi wajah kita? Keseringan dari kita memberi ekspresi cemberut jika ada hal-hal yang tidak sejalan dengan keinginan kita. Wajar sih, tapi masa iya terus-terusan cemberut? Tersenyum itu memberi reaksi positif. Secara tidak langsung, orang yang kita senyumi atau yang tersenyum menjadi lebih gembira hatinya. Disadari maupun tidak, lho. Coba saja. Yang jelas, ketika ada suatu masalah dalam hidup kita yang tidak sesuai dengan keinginan kita, cobalah untuk tutup mata sejenak dan tersenyum. Niscaya, pikiran positif akan datang begitu saja. Bukankah Allah telah menjelaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 216: “…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” Intinya, apapun masalah yang dihadapi, tetap tersenyumlah. Pada satu contoh, orang-orang jalanan yang tidak mempunyai rumah saja masih bisa tersenyum ketika ia mendapatkan uang dari apa yang mereka kerjakan. Sedangkan kita yang mempunyai apa yang mereka tidak punya, masih cemberut? Coba pikir ulang. :)

Bersyukurlah
Dan point yang ini adalah pelengkap dari point-point sebelumnya. Sebagai manusia kita suka khilaf, pada saat kita mendapatkan apa yang kita mau, kita lupa bersyukur. Ketika kita tidak mendapatkan apa yang kita mau, kita malah mengeluh. Jadi Raisa, serba salah. Dalam hal ini seharusnya ketika kita mendapatkan apa yang kita mau, tentu kita harus bersyukur. Ketika kita tidak mendapatkan apa yang kita mau, kita harus bersabar. Sabar itu unlimited, lho. Bersyukur itu nggak ribet, kok. Simple saja, dengan mengucap “Alhamdulillah” kita sudah bersyukur atas apa yang diberikannya. Sungguh, bersyukur itu sangat bermanfaat. Kenapa saya bilang sangat bermanfaat? Ketika kita bersyukur, Tuhan akan memberikan kita nikmat yang berlebih. Tetapi ketika kita mengeluh bahkan kufur nikmat, azab dari Nya amat pedih. Jadi, pada satu contoh, ketika kita punya motor, bersyukurlah. Siapa tau Tuhan memberikan kita rezeki berlebih karena kita bersyukur dengan memberi kita mobil. Janganlah sekali-sekali mengeluh. INGAT, masih banyak mereka yang tidak punya motor. Apapun yang kita punya, bersyukurlah. Karena semua nikmat dari Nya pasti ada maksud dan tujuannya. Sebagai penutup point ini, Rasulullah bersabda, “Lihatlah orang yang di bawah kalian dan janganlah melihat orang yang di atas kalian, karena yang demikian itu lebih layak bagi kalian untuk tidak memandang rendah nikmat Allah yang dilimpahkan kepada kalian.” (HR Muslim dan Tirmidzi)

Pada akhirnya jika kita bersyukur, dengan sendirinya kita akan menghargai nikmat dari bernafas dan tersenyum. Walau memang sulit dilakukan, apalagi ketika kita mendapatkan musibah. Sulit sekali rasanya tetap bersyukur. Tetapi percayalah, dalam setiap musibah, pasti ada hikmahnya. Disadari dengan cepat maupun lambat, yang jelas pasti ada.

Dengan bersyukur, kita mengerti apa yang mereka tidak dapatkan. Dengan bersyukur, kita mengerti arti dari menghargai. Dengan bersyukur, yang jelas, semua lebih indah.

Note: Kutipan Surat dan Hadist, dikutip dari buku Notes From Qatar karya Muhammad Assad.