Sepuluh-empatpuluh

Setanpun enggan melihat blog ini setelah vakum begitu lamanya. Maka tugas penulis adalah memberitahu malaikat untuk mengusir setan sehingga blog ini bisa dilihat lagi oleh beberapa pengikutnya. Bukan, saya bukan nabi.

Tahukah engkau bahwa menulis membuat masalah yang ada di pikiran menjadi sedikit enteng? Bukan hilang masalahnya, tetapi berkurang bebannya. Cobalah. Sesekali.

Maka dari itu tulisan ini dibuat untuk mengentengkan beban pikiran selama penulis tak menulis. Beban 4 bulan tidak menulis.

Anggap saja anak TK, dan ia bicara, “masalah itu pasti ada jalan keluarnya. Entah lewat air mata, solusi tak terduga, bahkan bunuh diri saja. Tinggal bagaimana cara menyikapinya, bukan?”

Puitis? Memang. Dalam puisi tak ada batasan. Tak ada aturan. Mengerti apa tidak engkau? Engkau mengerti tidak? Apa engkau mengerti? Sesukamu. Tapi perasaan tak bisa sesukamu.

Mati rasa? Apa rasa itu yang mati? Sakit hati? Atau hati yang disakiti? Peduli setan? Apa setan yang peduli? Apapun. Sesukamu.

Jangan menggelengkan kepala. Persepsi engkau hanya untuk engkau. Bukan untuk disebarkan. Persepsiku, persepsiku. Persepsimu, persepsimu. Selamanya tak akan sama.

Lalu, buat apa manusia dibuat berbeda-beda?

Engkau adalah engkau. Engkau bukan aku.

Omong kosong? Jangan terlalu defensive, pikirkan dahulu.

Andai, semua bisa berpikir. Andai.

Hukum gravitasi tak ada. Semua makhluk tak akan pada tempatnya. Termasuk hati, rasa, dan pikiran.

Lalu, buat apa ada Tuhan?

Kalau engkau berkata, “Hidup tak adil,” maka tantanglah Tuhan. Sekali-kalinya engkau menantang, maka sekali-kalinya engkau akan berhenti menentang. Jangan. Jangan sekali-kalinya berani.

Jika engkau pendendam, maka engkau tak percaya Tuhan.

Jika engkau pendendam, maka engkau melangkahi-Nya. Engkau bersikap lebih dari Yang Maha Adil, bukan?

Jika engkau mendendam karena Tuhan (menurut kau) tak adil, maka cepat atau lambat, pertanyaanmu akan terjawab.

Hanya Tuhan dan penulis yang mengerti. Kecuali kau memang suka puisi. Sesukamu.

Anggaplah sebuah tulisan ini hanya kata pengantar blog ini yang sudah mulai usang, sunyi, atau gelap. Selanjutnya akan ada beberapa lampu yang akan menyala, kemudian mulai menulis (lagi).

Sepuluh-empatpuluh.

Soal Pendidikan

Terlepas dari siapa yang akan menang dalam pemilu nanti, saya jauh berharap Indonesia akan lebih baik, khususnya dalam bidang pendidikan.

Baru-baru ini saya tersadar betapa pentingnya pendidikan di Indonesia, karena di situlah dasar pemikiran maupun kebiasaan dari tingkah laku manusianya.

Pendidikan yang tidak merata di Negara kita menyebabkan terkontaminasinya orang-orang yang kurang berpendidikan oleh: uang.

Bagaimana tidak, hak pilih mereka dapat diatur sedemikian mudahnya dengan uang dari calon pengemban amanat Negara.

Hal inilah yang harus segera kita benahi, agar Indonesia tidak melulu soal uang.

Bagaimana caranya?

Tak perlulah membahas buruk atau tidaknya pendidikan di Indonesia beberapa tahun belakangan ini. Dasar yang memang harus dibenahi adalah memberi amanat kepada Menteri Pendidikan yang kompeten.

Ada satu nama yang mencuat untuk pendidikan Indonesia yang lebih baik, menurut saya, Anies Baswedan. Ia adalah salah satu calon kandidat terkuat untuk menduduki kursi Menteri Pendidikan, entah siapapun presidennya.

Harapan lain untuk presiden yang baru nanti adalah membenahi pendidikan. Karena dari pendidikan, hal lainnya bisa terpenuhi. Contoh, tanpa pendidikan ekonomi kita tidak akan mungkin selamat dari krisis ekonomi 2008, bukan?

Masalah uang, pikir saya bisa diatur. Berharap APBN akan disisihkan sekian persen lebih banyak untuk bidang pendidikan, dan satu lagi, kesehatan.

Saya berharap (lagi) bahwa kita jauh lebih sadar betapa pentingnya pendidikan untuk kelangsungan hidup.

Tanpa pendidikan, Anda tidak akan bisa membaca tulisan saya sekarang.

 

NB: tulisan ini bukan dibuat untuk kepentingan calon presiden maupun kepentingan pribadi

Waktunya Sadar Untuk Mengemudi dengan Baik

Agaknya, orang-orang saat ini dalam hal mengemudi, khususnya remaja, terinspirasi dari menangnya rookie Marc Marquez pada saat ia menyalip Jorge Lorenzo di tikungan terakhir seri Jerez tahun 2013. Kewarasan dalam hal mengemudi mobilpun tak kalah menariknya. Sebastian Vettel yang menjadi anutan utama dalam benak remaja (mungkin), nyatanya gagal dan kerap menjadi tragedi yang memakan korban. Lalu, apa yang mempengaruhi para pengemudi jalan sehingga menjadikan kebanyakan dari mereka seperti orang yang sedang berkendara di Sepang?

Faktor-faktor internal terkadang menjadi penyebab utama para pengemudi jalanan ini. Emosi yang tinggi menjadi prinsip utama para pengemudi, sehingga jika mereka disalip sedikit oleh kendaraan lainnya, tak jarang mereka akan menyusulnya dan dijadikannya jalanan tersebut sebagai tempat drag sesaat. Hal ini merupakan hal yang wajar, mengingat tingkat ke-sensitive­-an, ke-“ge’er”-an maupun kepedean masyarakat kita cukup tinggi. Kesadaran terhadap, “keselamatan orang lain juga merupakan keselamatan diri sendiri” masih menjadi sesuatu yang tabu. Contohnya, tak sedikit pengemudi yang belok seenaknya tanpa mengasih lampu sen ataupun menyalip kendaraan melalui jalur sebelah kiri.

Hal lain yang menjadi salah satu alasan para pengemudi jalanan ini memacu kendaraannya hingga batas maksimal kendaraannya adalah: waktu. Kita tahu sendiri bahwa di masyarakat kita ada sebutan, “waktu karet”. Waktu ini sangat fleksibel, sehingga terkadang kita sendiripun tidak tahu kapan batas dari jam seharusnya. Dan yang menjadi kendala masyarakat kita ketika waktu karet ini tidak berlaku adalah pada saat mereka berkerja dengan perusahaan luar negeri. Tak usahlah dibandingkan kita dengan orang luar negeri, seberapa hormatnya terhadap waktu. Yang jelas, kalau ada pengemudi yang “colongan” lampu merah pada pagi hari, ia pasti mengejar waktu, itupun menerobos jikala tak ada polisi yang siap sedia menindak para pengemudi gatal ini.

Pemikiran pendek para pengemudi juga sering menjadi alasan utama kenapa bisa terjadi sebuah kecelakaan. Statistik menunjukan bahwa dari tahun 1992 sampai dengan tahun 2012 jumlah kecelakaan setiap tahunnya mengalami peningkatan, kalau dirata-rata. Ini menunjukan betapa rendahnya kesadaran mengemudi yang baik dalam benak masyarakat kita. Lantas, bagaimana caranya menge-check seberapa baik tingkat kesadaran mengemudi masyarakat? Tak usah sulit-sulit, cobalah untuk berhenti di lampu merah pada saat malam hari, pada saat jalanan sepi. Lalu perhatikan berapa banyak kendaraan yang menerobos lampu merah tersebut. Itu menunjukan betapa rendahnya kesadaran mengemudi yang baik dalam masyarakat kita. Jangankan malam hari, pada saat sore hari ketika jalanan sedang rame-ramenya oleh pengemudi yang pulang kerjapun lampu merah menjadi rasa lampu hijau.

Memang, anggapan bahwa diri kita paling benar jika terjadi kecelakaan adalah hal yang wajar di lubuk masyarakat kita. Adu ngotot antara korban kecelakaan kerap menjadi tontonan bagi pengemudi lainnya sehingga membuat jalanan tersebut macet. Tetapi, alangkah amat baiknya jika kita sebagai orang yang sadar atas bagaimana cara mengemudi yang baik, menurunkan ego kita masing-masing terhadap pengemudi yang belum tersadar hatinya. Kita yang sadar terhadap keselamatan diri kita merupakan keselamatan orang lainpun harus menjadi contoh yang baik di jalanan.

Sadarlah bahwa ada yang menunggu di rumah. Sadarlah bahwa jalanan bukan ajang adu skill maupun kendaraan untuk menjadi yang terkdawa karena menghantam orang.

Soal Memenangkan Indonesia: Mau Urun Angan atau Turun Tangan?

Oleh Anies Baswedan.

Indonesia harus diurus oleh orang baik: bersih dan kompeten. Republik ini didirikan oleh para pemberani. Kaum terdidik yang sudah selesai dengan dirinya. Efeknya dahsyat. Bung Karno dan generasinya membuat sebangsa bergerak. Semua merasa ikut punya Indonesia. Semua iuran tanpa syarat demi tegaknya bangsa merdeka, berdaulat. Ada yang iuran tenaga, pikiran, uang, barang dan termasuk iuran nyawa. Tapi merdeka itu bukan cuma soal menggulung kolonialisme, merdeka adalah juga soal menggelar kemakmuran dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Kini pada siapa Republik ini akan dititipkan untuk diurus?

Besok kita akan menentukan. Semua yang terpilih dalam Pemilihan Umum ini akan mengatasnamakan kita semua 24 jam sehari, 7 hari seminggu selama 5 tahun ke depan. Semua perkataan, perbuatan yang dilakukan adalah atas nama kita semua. Semua Undang-Undang dan Peraturan Daerah yang dibuatnya akan mengikat kita semua.

Di saat tantangan bangsa ini masih banyak yang basic seperti pangan, kesehatan, pendidikan, pekerjaan, transportasi, atau energi maka apapun partai-nya, tantangan yang harus dijawab sama. Di saat hambatan terbesar negeri ini adalah korupsi, dan hulunya korupsi adalah urusan kekuasaan maka apapun partainya akan berhadapan dengan otot kokoh koruptor yang sama. 

Pemilu ini bukan soal warna partai. Ini soal orang bermasalah dan tak bermasalah. Orang bermasalah ada di berbagai partai. Begitu juga orang baik tersebar di semua partai. Pemilu kali ini harus jadi ajang kompetisi orang tak bermasalah, orang baik lawan orang bermasalah. 

Kita harus memastikan bahwa orang yang terpilih akan hadir untuk mengurus bukan menguras negara. Ini Pemilu ke-4 di era demokrasi, sudah saatnya jadi ajang kebangkitan wong waras, kebangkitan orang bersih, dan jadi penghabisan orang bermasalah. 

Indonesia membutuhkan kemenangan orang baik. Kita perlu orang bersih dan kompeten berbondong-bondong menang dalam pemilihan umum. Persyaratan utama bagi orang-orang baik untuk kalah dan tumbang dalam pemilu adalah orang-orang baik lainya hanya menonton dan tak membantu. 

Indonesia kini penuh dengan penonton: ingin orang baik menang di Pemilu, ingin Indonesia jadi lebih baik tapi hanya mau iuran harap, urun angan. Ada keengganan kolektif untuk terlibat, untuk membantu.

Keengganan dan skeptisisme itu sering dilandasi pandangan: buat apa membantu toh orang-orang baik justru terjerat korupsi. Ini seperti urusan sepatu kotor. Buat apa membersihkan sepatu, toh bisa terkotori lagi. Tapi kalau dibersihkan rutin, dipakai dengan baik, dijaga dari cipratan kotor maka sepatu itu akan aman, akan bersih. Kalau pun terkotori,  tugas kita adalah memastikan bahwa sepatu itu rutin dibersihkan. 

Di Republik ini, tugas kita adalah lima tahun sekali membersihkan pengurus Indonesia dan mengisinya dengan orang-orang tak bermasalah. Kalaupun ada yang terkena masalah, biar diganjar hukuman dan kita ganti. Lalu tiap 5 tahun kita “kirim” orang baik lagi. 

Sejak kapan kita jadi bangsa yang suka putus asa? Tugas kita adalah mensuplai orang baik terus menerus. Kita harus jaga stamina, perjalanan bangsa ini masih amat panjang dan stok orang baik di Republik ini masih amat banyak. Tak ada alasan untuk pamer keluh kesah dan “nglokro”. 

Kita bersyukur saat melihat ada orang baik mau repot-repot masuk politik. Lihat bermunculan orang-orang baik yang terpilih jadi gubernur, bupati, walikota atau anggota dewan perwakilan. Makin panjang deretan nama orang bersih dan kompeten, orang baik yang terpanggil, mau turun tangan. Tetapi mereka semua hanya bisa menang, memegang otoritas jika orang baik lainnya bersedia untuk terlibat dan membantu.

Permasalahan yang dihadapi begitu banyak orang baik yang jadi caleg adalah mereka cenderung dijauhi. Yang menjauhi sering justru lingkungan terdekatnya. Politik di Indonesia hari ini amat rendah nilainya di depan publik. Korupsi yang dilakukan oleh para politisi telah merendahkan makna politik dan politisi. 

Politik dan politisi tidak lagi dipandang sebagai arena perjuangan dan pejuang. Kerja politik dipandang sebagai mata pencaharian dan segalanya harus dirupiahkan. Para calon yang baik itu tergerus oleh opini bahwa semua calon itu sama: sekadar cari kuasa untuk menguras -bukan untuk mengurus- negeri. Orang baikpun makin sedikit yang mau turun tangan. Makin sedikit orang baik yg “siap” dituding sama dengan kelakuan para penguras negeri. 

Jika orang-orang baik hanya mau jadi pembayar pajak yang baik, lalu siapa yang akan mengatur penggunaan uang pajak kita? Keputusan soal kesehatan, pendidikan, perumahan atau tenaga kerja misalnya adalah keputusan politik. Di arena yang oleh publik dipandang rendah, kotor dan tak bernilai itulah keputusan tentang hajat hidup orang serepublik ini dibuat. Patutkah kita diamkan? 

Masih adakah caleg baik? Ya, Indonesia masih punya stok orang baik; orang bersih dan kompeten. Tapi mereka tidak akan bisa menang, mendapatkan otoritas untuk mengatasnamakan kita, untuk mewakili kita, jika kita semua tidak ikut membantu. Sekali lagi, korupsi dalam politik itu merajalela bukan semata-mata karena orang jahat jumlahnya banyak tetapi karena orang-orang baik memilih diam, mendiamkan dan bahkan menjauhi. 

Republik ini adalah milik kita semua. Bukan milik segelintir orang, apalagi orang-orang yang sanggup membayar siapa saja untuk berbuat semaunya.  Berhenti cuma urun angan. Harus mau turun tangan!

Tak semua orang harus ikut partai politik tapi saat pemilu jangan pernah diam, membiarkan orang-orang bermasalah melenggang tak ditantang, tak dihentikan. Pada saat pemilu, harus muncul kesadaran kolektif bahwa ini bukan upacara politik, ini kesempatan menempatkan orang baik jadi pengurus negeri.

Cari dan kenali orang baik dalam Daerah Pemilihan. Atau sekurang-kurangnya orang tak bermasalah. Jangan cari manusia sempurna, takkan ketemu. Cari orang bersih dan kompeten. Lihat track-recordnya, bukan cuma warna partainya. Dan anak-anak generasi baru sudah terlibat, contohnya www.orangbaik.org yang dibuat oleh anak-anak umur 25 tahunan untuk melihat track record semua caleg. Kalau perlu datangi caleg tersebut bukan untuk memberitahu akan mencoblos tapi beritahu bahwa siap untuk membantu untuk bisa menang. 

Bantu orang-orang tak bermasalah di sekitar kita yang terpanggil untuk ikut mengurus Republik, agar mereka bisa menang. Jangan pernah takut mendukung. Di era non-demokratis dulu, sikap mendiamkan dalam sebuah pemilu adalah sikap perlawanan; kini mendiamkan adalah sikap pembiaran atas status-quo. Bukan warna partainya, tapi warna track-recordnya. Ini adalah sikap yang melampaui warna partai; semangatnya adalah mengisi dengan orang baik.

Kini kita menyaksikan gelombang baru yang sedang bangkit. Generasi baru yang bergerak dan membantu karena percaya, ide dan integritas. Bukan generasi yang mau menjual dukungan karena rupiah. 

Pilihan untuk membantu orang baik di dalam Pemilu adalah pilihan sejarah. Hari ini mungkin nampak tak populer, masih nampak aneh jika ada kemauan untuk terlibat dan membantu para caleg tak bermasalah. 

Dunia bergerak ke arah perbaikan tata kelola yang baik (good governance). Korupsi tidak bisa langgeng, ia makin hari makin tergerus. Bayangkan suatu saat kelak, generasi anak-anak kita hidup di era baru dan bertanya: Ayah-ibu, di zaman politik Indonesia masih penuh korupsi, apakah Ayah-Ibu ikut korupsi, atau diam, atau ikut melawan?

Saat itulah pilihan sejarah tadi menemukan jawabnya: jika hari ini Anda mau berbuat, mau terlibat maka sekurang-kurangnya Anda bisa menjawab dengan rasa bangga. “Ayahmu, Ibumu tidak membiarkan dan tak pernah jadi bagian yang membuat Republik ini keropos. Di saat orang berduit membayar dukungan, Ayahmu, Ibumu tak menjual dukungan. Ayah-ibumu membantu orang-orang baik dengan tanpa dibayar. Harga diri Ayah-Ibumu tidak bisa dirupiahkan!” 

Izinkan anak-anak kita bangga saat sadar bahwa mereka mewarisi negeri yang Ayahnya, Ibunya ikut meninggikuatkan. Di saat ada kesempatan mengubah wajah kita sendiri, wajah Indonesia kita, maka kita tak cuma diam. Kita pilih ikut bersihkan Indonesia, jadikan orang baik sebagai pemegang amanah di negeri kita. 

Anies Baswedan

 

Tentang Kebiasaan

Kebiasaan adalah sesuatu yang dilakukan secara berulang-ulang tanpa sadar. Secara tidak langsung, ya. Kebiasaan itu kita lakukan secara stagnan, biasanya nggak ada perkembangan.

Kenapa bisa saya sebut nggak ada perkembangan? Karena biasanya kebiasaan itu ya cuma gitu-gitu aja. Dilakukan karena kita sendiripun terkadang nggak menyadarinya. Biasanya kebiasaan itu kebanyakan buruk.

Berdasarkan observasi pandangan saya terhadap kebiasaan, kebiasaan itu tumbuh dari sesuatu yang tidak biasa. Konsep sederhananya, tidak bisa – bisa – kebiasaan – budaya.

Budaya adalah point terakhir. Karena biasanya sudah dianggap budaya jika dilakukan oleh khalayak masyarakat. Kalau masih kebiasaan, biasanya masih dilakukan satu-dua orang. Masih per-individu istilahnya.

Nah, sekarang masalahnya adalah kesadaran atas kebiasaan itu sendiri. Kebiasaan itu ada yang baik, adapula yang buruk. Yang mau saya tekankan disini adalah kebiasaan-kebiasaan buruk yang patut dihilangkan kalau ternyata kita sadar.

Secara tidak langsung, apa yang kita lakukan secara stagnan, akan menjadi sebuah kebiasaan. Secara umum, kita bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah, tetapi kadangkala hati tertutup dengan emosi sehingga keduanya menjadi terbalik.

Pernah suatu ketika, pelatih basket saya mengingatkan saya, “Jangan males, Sa. Nanti jadi kebiasaan, lho.” Dan yang benar saja, kalimat tersebut seakan-akan masih berjalan santai di pikiran saya. Awalnya memang dari yang kecil terlebih dahulu. Lama-kelamaan akan menjadi besar, kemudian kita terbuai, tak sadarkan diri atas apa yang kita lakukan.

Ketakutan terbesar saya terhadap suatu kebiasaan adalah kebiasaan tersebut membabi buta sampai kita dewasa. Ambil saja contoh, dari kecil misalkan kita sudah berani berbohong. Mungkin dari hal yang paling kecil misalkan uang jajan. Tak bisa dihindari, mungkin pada saat dewasa nanti kita akan korupsi.

Contoh yang kedua ini mungkin sedikit nyelekit hati tersangkanya. Dalam hubungan cinta-cintaan, ada beberapa teman saya yang berpikir, “Gapapalah gue have fun sama cewek/cowok lain walaupun gue udah punya pacar. Nakalnya sekarang, nanti pas udah dewasa nggak gatel lagi kok..” Lha, sekarang masalahnya, kalau pas muda udah cari masalah begitu, emangnya pas udah dewasa nanti nggak terbesit bakal ngelakuin hal yang sama? Secara nggak langsung iya, udah janji sekarang nggak ngelakuin itu lagi pas udah dewasa, cuman kan namanya setan pasti ada aja terbesit. Moga-moga nggak ngelakuinnya pas udah berumah tangga aja..

It’s all about habit, Bro. Kalau dari kecil aja udah kebiasaan nggak baik, gimana mau jadi yang terbaik kalau udah dewasa nanti?

Jadi-jadi-jadi, kesimpulannya, sekarang kan udah dewasa nih, udah bisa dan mengerti cara bedain mana yang benar mana yang salah. Apalagi menyangkut-paut soal kebiasaan. Kebiasaan yang dilakukan sehari-hari tanpa adanya paksaan. Jadi, hal-hal yang salah, kalau bisa diperbaiki atau kalau memang benar salah, ya dihilangkan saja dari peradaban.

Biar semuanya lebih baik..

Quality Time

Kali ini saya akan membahas tentang betapa pentingnya orang tua, dan waktu dengan keluarga. Dua hal ini sangat berkaitan dalam kebaikan, namun pasti diantara kita ada yang kurang acuh terhadap kedua hal tersebut, termasuk saya..

Keluarga adalah organisasi pertama yang kita naungi. Sejak dari janin, kita sudah diberikan pelajaran-pelajaran oleh orang tua kita yang (mungkin) kita tak ingat. Keluarga-pun adalah sekolah pertama yang kita naungi sebelum masuk ke sekolah beneran. Lalu, dalam keluarga, kita banyak belajar, dari hal-hal kecil, sampai hal-hal yang besar. Dalam keluarga, kita ditempa menjadi seseorang. Entah itu seseorang yang hebat, maupun seseorang yang (naudzubillahminzalik) buruk. Tak jarang, jika keluarganya (maaf-maaf) kurang baik, maka anak-anaknya pun juga seperti itu. Dan bagaimana kita menilai kadar baik atau tidaknya sebuah keluarga? Menurut saya dari orang tua nya.

Ada hadits yang menjelaskan betapa pentingnya peranan orang tua terhadap anak. Rasulullah Saw ditanya tentang peranan kedua orang tua. Beliau lalu menjawab, “Mereka adalah (yang menyebabkan) surgamu atau nerakamu.” (HR. Ibnu Majah). Dalam artian, kalau berbakti kepada orang tua, kita bisa masuk surga. Dan kalau bersikap durhaka, kita bisa masuk neraka.

Saya ingat, ibu saya pernah berkata, “Dek, kalau kamu punya anak nanti, kamu kalau ngasih tau jangan teriak-teriak, nanti anaknya ikutan, lho..” dan kalimat ibu saya ini sungguh terbukti. Saya sering memperhatikan cara berinteraksi teman saya. Dan saya coba main ke rumahnya. Alhasil, pada saat ke rumah teman saya tersebut, cara orang tua nya berinteraksi, tidak jauh berbeda dengan anaknya.

Kalimat ibu saya tersebut tidak berlaku hanya pada ucapan, tetapi juga tindakan. Secara tidak langsung, apa yang orang tua kita lakukan, kita akan mencontohnya. Secara tidak langsung, ya. Entah itu turunan dari gen orang tua kita, atau memang kita mencontohnya.

Kita sebagai anak yang baik harus mencontoh apa yang orang tua kita lakukan, tetapi jangan bodoh. Maksudnya jangan bodoh, kalau orang tua melakukan tindakan yang buruk, ya jangan dicontoh. Semisal, orang tua kita merokok, ya jangan dicontoh. Kalau memang dicontoh berarti kita gagal menjadi anak yang baik. Pun begitu juga dengan orang tua. Orang tua harus memberikan contoh yang baik oleh anaknya sehingga anaknya bisa mencontoh apa yang mereka lakukan.

Sebagai contoh, bapak saya itu perokok. Tetapi, bapak saya tidak pernah melarang saya merokok. Toh, pun kalau melarang, saya pun bisa menuntut balik kenapa beliau merokok. Memang terkesan tidak etis karena membantah orang tua, tetapi memang begitu adanya. Orang tua harus memberikan contoh yang baik.

Memang, kita telah diajarkan banyak hal dari orang tua kita sejak kita belum mengerti apa-apa. Istilahnya kita itu set by default. Tetapi kita tidak boleh menerimanya begitu saja, dong? Masa’ iya kita pasrah saja tentang apa yang diajarkan oleh orang tua kita. Apalagi kalau diajarkan yang tidak baik. Harus dipikir ulang beribu kali rasanya.

Nah, point yang saya ingin tekankan ada pada pembahasan berikut.

Maksud dari quality time adalah, menghabiskan waktu dengan keluarga. Saya baru menjadi anak kos. Saya pulang ke rumah seminggu sekali, setiap hari Sabtu, dan balik ke kosan lagi hari Senin pagi. Saya jadi anak kos jalan empat bulan. Dan saya merasakan betapa nikmatnya kumpul dengan keluarga di akhir minggu.

Memang, terkesan sedikit berlebihan, mungkin. Tetapi, begitulah memang. Keluarga saya sering membuka pembicaraan mengenai hal-hal tentang masa depan, keluarga, saudara, atau hal-hal lainnya setelah makan malam. Di meja makan, kita banyak belajar. Dan ini berjalan sudah cukup lama. Dari situ saya banyak belajar, dari forum keluargalah istilahnya. Saya mendengar dengan baik apa yang orang tua saya utarakan, atau berbagi pendapat dengan kakak-kakak saya. Dan dari berbagi pendapat tersebut kita bisa mendapatkan hal yang bisa kita pelajari, entah itu untuk masa depan kita maupun untuk sekarang.

Rasanya hal ini harus dicoba untuk dilakukan. Berkumpul dengan keluarga. Entah itu sehabis makan malam, nonton TV bareng di kamar orang tua, makan malem bersama di luar rumah, dan hal-hal yang lainnya. Karena, kemungkinan besar kita akan menyesal dan kangen karena telah menyia-nyiakan waktu kita bersama keluarga setelah kita sudah dewasa nanti. Saya yakin itu..

Lalu, sudahkah kita menyempatkan waktu untuk menelpon dan menanyakan kabar orang tua kita di sela-sela kesibukan kita? Pernahkah kita berpikir bahwa orang tua kita sangat merindukan kehadiran kita? Tahukah bahwa orangtua terkadang segan menelpon kita karena takut mengganggu? Sudahkah kita memberikan “Quality Time” untuk keluarga kita?

The Best Thing to spend on your family is your TIME. Bahwa keluarga adalah harta yang harus kita jaga selalu. Bahkan tak ternilai. Dari keluarga kita diajarkan untuk berjalan. Lalu, jangan berlari meninggalkannya begitu saja. :)

Image

Keluarga tercinta.