Waktunya Sadar Untuk Mengemudi dengan Baik

Agaknya, orang-orang saat ini dalam hal mengemudi, khususnya remaja, terinspirasi dari menangnya rookie Marc Marquez pada saat ia menyalip Jorge Lorenzo di tikungan terakhir seri Jerez tahun 2013. Kewarasan dalam hal mengemudi mobilpun tak kalah menariknya. Sebastian Vettel yang menjadi anutan utama dalam benak remaja (mungkin), nyatanya gagal dan kerap menjadi tragedi yang memakan korban. Lalu, apa yang mempengaruhi para pengemudi jalan sehingga menjadikan kebanyakan dari mereka seperti orang yang sedang berkendara di Sepang?

Faktor-faktor internal terkadang menjadi penyebab utama para pengemudi jalanan ini. Emosi yang tinggi menjadi prinsip utama para pengemudi, sehingga jika mereka disalip sedikit oleh kendaraan lainnya, tak jarang mereka akan menyusulnya dan dijadikannya jalanan tersebut sebagai tempat drag sesaat. Hal ini merupakan hal yang wajar, mengingat tingkat ke-sensitive­-an, ke-“ge’er”-an maupun kepedean masyarakat kita cukup tinggi. Kesadaran terhadap, “keselamatan orang lain juga merupakan keselamatan diri sendiri” masih menjadi sesuatu yang tabu. Contohnya, tak sedikit pengemudi yang belok seenaknya tanpa mengasih lampu sen ataupun menyalip kendaraan melalui jalur sebelah kiri.

Hal lain yang menjadi salah satu alasan para pengemudi jalanan ini memacu kendaraannya hingga batas maksimal kendaraannya adalah: waktu. Kita tahu sendiri bahwa di masyarakat kita ada sebutan, “waktu karet”. Waktu ini sangat fleksibel, sehingga terkadang kita sendiripun tidak tahu kapan batas dari jam seharusnya. Dan yang menjadi kendala masyarakat kita ketika waktu karet ini tidak berlaku adalah pada saat mereka berkerja dengan perusahaan luar negeri. Tak usahlah dibandingkan kita dengan orang luar negeri, seberapa hormatnya terhadap waktu. Yang jelas, kalau ada pengemudi yang “colongan” lampu merah pada pagi hari, ia pasti mengejar waktu, itupun menerobos jikala tak ada polisi yang siap sedia menindak para pengemudi gatal ini.

Pemikiran pendek para pengemudi juga sering menjadi alasan utama kenapa bisa terjadi sebuah kecelakaan. Statistik menunjukan bahwa dari tahun 1992 sampai dengan tahun 2012 jumlah kecelakaan setiap tahunnya mengalami peningkatan, kalau dirata-rata. Ini menunjukan betapa rendahnya kesadaran mengemudi yang baik dalam benak masyarakat kita. Lantas, bagaimana caranya menge-check seberapa baik tingkat kesadaran mengemudi masyarakat? Tak usah sulit-sulit, cobalah untuk berhenti di lampu merah pada saat malam hari, pada saat jalanan sepi. Lalu perhatikan berapa banyak kendaraan yang menerobos lampu merah tersebut. Itu menunjukan betapa rendahnya kesadaran mengemudi yang baik dalam masyarakat kita. Jangankan malam hari, pada saat sore hari ketika jalanan sedang rame-ramenya oleh pengemudi yang pulang kerjapun lampu merah menjadi rasa lampu hijau.

Memang, anggapan bahwa diri kita paling benar jika terjadi kecelakaan adalah hal yang wajar di lubuk masyarakat kita. Adu ngotot antara korban kecelakaan kerap menjadi tontonan bagi pengemudi lainnya sehingga membuat jalanan tersebut macet. Tetapi, alangkah amat baiknya jika kita sebagai orang yang sadar atas bagaimana cara mengemudi yang baik, menurunkan ego kita masing-masing terhadap pengemudi yang belum tersadar hatinya. Kita yang sadar terhadap keselamatan diri kita merupakan keselamatan orang lainpun harus menjadi contoh yang baik di jalanan.

Sadarlah bahwa ada yang menunggu di rumah. Sadarlah bahwa jalanan bukan ajang adu skill maupun kendaraan untuk menjadi yang terkdawa karena menghantam orang.

Soal Memenangkan Indonesia: Mau Urun Angan atau Turun Tangan?

Oleh Anies Baswedan.

Indonesia harus diurus oleh orang baik: bersih dan kompeten. Republik ini didirikan oleh para pemberani. Kaum terdidik yang sudah selesai dengan dirinya. Efeknya dahsyat. Bung Karno dan generasinya membuat sebangsa bergerak. Semua merasa ikut punya Indonesia. Semua iuran tanpa syarat demi tegaknya bangsa merdeka, berdaulat. Ada yang iuran tenaga, pikiran, uang, barang dan termasuk iuran nyawa. Tapi merdeka itu bukan cuma soal menggulung kolonialisme, merdeka adalah juga soal menggelar kemakmuran dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Kini pada siapa Republik ini akan dititipkan untuk diurus?

Besok kita akan menentukan. Semua yang terpilih dalam Pemilihan Umum ini akan mengatasnamakan kita semua 24 jam sehari, 7 hari seminggu selama 5 tahun ke depan. Semua perkataan, perbuatan yang dilakukan adalah atas nama kita semua. Semua Undang-Undang dan Peraturan Daerah yang dibuatnya akan mengikat kita semua.

Di saat tantangan bangsa ini masih banyak yang basic seperti pangan, kesehatan, pendidikan, pekerjaan, transportasi, atau energi maka apapun partai-nya, tantangan yang harus dijawab sama. Di saat hambatan terbesar negeri ini adalah korupsi, dan hulunya korupsi adalah urusan kekuasaan maka apapun partainya akan berhadapan dengan otot kokoh koruptor yang sama. 

Pemilu ini bukan soal warna partai. Ini soal orang bermasalah dan tak bermasalah. Orang bermasalah ada di berbagai partai. Begitu juga orang baik tersebar di semua partai. Pemilu kali ini harus jadi ajang kompetisi orang tak bermasalah, orang baik lawan orang bermasalah. 

Kita harus memastikan bahwa orang yang terpilih akan hadir untuk mengurus bukan menguras negara. Ini Pemilu ke-4 di era demokrasi, sudah saatnya jadi ajang kebangkitan wong waras, kebangkitan orang bersih, dan jadi penghabisan orang bermasalah. 

Indonesia membutuhkan kemenangan orang baik. Kita perlu orang bersih dan kompeten berbondong-bondong menang dalam pemilihan umum. Persyaratan utama bagi orang-orang baik untuk kalah dan tumbang dalam pemilu adalah orang-orang baik lainya hanya menonton dan tak membantu. 

Indonesia kini penuh dengan penonton: ingin orang baik menang di Pemilu, ingin Indonesia jadi lebih baik tapi hanya mau iuran harap, urun angan. Ada keengganan kolektif untuk terlibat, untuk membantu.

Keengganan dan skeptisisme itu sering dilandasi pandangan: buat apa membantu toh orang-orang baik justru terjerat korupsi. Ini seperti urusan sepatu kotor. Buat apa membersihkan sepatu, toh bisa terkotori lagi. Tapi kalau dibersihkan rutin, dipakai dengan baik, dijaga dari cipratan kotor maka sepatu itu akan aman, akan bersih. Kalau pun terkotori,  tugas kita adalah memastikan bahwa sepatu itu rutin dibersihkan. 

Di Republik ini, tugas kita adalah lima tahun sekali membersihkan pengurus Indonesia dan mengisinya dengan orang-orang tak bermasalah. Kalaupun ada yang terkena masalah, biar diganjar hukuman dan kita ganti. Lalu tiap 5 tahun kita “kirim” orang baik lagi. 

Sejak kapan kita jadi bangsa yang suka putus asa? Tugas kita adalah mensuplai orang baik terus menerus. Kita harus jaga stamina, perjalanan bangsa ini masih amat panjang dan stok orang baik di Republik ini masih amat banyak. Tak ada alasan untuk pamer keluh kesah dan “nglokro”. 

Kita bersyukur saat melihat ada orang baik mau repot-repot masuk politik. Lihat bermunculan orang-orang baik yang terpilih jadi gubernur, bupati, walikota atau anggota dewan perwakilan. Makin panjang deretan nama orang bersih dan kompeten, orang baik yang terpanggil, mau turun tangan. Tetapi mereka semua hanya bisa menang, memegang otoritas jika orang baik lainnya bersedia untuk terlibat dan membantu.

Permasalahan yang dihadapi begitu banyak orang baik yang jadi caleg adalah mereka cenderung dijauhi. Yang menjauhi sering justru lingkungan terdekatnya. Politik di Indonesia hari ini amat rendah nilainya di depan publik. Korupsi yang dilakukan oleh para politisi telah merendahkan makna politik dan politisi. 

Politik dan politisi tidak lagi dipandang sebagai arena perjuangan dan pejuang. Kerja politik dipandang sebagai mata pencaharian dan segalanya harus dirupiahkan. Para calon yang baik itu tergerus oleh opini bahwa semua calon itu sama: sekadar cari kuasa untuk menguras -bukan untuk mengurus- negeri. Orang baikpun makin sedikit yang mau turun tangan. Makin sedikit orang baik yg “siap” dituding sama dengan kelakuan para penguras negeri. 

Jika orang-orang baik hanya mau jadi pembayar pajak yang baik, lalu siapa yang akan mengatur penggunaan uang pajak kita? Keputusan soal kesehatan, pendidikan, perumahan atau tenaga kerja misalnya adalah keputusan politik. Di arena yang oleh publik dipandang rendah, kotor dan tak bernilai itulah keputusan tentang hajat hidup orang serepublik ini dibuat. Patutkah kita diamkan? 

Masih adakah caleg baik? Ya, Indonesia masih punya stok orang baik; orang bersih dan kompeten. Tapi mereka tidak akan bisa menang, mendapatkan otoritas untuk mengatasnamakan kita, untuk mewakili kita, jika kita semua tidak ikut membantu. Sekali lagi, korupsi dalam politik itu merajalela bukan semata-mata karena orang jahat jumlahnya banyak tetapi karena orang-orang baik memilih diam, mendiamkan dan bahkan menjauhi. 

Republik ini adalah milik kita semua. Bukan milik segelintir orang, apalagi orang-orang yang sanggup membayar siapa saja untuk berbuat semaunya.  Berhenti cuma urun angan. Harus mau turun tangan!

Tak semua orang harus ikut partai politik tapi saat pemilu jangan pernah diam, membiarkan orang-orang bermasalah melenggang tak ditantang, tak dihentikan. Pada saat pemilu, harus muncul kesadaran kolektif bahwa ini bukan upacara politik, ini kesempatan menempatkan orang baik jadi pengurus negeri.

Cari dan kenali orang baik dalam Daerah Pemilihan. Atau sekurang-kurangnya orang tak bermasalah. Jangan cari manusia sempurna, takkan ketemu. Cari orang bersih dan kompeten. Lihat track-recordnya, bukan cuma warna partainya. Dan anak-anak generasi baru sudah terlibat, contohnya www.orangbaik.org yang dibuat oleh anak-anak umur 25 tahunan untuk melihat track record semua caleg. Kalau perlu datangi caleg tersebut bukan untuk memberitahu akan mencoblos tapi beritahu bahwa siap untuk membantu untuk bisa menang. 

Bantu orang-orang tak bermasalah di sekitar kita yang terpanggil untuk ikut mengurus Republik, agar mereka bisa menang. Jangan pernah takut mendukung. Di era non-demokratis dulu, sikap mendiamkan dalam sebuah pemilu adalah sikap perlawanan; kini mendiamkan adalah sikap pembiaran atas status-quo. Bukan warna partainya, tapi warna track-recordnya. Ini adalah sikap yang melampaui warna partai; semangatnya adalah mengisi dengan orang baik.

Kini kita menyaksikan gelombang baru yang sedang bangkit. Generasi baru yang bergerak dan membantu karena percaya, ide dan integritas. Bukan generasi yang mau menjual dukungan karena rupiah. 

Pilihan untuk membantu orang baik di dalam Pemilu adalah pilihan sejarah. Hari ini mungkin nampak tak populer, masih nampak aneh jika ada kemauan untuk terlibat dan membantu para caleg tak bermasalah. 

Dunia bergerak ke arah perbaikan tata kelola yang baik (good governance). Korupsi tidak bisa langgeng, ia makin hari makin tergerus. Bayangkan suatu saat kelak, generasi anak-anak kita hidup di era baru dan bertanya: Ayah-ibu, di zaman politik Indonesia masih penuh korupsi, apakah Ayah-Ibu ikut korupsi, atau diam, atau ikut melawan?

Saat itulah pilihan sejarah tadi menemukan jawabnya: jika hari ini Anda mau berbuat, mau terlibat maka sekurang-kurangnya Anda bisa menjawab dengan rasa bangga. “Ayahmu, Ibumu tidak membiarkan dan tak pernah jadi bagian yang membuat Republik ini keropos. Di saat orang berduit membayar dukungan, Ayahmu, Ibumu tak menjual dukungan. Ayah-ibumu membantu orang-orang baik dengan tanpa dibayar. Harga diri Ayah-Ibumu tidak bisa dirupiahkan!” 

Izinkan anak-anak kita bangga saat sadar bahwa mereka mewarisi negeri yang Ayahnya, Ibunya ikut meninggikuatkan. Di saat ada kesempatan mengubah wajah kita sendiri, wajah Indonesia kita, maka kita tak cuma diam. Kita pilih ikut bersihkan Indonesia, jadikan orang baik sebagai pemegang amanah di negeri kita. 

Anies Baswedan

 

Tentang Kebiasaan

Kebiasaan adalah sesuatu yang dilakukan secara berulang-ulang tanpa sadar. Secara tidak langsung, ya. Kebiasaan itu kita lakukan secara stagnan, biasanya nggak ada perkembangan.

Kenapa bisa saya sebut nggak ada perkembangan? Karena biasanya kebiasaan itu ya cuma gitu-gitu aja. Dilakukan karena kita sendiripun terkadang nggak menyadarinya. Biasanya kebiasaan itu kebanyakan buruk.

Berdasarkan observasi pandangan saya terhadap kebiasaan, kebiasaan itu tumbuh dari sesuatu yang tidak biasa. Konsep sederhananya, tidak bisa – bisa – kebiasaan – budaya.

Budaya adalah point terakhir. Karena biasanya sudah dianggap budaya jika dilakukan oleh khalayak masyarakat. Kalau masih kebiasaan, biasanya masih dilakukan satu-dua orang. Masih per-individu istilahnya.

Nah, sekarang masalahnya adalah kesadaran atas kebiasaan itu sendiri. Kebiasaan itu ada yang baik, adapula yang buruk. Yang mau saya tekankan disini adalah kebiasaan-kebiasaan buruk yang patut dihilangkan kalau ternyata kita sadar.

Secara tidak langsung, apa yang kita lakukan secara stagnan, akan menjadi sebuah kebiasaan. Secara umum, kita bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah, tetapi kadangkala hati tertutup dengan emosi sehingga keduanya menjadi terbalik.

Pernah suatu ketika, pelatih basket saya mengingatkan saya, “Jangan males, Sa. Nanti jadi kebiasaan, lho.” Dan yang benar saja, kalimat tersebut seakan-akan masih berjalan santai di pikiran saya. Awalnya memang dari yang kecil terlebih dahulu. Lama-kelamaan akan menjadi besar, kemudian kita terbuai, tak sadarkan diri atas apa yang kita lakukan.

Ketakutan terbesar saya terhadap suatu kebiasaan adalah kebiasaan tersebut membabi buta sampai kita dewasa. Ambil saja contoh, dari kecil misalkan kita sudah berani berbohong. Mungkin dari hal yang paling kecil misalkan uang jajan. Tak bisa dihindari, mungkin pada saat dewasa nanti kita akan korupsi.

Contoh yang kedua ini mungkin sedikit nyelekit hati tersangkanya. Dalam hubungan cinta-cintaan, ada beberapa teman saya yang berpikir, “Gapapalah gue have fun sama cewek/cowok lain walaupun gue udah punya pacar. Nakalnya sekarang, nanti pas udah dewasa nggak gatel lagi kok..” Lha, sekarang masalahnya, kalau pas muda udah cari masalah begitu, emangnya pas udah dewasa nanti nggak terbesit bakal ngelakuin hal yang sama? Secara nggak langsung iya, udah janji sekarang nggak ngelakuin itu lagi pas udah dewasa, cuman kan namanya setan pasti ada aja terbesit. Moga-moga nggak ngelakuinnya pas udah berumah tangga aja..

It’s all about habit, Bro. Kalau dari kecil aja udah kebiasaan nggak baik, gimana mau jadi yang terbaik kalau udah dewasa nanti?

Jadi-jadi-jadi, kesimpulannya, sekarang kan udah dewasa nih, udah bisa dan mengerti cara bedain mana yang benar mana yang salah. Apalagi menyangkut-paut soal kebiasaan. Kebiasaan yang dilakukan sehari-hari tanpa adanya paksaan. Jadi, hal-hal yang salah, kalau bisa diperbaiki atau kalau memang benar salah, ya dihilangkan saja dari peradaban.

Biar semuanya lebih baik..

Quality Time

Kali ini saya akan membahas tentang betapa pentingnya orang tua, dan waktu dengan keluarga. Dua hal ini sangat berkaitan dalam kebaikan, namun pasti diantara kita ada yang kurang acuh terhadap kedua hal tersebut, termasuk saya..

Keluarga adalah organisasi pertama yang kita naungi. Sejak dari janin, kita sudah diberikan pelajaran-pelajaran oleh orang tua kita yang (mungkin) kita tak ingat. Keluarga-pun adalah sekolah pertama yang kita naungi sebelum masuk ke sekolah beneran. Lalu, dalam keluarga, kita banyak belajar, dari hal-hal kecil, sampai hal-hal yang besar. Dalam keluarga, kita ditempa menjadi seseorang. Entah itu seseorang yang hebat, maupun seseorang yang (naudzubillahminzalik) buruk. Tak jarang, jika keluarganya (maaf-maaf) kurang baik, maka anak-anaknya pun juga seperti itu. Dan bagaimana kita menilai kadar baik atau tidaknya sebuah keluarga? Menurut saya dari orang tua nya.

Ada hadits yang menjelaskan betapa pentingnya peranan orang tua terhadap anak. Rasulullah Saw ditanya tentang peranan kedua orang tua. Beliau lalu menjawab, “Mereka adalah (yang menyebabkan) surgamu atau nerakamu.” (HR. Ibnu Majah). Dalam artian, kalau berbakti kepada orang tua, kita bisa masuk surga. Dan kalau bersikap durhaka, kita bisa masuk neraka.

Saya ingat, ibu saya pernah berkata, “Dek, kalau kamu punya anak nanti, kamu kalau ngasih tau jangan teriak-teriak, nanti anaknya ikutan, lho..” dan kalimat ibu saya ini sungguh terbukti. Saya sering memperhatikan cara berinteraksi teman saya. Dan saya coba main ke rumahnya. Alhasil, pada saat ke rumah teman saya tersebut, cara orang tua nya berinteraksi, tidak jauh berbeda dengan anaknya.

Kalimat ibu saya tersebut tidak berlaku hanya pada ucapan, tetapi juga tindakan. Secara tidak langsung, apa yang orang tua kita lakukan, kita akan mencontohnya. Secara tidak langsung, ya. Entah itu turunan dari gen orang tua kita, atau memang kita mencontohnya.

Kita sebagai anak yang baik harus mencontoh apa yang orang tua kita lakukan, tetapi jangan bodoh. Maksudnya jangan bodoh, kalau orang tua melakukan tindakan yang buruk, ya jangan dicontoh. Semisal, orang tua kita merokok, ya jangan dicontoh. Kalau memang dicontoh berarti kita gagal menjadi anak yang baik. Pun begitu juga dengan orang tua. Orang tua harus memberikan contoh yang baik oleh anaknya sehingga anaknya bisa mencontoh apa yang mereka lakukan.

Sebagai contoh, bapak saya itu perokok. Tetapi, bapak saya tidak pernah melarang saya merokok. Toh, pun kalau melarang, saya pun bisa menuntut balik kenapa beliau merokok. Memang terkesan tidak etis karena membantah orang tua, tetapi memang begitu adanya. Orang tua harus memberikan contoh yang baik.

Memang, kita telah diajarkan banyak hal dari orang tua kita sejak kita belum mengerti apa-apa. Istilahnya kita itu set by default. Tetapi kita tidak boleh menerimanya begitu saja, dong? Masa’ iya kita pasrah saja tentang apa yang diajarkan oleh orang tua kita. Apalagi kalau diajarkan yang tidak baik. Harus dipikir ulang beribu kali rasanya.

Nah, point yang saya ingin tekankan ada pada pembahasan berikut.

Maksud dari quality time adalah, menghabiskan waktu dengan keluarga. Saya baru menjadi anak kos. Saya pulang ke rumah seminggu sekali, setiap hari Sabtu, dan balik ke kosan lagi hari Senin pagi. Saya jadi anak kos jalan empat bulan. Dan saya merasakan betapa nikmatnya kumpul dengan keluarga di akhir minggu.

Memang, terkesan sedikit berlebihan, mungkin. Tetapi, begitulah memang. Keluarga saya sering membuka pembicaraan mengenai hal-hal tentang masa depan, keluarga, saudara, atau hal-hal lainnya setelah makan malam. Di meja makan, kita banyak belajar. Dan ini berjalan sudah cukup lama. Dari situ saya banyak belajar, dari forum keluargalah istilahnya. Saya mendengar dengan baik apa yang orang tua saya utarakan, atau berbagi pendapat dengan kakak-kakak saya. Dan dari berbagi pendapat tersebut kita bisa mendapatkan hal yang bisa kita pelajari, entah itu untuk masa depan kita maupun untuk sekarang.

Rasanya hal ini harus dicoba untuk dilakukan. Berkumpul dengan keluarga. Entah itu sehabis makan malam, nonton TV bareng di kamar orang tua, makan malem bersama di luar rumah, dan hal-hal yang lainnya. Karena, kemungkinan besar kita akan menyesal dan kangen karena telah menyia-nyiakan waktu kita bersama keluarga setelah kita sudah dewasa nanti. Saya yakin itu..

Lalu, sudahkah kita menyempatkan waktu untuk menelpon dan menanyakan kabar orang tua kita di sela-sela kesibukan kita? Pernahkah kita berpikir bahwa orang tua kita sangat merindukan kehadiran kita? Tahukah bahwa orangtua terkadang segan menelpon kita karena takut mengganggu? Sudahkah kita memberikan “Quality Time” untuk keluarga kita?

The Best Thing to spend on your family is your TIME. Bahwa keluarga adalah harta yang harus kita jaga selalu. Bahkan tak ternilai. Dari keluarga kita diajarkan untuk berjalan. Lalu, jangan berlari meninggalkannya begitu saja. :)

Image

Keluarga tercinta.

Mari Bersedekah!

Di kesempatan kali ini, saya akan membahas tentang manfaat-manfaat memberi atau yang biasa disebut sedekah. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa kita hidup sebagai makhluk sosial. Dalam kata lain, tidak bisa hidup sendiri. Apa-apa yang kita perlukan dalam dunia ini menyangkut orang lain. Memberi dan menerima pun rasanya sudah menjadi hal yang menjadi sangkut-paut dalam kehidupan sosial. Masalahnya adalah rasa untuk memberi pada sesama cenderung dilupakan. Tidak banyak yang tahu bahwa ternyata dibalik “memberi” itu, banyak manfaatnya. Apa sajakah itu?

Ada pepatah mengatakan, “lebih baik memberi daripada menerima,” atau pepatah lain, “lebih baik tangan di atas daripada tangan di bawah.” Rasanya pun memang lebih baik begitu. Kalau dipikir-pikir, meminta-minta atau mengemis itu tidak etis karena terkesan seperti orang yang tidak punya atau miskin.

Dalam islam pun kita diajarkan untuk tidak mengemis. Abdullah bin Umar radhiallahu’anhuma berkata, Nabi shallallahu’alaihi wassalam bersabda bahwa, “Terus-menerus seseorang itu suka meminta-minta kepada orang lain hingga pada hari kiamat dia datang dalam keadaan di wajahnya tidak ada sepotong dagingpun.” (HR. Al-Bukhari no. 1474 dan Muslim no. 1725) atau dalam hadist lainnya, “Barang siapa meminta-minta kepada orang lain tanpa adanya kebutuhan, maka seolah-olah ia memakan bara api.” Begitu mengerikannya perumpamaan orang yang mengemis-ngemis. Lalu, bagaimana orang yang bersedekah?

Bersedekah adalah solusi bagi segala masalah. Saya percaya itu. Dan yang suka menjadi masalah dalam sedekah adalah ikhlas atau tidaknya seseorang dalam sedekah tersebut. Banyak yang beranggapan bahwa, “Gue sedekah 2ribu yang penting gue ikhlas!” atau seperti, “Sedekah 10ribu kayaknya kebanyakan, deh. Lagian kalau gue kasih segitu, pasti nanti dibuat macem-macem duitnya.” Dalam kasus ini, saya masih sedikit bingung. Karena yang namanya ikhlas, bukannya mengeluarkan uang yang banyak? Kalau 2ribu bukannya nggak ikhlas ya? Coba dipikir hehehe. Lain lagi tentang masalah yang sedekah kebanyakan. Kalau itu, menurut saya, masalah si penerima sedekahnya mau dipake untuk apa duitnya, ya itu urusan dia. Yang penting kita sudah memberi.

Dalam Al-Qur’an dan hadist sudah dijelaskan bahwa, ”Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (pembayarannya oleh Allah) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (QS.Al-Hadid:18) dan “Sesungguhnya sedekah seseorang walau hanya sesuap, akan dikembangbiakkan oleh-Nya seperti gunung, maka bersedekahlah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Jadi, nggak usah takut miskin kalau sedekah. Malah akan dilipat gandakan harta kita. “Harta itu tidak akan kurang dengan disedekahkan.” (HR. Imam Muslim).

Dalam suatu hadist juga pun, sedekah itu menjauhkan kita dari musibah. Dari Ali bin Abi Thalib r.a., Rasulullah saw. bersabda, “Segeralah bersedekah, sesungguhnya musibah tidak dapat melintasi (mendahului) sedekah.” Jadi, kalau mendapati sebuah musibah, entah itu handphone rusak, putus cinta, kecelakaan, dan lain-lain, mungkin karena sedekahnya kurang hehehe.

Sebagai contoh, saya punya cerita unik dan mencengangkan soal sedekah. Tetapi cerita ini tidak ada maksud untuk menyombongkan diri. Cerita ini hanyalah sebuah kehendak dari Allah, agar bisa menjadi manfaat bagi orang banyak, InshaAllah.

Subhanallah. Kata pertama saya yang saya ucapkan saat semuanya terjadi karena kehendak-Nya. Saya adalah penjual Jersey Bola. Barang tersebut diimpor langsung dari negeri tetangga, Thailand. Saya berjualan terhitung dari akhir November 2010. Saat itu saya masih duduk dikelas 1 SMA, dan berumur 15 tahun.

Saya membaca Notes From Qatar 1 pada pertengahan Mei 2011. Alhamdulillah, penulisnya, Muhammad Assad, telah membukakan hati saya tentang hebat nya bersedekah. Mulai dari situ saya memberanikan diri untuk sedekah yang sedikit lebih besar dari sebelumnya. Kalau dulu, sedekah nya dari sisa-sisaan kembalian membeli barang. Kalau sekarang, tak ada kembalian. Adanya utuh masuk ke kotak amal. Alhamdulillah..

Saya jualan Jersey Bola sistem nya per-kloter. Kurang lebih jangka waktu satu kloter ke kloter lainnya adalah satu bulan. Rata-rata, order yang saya dapat dari per-kloter, kurang-lebih, 20an. Paling banyak waktu itu adalah 32pcs order. Karena yang biasa membeli teman-teman saya, jadi pasar jualan saya ya ke teman-teman saya saja. Kalau adapun orang yang tidak dikenal memesan, tidak masalah, tetapi jarang. Saya pun lebih aktif didunia online dalam memasarkan barang.

Pada Februari 2012 lalu, orderan saya agak berbeda dari sebelum-sebelumnya. Teman saya, tiba-tiba datang kepada saya lalu berkata, “Sa, om gue mau order sebanyak 150pcs. Dapat harga berapa nih?” Alhamdulillah. Saya lupa karena saya sedekah apa, tetapi yang jelas saya percaya bahwa itu karena sedekah. Setelah negosiasi yang cukup panjang, akhirnya ter-orderlah barang itu sebanyak 144pcs.

Distributor saya yang biasanya mendapati order dari saya sedikit, kali ini agak bingung. “Sa, itu siapa yang order sebanyak itu?” Saya pun menjawab, “Om-nya teman saya, Mas. Orang DPR.” Tadinya, teman saya tidak mau order ke saya. Dia masih mencari penjual lain yang menjual barang tersebut lebih murah. Tetapi karena kehendak Allah, mungkin dia akhirnya memilih saya. Karena teman dekat juga. Jadi, urusan negosiasi tidak ribet.

Banyak kendala yang dialami ketika barang telah diorder. Dari masalah DP yang biasanya 50% menjadi 75%, maupun estimasi barang dari Thailand ke Indonesia. Tetapi, setelah melalui banyak kendala dan masalah, akhirnya barang tersebut sampai juga. “Alhamdulillah,” ucap saya. Profit yang saya dapat waktu itu, kurang-lebih sekitar 3,5juta rupiah. Seorang anak berumur 16 tahun yang masih duduk dikelas 2 SMA mendapatkan untung sebanyak itu patut nya hanya bersyukur, bersyukur, dan bersyukur.

Pada Februari 2012 itu saya sedang membaca Notes From Qatar 2. Kembali, sang penulis, Muhammad Assad telah membuka hati saya jauh lebih lebar tentang sedekah. Pada saat itupun saya sedang berada dalam puncak kegembiraan karena telah mendapat uang yang cukup banyak. Dan dalam kegembiraan tersebut, saya memberanikan diri untuk menyumbangkan uang saya sebanyak 1,5juta rupiah. Setelah berunding dengan orang tua saya, khusus nya bapak saya, akhirnya saya diberi izin untuk menyedekahkan uang tersebut. Awalnya bapak saya sedikit keberatan dengan keputusan saya mengingat uang banyak untuk anak muda ya patutnya ditabung. Tetapi setelah saya jelaskan dengan mantap, akhirnya diizinkan. Alhamdulillah, terlaksana dengan ikhlas.

Sebagaimana telah ditulis dalam surat Al-Baqarah ayat 261, bahwa;

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.

Dan Allah tak pernah dan tak akan pernah ingkar janji. Setelah penantian lama, akhirnya keajaiban itu datang juga. Pada September 2012, teman saya yang pada Februari 2012 itu memesan sebanyak 150pcs, pada bulan September itu dia memesan lagi. Kali ini.., “Sa! Om-gue mau pesan Jersey lagi tuh! Banyak banget, Sa!” Saya pun bingung dan bertanya, “Berapa banyak memangnya?” Dan teman saya pun menjawab dengan senyum, “500pcs, Sa..” Subhanallah. Maha Besar Kuasa-Nya. Saya pun sedikit tidak percaya atas orderan sebanyak itu. Distributor saya pun sangat kualahan karena dia juga tidak pernah mendapatkan order sebanyak itu.

Kembali, banyak kendala dan masalah ketika proses orderan tersebut dibuat. Entah karena barang nya nggak ada, ataupun barang telat dari jadwal yang seharusnya. Tetapi pada akhirnya barang tersebut bisa sampai dengan selamat. Walaupun tidak sebanyak yang diorder, tetapi saya tetap bersyukur. Alhamdulillah, keuntungan yang saya dapat, kurang-lebih sebesar 8juta rupiah.

Pada akhirnya semua kembali kepada Allah. Tuhan semesta alam. Yang menghendaki semua perkara maupun urusan. Alhamdulillah, syukur tak ada habisnya. Di umur saya yang cukup muda, saya sudah mendapatkan banyak pelajaran yang berharga tentang sedekah.

Namun satu hal yang patut diingat! Allah tak selalu memberikan balasan sedekah dengan UANG. Jangan salah kaprah. Karena Allah maha Mengetahui apa yang hamba-Nya butuhkan. Jadi, bisa saja Allah memberikan balasan dengan memberikan kita kesehatan, memberikan rezeki melalui orang tua kita, menjauhkan kita dari musibah, dan lain-lain. Jangan lupa untuk berdoa juga, karena sedekah diiringi doa itu amat dahsyat!

Sebagai penutup, ada satu kisah pada zaman Nabi saw. yang mana seseorang yang banyak hutang berdiam di masjid di saat orang-orang bekerja. Ketika ditanya oleh Nabi saw., orang tersebut menjawab bahwa ia sedang banyak hutang. Yang menarik adalah Nabi saw. mengajarkan beliau sebuah doa, yang mana doa tersebut tidak menyebut sama sekali “Bukakanlah pintu rezeki” atau “Perbanyaklah rezeki saya sehingga bisa membayar hutang”. Tetapi doa yang diajarkan oleh Nabi saw. adalah meminta perlindungan dari rasa malas dan bakhil (pelit). Hadist-hadist di atas menjelaskan tentang doa ini, bahwa ke-tidak-pelitan seseorang untuk bersedekah membuka pintu rezeki orang tersebut. Doa tersebut adalah: “Ya Allah! Aku berlindung kepada-Mu daripada kegundahan dan kesedihan, daripada kelemahan dan kemalasan, daripada sifat pengecut dan bakhil (pelit), daripada kesempitan hutang dan penindasan orang.” Dalam keadaan sempit pun, kita diharuskan untuk bersedekah.

Dan penutup tulisan kali ini, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa bersedekah dengan sesuatu senilai satu buah kurma yang diperolehnya dari hasil kerja yang baik, bukan haram, dan Allah itu tidak akan menerima kecuali yang baik. Maka sesungguhnya Allah akan menerima sedekah orang itu dengan tangan kanannya, sebagai kiasan kekuasaanNya, kemudian memperkembangkan pahala sedekah tersebut untuk orang yang melakukannya, sebagaimana seseorang dari engkau semua memperkembangkan anak kudanya sehingga menjadi seperti gunung – yakni memenuhi lembah gunung karena banyaknya.” (Muttafaq ‘alaih, dari Abu Hurairah r.a.)

InshaAllah, semua akan menjadi berkah jika kita bersedekah. Lalu, sudahkah anda bersedekah hari ini? :)

Bernafaslah, Tersenyumlah, dan Bersyukurlah

Dalam tulisan kali ini, saya mencoba untuk membahas tentang kejadian-kejadian sehari-hari yang (mungkin) sepele, tetapi banyak manfaatnya. Yaitu, bernafas, tersenyum, lalu bersyukur. Kenapa saya mencoba membahas hal ini? Karena saya sering melihat hal-hal sepele yang bermakna ini, jarang diterapkan oleh orang-orang di sekitar saya. Khususnya teman-teman saya. Saya pun terkadang lupa menerapkan hal-hal yang sepele ini. Tapi setelah saya coba terapkan, banyak manfaatnya.

Setiap manusia pasti mempunyai kesibukan masing-masing. Dan tak jarang, kesibukan tersebut membuat kita lupa dengan hal-hal yang sepele. Dan kebanyakan, hal-hal sepele yang kita lewatkan itu adalah hal sepele yang ternyata banyak manfaatnya. Kesibukan tersebut seakan membuat kita lupa berbagai hal. Jangankan hal-hal sepele, hal yang penting pun terkadang kita lupakan, saking sibuknya.

Dari kesibukan tersebut pula, kita mendapatkan banyak derita. Biasanya, kesibukan yang tak berujung bisa menyebabkan depresi, stress, galau, sakau. Sakau disini artinya, “Sakit Karena Engkau,” ya. Bukan sakau narkoba.

Selain kesibukan, terkadang banyaknya jam kosong yang membuat kita kerjaannya cuman bengong melompong juga menjadi penyebabnya. Apalagi kalau bengongnya udah menyangkut paut soal rezeki. Dari bengong melompong, ujung-ujungnya jadi ngelah-ngeluh nggak jelas. Tuhan dituntut, “Ya, Tuhan, kenapa Engkau memberiku rezeki yang tidak sepadan dengan si A, si B, si C……..si Z.” kurang lebih seperti itu.

Sekarang masalahnya adalah apa iya kita akan terus sibuk lalu lupa bersyukur ataupun bengong lalu sibuk mengeluh? Kemudian..

Bernafaslah
Terkadang, kita lupa akan apa yang sudah Tuhan berikan kepada kita. Salah satu hal sepele yang kita lupakan adalah bernafas. Tanpa nafas, kita mungkin hanya seonggok tulang yang tak bergerak. Ataupun segumpal organ yang tak berfungsi. Kemudian untuk apa Tuhan memberikan kita kemampuan untuk bernafas kalau bukan untuk menyembah-Nya? Kita diberikan kesempatan selama 24 jam non-stop setiap harinya untuk bernafas, tetapi kita sering menyepelekannya. Pernahkah kita pada satu waktu menikmati nafas dan kemudian bersyukur atas yang diberikan-Nya? Pada satu contoh, banyak orang yang (maaf) sakit pernafasan. Entah itu asma, kanker, atau penyakit lainnya yang jelas menyakitkan. Dan kita yang sehat, malah melupakan nikmatnya rasa bernafas tersebut. Rasa-rasanya, hanya dengan menjaga ciptaan-Nya pun sudah lebih dari cukup. Terkadang kita khilaf, sering merusak organ paru-paru kita dengan asap-asap yang tak bertanggung jawab. Sehingga (mungkin) nantinya kita nggak akan bisa bernafas seperti biasanya lagi. Lalu bernafaslah, sebelum nafas itu menghilang. Nikmatilah, sebelum nafas itu menghilang. Dan, fyi, bernafas dalam-dalam (menghirup udara dari hidung lalu mengeluarkannya lewat mulut pelan-pelan) bisa membuat kita lebih tenang dan berpikir lebih jernih.

Tersenyumlah
Tuhan telah memberikan ekspresi terbaik dalam setiap orang yaitu tersenyum. Bahkan jatuh cinta pun tak luput dari sebuah senyuman hehehe. Kalau kita tidak menjaganya, lalu apa yang menghiasi wajah kita? Keseringan dari kita memberi ekspresi cemberut jika ada hal-hal yang tidak sejalan dengan keinginan kita. Wajar sih, tapi masa iya terus-terusan cemberut? Tersenyum itu memberi reaksi positif. Secara tidak langsung, orang yang kita senyumi atau yang tersenyum menjadi lebih gembira hatinya. Disadari maupun tidak, lho. Coba saja. Yang jelas, ketika ada suatu masalah dalam hidup kita yang tidak sesuai dengan keinginan kita, cobalah untuk tutup mata sejenak dan tersenyum. Niscaya, pikiran positif akan datang begitu saja. Bukankah Allah telah menjelaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 216: “…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” Intinya, apapun masalah yang dihadapi, tetap tersenyumlah. Pada satu contoh, orang-orang jalanan yang tidak mempunyai rumah saja masih bisa tersenyum ketika ia mendapatkan uang dari apa yang mereka kerjakan. Sedangkan kita yang mempunyai apa yang mereka tidak punya, masih cemberut? Coba pikir ulang. :)

Bersyukurlah
Dan point yang ini adalah pelengkap dari point-point sebelumnya. Sebagai manusia kita suka khilaf, pada saat kita mendapatkan apa yang kita mau, kita lupa bersyukur. Ketika kita tidak mendapatkan apa yang kita mau, kita malah mengeluh. Jadi Raisa, serba salah. Dalam hal ini seharusnya ketika kita mendapatkan apa yang kita mau, tentu kita harus bersyukur. Ketika kita tidak mendapatkan apa yang kita mau, kita harus bersabar. Sabar itu unlimited, lho. Bersyukur itu nggak ribet, kok. Simple saja, dengan mengucap “Alhamdulillah” kita sudah bersyukur atas apa yang diberikannya. Sungguh, bersyukur itu sangat bermanfaat. Kenapa saya bilang sangat bermanfaat? Ketika kita bersyukur, Tuhan akan memberikan kita nikmat yang berlebih. Tetapi ketika kita mengeluh bahkan kufur nikmat, azab dari Nya amat pedih. Jadi, pada satu contoh, ketika kita punya motor, bersyukurlah. Siapa tau Tuhan memberikan kita rezeki berlebih karena kita bersyukur dengan memberi kita mobil. Janganlah sekali-sekali mengeluh. INGAT, masih banyak mereka yang tidak punya motor. Apapun yang kita punya, bersyukurlah. Karena semua nikmat dari Nya pasti ada maksud dan tujuannya. Sebagai penutup point ini, Rasulullah bersabda, “Lihatlah orang yang di bawah kalian dan janganlah melihat orang yang di atas kalian, karena yang demikian itu lebih layak bagi kalian untuk tidak memandang rendah nikmat Allah yang dilimpahkan kepada kalian.” (HR Muslim dan Tirmidzi)

Pada akhirnya jika kita bersyukur, dengan sendirinya kita akan menghargai nikmat dari bernafas dan tersenyum. Walau memang sulit dilakukan, apalagi ketika kita mendapatkan musibah. Sulit sekali rasanya tetap bersyukur. Tetapi percayalah, dalam setiap musibah, pasti ada hikmahnya. Disadari dengan cepat maupun lambat, yang jelas pasti ada.

Dengan bersyukur, kita mengerti apa yang mereka tidak dapatkan. Dengan bersyukur, kita mengerti arti dari menghargai. Dengan bersyukur, yang jelas, semua lebih indah.

Note: Kutipan Surat dan Hadist, dikutip dari buku Notes From Qatar karya Muhammad Assad.

YOLO – You Only Live Once

Setelah cukup lama vakum dari dunia per-opinian, akhirnya saya mencoba memulai lagi menulis apa-apa yang ada dipikiran saya. Resah rasanya jika suatu pikiran tidak dituangkan dalam bentuk yang nyata, entah itu melalui ucapan maupun dalam bentuk tulisan. Saya memilih menuangkan hal tersebut dalam bentuk tulisan. Alasannya pun jelas, ketika saya mencoba menuangkan hal-hal yang saya pikirkan dalam bentuk ucapan, terkadang orang yang saya ajak ngobrol kurang paham atas apa yang saya ucapkan. Masa’ saya harus berbicara dengan calon mertua saya nanti agar saya bisa dimengerti? ((:

YOLO. You only live once. Kamu hanya hidup sekali, katanya. Saya tau kalimat tersebut dari lagunya The Strokes. Dan, ternyata menjadi tagline anak-anak hipster zaman sekarang. Terkadang, tagline tersebut suka disalah artikan oleh banyak orang, khususnya anak muda. Anak muda yang bergembira, lalu lupa diri. Saya hanya mencoba membuka pikiran para pembaca melalui hal yang saya pikirkan. Mengingat, (mungkin) masih banyak orang-orang yang menyia-nyiakan hidupnya hanya karena tagline tersebut.

Anak muda, tak pernah terhindar dari foya-foya. Saya pun merasakannya. Karena saya belum tua. Tua itu pasti, dewasa itu pilihan, katanya.., tetapi nyatanya masih banyak yang seperti anak muda, padahal sudah tua. Egoisme atau sifat mau menang sendiri yang ada pada seseorang lah yang menjadi hambatan, kenapa sampai sekarang masih banyak orang tua, rasa muda. Tak usah susah-susah mencari contoh, lihatlah pemimpin-pemimpin kita yang duduk di parlemen sana. Bukannya memberi contoh yang baik, malah melakukan kejahatan biadab. Apalagi namanya kalau bukan sifat keanak-anak kecilannya yang tak mau kalah alias serakah? Yang korupsi harus dihukum mati. Mungkin.

Dalam kebanyakan kaca mata anak muda, tagline, “You only live once,” berasumsi bahwa kita harus bersenang-senang tanpa memikirkan hari setelahnya. A.k.a, “yang penting gue seneng sekarang, bodo amat dah besok mah..” satu kata yang cocok untuk para anak muda yang seperti itu: Hedon. Ada pendapat lain bahwa, “hidup kan cuman sekali, ngapain sih dibawa susah? Yang penting kita seneng-seneng aje..” be mature, please.

Tak banyak orang yang sudah berpikiran jauh kedepan. Umur delapan belas tahun, tetapi rasa sudah dua puluh lima tahun. Sudah memikirkan apa-apa yang akan dipersiapkan untuk pernikahan. Anak muda seperti ini lah yang mengerti apa arti dari tagline, YOLO, tersebut. Setidaknya, jika kita sudah berpikiran jauh ke depan, setidaknya kita lebih  maju satu langkah dari teman-teman yang masih memikirkan dirinya yang sekarang.

YOLO. Maka dari itu, bukankah semua-semuanya harus digunakan dengan baik? Waktu, uang, kesempatan, pertemuan, cinta, dan lain-lain yang berkaitan dengan masa depan harus digunakan sebaik-baiknya. Bukankah suatu kesempatan yang sulit didapat tidak akan terulang? Sama seperti hidup. Jangan berharap mendapatkan kesempatan kedua yang, sama..

Jika perlu dikatakan, katakanlah. Jika perlu diungkapkan, ungkapkanlah. Jika perlu dilakukan, lakukanlah. Selagi kesempatan itu masih ada.., you only live once.